Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Aroma Formalin di Malam Pertama
Hujan di luar sana jatuh seperti ribuan jarum yang menghantam kaca jendela apartemen mewah ini. Suaranya konstan, monoton, dan dingin—persis seperti suasana di dalam kamar pengantin yang seharusnya hangat ini. Aku duduk di tepi ranjang king-size dengan balutan gaun pengantin yang terasa seperti jerat sutra seharga ratusan juta. Berat, mencekik, dan asing.
Aku menunduk, menatap jemariku yang saling bertaut di atas pangkuan. Di bawah lampu kristal yang berpijar redup, cincin berlian di jari manisku tampak berkilau mengejek. Cincin itu adalah tanda pengikat, atau mungkin lebih tepatnya, sebuah tanda transaksi.
Pintu kamar mandi terbuka. Suara gesekan pintu kaca itu membuat bahuku menegang secara refleks.
Ghazali Mahendra keluar dengan hanya mengenakan bathrobe hitam. Rambutnya yang basah disisir ke belakang, menonjolkan garis rahangnya yang tegas dan tajam—seperti pisau bedah yang biasa kugenggam di ruang otopsi. Pria itu tidak menatapku. Ia berjalan menuju meja rias, menuangkan segelas air mineral dengan gerakan yang luar biasa tenang, seolah aku hanyalah bagian dari dekorasi ruangan yang tidak bernyawa.
"Kenapa belum ganti baju?"
Suaranya rendah, baritonnya mengandung otoritas yang biasa ia gunakan saat membacakan tuntutan di ruang sidang. Sebagai seorang Jaksa Penuntut Umum, Ghazali adalah pakar dalam intimidasi. Dan malam ini, aku adalah terdakwanya.
"Aku... aku menunggu mas," jawabku lirih. Suaraku terdengar payah di telingaku sendiri.
Ghazali meletakkan gelasnya dengan denting pelan yang entah kenapa terdengar menyakitkan. Ia akhirnya berbalik, menatapku dengan sepasang mata elang yang dingin. Tidak ada gairah. Tidak ada kelembutan. Yang kulihat hanyalah kejengkelan yang coba ia tekan dalam-dalam.
Ia melangkah mendekat. Setiap derap langkahnya di atas karpet tebal terasa seperti hitungan mundur menuju eksekusi. Saat jarak kami hanya tersisa satu meter, ia berhenti. Hidungnya sedikit berkerut, sebuah ekspresi ketidaksukaan yang sangat kentara.
"Bau itu lagi," desisnya.
Aku tertegun. Refleks, aku mengendus pergelangan tanganku sendiri. Aku sudah mandi dua kali. Aku sudah menggunakan sabun aromaterapi mawar yang paling kuat yang disediakan hotel. Namun, aku tahu apa yang dia maksud.
Aroma formalin.
Bagi orang awam, uap formaldehida mungkin akan hilang setelah sekali bilas. Namun bagiku, setelah menghabiskan sepuluh jam di ruang forensik untuk membedah mayat tanpa identitas tadi pagi, bau itu seolah telah bermigrasi, meresap ke dalam pori-pori, menyatu dengan aliran darah, dan menetap di sana sebagai identitas.
"Aku sudah mandi, Mas. Aku sudah menggunakan parfum—"
"Tidak peduli berapa liter parfum yang kau semprotkan ke tubuhmu, Keana. Bau kematian itu tetap ada. Menempel di kulitmu, di rambutmu... bahkan mungkin di jiwamu." Ghazali mencondongkan tubuh, suaranya kini hanya berupa bisikan tajam di telingaku. "Kau pikir aku bisa tidur di ranjang yang sama dengan wanita yang tangannya baru saja mengaduk-aduk isi perut mayat yang membusuk?"
Dada ini terasa dihantam palu godam. Rasanya sesak, seolah paru-paruku tiba-tiba kolaps dan kehilangan kemampuan untuk menyerap oksigen. Aku adalah Dokter Forensik. Pekerjaanku adalah mencari kebenaran bagi mereka yang suaranya telah dirampas oleh kematian. Aku bangga dengan profesiku. Namun di mata suamiku, aku hanyalah entitas yang menjijikkan.
