Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.
Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.
Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.
Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilar Takdir
Alun-alun Langit di pusat Kota Kekaisaran tidak seperti alun-alun mana pun di Benua Biru Langit. Luasnya mampu menampung seratus ribu pasukan berkuda tanpa terlihat sesak, lantainya dilapisi batu giok putih yang memancarkan Qi murni, dan di keempat sudutnya menjulang patung-patung pendiri Sekte Awan Suci setinggi puluhan tombak.
Hari ini, alun-alun itu dipenuhi lautan manusia. Puluhan ribu pemuda dan pemudi dari seluruh penjuru benua berkumpul, mata mereka memancarkan ambisi, ketakutan, dan harapan. Ini adalah hari Perekrutan Murid Sekte Awan Suci.
Di tengah alun-alun, berdiri lima buah pilar kristal transparan raksasa yang disebut Pilar Takdir. Di sanalah nasib setiap calon murid ditentukan.
Chu Chen berdiri di tengah antrean panjang di jalur ketiga, wajahnya tertutup oleh tudung jubah hitamnya. Di sebelahnya, Meng Fan sesekali menenggak arak dari labunya dengan tangan yang sedikit gemetar. Pria sinis itu jelas gugup.
"Lihat ke depan," bisik Meng Fan, menunjuk ke arah Pilar Takdir di jalur pertama. "Itu Lu Jian, Tuan Muda dari Klan Lu, salah satu keluarga bangsawan pusat di Ibukota. Kudengar ia telah menembus Lapis Kedelapan Penempaan Raga di usia enam belas tahun."
Chu Chen mengarahkan pandangannya ke depan. Seorang pemuda berpakaian sutra putih bersulam benang emas melangkah dengan dagu terangkat tinggi menuju pilar. Ribuan mata menatapnya dengan kekaguman yang nyaris menyerupai pemujaan.
Lu Jian meletakkan telapak tangannya di permukaan Pilar Takdir.
WUUUSH!
Seketika, pilar kristal itu meledak dengan cahaya biru yang sangat menyilaukan. Cahaya itu merambat naik dengan cepat, menembus garis batas pertama, kedua, ketiga... hingga akhirnya berhenti tepat di garis keenam, memancarkan pendaran biru yang menerangi separuh alun-alun.
"Akar Roh Tingkat Enam! Unsur Air Murni!" seru seorang Penatua Sekte Awan Suci yang menjaga pilar tersebut. Wajah Penatua yang biasanya dingin itu kini dihiasi senyum ramah. "Luar biasa! Lu Jian, kau dibebaskan dari ujian bertahan hidup. Kau langsung diterima sebagai Murid Dalam!"
Sorak-sorai meledak. Para calon murid lain menatap Lu Jian dengan rasa iri yang membuat mata mereka memerah. Dibebaskan dari zona kematian dan langsung menjadi Murid Dalam? Itu adalah takdir naga yang melesat ke langit!
Lu Jian tersenyum angkuh, melirik merendahkan ke arah ribuan calon murid lain yang masih mengantre, seolah mereka hanyalah serangga yang merayap di tanah, sebelum akhirnya dijemput oleh murid senior menuju paviliun khusus.
"Akar Roh Tingkat Enam..." Meng Fan mendecakkan lidahnya. "Nasib memang tidak adil. Orang-orang seperti kita harus bertarung dengan anjing liar dan saling membunuh di lumpur, sementara orang seperti dia melenggang ke surga hanya karena kebetulan lahir dari rahim yang tepat."
"Tidak ada surga di dunia ini," balas Chu Chen datar. "Hanya ada orang-orang yang belum bertemu dengan pemangsanya."
Meng Fan tertegun sejenak mendengar kata-kata sedingin es itu, namun sebelum ia bisa menanggapi, antrean bergerak maju.
"Giliranmu, Anak Muda," suara berat seorang Penatua yang menjaga pilar jalur ketiga terdengar. Penatua ini bertubuh kurus kering, matanya setajam elang, memancarkan aura Alam Inti Emas.
