Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.
Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.
Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Ingat nama
Jauhkan angan-angan disambut dengan karpet merah atau berfasilitas lengkap, bersama karangan bunga dan marching band, sebab rumah semi permanen satu lantai diantara pemukiman yang mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan ini jauh dari kata mewah untuk ukuran rumah seorang kadus.
Tentu saja, daerah pelosok ini berada dekat pesisir, dengan segudang permasalahan hidupnya. Apa yang diharapkan?
Mendadak rumah Ema Flo ramai dan hangat oleh kehadiran mereka, cahaya putih dari lampu berpendar bersama obrolan riuh. Gelas gelas berisi kopi Manggarai, dimana biji kopi lokal arabica yang bercita segar dengan aroma lemon menguar wangi. Roasting alami yang membuatnya berbeda.
Bukan itu saja, ada susu jagung olahan dari komoditas negri timur. Hangat, aromanya manis dan mereka yang ada disana nampak suka, Ivy mengernyit, "ini apa?" sesaat setelah seorang wanita muda membawakan dan membagikan minuman bergelas-gelas itu untuk tetamu.
Itu Kaka Catherine, putri kedua dari Ema Flo. Rambut keriting yang lebat cukup rapi dalam ikatan.
"Uu jagung." jawab Gabriel tengil, Imel menggeplaknya lemas, "susu."
"Kan ngga pake es...ini anget." Jawab Gabriel lagi sekenanya.
"Saravv," Gege mengumpat kecil. Disana Arsa berbaur dengan ema dan para tetua, serta beberapa orang perangkat RT RW nya.
Koper-koper diturunkan dari truk reo, oleh aparat serta pemuda dusun, ende Hana membawa satu keranjang singkong dan ubi rebus menyusul minuman.
"Silahkan dicicipi." Ucapnya sedikit terbata berbicara dengan para mahasiswa ibukota ini. Ivy dan Gege saling menatap, sementara para kaum lelaki yang tersebar di dalam dan di teras luar nampak anteng saja, terkesan riang melepas dahaga.
"Terimakasih." Bunyi dentingan gelas beradu semakin membuat suasana ramai.
Berbicara ngaler ngidul bersama beberapa anggota aparat yang juga masih disana, sesekali hewan peliharaan seperti an jing berkeliaran bebas di luar sana.
"Terimakasih, saya cicip ya, ende..." itu Raudhah yang mengawali.
Arsa masih menimpali para sepuh bicara bersama Made dan Bumi, sementara Gege, dengan wajah masamnya merasa tak nyaman.
"Laper gue." bisik Gege pada Ivy yang mengangguk, melihat keranjang hijau dengan isian umbi-umbi rebus itu membuat perut mereka demo.
Begitupun saat Raudhah memotek ubi, sehingga aromanya menguar bersama asap hangat, tampilannya cukup menggugah semakin membuat perut mereka keroncongan, "emh, enak loh, masih hangat." Ucap Raudhah.
"Seriusan?" tanya Ivy, Imel mengikuti jejak Raudhah dengan menyesap sejenak gelas berisi susu jagung miliknya, "enak."
Ivy dan Gege langsung berebut mengambil milik mereka.
Nanda hampir meledakan tawanya melihat Ivy dan Gege jika tak ingat kala itu masih ramai.
"Esok, ale dan ade nona mahasiswa kami tunggu di balai dusun Tanjung komodo. Sementara, untuk rumah singgah yang akan ditempati, letaknya beberapa petak dari sini. Disini tidak semua beragama seperti Ema dan Ende, justru di sebelah timur itu tempat nana (panggilan khusus untuk lelaki merujuk pada anak-anak kkn) dan enu (panggilan khusus perempuan merujuk pada anak kkn) akan menginap selama 45 hari...mayoritas dihuni oleh muslim."
Raudhah tersenyum, Alhamdulillah....
"Kami sangat menghormati, perihal sesuatu berbau halal. Jadi, demi kenyamanan....ase (adik) sekalian, kami menyiapkan satu rumah singgah disana."
"Terimakasih, Ema...Ende."
Keberagaman agama dan suku di Nusantara memang kaya tapi dari kesemuanya ada toleransi yang patut diacungi jempol, terkhusus disini.
Dan malam ini, masih di hari yang sama, disaat larut mulai menelan malam yang semakin gulita, para mahasiswa KKN ini masih harus berjalan ke arah tempat basecamp, dengan jarak sekitar 2 km menyusuri jalanan dusun.
