[cp akan terlambat]
negara : Indonesia
sinopsis:
Mati setelah seumur hidup bekerja sendirian itu melelahkan. Ketika Olyvia Arabella membuka mata, ia kembali ke usia 20 tahun—tepat saat calon ibu mertua menyodorkan amplop "uang perpisahan" yang ternyata hanya berisi seratus ribu. Dunia sudah gila: nilai uang menurun 10.000 kali lipat, dan hanya Olyvia yang sadar karena rekening bank masa depannya ikut terbawa. Sekarang ia menjadi satu-satunya konglomerat di dunia yang mendadak miskin. Tapi kekayaan tak membuat hidupnya lebih mudah, terutama saat para pria dari masa lalunya kembali—kali ini dalam keadaan jauh lebih melarat. Balas dendam tak cukup dengan uang. Tapi setidaknya, Olyvia bisa membeli waktu untuk memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Masuk Restoran
Olyvia berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia mengenakan blazer krem di atas blus sutra putih, dipadukan dengan celana kulot hitam dan sepatu flat balerina. Rambutnya diikat rendah, rapi, dan profesional. Wajahnya dipoles dengan makeup natural yang membuatnya tampak segar dan berwibawa.
Ia menatap bayangannya dan menarik napas panjang. Ini hari gue. Hari di mana gue buktikan ke semua orang siapa Olyvia Arabella sebenarnya.
Ia menyentuh gelang bintang di pergelangan tangannya. Keep shining. Ia tersenyum tipis, lalu berbalik dan keluar kamar.
Ruang Presentasi - Fakultas Artificial Intelligence
Ruangan itu tidak terlalu besar, tapi cukup formal. Sebuah meja panjang dengan proyektor di tengah, dikelilingi kursi-kursi untuk audiens. Di depan, Prof. Budi duduk bersama tiga kolega yang Olyvia belum kenal. Dua pria paruh baya dengan jas formal, dan satu wanita dengan kacamata tebal yang tampak serius.
Prof. Budi memberi isyarat agar Olyvia memulai.
Olyvia berdiri tegak di depan proyektor. Ia menyalakan laptopnya dan slide pertama muncul: "AI-Powered Pulmonary Disease Detection via Cough Sound Analysis."
"Selamat pagi, Profesor dan para tamu undangan. Nama saya Olyvia Arabella. Hari ini saya akan mempresentasikan proyek AI yang saya kembangkan selama beberapa bulan terakhir: sistem deteksi dini penyakit paru-paru melalui analisis suara batuk."
Ia memulai presentasinya dengan percaya diri. Suaranya stabil, jelas, dan terstruktur. Ia menjelaskan latar belakang masalah: tingginya angka kematian akibat penyakit paru-paru yang terlambat didiagnosis. Ia memaparkan arsitektur model deep learning yang ia rancang sendiri, lengkap dengan diagram yang rapi. Ia menunjukkan hasil uji akurasi: 96,7%, lebih tinggi dari metode sejenis yang ada saat ini.
Prof. Budi dan ketiga koleganya sesekali mencatat sesuatu. Ekspresi mereka sulit dibaca, tapi Olyvia tidak gentar. Ia terus menjelaskan potensi implementasi: dari aplikasi mobile sederhana hingga integrasi dengan layanan telemedicine.
Setelah hampir empat puluh menit, ia menutup presentasinya. "Demikian presentasi dari saya. Terima kasih atas perhatiannya. Saya terbuka untuk pertanyaan."
Ruangan hening sejenak. Lalu Prof. Budi tersenyum dan mulai bertepuk tangan. Ketiga koleganya mengikuti. Tepuk tangan itu tidak meriah, tapi penuh penghormatan.
"Sangat mengesankan, Olyvia," kata Prof. Budi. "Saya tidak menyangka kamu bisa menyelesaikan proyek sekompleks ini dalam waktu sesingkat ini."
Salah satu kolega, pria dengan kacamata emas, mengangkat tangan. "Saya Prof. Li Wei dari Universitas Tsinghua, China. Saya punya beberapa pertanyaan teknis." Ia lalu mengajukan pertanyaan dalam bahasa Mandarin yang cepat dan teknis, menanyakan tentang lapisan konvolusi dan metode augmentasi data yang Olyvia gunakan.
Olyvia tersenyum tipis, lalu menjawab dalam bahasa Mandarin yang sama lancarnya. "Saya menggunakan tiga lapisan konvolusi dengan kernel size yang berbeda, dan untuk augmentasi data, saya menerapkan pitch shifting dan penambahan noise latar belakang untuk meningkatkan variasi dataset."
