NovelToon NovelToon
Olaf & Cyntaf

Olaf & Cyntaf

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romantis
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."

Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.

Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.

Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.

Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.

Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.

🦋
Selamat Membaca 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#16

Malam di Tribeca kembali menjadi saksi bisu. Begitu Veronica melangkah masuk ke dalam apartemen, ia tidak disambut dengan keheningan yang canggung atau permintaan maaf yang emosional.

Apolo sudah berdiri di sana, bersandar pada pilar beton dengan tatapan yang berbeda—dingin, tajam, dan penuh rasa lapar yang tidak lagi ia tutupi dengan kesopanan seorang Valerio.

Tanpa satu patah kata pun, Apolo menarik pergelangan tangan Veronica, membawanya langsung ke tengah ruangan. Tidak ada lampu gantung yang menyala kali ini, hanya cahaya lampu kota yang masuk melalui jendela setinggi langit-langit, memberikan efek siluet yang dramatis pada tubuh mereka.

Apolo benar-benar melepaskan segala beban pikirannya melalui ledakan gairah yang kali ini terasa lebih kasar, lebih menuntut, dan jauh lebih liar. Ia mengingatkan dirinya sendiri di setiap detik: Jangan bicara soal masa depan. Jangan bicara soal hati. Jadilah pria yang dia inginkan.

Dalam benaknya, Apolo mulai memanggil memori tentang Gavin, si bajingan yang selalu tahu cara memuaskan wanita tanpa harus mengikatnya, dan Dorian, si perayu ulung yang bisa membuat wanita bertekuk lutut hanya dengan bisikan kotor. Apolo memutuskan untuk menanggalkan identitas "pangeran kaku" miliknya malam ini. Ia akan menjadi "brengsek" jika itu satu-satunya cara agar Veronica tetap tinggal di ranjangnya.

"Kau datang secepat itu, Vea..." bisik Apolo tepat di depan bibir Veronica, suaranya kini tidak lagi lembut, melainkan serak dan penuh otoritas. "Kau selemah itu di hadapanku, hmm?"

Veronica tersentak. Ini bukan Azeant yang menawarkan tanggung jawab semalam. Ini bukan Azeant yang memandangnya dengan luka di koridor kampus pagi tadi. Ini adalah sisi gelap dari sang Bangsawan yang belum pernah ia lihat sepenuhnya.

Apolo menarik napas dalam di ceruk leher Veronica, menghirup aroma lavender yang kini sudah bercampur dengan adrenalin. Tanpa peringatan, ia mengangkat tubuh Veronica, membuat kaki gadis itu melingkar di pinggangnya, dan membenturkan punggungnya ke dinding dingin.

"Ahhh... Azeant..." rintih Veronica, terkejut namun sekaligus merasakan sensasi panas yang menjalar di seluruh sarafnya.

"Panggil aku brengsek, Vea. Karena itu yang kau inginkan, bukan? Kau tidak ingin aku menjadi pria baik yang menjagamu. Kau ingin aku menghancurkanmu setiap malam," ucap Apolo dengan kata-kata yang ia tiru dari gaya bicara Gavin saat bercerita di sirkuit.

Veronica menatap mata Apolo di tengah keremangan. Alih-alih merasa takut atau tersinggung, ia justru merasakan sebuah kelegaan yang aneh. Ia tersenyum tipis, tangannya mencengkeram rambut Apolo yang lembap oleh keringat.

"Aku suka dirimu yang seperti ini, Azeant," bisik Veronica berani, sebelum ia sendiri yang menarik wajah Apolo untuk menciumnya dengan brutal. "Jadilah brengsek semau yang kau bisa."

Desahan mereka kini bersahutan, memenuhi setiap sudut ruangan yang luas. Apolo benar-benar kehilangan kendali. Ia membawa Veronica ke sofa, ke meja marmer, dan berakhir di atas ranjang yang kini terasa seperti medan perang.

Setiap sentuhan Apolo terasa lebih dalam, seolah ia sedang mencoba menandai setiap inci kulit Veronica dengan kekuasaan fisiknya.

Apolo merayu wanita itu dengan cara yang paling primitif. Kata-kata kotor yang ia pelajari dari Dorian meluncur begitu saja dari bibirnya, membuat wajah Veronica memanas namun matanya berkilat penuh gairah.

Pangeran Teknik itu kini telah bermutasi menjadi predator malam yang tidak menyisakan ruang bagi Veronica untuk bernapas, apalagi berpikir tentang masa depan.

"Katakan kau milikku, Vea." bisik Apolo saat mereka berada di puncak ritme yang mematikan.

"Aku milikmu... Azeant... hancurkan aku," desah Veronica, seluruh pertahanannya sebagai mahasiswi berprestasi yang mandiri kini telah leleh menjadi cairan gairah yang tidak tertolong.

Mereka menghabiskan waktu berjam-jam dalam siklus nafsu yang tak berujung. Apolo melakukan segala hal yang pernah ia dengar dari teman-temannya—gaya-gaya yang menantang, sentuhan yang provokatif, dan bisikan yang menghasut. Ia melihat bagaimana Veronica menikmati setiap detik dari "perlakuan brengseknya".

