NovelToon NovelToon
BATAS 2 TAHUN

BATAS 2 TAHUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:962
Nilai: 5
Nama Author: Ainun masruroh

Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik ma'had yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.

Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.

Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Trinitas Alea

Gadang bukanlah cinta pada pandangan pertama. Bagi sebagian orang, wilayah di pinggiran Malang ini hanyalah titik sibuk pertemuan kendaraan besar dan debu jalanan. Namun bagiku, setelah berbulan-bulan menjadi pengelana lahan yang putus asa, Gadang adalah jawaban yang dikirim semesta melalui sebuah papan kayu lapuk yang hampir jatuh dari pagar sebuah gudang tua.

​Lahan itu luas, jauh lebih luas dari bayanganku. Bekas gudang tekstil yang sudah bertahun-tahun mati suri. Saat aku melangkah masuk ke dalamnya, cahaya matahari menembus atap seng yang berlubang, menciptakan garis-garis cahaya yang dramatis di atas lantai semen yang retak. Baunya campuran antara debu tua dan sisa-sisa kain yang lembap. Tapi di mata seorang visioner, aku tidak melihat reruntuhan. Aku melihat deretan motor yang berjejer rapi, aroma oli yang segar, dan suara dentuman kunci inggris yang beradu dengan mesin.

​Aku segera menelepon Mas Andreas. "Mas, aku sudah menemukannya. Sisi selatan Malang. Kamu harus ke sini sekarang."

​Dua puluh menit kemudian, arsitek kepercayaanku itu datang dengan motor trailnya. Ia melepas helm, menyapu pandangan ke seluruh ruangan, lalu bersiul panjang. Ia berjalan ke tengah ruangan, menghentakkan kakinya ke lantai, lalu menatap langit-langit yang tinggi.

​"Mbak, ini bukan cuma bengkel," katanya dengan mata berbinar. "Sirkulasi udaranya sempurna untuk pengecatan dan mesin. Kalau kita pakai gaya industrial minimalis, bagian depan ini bisa kita kasih kaca besar. Kita buat showroom mini. Orang yang servis bisa melihat motor-motor restorasi hasil karya anak-anak sambil minum kopi."

​Aku tersenyum. Akhirnya, potongan puzzle terakhir telah ditemukan. Dengan ditemukannya lahan untuk Team Montir Alea, beban yang menggantung di pundakku selama berbulan-bulan seolah luruh seketika. Rencana besar yang sempat stuck karena pembangunan Sekolah Harapan kini benar-benar siap untuk melesat.

​Bulan-bulan berikutnya adalah simfoni kegilaan. Setelah renofasi besar yang terjadi di tiga titik bangunan dengan puluhan pekerja yang tanpa kenal lelah akhirnya inilah euforia, Aku membagi waktuku menjadi tiga bagian yang nyaris mustahil. Pagi hari aku berada di dekat UIN, memastikan Team Bucket Alea terpasang interior kayu yang hangat agar para mahasiswa betah memilih bunga dan di lantai dua ada tempat para staf berkreasi juga istirahat. Siang hari, aku melesat ke pusat kota, memantau pemasangan lighting studio di Team Studio Alea yang berada di bangunan tua dekat Alun-alun. Sore hingga malam, aku berada di Gadang, menemani Mas Andreas dan timnya menyulap gudang tekstil menjadi bengkel futuristik.

​Di sela-sela itu, aku tetap berkunjung ke Sekolah Harapan. Sekolah itu kini sudah seperti jantung yang memompa darah ke seluruh bisnisku. anak muda yang sedang mengikuti pelatihan tidak lagi sekadar belajar teori dan juga laporan Abah yang memantau perkembangan satri di pesantren. Mereka sudah mulai terlibat dalam pembangunan fisik.

​Yusuf dan tim mekaniknya membantu Mas Andreas merancang tata letak rak alat di bengkel. Para santriwati dan anak muda sekolah harapan dari kelas hantaran mulai membuat dekorasi untuk acara pembukaan nanti. Bahkan tim fotografi sudah mulai mendokumentasikan setiap proses pembangunan untuk konten media sosial kami.

​"Kita tidak sedang membangun ruko, Mbak," bisik Yusuf suatu sore saat kami beristirahat di Gadang sambil menikmati bakso malang. "Kita sedang membangun rumah untuk masa depan kami."

​Kalimat itu menjadi bahan bakarku saat aku mulai merasa kelelahan.

​Hari peresmian itu akhirnya tiba. Aku menyebutnya sebagai peresmian "Trinitas Alea". Kami tidak melakukannya di hotel mewah, melainkan dengan cara estafet menyusuri ketiga lokasi tersebut.

​Tamu undangan kami istimewa: Bapak Agus, perwakilan Bapak Bupati, dan tentu saja, anak-anak Sekolah Harapan beserta orang tua mereka dan juga ada abah dan ibu yang selalu mendoakan setiap perjalananku.

​Perjalanan dimulai dari Team Bucket Alea. Bau harum bunga segar menyeruak saat pita digunting. Para mahasiswi yang lewat langsung menoleh, tertarik pada desain interiornya yang Instagrammable. Bapak Agus mengangguk puas melihat bagaimana para santriwati dengan cekatan merangkai bunga dengan estetika tinggi.

