Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 14 - Perintah Seseorang
Juana tiba di kediaman keluarga Harold tepat waktu.
Wanita itu melangkah masuk dengan sikap profesional seperti biasa. Ini bukan pertama kalinya ia menginjakkan kaki di rumah besar keluarga Harold, sehingga tidak ada rasa canggung dalam dirinya. Para pelayan sudah mengenalnya dengan baik, bahkan tanpa banyak tanya ia langsung dipersilakan menuju ruang kerja Davion.
Namun di balik langkahnya pikiran Juana tidak setenang biasanya.
Obat kontrasepsi darurat.
Permintaan itu terus terngiang di kepalanya sejak semalam. Sebagai sekretaris, ia sudah terbiasa menerima berbagai perintah tanpa perlu mempertanyakan. Tapi kali ini sulit untuk tidak berpikir lebih jauh.
Siapa yang akan meminumnya?
Apakah Nyonya Aluna?
Padahal selama ini di mata semua orang, pernikahan mereka terlihat sempurna. Tidak ada celah, tidak ada keretakan. Bahkan Tuan dan Nyonya muda Harold selalu tampak serasi di hadapan publik.
Namun obat itu seolah membuka kemungkinan lain yang tidak pernah terlihat di permukaan.
Juana menghela napas pelan, menenangkan dirinya sendiri sebelum akhirnya mengetuk pintu ruang kerja.
“Masuk,” suara dingin Davion terdengar dari dalam.
Juana melangkah masuk, menundukkan kepala sedikit. “Selamat pagi, Tuan.”
Davion tidak banyak bicara. Tatapannya langsung tertuju pada tas kecil di tangan Juana.
“Sudah kamu bawa?”
“Sudah, Tuan,” jawab Juana, lalu menyerahkan kotak kecil itu dengan kedua tangan.
Davion menerimanya tanpa ekspresi. “Kamu bisa kembali.”
“Baik, Tuan.”
Namun tepat saat Juana berbalik untuk pergi Pintu kembali terbuka dari luar.
Aluna masuk dengan membawa nampan kecil berisi teh hangat, langkahnya pelan namun tetap terlihat anggun. Kehadirannya seketika membuat Juana menghentikan langkah.
Untuk sesaat Juana benar-benar terpaku. Nyonya Aluna terlihat sangat sempurna. Sangat cantik dengan sorot mata yang teduh. Refleks Juana langsung menundukkan kepala lebih dalam.
“Selamat pagi, Nyonya," sapanya penuh hormat.
Aluna sedikit terkejut melihat adanya orang lain di dalam ruangan, namun ia tetap menjaga sikapnya. “Apa aku mengganggu?”
“Tidak, Nyonya,” jawab Juana cepat. “Saya justru sudah selesai. Saya permisi.”
Aluna mengangguk pelan.
Tanpa menambah kata, Juana segera keluar dari ruangan. Namun sebelum pintu benar-benar tertutup, ia sempat melirik sekilas ke arah sang Tuan, Davion. Lalu ke arah kotak kecil di tangannya. Dan rasa penasaran itu kembali muncul.
Di dalam ruangan kini hanya tersisa mereka berdua.
Setelah pintu tertutup Aluna melangkah mendekat, meletakkan cangkir teh di atas meja kerja suaminya. “Ini teh hangatmu, Dav," ucap Aluna, pagi ini dia menggunakan salah satu baju yang kemarin ia beli bersama mommy Ivana. Bukan lagi gaun berwarna putih, tapi warna lain yang membuatnya makin terlihat cantik.
Apa yang terjadi semalam seperti tak meninggal jejak apapun, Aluna benar-benar bersikap seperti biasanya.
Namun belum sempat Aluna menjauh Davion sudah lebih dulu berdiri. Ia melangkah mendekat membawa sesuatu di tangannya.
Kotak kecil itu.
Tanpa banyak bicara Davion menyodorkannya ke arah Aluna. “Minum.”
Satu kata tanpa penjelasan.
"Apa ini?" tanya Aluna, dia benar-benar tak tahu apa yang Davion berikan.
"Obat agar kamu tidak hamil."
Deg! Aluna tersentak seketika, begitu tak inginnya Davion memiliki anak darinya. Padahal rasanya Aluna sudah mengupayakan banyak hal untuk pernikahan mereka berdua.
Aluna menatap benda itu beberapa detik. Tangannya terangkat perlahan dan menerima kotak tersebut.
“Dari mana kamu mendapatkan ini?” tanyanya pelan. “Apa sekretarismu yang mengantar?”
“Tidak usah banyak bicara,” potong Davion cepat. “Segera minum.”
Nada suaranya tidak memberi ruang untuk penolakan. Dan seperti biasa Aluna tidak pernah membantah.