Dan oh ya ampun....Ivy sangat-sangat ingin menangis saat itu juga, mau istirahat aja susah....mau pulang!
Ia bahkan sudah terisak diantara langkahnya menggusur koper diantara jalanan berbatu, sesekali roda kopernya harus terjebak dan berguncang lalu menggilas pasir abu, seperti pasir pantai.
"Lo apa sih, Vy...jangan apa-apa mewek terus. Ke depannya ngga akan bener loh, yang semangat....semuanya akan terasa mudah kok, kalo dijalani dengan happy..." Itu Arsa yang selalu menenangkan sejak awal.
Tak menjawab, ia memilih menghemat tenaganya untuk mencapai basecamp, sumpah...udah pegel.
Sepi, sebab malam...meski tak jarang beberapa orangnya mereka temui saat akan melaut. Juga cahaya yang berpendar dari teras-teras rumah.
Angin laut dengan bau amis dan segar dalam sekali waktu samar tercium meski jarak ke kawasan laut tak begitu dekat, tapi tetap saja....angin membawanya terbang hingga ke tempat ini.
Senyap, mereka hanya diantar oleh Ema Flo, Ende Hana, dan tentu saja pak Drajat dan pak Firman.
"Cape.." keluh Gege. Melihat para perempuan yang menyedihkan mereka tak bisa untuk tak membantu meskipun barang bawaan mereka pun cukup banyak.
"Mau gue gendong?" tawar Bumi digelengi Gege.
"Sudah dekat." Ucap Ema Flo.
Dan bangunan kayu lainnya sudah menyambut, diantara deretan rumah dengan jarak yang terbilang agak berjauhan. Siraman lampu oranye memendar di luar teras sederhana rumah kayu yang tak terlalu besar itu. Struktur kayunya bahkan bukan kayu baru, melainkan sudah agak lama dan terlihat rapuh di beberapa bagian. Atapnya yang dilapisi asbes dan rumbia. Well, mereka harus tetap bersyukur.
Ivy semakin dibuat getir dan kacau melihat calon basecamp mereka.
"Alhamdulillah," itu pak Drajat yang berucap dan langsung menjatuhkan pan tatnya di teras setelah menjejak undakan tangga. Ende membuka pintu dan menyerahkan kunci pada Arsa memperlihatkan beberapa ruangan sekaligus fasilitas sederhana dari rumah.
"Hati-hati kalian disini." Pak Drajat dan pak Firman tidak ikut menginap di sini melainkan di rumah Ema Flo, mengingat kapasitas rumah yang tak begitu besar.
Mereka turut kembali bersama Ema Flo.
Raudhah dan Tami sudah melenggang masuk, Imel apalagi...ia bahkan sudah lemas sejak tadi, Arsa dan yang lain ikut menyerbu beranda.
"Wahhh, istirahat istirahat, jadwal besok padat merayap kaya si Komo."
Ema Flo tersenyum lebar, "kalau begitu, kami pamit...mengingat waktu yang sudah malam, dan kalian semua butuh istirahat."
"Terimakasih sekali lagi ema, Ende..." ucap Arsa, Raudhah menirunya bersama yang lain.
"Sa, anak-anak, bapak tinggal... selamat malam, selamat beristirahat." Keempat orang dewasa itu kembali, semakin menjauh semakin mengecil dan hilang diantara malam.
Ivy dan Gege berebut masuk, "tadi gue liat ada yang ngerayap disana, takut an jirrr!"
"Tutup-tutup oyyy!" mereka ngibrit masuk dan menutup pintu.
"Jangan lupa kita mesti ke lanal timur dulu pagi-pagi, buat pinjem beberapa keperluan sekaligus mengambil barang yang belum sempat dibawa malam ini."
"Kenapa tadi ngga sekalian sih, Sa? Ngga mesti bolak-balik begitu..." Ivy, akhirnya buka suara, "lanal jauh loh, 2 jam, Sa... 2 jam bayangin sama elo..." jawabnya bersungut-sungut.
"Kan di jadwal emang besok harusnya kedatangan kita, Vy."
"Oh my God, gue mau tidur pake apa, Arsa?!" wajah Gege begitu mengenaskan, ia bahkan sudah berkaca-kaca.
"Sini tidur di pelukan gue aja Ge..." tawar Bumi dicebiki Gege.
"Kamar sini ada kasur tipis, dipake buat cewek aja guys..." itu Raudhah yang rupanya sudah mengeksplore bagian rumah.
