NovelToon NovelToon
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:744
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
​Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
​Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Topeng

Aroma kopi hitam instan yang diseduh Mas Joko di pantri sore itu menyeruak, berusaha mengusir hawa dingin dari pendingin ruangan lantai 17 Apex Media. Jarum jam dinding digital di atas meja administrasi menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit pagi. Suasana kubikel kerja masih sepi, hanya ada beberapa staf kreatif yang baru datang dan sibuk menyalakan komputer masing-masing.

Andra duduk di kursi kerjanya dengan posisi tegak, menatap layar monitor yang menampilkan barisan angka kuitansi vendor yang harus ia rekap hari ini. Namun, fokus pemuda desa itu sama sekali tidak berada di sana. Pikirannya masih tertinggal di kamar lantai atas apartemen Kebayoran Baru beberapa jam yang lalu. Rasa hangat dari dekapan Nadia dan aroma melati yang melekat di kulitnya seolah menjadi sebuah kenyataan baru yang teramat berat untuk ia pikul di tengah lingkungan kantor yang serbaterbuka ini.

Pintu lift eksekutif berdentang terbuka, memecah lamunan Andra.

Nadia melangkah keluar dengan keanggunan yang mutlak seperti biasanya. Pagi ini, ia mengenakan setelan blazer berwarna putih gading dengan bawahan rok sepan hitam yang sangat formal. Rambutnya ditata rapi ke belakang dalam sanggul berkelas, dan sepasang matanya tersembunyi di balik kacamata hitam berbingkai besar. Tidak ada satu pun tanda di tubuh atau pembawaannya yang menunjukkan bahwa wanita ini baru saja menghabiskan malam dalam kepasrahan emosional di pelukan asisten pribadinya.

Begitu Nadia berjalan mendekati meja depan, Andra langsung berdiri dari kursinya. Sesuai dengan kesepakatan tersirat mereka di apartemen tadi subuh, Andra menundukkan kepalanya dalam-dalam, menjaga pandangannya agar tetap berada di level lantai, mematuhi batas kasta formalitas korporat.

Selamat pagi, Bu Nadia, sapa Andra dengan nada suara yang datar, profesional, dan diatur sedemikian rupa agar tidak bergetar.

Nadia menghentikan langkahnya sejenak di depan meja Andra. Ia melepas kacamata hitamnya, menampilkan sepasang mata indah yang pagi ini tampak jauh lebih jernih dan segar. Ia menatap Andra selama dua detik penuh—sebuah tatapan rahasia yang sarat akan makna kepemilikan, sebelum kembali mengubah suaranya menjadi dingin dan tegas khas seorang Managing Director.

Selamat pagi, Andra. Tolong siapkan draf laporan evaluasi mingguan untuk proyek kosmetik kemarin. Dan buatkan saya teh hijau hangat, bawa ke ruangan saya dalam waktu sepuluh menit, perintah Nadia dengan nada suara yang cukup keras hingga bisa didengar oleh staf lain di sekitar kubikel.

Baik, Bu. Segera saya siapkan, jawab Andra patuh.

Nadia mengangguk kecil, lalu melanjutkan langkah kakinya menuju pintu kaca ruang kerjanya yang langsung bergeser menutup rapat.

Andra mengembuskan napas panjang yang sempat ia tahan di dada. Ia segera bergerak menuju pantri untuk menyeduh teh hijau sesuai perintah. Namun, saat ia sedang mengambil cangkir keramik dari rak, sosok Mas Joko tiba-tiba muncul di ambang pintu pantri dengan melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Andra dengan pandangan yang menyelidik.

Ndra, kamu kemarin malam pulang jam berapa dari acara Gala Hotel Mulia? tanya Mas Joko, nadanya terdengar santai namun ada kedalaman rasa penasaran di sana. Kemarin malam si Citra heboh di grup WhatsApp tim kreatif. Katanya ada keributan besar antara Pak Gunawan sama Bu Nadia di dalam ballroom, dan kamu ikut keseret-seret di sana. Benar begitu?

Andra membalikkan tubuhnya perlahan, menyembunyikan keterkejutannya dengan senyuman tipis yang tenang. Oh, soal itu ya, Mas. Saya tidak tahu banyak. Tugas saya kemarin hanya mengantarkan kancing manset titipan dan mendampingi Bu Nadia sebentar karena Pak Gunawan kabarnya terlambat datang. Begitu Pak Gunawan tiba, saya langsung pamit pulang naik motor bebek kepunyaan Mas Joko ini. Takut kehujanan di jalan.

