Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Hari ini Maira pergi ke dealer motor terdekat, sesuai dengan yang dia katakan kemarin. Dia ingin membeli sebuah motor, Mira pergi dengan di antarkan oleh Arini.
"Silahkan masuk mbak, mau cari motor yang seperti apa?" Tanya seorang sales wanita dengan ramah.
"Mau cari yang matic saja mbak!" Jawab Maira sambil tersenyum.
"Mari mbak, ikut saya!" Sales perempuan itu mengajak Maira melihat - lihat koleksi motor matic mereka.
Maira memperhatikan sebuah motor matic dengan warna navy, dia tertarik dengan motor itu.
"Saya mau yang ini mbak!" Tunjuk Maira pada Motor tersebut.
"Baik mbak mari ikut saya!" Perempuan itu segera mengajak Maira ke ruangan khusus.
Di sana Maira langsung mengurus proses jual beli dan surat menyurat nya. Maira membeli motor itu secara Cash, dia tidak mau memikir kan angsuran nya setiap bulan.
"Pak, bisa kah motor nya di antarkan sore nanti saja. Sebab sekarang saya sedang tidak ada di tempat!" Maira berkata pada manajer dealer itu.
"Bisa, bisa bu!" Dia mengangguk kan kepala nya.
"Baik lah, terima kasih pak. Saya permisi!" Maira lalu segera pamit pada orang itu.
"Sama - sama bu, terima kasih sudah belanja di sini!" Ucap manager itu lagi.
Maira dan Arini bergegas kembali ke kantor, sebab waktu istirahat akan segera berakhir. Mereka tidak ingin terlambat dan memberikan contoh yang tidak baik untuk karyawan yang lain nya.
"Mai, aku penasaran bagai mana reaksi Azam dan keluarga nya saat melihat motor mu nanti!" Arini berkata pada Maira.
"Biarkan saja Rin mereka mau apa, aku tidak perduli. Toh aku membeli nya dengan uang ku se diri, bukan uang mereka!" Jawab Maira sambil tersenyum.
"Iya juga sih, tapi orang seperti mereka tidak akan senang melihat mu. Apalagi tadi malam kau menolak memberikan uang pada mereka!" Arini berkata lagi.
"Ngomong - ngomong makasih ya Rin, kamu sudah membantu ku!" Ujar Maira.
"Kamu ngomong apaan sih Mai? Aku sahabat mu loh!" Balas Arini lagi.
Tidak terasa mereka sudah tiba kembali di kantor, dan kedua nya bergegas kembali ke ruangan masing- masing.
******
Setelah jam kantor berakhir, Maira langsung memesan ojek online untuk pulang ke rumah. Dia tidak ingin terjebak macet, itu lah sebab nya dia sengaja memesan ojek saja.
Seperti biasa nya, Maira di sambut dengan tatapan sinis dari Mama Wina dan juga Nia. Tapi Maira tidak perduli, dia terus berjalan melintasi kedua nya.
Triiinngg.
Sebuah pesan masuk ke ponsel nya Maira, Maira bergegas membuka nya.
[Mbak, kami mau mengantar kam motor mbak, kami saat ini sudah berada di dekat ruma mbak] Bunyi pesan yang di kirim kan oleh orang dealer.
[Ok, saya tunggu dirumah rumah!] Balas Maira.
Maira lalu membaringkan tubuh nya di atas tempat tidur, dia menunggu hingga orang - orang yang mengantarkan motor nta tiba.
Tidak lama kemudian, Maira mendengar suara gaduh di depan rumah. Bergegas Maira keluar dan dia melihat mobil nya mengantarkan motor nya sudah tiba. Mama Wina dan Nia tampak berdiri di samping mobil itu, Azam pun sudah pulang dan ikut bergabung di antara mereka.
"Mas, kalian salah alamat kalian, tidak ada yang membeli motor ini!" Nia berkata pada kedua laki - laki yang sedang menurun kan motor itu dari mobil.
"Ku kira Nia yang membeli nya untuk ku!" Azam berkata sambil mendekat.