Ivy dan Gege serta Imel langsung masuk ke dalam kamar.
"Kamarnya cuma hiji. Yang cowok di ruang tengah aja."
"Udah terlalu malem buat ngatur, semeremnya aja lah..."
Sungguh, Ivy tak bisa tidur, selain dari badannya yang lengket karena gerah dan perjalanan kini ia dihadapkan dengan tempat yang----
Kresek---kresek---kresekk
"Ra, itu bunyi apa?" ia mencolek-colek Raudhah yang sudah membuka jilbabnya, "apa Vy?"
"Ngga tau. Komodo bukan sih? Gue takut jadi santapan kadal purba satu itu ihhh ! Yang lain masih pada bangun ngga sih?"
"Kayanya udah mulai merem deh...udah tidur aja."
Gege, sama halnya Ivy, hidung dan matanya bahkan sudah memerah, "gue ngga yakin bakalan betah..."
Ivy mengangguk.
"Percaya deh, besok bakalan lebih baik. Besok bakalan dipinjemin fasilitas dari lanal. Katanya sih ada velbed, kantung tidur, beberapa ransum buat sedikit tambah-tambah makanan."
Ivy mengangguk mencoba mensugesti dirinya dengan ucapan Raudhah, menatap ke arah atap asbes, besok lebih baik, besok lebih baik....
Baru akan terlelap, gangguan lain membuat Ivy kembali terjaga, padahal yang lain sudah terlihat senyap, mungkin hanya ia dan Gege yang terjaga... ngueengg--nguengg--ngueeng...
"Ck, nyamuk!"
"Vy, Lo masih bangun?"
"Masih Ge..."
"Ngga bisa tidur Vy..."
Lana, ia baru saja kembali. Ada senyuman yang terukir sepulang dari mengantarkan mahasiswa KKN.
Panji berada di teras mess bersama yang lain, kapten Samudra beberapa kali mengepulkan asap putih di udara bersama Dena sementara Bara dan Panji, keduanya justru menyeduh kopi instan sambil berselancar di dunia maya.
"Lah baru balik nih,"
"Lancar?" tanya kapten Samudra diangguki Lana, "beneran mahasiswa ibukota."
Panji menyadari senyuman jijay itu, "ngapa Lo, mesam mesem sendiri?"
"Nji, Lo tau UNJANA di daerah mana?"
"Tau gue..." bukan Panji melainkan Bara yang buka suara, "kenapa emangnya?"
"Tadi gue sempet ngobrol, ngobrol kecil sih...tapi cantik bruhhh,"
Mereka tertawa tak terkecuali kapten Samudra, "lah, yang onoh gimana?"
"Ck. Friend zone mah buat apa di pelihara, kapt..." Dena begitu berapi-api, "mending cari yang baru. Aslinya bang? Ada berapa orang mahasiswi nya, cantik-cantik?"
Kelana mengangguk, "aslinya!"
Panji menggeleng, "adek sepupu gue di UNJANA."
"Oh ya? Kenal dong sama mahasiswi yang namanya Raudhah...."
Panji mengernyit, "meneketehe..."
"Anjirrr ngga tau anak mana udah kenal nama aja."
"Kalo Pravita Ayudisa?" lagi, Kelana mengabsen nama. Panji langsung menghentikan gerakan jarinya, "siapa Lo bilang?"
"Raudhah, budeg..." sarkas Kelana, "cantik, jilbaban."
"Bukan---bukan itu yang setelahnya." Geleng Panji kini sudah berdebat antuasias membuat yang lain mencibir, "Napa lu bang? Berasa kenal juga?! Basiii!" seru Dena dan Bara.
"Pravita, cantik banget anjirrr kaya model, tapi aduhhh manja padahal polos-polos kocak. Tapi gue lebih suka yang keibuan, kalem...mukanya kaya sumur, sejuk."
Hahahahaha!
"Besok mereka ada kesini juga kan? Buat pinjem peralatan survive, velbed, kantung tidur."
Panji lagi-lagi dibuat memperhatikan dengan seksama. Entahlah ada rasa penasaran sekaligus tak sabar.
.
.
.
aaaahhh sok nyesek we kalo ngabayangkeun hal seperti ini th aku mh 😭😭
sampe bawah, bang Nji g nongol 😢
alibi aja nyari sarapan, jauh bener lu nyari sarapan doank, sarapan mata ya nji 🤣🤣🤣🤣🤣
gua berdoa semoga para koruptor dan di hukum mati