Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan
Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.
Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.
Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.
Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.
Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.
Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalam Gelap, Aku Memilihmu
Bab 28 – Dalam Gelap, Aku Memilihmu
DORRR!!!
Suara tembakan memecah keheningan malam yang gelap gulita.
Alya menjerit kecil dan memejamkan mata erat-erat, tangannya mencengkeram kemeja Kael sekuat tenaga seolah itulah satu-satunya penolongnya.
Tubuh pria itu tetap kokoh dan tenang di depannya, bagaikan tembok baja yang tak tergoyahkan.
Terdengar suara benda berat jatuh menghantam lantai.
BRAK!
Disusul rintihan kesakitan yang tertahan.
Beberapa detik kemudian, lampu darurat berwarna merah menyala redup, cukup untuk memperlihatkan sosok penyusup yang kini terkapar tak berdaya di dekat pintu.
Pisaunya terlempar jauh.
Peluru yang ditembakkan Kael tepat menembus bahu pria itu.
Alya perlahan membuka matanya dan menatap pemandangan itu dengan napas tertahan.
“Oh Tuhan…”
Kael baru menurunkan pistolnya sedikit, namun tangan satunya masih erat melingkar di pinggang Alya, menjaga gadis itu tetap berada di belakang tubuhnya.
“Lepaskan aku,” gerutu Alya kesal.
“Belum sepenuhnya aman.”
“Kamu selalu saja bilang begitu.”
“Karena apa yang kukatakan selalu benar.”
Tiba-tiba terdengar ketukan keras dari luar pintu.
“TUAN!”
Itu suara Riko.
Kael membuka pintu hanya setengah, tetap waspada dan tidak melepaskan posisi melindungi Alya.
“Masuk.”
Riko dan dua orang pengawal lainnya masuk dengan cepat, langsung menyeret tubuh penyusup yang berdarah itu keluar.
Sebelum pergi, Riko sempat melapor dengan suara pelan.
“Ini orang suruhan ayah Anda, Tuan.”
Alya yang mendengarnya langsung menoleh tajam ke arah Kael.
“Apa?! Jadi dia orang ayahmu?”
Kael tampak sama sekali tidak terkejut mendengarnya.
“Aku tahu.”
“Kamu tahu kalau ada orang yang mau menyerang dan membunuh kita malam ini?”
“Aku memang curiga sejak tadi.”
Alya langsung melepaskan cengkeramannya dan mendorong dada bidang pria itu dengan kesal.
“DAN KAMU NGGAK BILANG APA-APA PADAKU?!”
“Aku ingin memastikan dulu dugaanku benar.”
“Dengan menjadikanku umpan hidup seenaknya?!” bentak Alya tak terima.
Kael menatapnya datar.
“Karena aku ada di sini bersamamu.”
“Itu bukan jawaban yang bisa menenangkan hati orang tahu!”
Dari samping, Riko berdeham pelan merasa canggung.
“Apakah saya… sebaiknya keluar dulu?”
“KELUAR!” jawab Alya dan Kael serentak dengan nada kesal.
Riko langsung buru-buru pergi sambil menahan senyum geli melihat interaksi mereka.
Begitu pintu tertutup rapat, Alya langsung berbalik menghadap Kael.
“Kamu ini benar-benar gila.”
Kael meletakkan pistolnya di atas meja.
“Ya.”
“Dan sangat arogan.”
“Sering dibilang begitu.”
“Dan paling menyebalkan sedunia!”
“Tapi kau tetap mau berada di sini.”
Alya membuka mulut hendak membalas, tapi langsung menutupnya lagi.
Sialan. Pria itu benar lagi.
Kael berjalan mendekat perlahan. Cahaya lampu merah yang redup membuat garis wajahnya terlihat semakin tajam, gagah, dan terasa sangat berbahaya.
“Kenapa marah?”
“Karena tadi aku bisa saja mati tertembak!”
“Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi padamu.”
“Kamu selalu saja terlalu percaya diri dan merasa bisa mengendalikan segalanya!”
Kael berhenti tepat di hadapan Alya, jarak mereka hanya tinggal beberapa jengkal.
