NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Kehadiran yang Tenang

Pena baja itu berputar pelan di atas meja kayu. Berputar. Berputar. Lalu berhenti tepat di ujung telunjuk Fais.

Benda mati itu dingin. Suhunya mengingatkan Fais pada gagang pisau kayu yang kemarin malam menempel di leher prajurit bayaran Wawan.

Pagi ini terasa hampa. Sangat hampa.

Fais menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran. Kebosanan mengunyah sarafnya perlahan. Matanya menatap tumpukan dokumen yang sudah rapi di sudut meja.

Tidak ada yang perlu ia kerjakan. Operasional Grup Cakrawala sudah bergulir dengan sendirinya. Layaknya mesin raksasa yang baru saja disiram pelumas kualitas tinggi.

Semuanya mengalir melalui dua tangan.

Sri Arsila mengurus urat nadi bisnis. Kontrak. Relasi. Dokumen ekspansi. Ia mengubah kertas menjadi uang dan uang menjadi kuasa.

Wawan menjadi taringnya. Pria paruh baya itu menjaga stabilitas distrik Barat. Mengendalikan anjing-anjing liar dan jaringan lapangan agar tetap patuh pada rantai yang mengikat leher mereka.

Lalu di mana posisi Fais? Ia seolah menguap. Menjadi bayangan pasif.

Padahal nama Cakrawala itu sendiri lahir dari sesuatu yang konyol. Fais mengingatnya dengan jelas. Ia sekadar mencatut nama perusahaan fiktif dari sebuah novel murahan yang ia baca semalam suntuk.

Itu murni demi memenuhi syarat misi harian sistem. Konyol. Sebuah lelucon absurd.

Tapi lelucon itu kini memegang nyawa ratusan orang di distrik Barat.

Rutinitas Fais sekarang terasa stagnan. Membaca laporan pajak. Menganalisis dokumen tumpang tindih yang sebenarnya tidak terlalu ia pahami secara mendalam.

Ia masih amatir soal bisnis. Otaknya bukan otak konglomerat kelas atas. Ia murni bersandar pada kemampuan tidak masuk akal dari matanya untuk memutus perkara.

Sisanya, ia tenggelam dalam kebiasaan fisik. Membaca buku tebal berjam-jam. Meditasi mematikan rasa. Berlari lima puluh kilometer di bawah hujan sampai paru-parunya nyaris robek. Lalu kembali ke barak, berlatih bersama para prajurit hingga matras berbau anyir keringat.

Layar neon biru meledak pelan di sudut matanya. Tanpa suara.

[Persentase pertumbuhan probabilitas: 30,1%]

Angka itu membuat Fais mendengus pelan. Lambat. Sangat lambat. Kemajuannya merayap seperti siput mati di atas aspal panas.

Tapi di sisi lain, keran kekayaannya terbuka lebar. Pasokan dana pasif terus mengalir tanpa henti menembus rekeningnya.

[Uang anda akan bertambah perbulan: Rp.390.000.000]

[Ekspansi dan keputusan yang Anda ambil akan menambah uang yang masuk]

Deretan angka nol itu kembali memanjang. Menggemuk tanpa ampun.

[Uang sekarang: Rp.1.456.392.100]

[Kemampuan saat ini: Analisis Probabilitas, Penggunaan Probabilitas, Penyimpanan Dimensi, Analisis Jejak]

Fais mengusap rahangnya. Keberadaannya memang terasa sangat diam. Terlalu diam untuk ukuran seorang pemimpin yang namanya mulai ditakuti.

Namun ada satu anomali yang memuakkan bagi lawan-lawannya. Meski Fais pasif, seluruh arah roda raksasa Cakrawala tetap bergerak mengikutinya. Mutlak. Tidak ada penyimpangan sekecil apa pun.

Keputusan Fais selalu keluar dalam wujud singkat. Terkadang hanya dua kalimat. Terkadang hanya anggukan lambat atau gelengan acuh.

Tapi hasilnya selalu akurat. Selalu menghantam titik buta musuh dan meraup untung.

Orang-orang inti di sekitarnya mulai menyadari fakta mengerikan itu. Fais bukan anjing pelacak lapangan. Fais adalah kompas itu sendiri. Arah utara yang tidak pernah bergeser.

Mereka memuja intuisinya. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik tengkorak pemuda itu.

Mereka tidak melihat teks biru yang terus menganalisis dunia nyata tanpa lelah.