Ia membuka kemasan itu dengan hati-hati, lalu mengambil obat tersebut. Tanpa ragu dan banyak tanya, ia langsung meminumnya dengan air yang ada di meja.
Semudah itu.
Seolah apa yang ia lakukan bukan sesuatu yang besar.
Setelah selesai, Aluna menurunkan gelasnya perlahan. Ia tidak langsung pergi. Sebaliknya ia berdiri di tempatnya, lalu menatap Davion.
“Untuk hal seperti ini tidak perlu melibatkan orang lain," ucap Aluna pelan, baginya masalah rumah tangga mereka tak perlu diketahui oleh orang lain. Karena Aluna sungguh takut mama Sarah akan kembali ikut campur andai mendengar desas desusnya.
Sebelum mama Sarah pergi, beliau mengatakan bahwa Aluna harus bertahan dalam pernikahan ini apapun yang terjadi. Jadi sungguh, Aluna tak ingin membuat masalah sedikitpun.
Davion tidak menjawab.
Dan Aluna kembali melanjutkan ucapannya. “Kamu cukup memberiku perintah dan Aku bisa mengurusnya sendiri," timpal Aluna.
"Tidak usah mengaturku, lagipula Juana bukan orang lain. Dia adalah salah satu orang yang ku percaya."
"Tapi sekarang dia mungkin berpikir kamu tidak menginginkan anak dari istrimu sendiri."
"Dan itu memang benar, kenapa aku harus menutupinya?"
'Karena jika mama Sarah sampai tahu, dia akan marah dan kecewa padaku,' balas Aluna, namun kata-kata ini hanya mampu keluar di dalam hatinya. Sementara mulutnya jadi terkunci rapat.
Aluna tahu dia tak boleh mengeluh, karena semakin jauh ia bicara Davion akan semakin menyakitinya. Aluna tak akan sanggup andai mendengar Davion berkata bahwa keluarga Harold telah membayarnya.
"Maaf Dav, aku yang salah."
Davion tidak berkata apa-apa lagi setelah itu, ia kembali duduk di kursinya dan Aluna keluar dari ruangan tersebut.
"Nyonya, ponsel Anda tertinggal di dapur dan ada panggilan telepon dari nyonya Sarah," ucap seorang pelayan.
Aluna tertegun sesaat mendengar nama itu disebut, ia menerima uluran ponsel dari pelayan dan melihat ada satu panggilan tak terjawab.
Sebelum menelpon kembali, Aluna lebih menuju kamarnya. Ia duduk di sofa dan menekan tombol panggil.
Tak butuh waktu lama mama Sarah pun menjawabnya. "Aluna."
"Iya, Ma."
"Apa-apaan ini, seseorang mengatakan pada Mama semalam kamu berbelanja dengan Ivana dan membeli baju dengan berbagai warna. Kamu tahu betul Jesselyn tak pernah menyukai warna lain selain warna putih!"
Aluna terdiam, siapa yang sangka selalu saja ada mata yang menghubungkannya dengan mama Sarah.
"Maafkan aku Ma, aku hanya menuruti keinginan mom Ivana."
"Jangan banyak alasan, kamu bisa menolaknya," balas Sarah dengan sengit. Aluna adalah anak yang dia adopsi untuk menggantikan Jesselyn, Sarah tak akan pernah rela jika Aluna bahagia dengan kehidupannya sendiri. Selamanya Aluna harus sesuai dengan apa yang dia inginkan.
Bahkan setelah menikah dengan Davion, Aluna harus tetap menjadi putri kesayangannya. "Mama sebenarnya tidak ingin marah seperti ini padamu Aluna, Mama hanya sedih, mama sedih jika tidak melihat ada Jesselyn dalam dirimu."
Aluna pun merasa sangat bersalah mendengar hal tersebut, bagaimana pun mama Sarah adalah seorang ibu yang pernah kehilangan anaknya. Dan sekarang Aluna tak ingin membuat luka itu jadi kembali ternganga. Tak peduli tentang transaksi uang yang telah terjadi, Aluna tetap menyayangi kedua orang tua angkatnya. Pasti ada alasan kuat atas transaksi tersebut.
"Maafkan aku Ma, aku yang salah," jawab Aluna kemudian.
"Gunakanlah baju seperti yang biasa mama atur Sayang, dengan begitu Mama bisa tenang."
"Baik Ma," jawab Aluna patuh.
Panggilan terputus dan Aluna segera menuju ruang ganti, ia tanggalkan baju di tubuhnya dan diganti dengan warna putih.
Dan Davion yang memperhatikan itu semua di layar CCTV sampai mengerutkan kening, setelah mendapatkan panggilan telepon Aluna langsung mengganti bajunya seperti biasa. Seolah Aluna melakukan hal itu atas perintah seseorang yang baru saja menelponnya.
"Memangnya siapa yang menelponnya?"