“Bukan segalanya.”
“Lalu apa yang tidak bisa kamu kendalikan?” tanya Alya menantang.
“Kau.”
Jantung Alya seakan berhenti berdetak sejenak mendengarnya.
“Aku tidak pernah bisa mengendalikan perasaan atau pikiranmu.”
Alya menelan ludah dengan susah payah.
“Syukurlah kalau begitu.”
Kael perlahan mengangkat tangannya, menyelipkan helaian rambut yang berantakan di wajah Alya ke belakang telinga. Sentuhan jarinya terasa hangat dan membuat kulit gadis itu merinding.
“Tapi aku akan terus berusaha.”
Suasana di kamar itu mendadak menjadi sangat sunyi.
Terlalu sunyi.
Terlalu dekat.
Dan suasananya terasa semakin panas dan menegangkan.
Alya buru-buru mundur selangkah memutuskan momen itu.
“Aku tidur di sofa saja.”
“Tidak.”
“Kenapa sih hidupmu selalu anti sama sofa?!”
“Soalnya sempit dan tidak nyaman.”
“Aku kan kecil, cocok kok!”
“Makanya lebih baik kau tidur di ranjang.”
“Kamu ini…”
Kael menunjuk ke arah ranjang besar di belakangnya.
“Kau tidur di sana. Aku akan bekerja di meja.”
Alya mengernyitkan dahi bingung.
“Kerja?”
Kael mengambil laptopnya lalu duduk di kursi kerja menghadap meja.
“Sidang keluarga tinggal tiga hari lagi. Aku harus mempersiapkan segalanya. Aku harus menang.”
Nada suaranya berubah drastis menjadi dingin, serius, dan penuh tekad.
Alya diam menyimak sebentar.
“Kalau sampai kalah gimana?”
Kael tak langsung menjawab, jari-jarinya berhenti mengetik sejenak.
“Kalau aku kalah… ayahku akan mengambilmu dariku.”
Tubuh Alya menegang mendengarnya.
“Ambil aku? Seolah-olah aku ini barang atau harta benda?”
“Ya. Begitulah cara pikirnya.”
“Menjijikkan sekali.”
“Setuju.”
Alya memandang punggung lebar pria itu lebih lama.
Selama ini Kael memang terlihat posesif, suka mengatur, dan keras kepala. Tapi entah kenapa… di antara semua orang aneh dan berbahaya di keluarga itu, dialah satu-satunya orang yang selalu berdiri di depan membela dan melindunginya setiap kali bahaya datang.
Alya akhirnya duduk di tepi ranjang.
“Kalau nanti kamu yang menang…”
Kael mengangkat wajahnya menatap Alya dari balik layar laptop.
“Ya?”
“Aku ingin tetap bebas menentukan pilihan hidupku sendiri.”
Kael menatapnya dalam diam selama beberapa detik.
“Tidak sepenuhnya bebas.”
“KAEL!” seru Alya mendelik kesal.
Pria itu hampir tersenyum melihat ekspresinya.
“Bebas untuk memilih.”
Jantung Alya berdebar aneh lagi mendengarnya.
“Memilih apa?”
“Memilih apakah kau mau tetap tinggal di sisiku… atau membuatku harus mengejarmu sampai ke ujung dunia lagi.”
Alya langsung mengambil bantal dan melemparnya ke arah pria itu.
BYUR!
Kael menangkap bantal itu dengan mudah hanya menggunakan satu tangan.
“Aku suka sisi agresifmu begini.”
“TIDUR SANA! JANGAN BICARA BANYAK!”
Tengah malam telah lewat.
Alya sudah berbaring, namun matanya tak kunjung terpejam.
Di sudut ruangan, Kael masih sibuk bekerja di depan laptop, diterangi cahaya layar yang memantul ke wajahnya yang tampak sangat serius.
Kemejanya terbuka sedikit di bagian leher, lengan bajunya tergulung rapi memperlihatkan otot lengan yang kekar.
Menyebalkan sekali rasanya… kenapa pria sejahat dan sekeras ini bisa terlihat begitu tampan dan memikat?