Chu Chen melangkah maju. Ia berdiri di depan Pilar Takdir yang menjulang tinggi, merasakan gejolak energi penyelidik yang aneh memancar dari kristal tersebut.
"Ingat, Nak," suara kuno Kaisar Naga, Long Di, kembali terngiang di benaknya, "Pilar fana ini dirancang untuk membaca Akar Roh biasa. Tubuhmu tidak lagi memiliki Akar Roh; ia telah digantikan oleh Garis Keturunan Dewa Naga Primordial. Jika kau membiarkan kekuatanmu menyentuh pilar ini, ia tidak hanya akan hancur lebur, tetapi Niat Spiritual dari leluhur sekte ini yang tertidur di gunung sana akan terbangun. Mereka akan mengenalimu sebagai keganjilan, dan kau akan diburu oleh seluruh ahli Istana Jiwa di benua ini."
Aku tahu, balas Chu Chen dalam hati. Aku harus menyembunyikan semuanya. Aku harus menjadi sampah yang paling hina di mata mereka.
Chu Chen menarik napas dalam-dalam. Menggunakan kendali mutlak atas tubuhnya yang kini berada di Lapis Kelima Puncak, ia menyegel detak Darah Naga di jantungnya. Ia menekan seluruh kekuatan fisiknya, membuat kulitnya terasa rapuh dan meridian-meridian emasnya tertutup rapat, hanya menyisakan jejak "Akar Roh Cacat" bawaannya yang dulu.
Perlahan, Chu Chen meletakkan telapak tangan kanannya ke permukaan Pilar Takdir.
Hening.
Satu detik. Dua detik. Tiga tarikan napas berlalu.
Pilar kristal raksasa itu... tidak bereaksi sama sekali. Tidak ada ledakan cahaya, tidak ada pendaran warna. Hanya setelah Penatua itu mengerutkan kening dan mengalirkan sedikit Qi-nya ke dalam pilar, barulah seberkas cahaya kelabu yang sangat kusam, lebih redup dari cahaya kunang-kunang yang sekarat, merayap naik.
Cahaya kelabu itu bahkan tidak mampu menyentuh garis batas pertama. Ia berkedip dua kali, lalu padam sepenuhnya.
Alun-alun yang tadinya bising mendadak senyap, sebelum akhirnya meledak dalam tawa yang mengguncang langit.
"Hahahaha! Apa-apaan itu?! Bahkan anjing peliharaanku memiliki gejolak Qi yang lebih kuat dari itu!"
"Akar Roh Cacat! Bahkan bukan Tingkat Satu, itu adalah Akar Roh yang hancur total!"
"Bagaimana bisa sampah seperti dia punya keberanian untuk menginjakkan kaki di Alun-alun Langit? Dia mengotori udara Kota Kekaisaran!"
Cemoohan dan hinaan menghujani Chu Chen dari segala penjuru, jauh lebih kejam dan menusuk daripada yang pernah ia terima di Desa Daun Kering. Namun, pemuda berjubah hitam itu tetap berdiri tegak, tangannya masih menempel di pilar. Ekspresinya tidak berubah, matanya sedatar permukaan cermin es.
Tertawalah. Tertawalah selagi pita suara kalian masih utuh, batin Chu Chen dengan ketenangan yang mematikan.
Penatua penjaga pilar itu menatap Chu Chen dengan rasa jijik yang tak ditutup-tutupi, seolah ia baru saja menginjak kotoran.
"Singkirkan tanganmu dari pilar suci ini," bentak sang Penatua dingin. "Akar Roh Cacat. Tidak ada keterikatan unsur. Kultivasi terhenti di Alam Penempaan Raga Lapis Kelima. Kau adalah pemborosan energi alam."
Penatua itu mengambil sebuah plakat kayu berwarna hitam legam yang melambangkan kematian, lalu melemparkannya ke lantai di depan kaki Chu Chen.
