NovelToon NovelToon
Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:404
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.


Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.


Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Lantai dua SMA Nusa Bangsa terasa lebih sunyi dari biasanya meskipun bel pulang sekolah baru saja berdentang. Nala Anindita menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas koridor yang dingin. Matanya menatap lurus ke arah gerbang sekolah, tempat seorang laki-laki dengan tas ransel hitam yang tersampir di satu bahu baru saja berlalu. Laki-laki itu adalah Arga Baskara. Namun, kali ini ada yang berbeda. Arga tidak berjalan sendiri. Di sampingnya, Tania Larasati tampak berbicara dengan riang sambil sesekali menyentuh lengan Arga dengan akrab.

"Masih mau melihat sampai mereka hilang di belokan?" tanya sebuah suara dari arah samping.

Nala tersentak. Ia menoleh dan mendapati Rara Kinanti sudah berdiri di sana dengan melipat tangan di dada. Sahabatnya itu menatap Nala dengan tatapan yang sulit diartikan, antara rasa kasihan dan keinginan untuk menegur.

"Aku cuma merasa aneh saja," gumam Nala sambil membuang muka ke arah lain.

"Aneh karena Arga mulai merespons Tania atau aneh karena dia tidak lagi menungguimu?" pancing Rara dengan nada suara yang tenang namun menusuk.

Nala terdiam sejenak. Ia memilin ujung seragamnya dengan gelisah. Perasaannya sedang tidak keruan sejak kejadian di kelas beberapa hari lalu. Arga seolah membangun benteng setinggi langit yang tidak bisa ia tembus lagi. Tidak ada lagi tatapan teduh yang diam-diam mengawasinya atau bantuan kecil yang diberikan tanpa banyak bicara. Arga yang sekarang terasa sangat asing, seperti orang asing yang kebetulan pernah berbagi ruang dengannya.

"Dia benar-benar berubah, Ra. Kemarin dia bahkan tidak menoleh saat aku memanggilnya di kantin. Padahal aku tahu pasti dia mendengarnya," ujar Nala dengan nada suara yang merendah.

Rara menarik napas panjang. Ia mengajak Nala untuk duduk di bangku taman bawah pohon flamboyan yang bunganya mulai berguguran. Suasana sekolah yang mulai sepi memberikan ruang bagi mereka untuk bicara lebih dalam tanpa gangguan siswa lain yang berlalu-lalang.

"Kenapa kamu peduli, Nala? Bukankah beberapa hari lalu kamu sendiri yang menjodoh-jodohkan dia dengan Tania? Kamu bahkan bilang mereka sangat serasi, kan?" tanya Rara sambil menyelidiki reaksi wajah sahabatnya.

Pertanyaan itu menghantam Nala tepat di ulu hati. Ia memang mengatakan hal itu, namun ia tidak menyangka rasanya akan sesakit ini ketika ucapannya benar-benar menjadi kenyataan. Nala merasa seperti kehilangan pegangan yang selama ini selalu ada di sana, meski ia tidak pernah benar-benar mengakuinya di hadapan siapa pun.

"Aku cuma bercanda saat itu. Aku pikir Arga tidak akan seserius itu menanggapi Tania," bela Nala meskipun ia tahu alasannya terdengar sangat lemah dan tidak masuk akal.

Rara menggelengkan kepala perlahan. Ia memperhatikan raut wajah Nala yang tampak mendung. Sebagai orang yang selalu memperhatikan dinamika di sekitar mereka, Rara melihat banyak hal yang selama ini luput dari perhatian Nala yang terlalu fokus pada angka-angka matematika dan ambisi akademisnya.

"Nala, kamu tahu tidak kenapa Arga berubah jadi sedingin es sekarang?" tanya Rara sambil menatap mata sahabatnya lekat-lekat.

Nala menggeleng pelan. Matanya tampak sedikit berkaca-kaca, namun ia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya agar tidak jatuh.

"Itu karena kamu sudah keterlaluan. Kamu memperlakukan perasaannya seperti sebuah lelucon yang tidak lucu. Kamu mendorong dia ke orang lain seolah-olah dia itu beban yang ingin segera kamu singkirkan dari hidupmu," tutur Rara dengan jujur.

"Tapi aku benar-benar tidak tahu kalau dia punya perasaan padaku, Ra. Dia tidak pernah bilang apa-apa padaku selama ini," sanggah Nala dengan suara yang sedikit bergetar.