Alya buru-buru memalingkan wajah.
“Apa?” tanya Kael tiba-tiba tanpa bahkan menoleh sedikit pun.
“AKU NGGAK NGAWANGIN KAMU!”
“Kau baru saja mengakuinya.”
“Astaga, kenapa aku harus satu kamar sama orang aneh begini…”
Akhirnya Kael berdiri, mematikan laptopnya, dan berjalan perlahan mendekati ranjang.
Alya langsung duduk tegak waspada.
“Mau apa?”
“Tidur.”
“Di mana?”
Kael menatap ranjang luas itu seolah pertanyaan Alya adalah hal paling bodoh yang pernah didengarnya.
“Pertanyaan bodoh.”
“TIDAK BOLEH! Tadi kan kamu bilang mau kerja terus?!”
“Aku sudah selesai.”
Alya mundur sampai ke ujung kepala ranjang.
“Kamu bisa tidur di sofa kan?”
“Aku anti sofa, sudah kubilang.”
“Kamu seenaknya sendiri bikin aturan!”
“Ya. Karena ini kamarku.”
Dengan tenang dan santai, Kael naik ke atas ranjang dan berbaring di sisi sebelah kanan. Kasur empuk itu sedikit terbenam karena berat tubuhnya.
Alya menahan napasnya.
Mereka berbaring terpisah dengan jarak sekitar satu meter, namun rasanya jarak itu terasa sangat dekat dan membuat jantung berdebar tak karuhan.
Hening menyelimuti kamar itu.
Beberapa saat kemudian, Alya memberanikan diri berbisik pelan.
“Kael…”
“Hmm?”
“Kalau tadi penyusup itu berhasil masuk dan melukaimu…”
“Tidak akan mungkin.”
“Kalau saja berhasil?” desak Alya.
Kael menoleh perlahan dalam kegelapan, suaranya terdengar sangat rendah dan serak.
“Kalau sampai dia berhasil menyentuhmu satu jari pun… maka aku akan membakar seluruh rumah ini sampai rata dengan tanah beserta isinya.”
Alya terdiam mendengarnya.
“Kamu memang selalu berlebihan.”
“Tidak soal kau.”
Jantung Alya berdetak sangat kencang mendengar kalimat itu.
Beberapa menit berlalu, Alya mencoba memejamkan mata untuk tidur.
Namun tiba-tiba petir menyambar keras di luar.
DUARR!!!
Guntur itu membuat Alya tersentak kaget dan secara refleks bergeser mendekat ke arah sumber kehangatan.
Kael tanpa berkata apa-apa langsung membuka satu lengannya, memberi isyarat agar gadis itu masuk ke dalam pelukannya.
Alya menatapnya dalam gelap.
“Aku nggak takut lho.”
“Tapi badanmu sudah ada di sini, di sampingku.”
“Ini cuma… posisi tidur yang nyaman saja.”
“Bohong besar.”
Alya kesal, tapi tetap diam dan tidak menjauh.
Kael menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.
Pelukan pria itu terasa sangat hangat, kokoh, dan membuat Alya merasa sangat terlindungi.
Rasa aman itu… ternyata sangat berbahaya.
Karena perlahan-lahan Alya sadar, dirinya mulai sangat menyukai rasa aman dan tenang saat berada di dekat pria ini.
Dalam keadaan setengah sadar dan mengantuk, Alya berbisik sangat pelan.
“Aku masih marah sama kamu tahu.”
Kael menjawab dengan mata tetap terpejam, suaranya berat dan mengantuk.
“Besok juga boleh marah lagi.”
“Dan aku belum memutuskan mau pilih apa.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa kamu bisa tenang-tenang saja tidur?”
Kael perlahan membuka matanya sedikit, menatap wajah gadis itu dalam gelap.
“Karena meski dalam gelap sekalipun… aku tahu kau tetap akan memilih mendekatiku.”
Tubuh Alya membeku mendengarnya.
Ia buru-buru menutupi wajahnya dengan bantal agar Kael tidak melihat pipinya yang memerah.
“TIDUR SAJA KAMU! MAFIA SIALAN!”