Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: PEDANG KESEPULUH DAN MEMORI YANG HANCUR
Hening kembali menyelimuti dek Kapal Fosil setelah Gorgon Kehampaan lenyap dari realitas. Han Jian berdiri diam, merasakan aliran Esensi Ketiadaan yang kini menggantikan sumsum tulangnya. Ia merasa lebih ringan, namun setiap inci tubuhnya kini adalah sebuah lubang hitam yang siap menelan apa pun.
Karsa berjalan mendekat, menyarungkan salah satu pedangnya. "Kerja bagus. Tapi jangan biarkan kekuatan baru ini membuatmu besar kepala. Di Samudera Kehampaan, mangsa bisa berubah menjadi predator dalam sekejap."
Han Jian menoleh ke arah barisan sepuluh pedang yang terikat di punggung Karsa. Sejak awal, ia merasa ada sesuatu yang aneh dari pedang-pedang itu. Mereka tidak terbuat dari logam, melainkan dari material organik yang telah membatu—tulang.
Namun, matanya terpaku pada pedang kesepuluh. Pedang itu pendek, melengkung lembut, dan memiliki pendaran perak yang sangat samar, hampir tidak terlihat di tengah kegelapan samudera.
"Pedang itu..." Han Jian menunjuk ke arah pedang kesepuluh. "Kenapa auranya terasa begitu familiar?"
Wajah Karsa yang biasanya dingin mendadak menegang. Ia secara refleks menarik jubahnya untuk menutupi barisan pedangnya. "Bukan urusanmu. Fokuslah pada latihanmu."
"Karsa," suara Han Jian merendah, vibrasi Tulang Nihilitas miliknya membuat udara di sekitar mereka bergetar. "Aku tidak akan bertanya dua kali. Pedang itu terbuat dari tulang siapa?"
Suasana di dek kapal menjadi sangat berat. Tekanan energi antara keduanya mulai beradu. Karsa menghela napas, ia tahu ia tidak bisa lagi menyembunyikannya dari seseorang yang memiliki koneksi darah sekuat Han Jian.
"Pedang ini," Karsa menarik pedang pendek perak itu perlahan. "Namanya adalah Kenangan yang Hilang. Dan kau benar... ia terbuat dari tulang rusuk seorang wanita yang memiliki garis keturunan yang sama denganku. Ibumu, Han Rin."
BOOM!
Ledakan energi dari tubuh Han Jian menghancurkan sebagian pagar Kapal Fosil. Mata emas-hitamnya kini berkilat dengan kemarahan yang bisa merobek dimensi. "Kau... kau membunuhnya? Kau menggunakan tulang ibuku sebagai senjatamu?!"
Han Jian menerjang maju. Pukulannya yang mengandung energi ketiadaan menghantam udara, menciptakan retakan ruang-waktu. Karsa tidak menghindar; ia menangkis pukulan itu dengan pedang perak tersebut.
KLANG!
"Dengarkan aku dulu, bocah!" teriak Karsa. "Ibumu tidak mati karena aku! Dia adalah pemimpin pelarian kami ribuan tahun lalu dari para Pemangsa. Dia memberikan tulang rusuknya secara sukarela untuk menciptakan sepuluh pedang ini sebagai pertahanan terakhir bagi realitas kita!"
Han Jian berhenti, namun tangannya masih gemetar karena amarah. "Dia... memberikannya secara sukarela?"
"Dia tahu bahwa hanya senjata yang terbuat dari Tulang Purba yang bisa melukai entitas di Samudera Kehampaan," Karsa menatap pedang itu dengan tatapan pedih. "Ibumu tidak mati setelah memberikan tulang ini. Dia menghilang ke dalam Inti Ketiadaan untuk menutup gerbang bagi para Pemangsa agar mereka tidak bisa mencapai Benua Awan Biru. Pedang ini adalah satu-satunya petunjuk tentang keberadaannya."
Han Jian perlahan menurunkan tangannya. Fragmen roh ayahnya, Han Shuo, muncul di bahunya, terlihat sangat terkejut sekaligus sedih. "Rin... jadi kau melakukan itu untuk melindungi kita semua..."
"Karsa," Han Jian menatap kapten wanita itu dengan tajam. "Jika pedang ini adalah petunjuk, berarti ibuku mungkin masih hidup di dalam Inti Ketiadaan?"
"Kemungkinannya kecil, tapi ada," jawab Karsa sambil menyarungkan pedang itu kembali. "Tapi untuk masuk ke sana, kau butuh lebih dari sekadar Tulang Nihilitas tingkat satu. Kau harus menguasai ke-sepuluh pedang ini, karena masing-masing menyimpan fragmen dari kehendak ibumu."
Han Jian menatap tangannya yang kini hitam legam. Tujuan perjalanannya kini telah berubah. Bukan lagi sekadar bertahan hidup atau menjadi kuat, ia harus menembus jantung samudera ini untuk membawa pulang satu-satunya hal yang tersisa dari keluarganya.
"Ajari aku," kata Han Jian tegas. "Ajari aku cara menggunakan pedang-pedang itu. Aku akan membawa ibuku pulang, atau aku akan menghancurkan Samudera Kehampaan ini jika ia menghalangiku."
Karsa tersenyum tipis. "Persiapkan dirimu, Han Jian. Latihan berikutnya tidak akan hanya menghancurkan tulangmu, tapi juga akan menghancurkan kewarasanmu."
Kapal Fosil itu melaju lebih cepat, menuju wilayah terdalam yang dikenal sebagai Lembah Bayangan Abadi, tempat di mana rahasia sepuluh pedang dan nasib Han Rin terkubur.