Prof. Li Wei mengangguk puas. Prof. Budi dan dua kolega lainnya saling pandang dengan ekspresi terkesan. Kemampuan Olyvia menjelaskan konsep teknis dalam dua bahasa dengan lancar adalah nilai tambah yang tidak mereka duga.
Setelah sesi tanya jawab selesai, Prof. Budi berdiri. "Olyvia, saya dan ketiga kolega saya sepakat. Proyek ini layak untuk diikutsertakan dalam Kompetisi Inovasi AI Internasional di Singapura dua bulan mendatang. Kami akan mendukung penuh."
Prof. Li Wei menambahkan, masih dalam bahasa Mandarin. "Dan saya tertarik untuk menjalin kerja sama denganmu. Universitas kami memiliki laboratorium riset paru-paru yang bisa menjadi mitra pengembangan lebih lanjut. Boleh saya minta kontakmu?"
Olyvia nyaris tidak percaya. Ia menukar kontak dengan Prof. Li Wei dengan tangan sedikit gemetar. Ini beneran terjadi. Profesor dari Tsinghua mau kerja sama sama gue.
Prof. Budi menepuk bahunya. "Dan soal akselerasi kelulusanmu. Saya setujui. Setelah kompetisi selesai dan kamu kembali, kamu bisa langsung wisuda."
Olyvia menunduk hormat. "Terima kasih, Prof. Saya tidak akan mengecewakan."
Ia keluar dari ruangan dengan perasaan melayang. Begitu pintu tertutup, ia langsung berlari menyusuri koridor.
Koridor Fakultas
Karina dan Sela sudah menunggu di bangku dekat pintu keluar. Begitu melihat Olyvia berlari ke arah mereka dengan senyum lebar, mereka langsung berdiri.
"GIMANA?!" teriak Karina.
Olyvia melompat dan memeluk mereka berdua sekaligus. "DISETUJUI! GUE LOLOS! GUE MAU IKUT KOMPETISI INTERNASIONAL! TERUS GUE BISA LULUS CEPET!"
Sela menjerit histeris. "GILA LO, VY! GUE BANGGA BANGET!"
Karina ikut melompat-lompat. "TRAKTIR! TRAKTIR! TRAKTIR!"
Olyvia tertawa lepas. "Iya, iya! Gue traktir! Kalian mau makan di mana? Terserah! Sepuasnya!"
Sela langsung meraih ponselnya. "Gue tau restoran enak di deket sini. Agak jadul sih, tapi makanannya enak banget. Lo pasti suka."
Olyvia mengangguk semangat. "Gas!"
Sambil berjalan ke parkiran, Olyvia mengecek ponselnya. Ada notifikasi dari mobile banking. Ia membuka dan matanya langsung membelalak.
Transaksi Masuk: +Rp12.500.000,-
Transaksi Masuk: +Rp12.500.000,-
Transaksi Masuk: +Rp12.500.000,-
Total: Rp37.500.000,-
GILA! Gaji pensiun gue masuk tiga kali! Gue lupa cek dua bulan terakhir!
Ia nyaris tertawa histeris. Di dunia normal, ini tiga ratus tujuh puluh lima miliar. Di dunia gue sekarang? Cukup buat beli apa aja.
Ia merangkul Karina dan Sela. "Makan sepuasnya! Gue baru dapat rezeki nomplok!"
Sela menuntun mereka ke sebuah restoran kecil di sudut jalan. Bangunannya bergaya kolonial dengan dinding bata ekspos dan lampu-lampu gantung temaram. Begitu Olyvia masuk, ia merasa ada yang familiar.
Kok ke gue pernah ke sini ya? Ah mungkin cuman perasaan aja, yaudah lah yang penting lagi happy banget.
Mereka duduk di meja dekat jendela. Pelayan datang dengan menu. Olyvia memesan steak ayam, Karina memesan pasta, Sela memesan nasi goreng seafood. Harga total untuk bertiga: Rp15,-. Murah banget.
Mereka mengobrol riang. Olyvia menceritakan detail presentasinya, termasuk saat ia menjawab pertanyaan dalam bahasa Mandarin. Karina dan Sela mendengarkan dengan mata berbinar.
"Lo keren banget, Vy. Dulu lo pemalu, sekarang lo bisa presentasi di depan profesor." kata Karina.
Olyvia tersenyum. "Orang bisa berubah, Rin."
Saat mereka sedang menikmati makanan, pintu restoran terbuka dan sekelompok orang masuk. Olyvia tidak memperhatikan awalnya. Tapi kemudian sebuah suara yang sangat ia kenal menyapanya.