Namun, di balik topeng yang ia pakai, hati Apolo sebenarnya menjerit. Setiap kali ia melihat Veronica mendesah karena perlakuannya, ia merasa menang sekaligus kalah. Ia menang karena Veronica tetap bersamanya, tapi ia kalah karena ia harus membohongi perasaannya sendiri agar tidak membuat gadis itu lari.

Setelah ledakan terakhir yang membuat mereka berdua jatuh terkulai di atas seprai yang basah, keheningan kembali merayap. Napas mereka masih memburu, beradu dengan detak jam di dinding.

Veronica berbaring menyamping, menatap Apolo yang masih memejamkan mata. Ia merasa puas secara fisik, namun ada secercah kehampaan yang mulai menyelinap. Ia menyukai sisi "brengsek" Azeant karena itu membuatnya merasa aman dari perasaan cinta yang rumit. Tapi di sisi lain, ia mulai bertanya-tanya, apakah Azeant benar-benar berubah? Ataukah pria ini sedang memainkan peran untuknya?

Apolo membuka mata, melirik ke samping. Ia melihat tanda-tanda merah di bahu Veronica, hasil dari tindakannya tadi. Ia hampir saja secara refleks meminta maaf dan mengecupnya dengan lembut—sisi aslinya yang penuh perhatian hampir keluar. Namun, ia segera menahannya. Ia harus tetap di jalur.

"Jangan berpikir terlalu banyak, Vea," ucap Apolo dingin, sambil meraih sebatang rokok yang jarang ia sentuh dan menyalakannya. "Nikmati saja. Bukankah ini yang kau cari? Kesempurnaan tanpa ikatan?"

Veronica terdiam. Kata-kata itu terdengar seperti belati yang tumpul, tidak menusuk tapi memberikan tekanan yang tidak nyaman. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

"Kau benar. Ini sempurna," jawab Veronica, mencoba menetralkan suaranya agar tetap terdengar datar.

Malam itu ditutup dengan mereka yang berbaring di satu ranjang, namun terasa ada jarak ribuan kilometer di antara mereka. Apolo sukses menjadi "brengsek" yang diinginkan Veronica, namun ia tidak tahu bahwa dengan melakukan itu, ia justru sedang membangun tembok baru yang lebih tinggi.

Veronica membelakangi Apolo, matanya terbuka di kegelapan. Ia menyukai Azeant yang brengsek, tapi ia mulai merindukan Azeant yang semalam menawarkan tanggung jawab. Ia membenci dirinya sendiri karena kemunafikan itu.

Di luar, New York mulai bangun dari tidurnya. Dan bagi dua manusia di dalam apartemen Tribeca itu, permainan peran ini baru saja dimulai.

Mereka saling membohongi diri, merayakan gairah untuk membunuh rasa takut, tanpa menyadari bahwa semakin mereka mencoba menjadi "sekadar teman ranjang", semakin dalam mereka terjerumus ke dalam labirin yang tidak memiliki jalan keluar.

1
Xiao Ling Yi
Dia itu perwakilan perempuan paling nyebelin sedunia
Ros 🍂: hihi🤭
total 1 replies
ren_iren
semangatt kak nulisnya, ceritamu selalu tak tunggu 🤗
Ros 🍂: ma'aciww ya kak. author tunggu masukannya 🫶
total 1 replies
Wifasha
kok gk da,ngulang lg nih bca nya dri awal
Ros 🍂: Maaf ya kak 🫶 cerita nya sudah direvisi, Dan mulai dari awal lagi. dan dengan cerita yang berbeda 🙏🏼🥰
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Bagus lh, ngaku sendiri 🤣🤣🤣
Ros 🍂: Reader silent Silent 🤣🤣🤭
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
B.... ehhh ini aja, Ade, lebih manis, Pemain 🤣🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: Logan, 2 kali kena Karma ya, De 🤣🤣🤣
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
wkwkwk menang di 'card' juga sih 🤣🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: 'Black', yg keluar, auto kalah smua y, De, temen² Apolo itu 🤣🤣🤣
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Kiwww Kiwww Visual di lempar ke 'Arena' ini 🤣🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: Hi hi Fav ya, De 🤣🤭🥳
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Ht², jgn sampe hangus 🤣🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: Hi hi 🤣🤣🤣
total 4 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Biasaa, cwo msh kudu dgetok martil dulu baru sadar-sesadarny 🤦🤦🤦
Ros 🍂: Mari kita getok Bersama Kak 🤭🤣🤣🫣
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Awas y, jgn nyesel udh putusin Apolo
Ros 🍂: iyaa kak 🫶🥰
total 3 replies
ren_iren
selalu menyukai debaran tulisan yg kau ciptakan kak.... serasa diriku masuk ke ceritanya liat adegan2 mereka yg malu2 meowwww... 😂🤣
Ros 🍂: ma'aciww ya kak 🫶😍 semoga suka cerita nya🥰
total 1 replies
ren_iren
gasssss bacaa bacaaa....... 🤗
ren_iren: always kak 🤗
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!