Rara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung rasa getir. Ia mengusap bahu Nala dengan lembut untuk menenangkannya. Menurutnya, Nala adalah gadis yang sangat pintar dalam urusan pelajaran, namun sangat buta dalam membaca bahasa hati seseorang yang tulus mencintainya.

"Ada orang yang mencintai dengan kata-kata, tapi ada juga orang yang mencintai dengan tindakan dan kesunyian yang panjang. Arga itu tipe yang kedua. Dia sudah ada di dekatmu sejak kita masih kecil, kan? Dia selalu ada di sana, menjaga jarak yang pas supaya kamu tidak merasa terganggu, tapi cukup dekat untuk menangkapmu kalau kamu jatuh," jelas Rara.

Nala tertegun mendengar penjelasan itu. Kata-kata Rara memicu kilas balik yang sangat kuat dalam benaknya. Ia teringat bagaimana Arga melindunginya dari lemparan bola basket tempo hari tanpa memedulikan keselamatannya sendiri. Ia teringat bagaimana Arga selalu tahu kapan ia butuh bantuan tanpa perlu ia meminta terlebih dahulu. Bahkan ada getaran dejavu yang terus-menerus muncul setiap kali ia berada di dekat cowok itu belakangan ini.

"Kamu curiga kalau dia memendam sesuatu yang lebih dalam dari sekadar teman lama?" tanya Nala dengan suara nyaris berbisik.

Rara mengangguk mantap. Ia memperbaiki posisi duduknya agar bisa berhadapan langsung dengan Nala. Ia ingin sahabatnya itu benar-benar mengerti situasi yang sedang terjadi sebelum semuanya terlambat.

"Aku tidak cuma curiga, Nala. Aku yakin seratus persen. Tatapan matanya ke kamu itu berbeda. Itu bukan tatapan teman sekelas biasa atau teman masa kecil yang sudah lama tidak bertemu. Itu tatapan seseorang yang sudah menyimpan rahasia besar selama bertahun-tahun. Dan sekarang, setelah kamu mematahkan harapannya dengan cara yang paling halus namun sangat menyakitkan, dia memilih untuk menyerah," kata Rara telak.

Dada Nala terasa sesak seketika. Ia merasa ada sesuatu yang sangat berharga yang baru saja terlepas dari genggamannya tanpa ia sadari. Kesadaran itu datang terlambat, seperti hujan yang turun setelah tanaman layu kering kerontang. Ia memikirkan kembali janji masa kecil yang sering ia lupakan, janji yang mungkin bagi Arga adalah segalanya yang ia pegang teguh hingga saat ini.

"Lalu aku harus bagaimana, Ra? Dia bahkan tidak mau menatap mataku sekarang," tanya Nala dengan keputusasaan yang mulai nyata terlihat di wajahnya.

Rara bangkit dari duduknya dan merapikan rok seragamnya. Ia menatap Nala dengan sangat serius sebelum pergi meninggalkan sahabatnya itu dengan pemikirannya sendiri di bawah pohon flamboyan.

"Tanyakan pada dirimu sendiri dulu, Nala. Apakah kamu merasa kehilangan Arga karena egomu terluka karena dia tidak lagi memperhatikanmu, atau karena kamu sebenarnya juga punya perasaan yang sama dengannya? Sebelum kamu menemukan jawabannya, jangan pernah coba-coba menarik dia kembali. Itu hanya akan menyakitinya lebih dalam lagi dari sebelumnya," ucap Rara tegas.

Nala tetap duduk di sana sendirian saat senja mulai menjemput. Bayangan Arga yang berjalan menjauh bersama Tania terus berputar di kepalanya. Ia menyadari satu hal yang sangat menakutkan bagi hatinya sendiri. Selama ini ia menganggap Arga adalah konstanta dalam hidupnya yang tidak akan pernah berubah, namun ia lupa bahwa konstanta sekalipun bisa hilang jika variabel di sekitarnya terlalu kasar memperlakukannya.

Laki-laki pendiam yang biasanya duduk di pojok kelas itu kini bukan lagi sosok yang bisa ia jangkau dengan mudah. Tembok yang dibangun Arga sekarang bukan sekadar pertahanan diri, melainkan sebuah pernyataan bahwa ia sudah cukup lelah untuk terus menunggu seseorang yang bahkan tidak ingat bagaimana mereka memulai segalanya delapan tahun yang lalu. Nala menunduk, menatap ujung sepatunya dengan perasaan bersalah yang mulai menggerogoti jiwanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!