[Analisis Probabilitas: Membaca segala situasi dan keputusan yang diambil]

[Penggunaan Probabilitas: Tindakan yang diambil akan sukses]

[Analisis Jejak: Mengidentifikasi objek dan substansinya]

Tiga pilar itu yang membuat Fais tidak tersentuh. Bukan insting bisnis. Tapi kecurangan absolut.

Malam merayap turun membungkus ibu kota.

Fais berdiri di lobi restoran elit di pusat distrik Barat. Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya keemasan ke lantai marmer yang mengilap.

Sri Arsila mengundangnya makan malam.

Awalnya, Fais mengira ini murni urusan meja kerja. Mungkin ada masalah dengan regulasi pajak baru. Mungkin ada negosiasi pembebasan tanah yang berujung ancaman berdarah.

Pikiran itu hancur berantakan saat Sri muncul dari balik pintu putar restoran.

Fais terdiam sejenak. Matanya menatap lurus.

Wanita itu tidak memakai setelan jas kaku yang biasa ia kenakan sebagai tameng di kantor. Sri memakai gaun hitam. Sederhana. Tidak ada perhiasan mencolok yang berteriak meminta perhatian.

Elegan. Sangat elegan.

Gaun itu mencetak posturnya dengan pas. Menyembunyikan taring bisnisnya rapat-rapat dan menyisakan sisi manusiawi yang jauh lebih lembut.

Untuk pertama kalinya, Fais melihat Sri bukan sebagai mesin penghitung uang Cakrawala. Ia murni melihat seorang wanita.

Mereka duduk berhadapan di sudut ruangan yang sepi. Denting alat makan perak beradu dengan porselen terdengar sayup. Pelayan menuangkan minuman pekat ke gelas mereka dan lekas menyingkir pergi.

Percakapan bergulir datar di awal malam.

Sri membahas aliran dana masuk. Membahas preman-preman Wawan yang mulai merambah area pelabuhan dengan metode kasar. Membahas target ekspansi bulan depan.

Fais menanggapi secukupnya. Mengangguk lambat. Menyesap minumannya tanpa banyak berkomentar.

Tapi perlahan, suhu meja itu berubah. Udara malam yang menembus celah pendingin ruangan terasa sedikit hangat.

Topik pekerjaan kehabisan napas. Tumbang digantikan keheningan.

Sri bersandar ke kursinya. Ia memutar gelas kaca di tangannya perlahan. Putaran kecil yang konsisten. Bahunya rileks. Garis wajahnya yang selalu tegang menghitung probabilitas kerugian kini mengendur.

Wanita itu tersenyum. Lalu ia tertawa kecil.

Suara tawa itu mengudara bebas. Fais jarang mendengarnya. Biasanya ruangan kerja Sri hanya dipenuhi derik suara ketukan keyboard dan umpatan tertahan karena kesalahan bawahan.

"Kau tahu, Fais." Suara Sri mendadak turun. Menggantung di udara.

Fais menaruh gelasnya di atas taplak meja. Ia menatap wajah wanita di seberang meja. Menunggu.

"Kalau waktu itu aku tidak bertemu denganmu..." Sri menggigit bibir bawahnya. Matanya meredup menatap pantulan dirinya di cairan minumannya. "... mungkin hidupku sudah hancur."

Kalimat itu meluncur berat. Penuh daki masa lalu.

Sri mengangkat wajahnya. Ia menatap Fais. Ada genangan emosi di pupil matanya. Getaran kecil yang gagal ia tutupi.

Wanita itu mengurai terima kasihnya. Panjang dan tulus. Ia berterima kasih atas uangnya. Atas posisinya yang baru. Atas kepercayaan buta yang Fais lemparkan padanya saat dunia hanya melihatnya sebagai barang rongsokan.

Fais memberinya pijakan. Fais menarik kerahnya dan membantunya berdiri kembali dari kematian finansial dan harga diri. Bukan hanya menyelamatkan dompetnya, tapi menyelamatkan kewarasannya.

Restoran itu mendadak hening di telinga Fais. Orkestra klasik di latar belakang menguap tak bersisa.

Fais tetap tenang. Tidak ada otot wajahnya yang bergeser kaget. Ia tidak tersenyum canggung. Ia tidak memalingkan muka karena salah tingkah.

Tapi saat ia membuka mulut, suaranya jatuh jauh lebih lembut dari biasanya.

"Kau bangkit karena kemampuanmu sendiri."