"Pernikahan ini adalah wasiat kakek, aku tahu itu," kataku, mencoba menjaga suaraku agar tidak bergetar. Logika klinisku mulai bekerja, mencoba membangun benteng pertahanan dari serangan verbalnya. "Tapi kita sudah sah secara hukum dan agama, Mas. Kita bisa mencoba untuk—"
"Mencoba apa?" Ghazali memotong dengan tawa sinis yang sanggup membekukan darah. "Mencoba berpura-pura bahagia? Keana, mari kita bicara sebagai dua orang dewasa yang rasional. Aku seorang Jaksa. Aku butuh pendamping yang bisa menjaga citraku di depan publik. Seorang wanita yang elegan, wangi, dan... bersih. Bukan wanita yang membawa aroma kamar mayat ke ranjangku."
Ia berbalik, mengambil bantal dan selimut cadangan dari dalam lemari besar di sudut kamar.
"Malam ini aku tidur di sofa ruang kerja. Dan untuk seterusnya, jangan berharap lebih dari sekadar status di atas kertas."
Pintu kamar terbanting menutup di belakangnya.
Aku jatuh terduduk di lantai, membiarkan gaun pengantin jutaan rupiah itu menyapu debu yang sebenarnya tidak ada. Keheningan kamar ini mendadak terasa mencekam, lebih menakutkan daripada ruang otopsi di tengah malam. Di sana, mayat-mayat itu diam karena mereka memang sudah tidak punya nyawa. Di sini, aku diam karena hatiku baru saja dibunuh secara perlahan.
Aku memejamkan mata, dan memori tentang kakek Ghazali—satu-satunya orang yang memandangku dengan kasih sayang—muncul. “Keana, hanya kamu yang punya keteguhan untuk mendampingi Ghazali. Dia keras, tapi dia butuh seseorang yang tidak takut pada kegelapan.”
Ternyata Kakek salah. Aku tidak hanya berurusan dengan kegelapan Ghazali, tapi aku sedang berhadapan dengan kebenciannya yang murni.
Keesokan paginya, aku sudah berada di Rumah Sakit Bhayangkara sebelum matahari benar-benar naik. Pukul 07.15 WIB.
Jas laboratorium putihku terasa seperti jubah pelindung. Di sini, aku bukan istri yang ditolak. Di sini, aku adalah Dr. Keana Elvaretta, Sp.FM. Di ruangan ini, kontrol ada di tanganku.
"Dok, ada kiriman baru dari Sektor Selatan. Penemuan di basemen gedung mangkrak," Adrian, asistenku, masuk dengan langkah terburu-buru. Wajahnya yang biasanya penuh canda kini tampak serius.
"Identitas?" tanyaku singkat sembari memakai sarung tangan lateks. Snap. Suara karet yang mengetat di pergelangan tanganku memberi rasa tenang yang aneh.
"Belum ada. Mr. X, usia perkiraan 30-35 tahun. Kondisi... agak tidak biasa, Dok."
Aku melangkah menuju meja otopsi nomor tiga. Di atas meja logam dingin itu, sesosok tubuh terbujur kaku di bawah kain penutup tipis. Bau darah yang teroksidasi dan aroma awal pembusukan segera menyapa indra penciumanku. Bagi kebanyakan orang, ini adalah bau neraka. Bagiku, ini adalah teka-teki yang minta dipecahkan.
Aku membuka kain penutup itu.
Korban adalah seorang pria dengan postur atletis. Ada luka lebam di area wajah, tapi yang menarik perhatianku adalah luka tusuk tunggal di rongga dada sebelah kiri. Sangat presisi. Menembus sela iga keempat, tepat mengenai jantung.
"Ini bukan pembunuhan sembarangan, Adrian," gumamku. Aku mengambil lampu pemeriksaan, meneliti pinggiran luka. "Sudah ada tanda-tanda post-mortem lividity atau lebam mayat yang menetap di bagian punggung. Perkiraan waktu kematian antara 12 hingga 14 jam yang lalu."