Mas Joko mangut-mangut, namun sepasang mata senior sekuriti yang sudah bertahun-tahun membaca gelagat orang di gedung ini tidak sepenuhnya mempercayai jawaban Andra. Kamu hati-hati ya, Ndra. Di lantai tujuh belas ini, dinding pun punya telinga. Apalagi kalau sudah menyangkut urusan rumah tangga para bos besar. Orang kecil seperti kita ini kalau tersenggol sedikit saja bisa langsung hancur tanpa sisa. Saya cuma tidak mau kamu yang lurus begini jadi korban intrik mereka.

Nggih, Mas. Terima kasih banyak pengingatnya. Saya selalu ingat pesan Ibu di desa untuk hanya fokus bekerja mencari nafkah yang halal, jawab Andra tulus, meskipun di dalam lubuk hatinya, rasa bersalah kembali menyengat dengan hebat. Kata "halal" yang baru saja ia ucapkan terasa seperti sebuah ironi besar setelah apa yang ia lakukan semalam bersama istri orang lain.

Andra membawa nampan berisi cangkir teh hijau hangat menuju ruangan Nadia. Ia mengetuk pintu dua kali, lalu mendorongnya terbuka.

Nadia sedang duduk di balik meja jatinya, membelakangi pintu sambil menatap pemandangan kota di balik jendela besar. Begitu mendengar pintu ditutup dan dikunci dari dalam oleh Andra, Nadia langsung memutar kursi kerjanya. Topeng dingin dan formal yang tadi ia kenakan di depan Mas Joko seketika runtuh, digantikan oleh senyuman manis yang penuh kerinduan.

Letakkan tehnya di sini, Andra, ucap Nadia lembut, menunjuk area kosong di meja kerjanya.

Andra melangkah mendekat, meletakkan cangkir tersebut. Namun, sebelum ia sempat menarik kembali tangannya, Nadia dengan cepat meraih pergelangan tangan Andra. Jari-jemari wanita sukses itu yang halus dan dingin mencengkeram erat kulit hangat Andra, menarik pemuda itu agar membungkuk mendekat ke arah wajahnya.

Kamu tahu, Andra? Melewati pagi ini dengan berpura-pura tidak mengenalmu di depan luar sana adalah hal tersulit yang harus saya lakukan hari ini, bisik Nadia, matanya menatap lekat pada bibir tegas Andra.

Mbak Nadia, tolong... di luar ada Mas Joko dan staf lain. Ini sangat berbahaya jika ada yang melihat, ujar Andra lirih, mencoba mengingatkan situasi meskipun jantungnya kembali berdegup kencang akibat jarak mereka yang kini hanya tersisa beberapa sentimeter saja.

Nadia terkekeh kecil, merasa sangat gemas dengan ketakutan Andra yang justru terlihat sangat jantan di matanya. Di dalam ruangan ini, tidak ada yang bisa melihat kita, Andra. Tapi kamu benar, kita harus menjaga permainan ini dengan rapi untuk sementara waktu. Oh ya, siang ini saya sudah menjadwalkan rapat dengan Direksi SDM (HR Director). Mulai hari Senin depan, kamu tidak lagi menjabat sebagai staf administrasi umum di meja depan.

Andra mengerutkan keningnya. Maksud Mbak Nadia?

Saya menepati janji saya semalam. Kamu akan saya promosikan menjadi Account Executive muda untuk memegang divisi klien eksternal khusus, termasuk proyek kosmetik dengan Diana di SCBD. Posisi baru ini akan memberimu ruangan kerja sendiri di bagian dalam, gaji yang tiga kali lipat lebih besar, dan yang paling penting... tidak ada lagi orang yang bisa merendahkan kasta dan harga dirimu seperti yang dilakukan Gunawan semalam, jelas Nadia dengan binar mata yang penuh kemenangan.

Andra tertegun mendengar keputusan sepihak yang begitu besar dari Nadia. Kenaikan jabatan yang instan ini adalah berkah finansial yang luar biasa untuk ibu dan adiknya di desa, namun di sisi lain, Andra menyadari bahwa posisi baru ini juga akan membawanya kembali berurusan langsung dengan Diana—wanita berkuasa lainnya yang semalam secara terang-terangan telah menaruh minat besar pada dirinya. Pusaran intrik, asmara, dan kekuasaan di lantai 17 ini kini resmi bergerak ke tahap yang jauh lebih kompleks dan berbahaya bagi masa depan Andra di ibu kota.

1
Master Haki
terbaik dan bikin penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!