Hanya itu. Jawaban sederhana. Tidak ada pemanis buatan.

Tapi efek kalimat itu brutal.

Sri terdiam seketika. Mulutnya sedikit terbuka. Kalimat Fais seolah menabrak rongga dadanya telak. Mengunci pita suaranya secara paksa.

Wanita itu mematung cukup lama. Matanya menjelajah wajah Fais, membedah ekspresi pemuda itu mencari kebohongan atau sekadar basa-basi simpati. Ia tidak menemukan apa-apa. Fais mengatakan fakta mentah yang ia yakini.

Sepanjang sisa makan malam itu, ritme mereka berantakan.

Fais memperhatikan detail kecil yang terus berulang tanpa henti. Sri beberapa kali mencuri pandang ke arahnya saat berpura-pura sibuk memotong makanannya.

Saat mata mereka tanpa sengaja bertemu, Sri akan membuang muka dengan cepat. Meneguk minumannya dengan gerakan leher yang terlalu kaku.

Fais memfokuskan pandangannya ke wajah Sri. Pikirannya bereaksi otomatis.

[Analisis Jejak diaktifkan.]

Garis-garis merah transparan merambat perlahan di udara. Keluar dari siluet postur Sri. Fais membaca semuanya dengan mata telanjang.

Suhu tubuh wanita itu naik. Ritme napasnya jauh lebih pendek dan tersendat. Ada ketegangan ringan di otot lehernya setiap kali ia menatap Fais.

Sistem menerjemahkan sinyal biologis itu menjadi data mentah yang menumpuk di retina Fais.

Fais menyadari ada sesuatu yang retak. Sesuatu yang berubah bentuk dan tumbuh menjadi akar baru di bawah meja ini.

Tapi ia mengabaikan layar merah di matanya. Ia mematikan analisis itu. Ia memilih membungkam mulutnya. Mengunci kenyataan itu rapat-rapat dalam kepalanya.

Makan malam selesai. Mereka melangkah keluar melewati pintu kaca restoran yang berat.

Udara malam ibu kota langsung menampar kulit. Lampu jalan kuning di trotoar Muara Tenang berkedip malas. Menyiram aspal basah dengan cahaya pucat yang temaram.

Suara deru mesin mobil sesekali melintas membelah kesunyian aspal.

Sri berjalan lambat di samping kanan Fais. Bahu mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Suara hak sepatu Sri beradu tajam dengan beton trotoar. Berketuk konstan.

Wanita itu diam. Fais juga melangkah dalam diam.

Sepi keparat itu terasa pekat, tapi anehnya tidak mencekik leher. Tidak ada lagi rasa segan yang kaku atau hitung-hitungan aset perusahaan di antara ayunan langkah mereka.

Angin malam berhembus menyingkap ujung gaun hitam Sri. Menggesek kain itu ke ujung celana Fais.

Sesuatu di udara telah bergeser permanen. Batas garis antara atasan yang absolut dan bawahan yang patuh itu mengabur. Ditelan oleh bayangan mereka sendiri yang memanjang jauh di atas trotoar dingin malam itu.

1
ghost
novel ga jelas...ga usah di baca
Ironside: Terima kasih /Joyful/, kalau boleh tahu. Apa yang perlu aku perbaiki?
total 1 replies
ghost
novel tolol
Ironside: Oke /Smile/
total 1 replies
Cecilia
up heii, udh nunggu agak lama masih 25 chapter. 200 chapter lah kakk
Ironside: Apa-apaan kamu Kak /Curse/. Aku sedang revisi /Scream/
total 2 replies
Gege
kan bisa turun di ruangan fitness apartemen, lari diatas tritmil Thor...🤣🤣
Ironside: Iya sih /Facepalm/
total 1 replies
Gege
pelit bener systemnya Thor...dimana mana ada system buat memudahkan, dan banyak cheat..hiburan harapan dalam bentuk tulisan yang mengalir ringan..🤣
Ironside: Untuk perkembangan sifat MC juga, karena pengalamannya sebatas tukang bangunan aja 😆.
total 1 replies
Cecilia
mana Insectnya kak
Ironside: Tidak ada /Scream/
total 1 replies
Yui
Akhirnya setelah 3x bulan purnama, author ini bikin nopel yang ada insectnya /Proud//Proud/
Ironside: Sembarangan /Curse//Curse//Curse/, tidak ada insect di sini /Grievance/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!