​"Ini bukan sekadar toko bunga, ini adalah bukti bahwa lulusan santri dan anak sekolah gratis pun punya selera kelas dunia," puji Bapak Agus.

​Kami bergeser ke Team Studio Alea. Di sana, dinding-dinding bata ekspos dan pencahayaan studio yang dramatis menyambut kami. Tim fotografi yang dulu hanya memegang kamera pinjaman, kini berdiri tegak dengan kamera profesional milik perusahaan. Mereka langsung mempraktikkan ilmu mereka dengan memotret para tamu undangan.

​Puncaknya adalah di Gadang. Saat pintu geser raksasa Team Montir Alea dibuka, semua orang terpana. Gudang tua yang dulu kusam kini berubah menjadi bengkel yang sangat bersih dan modern. Ada area showroom di bagian depan yang memajang motor klasik hasil restorasi tangan Yusuf dan kawan-kawan.

​Bapak Bupati, melalui perwakilannya, memberikan apresiasi luar biasa. "Anda telah menyelesaikan tugas yang paling sulit: bukan sekadar membangun gedung, tapi menyambungkan pesantren dan sekolah dengan lapangan kerja."

​Pasca pembukaan, kehidupan berjalan dengan ritme yang luar biasa. Sekolah Harapan dan Team Alea kini menjadi satu ekosistem yang bernapas bersama.

​Setiap pagi, Sekolah Harapan melahirkan bakat-bakat baru. Setelah mereka lulus, mereka tidak perlu bingung mencari kerja. Mereka yang punya minat di seni kriya masuk ke Team Bucket. Yang hobi visual masuk ke Team Studio. Dan mereka yang tangannya selalu penuh oli masuk ke Team Montir.

​Bagi mereka yang ingin lanjut kuliah, mereka bisa bekerja paruh waktu di Team Alea untuk membiayai pendidikan mereka. Keuntungan dari bisnis ini pun mulai mengalir kembali ke Sekolah Harapan. Aku memastikan bahwa setiap rupiah yang didapat dari pelanggan, sebagian kecilnya digunakan untuk membeli buku, membayar listrik sekolah, dan memperbaiki fasilitas belajar di sana.

​Sekolah Harapan adalah akarnya, dan Team Alea adalah buahnya.

​Konflik baru mulai bermunculan saat beberapa investor melirik model bisnis ini yang viral di sosial media, Mereka memintaku membuka cabang di Surabaya, Jakarta, bahkan Bali. Tawaran uang yang masuk sangat menggiurkan. Namun, setiap kali aku melihat tawaran itu, aku selalu teringat pada tanah wakaf Bapak Agus dan jerih payah Mas Andreas saat kami mencari lahan di Malang.

​"Kalau aku buka di Jakarta sekarang, siapa yang akan menjaga kualitas pelatihan para santri dan anak muda di sini?" pikirku.

​Aku memutuskan untuk tidak tergiur ekspansi fisik yang membabi buta. Aku memilih jalan lain: Alea Learning Center. Aku ingin membuat modul pelatihan digital sehingga anak muda di kota lain bisa meniru model ini. Aku ingin setiap daerah punya "Sekolah Harapan"-nya sendiri dan "Team Alea"-nya sendiri, bukan sekadar menjadi cabang dari pusat.

​Malam ini, aku duduk di balkon lantai dua Team Studio yang menghadap langsung ke arah Alun-alun Malang. Suara klakson kendaraan yang berlalu-lalang di bawah terdengar seperti musik latar yang menenangkan.

​Aku memutar-mutar gelas kopi yang sudah dingin, teringat kembali pada hari-hari di mana aku merasa dunianya berhenti karena pembangunan yang stuck. Saat itu, aku merasa pilihan mendahulukan Sekolah Harapan adalah sebuah pengorbanan yang menyakitkan bagi ambisiku.

​Namun kini aku sadar, semesta tidak pernah memintaku berkorban tanpa alasan. Penundaan selama enam bulan itu bukanlah kegagalan, melainkan masa persiapan. Tanpa Sekolah Harapan, Team Alea hanyalah sekadar bisnis biasa yang mengejar profit. Tapi dengan adanya Sekolah Harapan, Team Alea memiliki jiwa. Ia memiliki misi. Ia memiliki orang-orang yang bekerja bukan hanya dengan tangan, tapi dengan hati yang penuh syukur.

​Aku melihat ke arah selatan, ke arah Gadang yang jauh di sana, lalu ke arah barat menuju kampus UIN. Ketiga titik itu kini menyala, bukan hanya oleh lampu-lampu toko, tapi oleh harapan-harapan kecil yang mulai tumbuh besar.

​Pencarianku terhadap lahan mungkin sudah berakhir, tapi perjalananku membangun manusia baru saja dimulai. Di atas struktur yang dirancang Mas Andreas dan di atas doa-doa yang dipanjatkan di Sekolah Harapan, aku tahu bahwa Team Alea akan tetap berdiri kokoh. Bukan karena kuatnya beton yang kami tanam, tapi karena eratnya tangan-tangan yang saling menggenggam untuk maju bersama.

​Aku menarik napas dalam, menghirup aroma khas kota Malang yang dingin, Esok pagi, akan ada tantangan baru, tapi aku tidak takut lagi. Karena kini aku tahu, setiap kali aku merasa stuck, itu hanyalah tanda bahwa aku sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa kubayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!