Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.
Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.
Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
[Ding! Target Kepala Sekte Zhao Wuji mengalami trauma mental berulang. Mendapatkan +5.000 Poin Sampah.]
Suara notifikasi dari sistem mengiringi langkah Li Zhen yang mengabaikan sang Kepala Sekte dan beralih menuju pilar emas di sudut beranda. Di sana, Penatua Mo Jian masih berdiri mematung dengan jari-jari yang berdarah, matanya menatap kosong ke arah ukiran naga yang berantakan.
"Hei, kolektor kelinci merah muda, apakah kau menyebut coretan cakar berdarah ini sebagai karya seni tingkat tinggi?" tegur Li Zhen dingin. Pria berbaju zirah perak itu tersentak hebat, kapalan di jarinya terasa semakin perih saat menyadari hasil kerjanya dihina habis-habisan.
Mo Jian menelan ludah dengan susah payah, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya yang sudah sangat sembab dan merah. "H-hamba sudah berusaha sekuat tenaga, Senior Agung, kuku jari hamba tidak cukup tajam untuk mengukir emas spiritual ini," bisiknya dengan suara bergetar.
Li Zhen menggelengkan kepalanya dramatis, memutar bola matanya ke atas seolah sedang berhadapan dengan murid taman kanak-kanak yang paling bodoh. "Itu karena kau mengukir emas ini dengan hati yang terlalu lembut, persis seperti saat kau sedang menyisir bulu boneka kelincimu setiap malam."
Pukulan mental telak itu langsung membuat Mo Jian terbatuk keras, memuntahkan sedikit darah kotor yang menodai lantai giok putih di bawahnya. Pria tua itu jatuh terduduk sambil memegangi dadanya, menangis meraung-raung meratapi kehidupannya yang kini benar-benar hancur berantakan.
[Ding! Target Penatua Mo Jian mengalami kerusakan Dao Heart berkelanjutan. Mendapatkan +6.500 Poin Sampah.]
Li Zhen tertawa terbahak-bahak melihat reaksi menyedihkan dari penegak hukum sekte yang biasanya ditakuti oleh ribuan murid tersebut. Dia mengusap perutnya yang tiba-tiba kembali berbunyi, menyadari bahwa menyiksa mental para kultivator tua ini ternyata sangat menguras energinya.
"Aku lapar, dan aku tidak ingin makan buah-buahan spiritual yang rasanya seperti permen karet hambar itu pagi ini," pengumuman Li Zhen bergema keras. Dia menyapu pandangannya ke arah kerumunan tetua yang masih berdiri gemetar, mencari sosok yang tepat untuk dijadikan koki pribadinya.
Matanya tertuju pada seorang pria tua berjubah hijau zamrud yang memiliki aroma khas obat-obatan herbal yang sangat kuat menempel di tubuhnya. Layar biru sistem langsung memunculkan informasi rahasia tepat di atas kepala pria tua yang sedang menunduk ketakutan tersebut.
[Target: Tetua Yao (Kepala Balai Alkimia). Kelemahan Mental: Sangat terobsesi dengan kebersihan panci alkimianya dan menganggap memasak makanan fana adalah penghinaan terbesar bagi seorang alkemis suci. Dia juga diam-diam tidak bisa membedakan antara garam dan bubuk peledak api jika tidak mencicipinya terlebih dahulu.]
Senyum iblis andalan Li Zhen kembali mengembang dengan sangat sempurna, matanya berkilat memancarkan niat jahat yang sangat terencana. Dia melangkah perlahan mendekati Tetua Yao, langkah sepatunya yang diseret sengaja menciptakan teror psikologis yang membuat pria tua itu meneteskan keringat dingin.
"Kau yang memakai jubah hijau seperti bungkus daun pisang layu, majulah ke depan sekarang juga," perintah Li Zhen dengan nada mutlak. Tetua Yao tersentak kaget, kakinya melangkah maju dengan sangat ragu-ragu dan tubuhnya bergetar layaknya daun kering yang tertiup angin kencang.
"J-junior ini mendengarkan perintah Senior Agung, apakah ada yang bisa hamba bantu untuk meracik pil pagi ini?" tanyanya dengan suara parau. Pria tua itu memaksakan senyum hormat yang terlihat sangat dipaksakan, tangannya meremas ujung jubah hijaunya dengan kuat menahan kepanikan.
Li Zhen mendecakkan lidahnya keras-keras, melipat kedua lengannya di dada dengan postur yang sangat merendahkan eksistensi alkemis tersebut. "Siapa yang meminta pil racikanmu yang bentuknya seperti kotoran kambing kering itu? Aku ingin kau memasak bubur beras fana untuk sarapanku."
