Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - MHB
Sinar matahari pagi menembus jendela kaca apartemen, membawa realita yang jauh lebih tajam daripada mimpi buruk mana pun. Maya terbangun dengan perasaan was-was. Hari ini adalah Senin pertama setelah pernikahan rahasianya, dan baginya, ini adalah awal dari sebuah sandiwara besar di panggung profesional.
Sesuai dengan aturan nomor sebelas yang dipaksakan Arka, Maya mendapati dirinya duduk di meja makan pukul tujuh pagi. Ia sudah rapi dengan setelan blazer berwarna nude dan rok pensil yang memberikan kesan otoriter. Di hadapannya, Arka duduk hanya dengan kaus oblong putih dan celana kargo hitam, rambutnya masih sedikit basah, tampak sangat santai—terlalu santai untuk selera Maya.
"Roti gandum dengan alpukat. Protein dan lemak sehat untuk mengawali harimu, Kak Istri," ujar Arka sambil menggeser piring ke arah Maya.
Maya menatap piring itu, lalu menatap Arka. "Jangan panggil aku begitu. Kita sudah sepakat, di luar kamar, kita adalah orang asing yang berbagi alamat."
"Tapi ini kan masih di dalam apartemen, bukan di luar," Arka membela diri dengan cengiran khasnya. Ia menyesap kopinya dengan tenang. "Lagipula, sarapan bareng itu artinya kita harus berkomunikasi, bukan cuma saling tatap seperti sedang audisi film bisu."
Maya menghela napas, menyambar rotinya dan mengunyah dengan cepat. "Aku berangkat duluan. Aku ada rapat direksi jam delapan. Kamu jangan sampai telat ke kampus. Poin nomor sepuluh, Arka: lulus tepat waktu."
"Siap, Bos," Arka memberi hormat dengan dua jari. "Hati-hati bawa mobilnya. Oh ya, motorku diparkir di sebelah mobilmu. Jangan kaget kalau melihat ada kendaraan yang lebih keren di sana."
Maya mendengus, menyambar tas kerja kulitnya, dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Di basemen, ketakutan Maya mulai menjadi nyata. Ia melihat motor besar berwarna hitam pekat—sebuah superbike yang tampak sangat mahal dan agresif—terparkir tepat di samping sedan putihnya. Kontras antara mobil eksekutif dan motor anak muda itu seolah menjadi metafora yang sempurna untuk pernikahan mereka yang aneh.
Maya segera masuk ke mobilnya, mengunci pintu, dan menghela napas panjang. Fokus, Maya. Di kantor, kamu tetap Maya Clarissa yang perfeksionis. Tidak ada yang berubah, batinnya mencoba menyugesti diri.
Namun, keberuntungan sepertinya sedang tidak berpihak padanya pagi ini. Saat mobilnya mengantre untuk keluar dari gerbang otomatis apartemen, ia melihat sebuah wajah yang sangat ia kenali berdiri di area lobi luar, tampak sedang menunggu taksi daring.
Itu adalah Dian, junior di divisinya yang terkenal paling hobi bergosip.
Maya merasa jantungnya merosot ke perut. Ia mencoba memakai kacamata hitam besar dan menundukkan kepalanya, namun terlambat. Dian sudah melihat mobilnya dan melambai dengan heboh.
"Mbak Maya!" seru Dian sambil berlari kecil mendekat ke jendela mobil.
Maya menurunkan kaca mobilnya hanya beberapa inci. "Eh, Dian. Kamu tinggal di sini juga?"
"Baru pindah ke unit studio di tower sebelah, Mbak! Wah, kebetulan banget ya kita satu apartemen," Dian tampak sangat antusias, matanya mulai melirik ke arah kursi penumpang yang kosong. "Mbak Maya berangkat sendiri? Padahal gosipnya Mbak sudah nikah akhir pekan kemarin, kok nggak diantar suami?"
Maya merasa keringat dingin mulai membasahi punggungnya. "Ah, itu... suami saya sibuk. Dia sudah berangkat pagi-pagi sekali."
Tepat saat itu, sebuah raungan mesin motor yang menggelegar terdengar dari arah belakang. Sebuah motor hitam besar berhenti tepat di samping mobil Maya. Pengendaranya mengenakan jaket kulit hitam, helm full-face gelap, dan tas ransel yang kental dengan gaya mahasiswa.
Si pengendara mengetuk jendela mobil Maya.
Maya membeku. Ia tahu siapa itu. Arka.
Dian melongo melihat motor keren tersebut. Arka membuka kaca helmnya, memperlihatkan mata tajam dan senyum nakalnya yang tidak bisa disembunyikan.
"Kak, kunci unitnya ketinggalan di meja makan. Ini," Arka menyodorkan gantungan kunci apartemen mereka.