Berarti, saat aku sedang dikuliti oleh kata-kata tajam Ghazali semalam, pria ini sedang meregang nyawa.
"Cari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk," perintahku.
Adrian mulai memeriksa pakaian korban yang sudah digunting dan diletakkan di nampan terpisah. "Hanya ada ini, Dok. Dompet kosong, ponsel hancur sengaja diinjak, tapi..."
Adrian menarik sesuatu dari saku dalam jaket korban yang basah oleh darah. Sebuah benda logam kecil yang berkilau di bawah lampu operasi.
Jantungku seolah berhenti berdetak saat melihat benda itu.
Itu adalah sebuah pin lencana. Bentuknya timbangan emas dengan simbol pedang di tengahnya. Lencana eksklusif yang hanya dimiliki oleh personel khusus di lingkungan Kejaksaan Agung.
"Dok? Anda baik-baik saja?" suara Adrian terdengar menjauh.
Aku menelan ludah yang terasa seperti pasir. Pikiranku langsung melayang pada tumpukan berkas yang kulihat sekilas di meja kerja Ghazali tadi pagi sebelum aku berangkat. Berkas dengan stempel 'Rahasia Negara' mengenai investigasi korupsi besar yang melibatkan petinggi partai.
Belum sempat aku menjawab, ponsel di saku jas lab-ku bergetar hebat. Sebuah nomor yang sangat kukenal muncul di layar.
Ghazali.
Pria yang bersumpah tidak akan menyentuhku semalam, kini menghubungiku di jam kerja. Aku menggeser layar dengan jari yang sedikit gemetar.
"Ya, Mas?"
"Keana, dengarkan aku baik-baik," suara Ghazali di seberang sana terdengar berbeda. Tidak ada nada ejekan. Ada ketegangan yang tertahan, sebuah urgensi yang jarang ia tunjukkan. "Apakah ada mayat baru yang masuk ke departemenmu dalam satu jam terakhir? Laki-laki, usia tiga puluhan?"
Aku menatap jenazah di depanku. Menatap lencana kejaksaan yang kini berada di tangan Adrian.
"Ada," jawabku pendek. "Kenapa?"
Hening sejenak di ujung telepon. Hanya terdengar suara napas Ghazali yang berat.
"Itu staf ahli terbaikku, Keana. Dia membawa bukti kunci untuk kasus penuntutan besok pagi. Dan bukti itu hilang bersamanya." Ghazali berhenti sejenak, lalu suaranya merendah, hampir seperti sebuah perintah yang bercampur permohonan. "Temukan apa pun yang ditinggalkan pembunuhnya di tubuh itu. Aku akan ke sana sekarang. Jangan biarkan siapa pun menyentuh jenazah itu selain kau."
Klik. Sambungan terputus.
Aku menurunkan ponselku perlahan. Aku menatap mayat di depanku dengan sudut pandang yang berbeda sekarang. Ini bukan sekadar otopsi rutin. Ini adalah jembatan yang akan memaksa duniaku dan dunia Ghazali bertabrakan secara brutal.
"Adrian, siapkan mikroskop dan peralatan toksikologi," kataku, suaraku kembali menjadi dingin dan profesional. "Kita tidak punya banyak waktu. Jaksa Penuntut Umum kita sedang dalam perjalanan, dan dia tidak suka menunggu."
Aku mengambil pisau bedah nomor 10. Kilatan logamnya memantulkan mataku yang sendu namun tajam.
Semalam, Ghazali mengatakan tanganku kotor karena darah dan formalin. Hari ini, tangan kotor inilah yang akan menentukan hidup dan matinya karier pria angkuh itu.
Selamat datang di duniaku, Ghazali Mahendra. Di sini, di atas meja operasi yang dingin ini, tidak ada rahasia yang bisa kau sembunyikan. Bahkan luka yang paling dalam pun akan bicara jika aku yang membedahnya.
Termasuk luka di pernikahanku sendiri.
baca part ini aku merinding
nunggu update selanjutnya kak😍