"Kau bahkan tidak memenuhi syarat untuk menjadi pelayan penambang bijih. Jalurmu adalah Jalur Asura—Lembah Jarum Beracun. Kau akan dimasukkan bersama tiga ribu calon murid sampah lainnya besok pagi. Jika kau bisa bertahan hidup selama tujuh hari dan membawa kembali sepuluh Inti Binatang Buas, sekte ini akan mengizinkanmu menyapu halaman luar. Ambil plakatmu dan menyingkir!"
Chu Chen perlahan menunduk. Ia memungut plakat hitam itu, membersihkan debunya, dan menggenggamnya erat.
Jalur Asura. Ujian membunuh. Sempurna.
Tanpa membalas tatapan sang Penatua atau mempedulikan tawa ribuan orang di belakangnya, Chu Chen berbalik dan melangkah menuju barak pengasingan khusus untuk para calon murid Jalur Asura. Langkahnya stabil, punggungnya lurus. Ia tidak terlihat seperti orang yang baru saja divonis mati, melainkan seperti seorang raja yang sedang berjalan menuju medan perburuannya.
"Hei... tunggu aku!"
Suara Meng Fan menyusul dari belakang. Pemuda berlabu arak itu berlari kecil mendekati Chu Chen, tangannya memegang plakat hitam yang sama.
Chu Chen meliriknya. "Kau juga masuk ke Jalur Asura?"
Meng Fan tertawa getir, meneguk araknya dalam-dalam. "Akar Roh Tingkat Tiga. Cukup bagus untuk ukuran desa, tapi ternyata hanya dianggap kotoran di Sekte Awan Suci. Penatua itu bilang umurku terlalu tua untuk memulai, jadi aku dilempar ke lubang daging cincang yang sama denganmu."
Meng Fan menatap Chu Chen dengan ekspresi campur aduk. "Sobat, aku tidak tahu apakah kau sangat berani atau sudah gila. Dihina oleh puluhan ribu orang, dicap sebagai sampah sejati, dan dilempar ke zona kematian... tapi kau bahkan tidak berkedip sedikit pun. Kebanyakan orang dengan Akar Roh Cacat sudah menangis darah atau bunuh diri di tempat."
Chu Chen menatap plakat hitam di tangannya, matanya memantulkan bayangan kelam. "Hanya orang lemah yang butuh pengakuan dari pilar batu atau mulut orang lain."
Keduanya digiring oleh para penjaga sekte menuju sebuah barak tahanan besar di pinggiran alun-alun. Di dalam sana, ribuan pemuda dan pemudi yang bernasib sama—memiliki bakat rendah atau tidak ada dukungan keluarga—dikumpulkan bagaikan ternak yang menunggu waktu penyembelihan. Suasana di dalam barak dipenuhi isak tangis, kutukan, dan keputusasaan.
Namun, di antara ribuan wajah yang pucat pasi karena ketakutan akan ujian besok, Chu Chen duduk bersila di sudut paling gelap.
Ia memejamkan mata, perlahan melepaskan segel di jantungnya. Darah Dewa Naga Primordial kembali berdetak dengan ritme yang berat dan purba. Dantian naganya yang kosong melompong seolah mengaum dalam diam, mendambakan esensi kehidupan, mendambakan Qi, mendambakan darah.
Tiga ribu calon murid... Chu Chen tersenyum kecil dalam kegelapan. Tiga ribu sumber energi yang bisa kutelan tanpa hukum, tanpa aturan. Sekte Awan Suci, kalian telah mengundang serigala berbulu domba ke dalam kandang kalian.
Malam itu, di saat calon murid lain berdoa kepada surga untuk keselamatan mereka, Chu Chen hanya memikirkan satu hal: bagaimana cara meraup untung sebesar-besarnya dari pembantaian esok hari untuk mencapai Alam Lautan Qi, dan akhirnya mencuri Api Teratai Merah dari genggaman para dewa.