"Vy? Olyvia?"
Olyvia mendongak. Arjuna Wicaksono dengan singkatan monyet Arjuna yang berdiri di dekat pintu, dikelilingi lima temannya. Ia tersenyum lebar dan berjalan mendekat.
"Vy! Gak nyangka ketemu di sini! Aku denger presentasimu sukses. Selamat ya!"
Olyvia mengangguk kaku. "Makasih."
Arjuna menatap sekeliling restoran, lalu menatap Olyvia dengan senyum penuh arti. "Kamu masih ingat tempat ini kan? Restoran pertama kita ketemu. Tempat kita sering kencan dulu. Aku seneng kamu belum melupakan kenangan kita."
Olyvia terdiam. Ia menatap sekeliling restoran. Dinding bata ekspos. Lampu gantung temaram. Meja kayu dengan taplak kotak-kotak merah.
Restoran ini... iya. Gue pertama ketemu Arjuna di sini. Dulu gue pikir ini tempat paling romantis sedunia. Sekarang gue udah lupa sama sekali.
Karina dan Sela saling pandang dengan cemas. Mereka tahu ini bukan pertanda baik.
Olyvia menatap Arjuna dengan wajah datar. "Jun, gue ke sini karena temen gue yang pilih. Bukan karena gue mau bernostalgia."
Arjuna tersenyum, tidak terpengaruh. "Tapi kamu tetap ke sini kan? Itu artinya kamu belum sepenuhnya melupakan kita."
Salah satu teman Arjuna menimpali, "Ciee, Arjuna. Mantan lo masih inget tempat jadian."
Olyvia merasakan kemarahannya mulai naik. Tapi ia menahannya. Ia berdiri dan meraih tangan Karina dan Sela.
"Ayo, kita cari tempat lain."
Arjuna terkejut. "Vy, tunggu. Aku gak bermaksud..."
Tapi Olyvia sudah berjalan keluar restoran tanpa menoleh. Karina dan Sela mengikuti dengan cepat.
Di luar, Olyvia menghela napas panjang. "Gila. Dari semua restoran di Surabaya, kenapa harus yang itu."
Sela menunduk merasa bersalah. "Maaf, Vy. Gue yang pilih. Gue gak tau..."
Olyvia menggeleng. "Bukan salah lo. Lo kan gak tau. Udah, lupain. Sekarang gue mau cari restoran beneran. Restoran bintang lima."
Karina membelalak. "Bintang lima? Lo serius?"
Olyvia tersenyum. "Duarius malahan. Hari ini hari bahagia gue. Gak boleh dirusak sama monyet. Ayo."
Restoran Bintang Lima - "The Grand Rooftop"
Mereka bertiga masuk ke sebuah restoran mewah di lantai tertinggi gedung perkantoran pusat kota. Lampu kristal, meja dengan taplak putih bersih, dan pemandangan kota Surabaya dari ketinggian. Pelayan dengan jas hitam menyambut mereka dengan hormat.
Olyvia memesan meja di tepi jendela. Mereka duduk dan melihat menu. Harga makanan di sini sedikit lebih mahal dari restoran biasa: steak wagyu Rp25,-, lobster thermidor Rp30,-, dan anggur impor Rp15,- per gelas. Total pesanan mereka bertiga: Rp120,-.
Seratus dua puluh rupiah. Di dunia normal mungkin jutaan. Di dunia gue sekarang? Recehan.
Karina menatap sekeliling dengan mata berbinar. "Gila, Vy. Gue gak pernah makan di tempat kayak gini."
Sela menimpali, "Gue juga. Rasanya kayak di film."
Olyvia tersenyum. "Mulai sekarang, kalian bakal sering gue ajak ke tempat kayak gini. Udah janji."
Makanan datang. Steak wagyu yang empuk, lobster dengan saus mentega, dan anggur yang aromanya memabukkan. Mereka makan sambil tertawa, melupakan kejadian di restoran tadi.
Di tengah makan, Olyvia menatap keluar jendela. Lampu-lampu kota Surabaya berkelap-kelip di bawah sana. Ia menyentuh gelang bintang di pergelangan tangannya.
Hari gue hampir rusak gara-gara tu monyet. Tapi gue berhasil balikin keadaan. Gue yang pegang kendali sekarang.
Ia tersenyum dan mengangkat gelas anggurnya. "Cheers buat kelulusan gue. Dan buat persahabatan kita."
Karina dan Sela mengangkat gelas mereka. "Cheers!"
Mereka bersulang, dan malam itu berakhir dengan tawa dan kebahagiaan.