Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Bermain dengan Api
Setelah malam yang menghancurkan itu, Jakarta seolah enggan tidur.
Elena berdiri di balkon penthouse-nya, membiarkan angin malam memainkan rambutnya yang tergerai.
Di tangannya, sebuah tablet menampilkan berita utama di semua portal media:
"SKANDAL ADIGUNA: REKAMAN BERDARAH DI MALAM PERTUNANGAN."
Saham Adiguna Group tidak hanya merosot; mereka sedang terjun bebas menuju kehancuran.
"Nona, Adrian sedang berada di lobi," suara Paman Han terdengar dari interkom.
"Dia memaksa ingin bertemu. Satpam gedung sudah menahannya, tapi dia bersikeras tidak akan pergi sampai Anda keluar."
Elena menyesap anggur merahnya. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. "Biarkan dia naik, Paman.
Tapi pastikan dia melewati pemeriksaan ketat. Aku tidak ingin ada benda tajam atau alat perekam di dekatku."
"Baik, Nona."
Sepuluh menit kemudian, pintu lift pribadi terbuka. Adrian melangkah keluar dengan penampilan yang jauh dari kata rapi.
Jas mahalnya kusut, dasinya sudah lepas, dan matanya merah karena kurang tidur—atau mungkin karena terlalu banyak minum.
Begitu melihat Elena yang duduk tenang di sofa beludru sambil membaca buku, langkah Adrian terhenti.
"Kau," desis Adrian. Suaranya serak.
"Kau yang merencanakan semua ini, kan? Rekaman itu, video itu... kau pelakunya!"
Elena menutup bukunya perlahan, gerakannya sangat elegan seolah sedang berada di tengah sesi pemotretan.
"Tuan Adrian, bukankah seharusnya Anda berterima kasih? Aku baru saja menunjukkan pada dunia betapa setianya calon istri Anda. Bukankah lebih baik tahu sekarang daripada setelah menikah?"
Adrian menggebrak meja kopi di depan Elena.
"Jangan main-main denganku! Dari mana kau mendapatkan rekaman itu? Itu adalah pembicaraan pribadi di kamar yang seharusnya sangat rahasia!"
Elena berdiri, melangkah mendekat hingga aroma parfum sandalwood-nya yang mewah menusuk indra penciuman Adrian.
Ia menatap pria itu tepat di matanya—mata yang dulu pernah ia puja, namun kini hanya membangkitkan rasa muak.
"Dunia ini sempit, Adrian. Dan rahasia? Rahasia punya cara sendiri untuk merangkak keluar dari kegelapan," bisik Elena.
"Kenapa kau begitu gelisah? Jika rekaman itu palsu, kau tinggal membuktikannya. Tapi melihat reaksimu... sepertinya setiap kata di sana adalah kebenaran yang pahit, bukan?"
Adrian mundur selangkah. Ia merasa terpojok oleh aura wanita ini.
"Siapa kau sebenarnya? Elena dari Singapura? Aku sudah menyuruh orang mengecek latar belakangmu. Kau muncul entah dari mana dua tahun lalu. Tidak ada catatan sekolah, tidak ada foto masa kecil. Kau seperti hantu."
Elena tertawa kecil, suara tawanya bening namun dingin.
"Mungkin aku memang hantu. Hantu dari masa lalu seseorang yang kau sakiti."
Wajah Adrian memucat. "Alana? Tidak... itu mustahil. Dia sudah mati. Aku melihat mobilnya hancur. Aku melihat jurang itu!"
"Siapa yang bicara soal Alana?" Elena memotong dengan cepat, nada suaranya kembali netral dan profesional.
"Aku hanya seorang investor yang tidak suka melihat uangku dikelola oleh pria yang tidak bisa mengurus moralitasnya sendiri. Karena skandal ini, kesepakatan investasi kita batal. Dan sesuai kontrak awal, kau harus membayar penalti sebesar lima puluh miliar karena kegagalan menjaga reputasi perusahaan."
Adrian ternganga. "Lima puluh miliar? Kau gila! Aku sedang dalam krisis, dan kau menuntut penalti?!"
"Bisnis adalah bisnis, Tuan Adiguna. Paman Han, tolong antarkan Tuan Adrian keluar.
Dia punya banyak surat cerai dan tuntutan hukum yang harus diurus malam ini."
Setelah Adrian diusir secara paksa, Elena tidak lantas beristirahat.
Ia tahu Siska tidak akan diam saja. Siska adalah tipe ular yang akan mematuk siapa saja saat terdesak.
Benar saja, sebuah pesan masuk ke ponsel rahasianya.
“Aku tahu siapa kau. Operasi plastik tidak bisa menyembunyikan bau busukmu, Alana. Temui aku di gudang lama dermaga jam 2 pagi, atau aku akan menyebarkan foto-foto 'sebelum' dan 'sesudah' wajahmu ke seluruh media.”
Elena menatap pesan itu dengan datar. Umpan dimakan, pikirnya.
Siska mencoba memerasnya menggunakan spekulasi identitas.
"Paman Han, siapkan tim. Kita akan ke dermaga," perintah Elena.
"Nona, ini berbahaya. Siska pasti membawa orang-orang bayaran," Paman Han memperingatkan dengan cemas.
"Justru itu yang aku inginkan. Aku ingin dia merasa punya kendali, sebelum aku mematahkan jari-jarinya satu per satu."