"Mas, jika investasi ku berhasil nanti, aku akan membeli mobil saja!" Jawab Nia.
"Jadi, siapa yang membeli motor ini? Jika bukan Nia!" Mama Wina merasa heran sendiri.
Kedua laki - laki itu segera menghampiri Maira, mereka menyerahkan kunci motor beserta surat jalan nya.
"Bu Maira, ini motor anda bu, terima kasih sudah berbelanja di dealer kami!" Salah satu laki - laki itu berkata.
"Sama - sama pak, terima kasih sudah mengantar kan motor nya hingga tiba di rumah!" Jawab Maira sambil menerima kunci nya.
"Kami pamit bu Maira!" Kedua nya lalu segera pergi dari sana.
Azam dan yang lain nya langsung mendekati Maira, mereka tidak percaya Maira membeli motor baru.
"Mai, ini beneran kamu yang beli motor ini?" Tanya Azam penasaran.
"Iya, memang nya kenapa mas?" Maira balik bertanya.
"Mai, harus nya kamu itu beli mobil lagi, buka. motor. Kalau mobil kan bisa di pake buat rame- rame, lah motor tidak bisa Mai!" Azam tampak nya kesal dengan Maira.
"Emang gak buat rame- rame loh mas, aku beli motor ya buat aku sendiri. Bukan buat orang lain, jadi aku sendiri yang bakal pake!" Jawab Maira santai.
"Mai, kamu lupa di rumah ini ada Ayu, kasihan Ayu kalau harus naik kotor bila pergi keluar!" Azam bahkan lebih mementingkan Ayu dari pada Maira.
"Mas, ingat ya Ayu itu anak nya mbak Nia. Jadi mbak Nia yang yang harus memikir kan kenyamanan anak nya, bukan aku!" Jawab Maira dengan ketus.
"Dasar menantu kurang ajar kamu Maira, harus nya kamu memikirkan bahwa di rumah ini ada orang lain. Jadi jika mau kekuar harus pake mobil!" Omel Mama Wina dengan geram.
"Udah lah Ma, itu bukan urusan ku. Sekarang aku mau cobain motor baru ah, sekalian isi bensin!" Maira lalu mendekati motor nya.
Maira langsung menghidup kan motor nya, dia memanaskan mesin nya terlebih dahulu sebentar. Setekah Itu Maira langsung membawa motor nya meninggal kan halaman rumah.
"Lihat lah Zam, Maira sudah semakin kurang ajar saja. Dia menolak memberikan kita uang tapi dia malah membeli motor baru!" Mama Wima sangat geram dengan apa yang telah di lakukan oleh Maira.
"Iya mas, Maira pasti gak bakal ngizinin kamu buat bawa motor nya!" Kini Nia pun ikut menghasut Azam.
"Sudah lah Zam, sebaik nya kamu cepat ceraikan Maira. Sudah mandul dan tidak berguna lagi, di sini kan sudah ada Nia, yang jelas- jelas tidak mandul dan sudah memberikan keturunan buat keluarga ini!" Mama Wina berkata pada Azam.
Azam menggaruk kepala nya yang tidak gatal, hampir setiap hari Mama Wina meminta nya untuk menceraikan Maira. Azam tidak mau Maira pergi, karena saat ini Maira lah yang membayar angsuran rumah ini. Jika Maira pergi, maka siapa yang akan membayar angsuran nya.
Gaji Azam sendiri tidak bisa di gunakan untuk membayar angsuran rumah ini, karena gaji nya sudah habis untuk keperluan keluarga nya. Bahkan sudah 3 tahun semenjak Damar meninggal, Azam tidak pernah lagi memberikan uang nafkah untuk Maira.
"Ma, ayo kita masuk, Udah lah gak usah bahas masalah perceraian dulu!" Azam berkata pada Mama nya.
rasa sakit itu akan menjadi dasar balas dendam mu, kau harus bangkit berdiri dan lawan semua musuh mu.. TATAKAE TATAKAE
LAKNATULLAH... AYO SEMUA NYA TERIAK LAKNATULLAH