Dian hampir menjatuhkan ponselnya. Ia menatap Arka yang tampak sangat muda dan tampan, lalu menatap Maya dengan tatapan penuh tanya yang mengerikan. "Mbak Maya... ini... siapa?"
Dunia seolah berhenti berputar bagi Maya. Ia bisa merasakan reputasi profesionalnya yang ia bangun bertahun-tahun sedang berada di ujung tanduk. Jika ia mengaku ini suaminya, besok seluruh kantor akan tahu bahwa "Wanita Besi" mereka menikahi seorang anak kuliahan yang usianya mungkin seumuran dengan adik Dian.
"Ini..." Maya menelan ludah, suaranya terdengar tercekat. "Ini sepupu jauh saya. Namanya Arka."
Arka yang tadinya ingin mengucapkan sesuatu, langsung terdiam. Sorot matanya yang tadi jenaka mendadak berubah menjadi dingin dan datar. Ia menatap Maya selama beberapa detik yang terasa sangat lama, sebuah tatapan yang membuat Maya merasa sangat bersalah sekaligus kecil.
"Oh, sepupu?" Dian bernapas lega, lalu tersenyum genit ke arah Arka. "Pantesan ganteng banget. Mas Arka ini kerjanya apa?"
Maya menjawab lebih cepat sebelum Arka sempat bicara. "Dia masih kuliah. Baru lulus SMA, eh, maksud saya... sedang menempuh semester akhir. Dia menumpang tinggal di tempat saya karena kampusnya dekat sini."
Arka menarik napas panjang. Ia melemparkan kunci itu ke pangkuan Maya melalui jendela yang terbuka. "Ini kuncinya, Kak. Aku berangkat dulu. Nanti malam jangan lupa, aku menumpang makan lagi."
Tanpa menunggu jawaban, Arka menutup helmnya dengan suara klik yang keras, menarik gas hingga mesinnya meraung keras, dan melesat pergi meninggalkan kepulan asap dan keheningan yang menyesakkan di antara Maya dan Dian.
"Wah, beruntung banget ya Mbak Maya punya sepupu seganteng itu. Kalau nggak ingat Mbak sudah nikah, mungkin saya sudah minta dikenalin," celoteh Dian yang kini sudah duduk di kursi penumpang mobil Maya, karena Maya terpaksa menawarkan tumpangan agar Dian tidak bertanya lebih lanjut.
Selama perjalanan menuju kantor, Maya hanya bisa mengangguk-angguk hambar. Pikirannya tidak tenang. Bayangan wajah Arka saat ia menyebutnya "sepupu jauh yang menumpang tinggal" terus menghantui. Ada rasa nyeri yang aneh di dadanya saat melihat binar di mata Arka meredup seketika.
Itu keputusan yang benar, Maya. Kamu harus melindungi kariermu, bisiknya pada diri sendiri. Namun, nuraninya membantah. Ia baru saja menyangkal keberadaan suaminya sendiri di depan umum demi harga diri.
Sesampainya di kantor, Maya tidak bisa fokus. Setiap kali ia melihat staf muda atau mahasiswa magang lewat di lorong, ia teringat Arka. Ia teringat bagaimana Arka tadi pagi menyiapkan sarapan untuknya, dan bagaimana ia membalasnya dengan sebuah penyangkalan yang merendahkan.
Sore harinya, Maya pulang dengan perasaan yang lebih lelah dari biasanya. Apartemen terasa sangat sepi saat ia masuk. Lampu ruang tengah mati, tidak ada aroma masakan, tidak ada suara musik dari kamar Arka.
Maya melangkah menuju meja makan. Di sana, ia menemukan kertas "10 Aturan Rumah" yang mereka buat kemarin. Arka telah mencoret poin nomor sebelas yang ia tulis sendiri: Setiap pagi, Kak Maya harus sarapan bareng aku.
Di bawah coretan itu, Arka menuliskan pesan singkat:
"Mulai besok, sarapan sendiri saja. Aku tidak mau sepupu jauhmu ini mengganggu jadwal pagimu yang sibuk."
Maya terduduk di kursi makan, masih mengenakan pakaian kerjanya. Ia menatap kertas itu dengan perasaan campur aduk. Ia menang, rahasianya aman, posisinya di kantor tidak terancam. Namun, untuk pertama kalinya, kemenangan itu terasa sangat hambar dan pahit.
Ia tersadar bahwa meskipun Arka seorang brondong, Arka memiliki harga diri yang jauh lebih besar dari yang ia duga. Dan hari ini, ia baru saja melukai harga diri itu demi sebuah reputasi yang mendadak terasa tidak ada artinya dibandingkan dengan sunyinya apartemen malam ini.
Maya menatap pintu kamar Arka yang tertutup rapat. Ia ingin mengetuk, ingin meminta maaf, namun gengsinya sebagai "Senior" masih menahan kakinya.
Bersambung....
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