Udara pelabuhan terasa asin dan lembap. Elena melangkah masuk ke dalam gudang tua yang hanya diterangi oleh satu lampu gantung yang berayun ditiup angin.
Di sana, Siska berdiri dengan rambut berantakan, memegang sebuah map cokelat. Di belakangnya, tampak tiga pria berbadan besar dengan tampang garang.
"Akhirnya kau datang, jalang," sapa Siska dengan nada penuh kemenangan.
Elena tetap tenang, langkahnya tidak ragu sedikit pun.
"Kau memintaku datang untuk mengancamku, atau untuk meminta maaf karena telah menghancurkan hidupmu sendiri?"
"Diam! Aku tahu kau Alana! Aku tidak tahu bagaimana kau bisa selamat dari jurang itu, tapi wajah baru ini pasti hasil uang curian, kan?" Siska melemparkan map cokelat itu ke lantai.
"Di dalam sana ada analisis perbandingan struktur tulang wajahmu. Kau mungkin mengubah hidung dan matamu, tapi telingamu... bentuk telingamu tidak berubah."
Elena melirik map itu, lalu menatap Siska dengan tatapan kasihan.
"Siska, kau selalu payah dalam hal detail. Kau pikir dengan analisis tulang amatir ini, kau bisa menjatuhkanku?"
"Aku bisa menghancurkan reputasimu sebagai 'Nona Elena yang Sempurna'! Orang-orang akan tahu bahwa kau adalah mantan narapidana dan istri terbuang yang melakukan penipuan identitas!" teriak Siska histeris.
"Berikan aku seratus miliar, dan aku akan menghilang dari hidupmu!"
Elena melangkah maju, mengabaikan pria-pria besar yang mulai mendekat. Ia berdiri tepat di depan Siska.
"Seratus miliar? Nilaimu bahkan tidak lebih mahal dari harga sampah di dermaga ini," ucap Elena tajam.
Siska memberi kode pada anak buahnya.
"Hajar dia! Tapi jangan wajahnya, aku ingin dia tetap cantik saat aku menyeretnya ke kantor polisi!"
Namun, sebelum para pria itu bergerak, suara kokangan senjata terdengar dari kegelapan sudut gudang.
Tim keamanan Paman Han muncul dengan laser merah yang membidik tepat di dahi ketiga preman tersebut.
"Letakkan senjatamu, atau kalian tidak akan pernah melihat matahari pagi," suara Paman Han bergema tegas.
Para preman itu seketika mengangkat tangan.
Mereka hanya bayaran rendahan, tidak berniat mati demi wanita gila seperti Siska.
Wajah Siska berubah dari angkuh menjadi ketakutan luar biasa. "Kau... kau membawa pasukan?"
Elena mengambil map cokelat di lantai, menyulutnya dengan korek api, lalu menjatuhkannya ke genangan minyak di dekat kaki Siska.
Api berkobar kecil, menerangi wajah Elena yang kini tampak seperti malaikat pencabut nyawa.
"Siska, dengar baik-baik," Elena mencengkeram rahang Siska dengan kuat.
"Aku bukan Alana yang dulu kau injak-injak. Alana sudah mati di dasar jurang itu.
Dan yang berdiri di depanmu sekarang adalah orang yang akan memastikan kau mendekam di penjara bukan karena fitnah, tapi karena semua kejahatan asli yang kau lakukan."
Elena melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Siska terjatuh.
"Paman Han, berikan berkasnya."
Paman Han menyerahkan sebuah tablet yang menampilkan rekaman CCTV dari sebuah apotek tersembunyi tiga tahun lalu.
Di sana terlihat Siska sedang membeli obat penenang dosis tinggi secara ilegal—obat yang sama yang digunakan untuk menjebak Alana.
"Ini baru satu bukti," kata Elena sambil berbalik pergi.
"Besok pagi, tim pengacaraku akan menyerahkan bukti kepemilikan pabrik kosmetik ilegal milikmu yang menggunakan bahan merkuri berbahaya. Kau tidak hanya akan kehilangan Adrian, kau akan kehilangan kebebasanmu selamanya."
"Alana! Tunggu! Tolong!" jerit Siska sambil merangkak mencoba meraih kaki Elena.
Elena tidak menoleh.
Ia terus berjalan menuju mobilnya yang menunggu di luar.
"Hancurkan gudang ini—secara kiasan, Paman. Pastikan besok pagi dia tidak punya tempat untuk bersembunyi," perintah Elena sebelum masuk ke dalam mobil.
Saat mobil melaju meninggalkan dermaga, Elena melihat ke cermin tengah.
Ia melihat bayangan dirinya sendiri. Ia telah berhasil menjatuhkan Siska, namun hatinya masih terasa kosong.
Masih ada satu orang lagi.
Target yang jauh lebih sulit dan lebih berkuasa daripada Adrian dan Siska.
Sosok di balik kecelakaan dua tahun lalu yang sebenarnya.
Seseorang yang mematikan lampu jalan tol dan memastikan tidak ada saksi mata.
Ayah Adrian. Sang Patriark keluarga Adiguna.
"Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai," gumam Elena sambil memejamkan mata, bersiap untuk pertempuran yang lebih besar.
Bersambung...
Ayo buruan baca...