Mendengar perintah yang sangat di luar nalar itu, mata Tetua Yao membelalak lebar memancarkan rasa tidak percaya dan syok berat. Memasak bubur beras manusia fana adalah sebuah tindakan yang sangat merendahkan martabat seorang alkemis kelas atas di dunia kultivasi manapun.
"S-Senior Agung, hamba adalah Kepala Balai Alkimia, hamba tidak memiliki peralatan dapur untuk memasak makanan fana," tolak Tetua Yao dengan hati-hati. Dia membungkukkan badannya dalam-dalam, berharap iblis berwujud pemuda ini akan membatalkan perintah konyol yang menghancurkan kebanggaannya tersebut.
Li Zhen tertawa sinis, menunjuk tepat ke arah perut Tetua Yao yang menyimpan cincin spasial berisi harta karun tak ternilai. "Jangan berbohong padaku, keluarkan Panci Naga Pembelah Langit kesayanganmu itu dan gunakan untuk memasak buburku sekarang juga."
Wajah Tetua Yao langsung berubah sepucat kertas putih, napasnya tercekat di pangkal tenggorokan seolah ada yang mencekiknya dengan kuat. Panci Naga Pembelah Langit adalah artefak suci warisan leluhur yang hanya digunakan untuk meracik pil dewa, bukan untuk merebus beras murahan.
"T-tidak, Senior! Panci suci itu akan kehilangan khasiat spiritualnya jika disentuh oleh bahan makanan duniawi!" jerit Tetua Yao histeris. Pria tua berjubah hijau itu langsung menjatuhkan dirinya ke tanah, bersujud memohon belas kasihan sambil menangis tersedu-sedu.
Li Zhen menundukkan pandangannya, matanya menyipit memancarkan aura ancaman yang langsung membekukan darah di dalam nadi sang alkemis. "Kau menolak perintahku? Bagaimana jika aku memberi tahu seluruh sekte bahwa kau sering meracik pil peledak karena tidak bisa membedakan garam dan bubuk mesiu?"
Tubuh Tetua Yao membeku kaku seketika, rahasia paling memalukan dalam karirnya sebagai alkemis jenius kini dibongkar tanpa ampun. Rahangnya jatuh terbuka, matanya melotot ngeri menyadari bahwa reputasinya akan hancur lebur jika kebodohannya itu diketahui oleh publik.
Tanpa berani membantah lagi, Tetua Yao merogoh cincin spasialnya dengan tangan yang gemetar hebat menahan rasa sakit di hatinya. Dia mengeluarkan sebuah panci raksasa berwarna perunggu gelap yang dihiasi oleh ukiran naga mistis yang memancarkan aura magis luar biasa.
Panci suci itu mendarat di tanah dengan suara dentuman pelan, memancarkan wangi herbal berusia ribuan tahun yang sangat menenangkan jiwa. Namun, air mata Tetua Yao mengalir semakin deras saat dia harus mengeluarkan sekantong beras fana dan air sumur biasa untuk dimasukkan ke dalamnya.
"Bagus, sekarang nyalakan api spiritualmu dan masak bubur itu dengan sempurna," perintah Li Zhen sambil duduk santai di undakan beranda. "Jika bubur itu terlalu encer atau terlalu kental, aku akan menyuruhmu memakan panci perunggu itu utuh-utuh sebagai hukumanmu."
Tetua Yao menelan ludah dengan susah payah, memunculkan kobaran api berwarna ungu dari telapak tangannya dengan perasaan sangat hancur. Dia mulai memanaskan bagian bawah panci suci tersebut, menangis meraung-raung dalam diam meratapi nasib artefak leluhurnya yang kini bernasib tragis.
[Ding! Target Tetua Yao mengalami kehancuran martabat alkemis secara absolut. Mendapatkan +15.000 Poin Sampah.]
Para tetua lain yang masih berdiri di halaman hanya bisa menundukkan kepala mereka, tidak berani melihat penderitaan rekan sejawat mereka. Mereka sadar bahwa di bawah kekuasaan Li Zhen, tidak ada satu pun harga diri dan benda pusaka yang aman dari penistaan.
Bau beras yang mendidih perlahan mulai mengudara, mengalahkan aroma herbal suci dari panci perunggu yang kini ternoda selamanya. Li Zhen tersenyum puas, menyilangkan kakinya dengan santai menunggu sarapan paginya yang dimasak menggunakan penderitaan dan air mata para dewa.