NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Selenium Alchemy

Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.

​Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.

​Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

Jauh sebelum Charles Utama menjadi pria yang ditakuti di ruang rapat, ia adalah seorang pemuda yang percaya bahwa dunia adalah tempat yang adil. Namun, keadilan adalah konsep pertama yang direnggut darinya pada malam hujan sepuluh tahun yang lalu.

Malam itu seharusnya menjadi pesta kelulusannya dari universitas di London. Ia sudah menyiapkan pidato, mengenakan toga dengan bangga, dan menunggu kedatangan orang tuanya yang terbang langsung dari Jakarta. Namun, yang datang bukanlah pelukan hangat, melainkan sebuah telepon dari kepolisian internasional.

"Mobil orang tua Anda dihantam truk di jalur cepat. Tidak ada yang selamat."

Dunia Charles runtuh dalam hitungan detik. Di usianya yang baru dua puluh dua tahun, ia dipaksa berdiri di depan dua peti mati yang tertutup rapat, sementara di sekelilingnya, para pemegang saham perusahaan ayahnya sudah mulai berbisik-bisik seperti burung nazar yang menunggu bangkai. Mereka tidak berduka; mereka hanya ingin tahu siapa yang akan mengendalikan saham mayoritas.

"Dia masih bocah. Mana bisa memimpin Utama Group?"

"Paling-paling perusahaan ini akan bangkrut dalam enam bulan."

Kata-kata itu tajam, lebih menyakitkan daripada kenyataan bahwa ia baru saja kehilangan segalanya. Charles berdiri tegak di pemakaman, matanya kering bukan karena ia tidak sedih, tapi karena ia tahu jika ia meneteskan satu tetah air mata saja, para "serigala" itu akan menerkamnya.

Dua minggu setelah pemakaman, Charles masuk ke kantor ayahnya. Ia menemukan ruangan itu sudah diacak-acak oleh paman dan sepupunya yang mencoba mencari dokumen penting. Saat itulah, sisi lembut Charles mati. Ia mengunci pintu, memanggil petugas keamanan, dan mengusir kerabatnya sendiri tanpa belas kasihan.

Sejak hari itu, ia membangun tembok. Ia belajar untuk tidak memercayai siapa pun. Ia melihat setiap interaksi manusia sebagai transaksi bisnis. Ia tidur hanya empat jam sehari, menghabiskan sisa waktunya untuk menghancurkan setiap orang yang pernah meremehkannya. Ia menjadi "Es Berjalan" bukan karena ia ingin, tapi karena itu adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup di dunia yang ingin melihatnya jatuh.

Hingga suatu hari, Kakeknya membawanya ke sebuah rumah sederhana. Rumah milik sahabat lama kakeknya yang sudah tiada.

"Kau harus menikahi cucunya, Charles. Ini satu-satunya cara untuk mengamankan aset yang tidak bisa disentuh oleh musuh bisnismu, sekaligus memenuhi janji keluarga kita," ucap Kakeknya tegas.

Charles menatap foto gadis kecil di atas meja di rumah itu—Andini. Saat itu, ia hanya melihat Andini sebagai "kontrak asuransi". Seorang gadis SMA yang tidak tahu apa-apa tentang kegelapan yang ia pikul setiap hari. Ia benci harus terikat dengan seseorang yang begitu rapuh, seseorang yang akan mengingatkannya pada sisi manusiawi yang sudah ia kubur dalam-dalam.

**Kembali ke masa sekarang: Aula SMA Nusantara**

Charles melangkah menyusuri karpet merah aula sekolah. Suara bisik-bisik siswi di sekelilingnya terdengar seperti dengungan lalat yang tidak berarti. Matanya tetap dingin, menyapu ruangan dengan otoritas yang mutlak.

Namun, saat matanya mendarat pada sosok gadis dengan seragam putih abu-abu yang tampak gemetar di barisan tengah, detak jantungnya yang biasanya teratur seperti jam dinding, mendadak melompat.

*Andini.*

Dia tampak sangat kecil di sana. Sangat polos dengan rambut dikuncir kuda dan tas ransel yang masih tersampir di bahunya. Gelang perak pemberiannya berkilauan di pergelangan tangan gadis itu, memantulkan cahaya lampu aula.

Charles teringat masa lalunya yang kelam. Ia teringat bagaimana rasanya menjadi orang yang sendirian dan terpojok. Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, tujuannya datang ke tempat ini bukan untuk urusan bisnis beasiswa. Ia datang karena semalam, saat melihat Andini tertidur di mobil, ia menyadari satu hal yang menakutkan.

Gadis ini bukan lagi sekadar kontrak. Gadis ini adalah satu-satunya warna yang tersisa di dunianya yang hanya hitam dan putih.

Ia menaiki podium, menyesuaikan mikrofon, dan berdeham. Seluruh aula mendadak senyap.

"Selamat siang, semuanya," suara Charles menggema, berat dan penuh tekanan. "Saya Charles Utama. Saya di sini bukan hanya untuk bicara soal uang atau beasiswa. Saya di sini untuk bicara tentang masa depan."

Sambil bicara, matanya tetap terkunci pada Andini. Ia melihat bagaimana gadis itu menahan napas, bagaimana jemarinya meremas ujung seragamnya. Charles merasakan dorongan aneh untuk turun dari podium, menghampirinya, dan membawanya keluar dari kerumunan itu.

*Dia tidak boleh hancur seperti aku,* batin Charles.

"Pendidikan adalah perlindungan terbaik yang bisa kalian miliki," lanjut Charles, suaranya sedikit melembut, sebuah perubahan nada yang hanya bisa disadari oleh Andini. "Jangan biarkan siapa pun merenggut impian kalian, hanya karena mereka pikir kalian lemah."

Andini menatapnya, matanya membelalak. Ia tahu Charles sedang bicara padanya. Ia tahu pria dingin itu sedang mencoba mengirimkan pesan di balik kata-kata formalnya.

Siska di samping Andini menyenggolnya semangat. "Gila, Din! CEO-nya ganteng banget! Tapi kok kayaknya dia ngeliatin ke arah kita terus ya?"

Andini hanya bisa menelan ludah, hatinya bergemuruh. Ia melihat Charles turun dari podium setelah pidato singkatnya. Alih-alih langsung keluar menuju mobilnya, Charles justru berjalan lurus ke arah barisan kelas sebelas.

Para guru panik, mencoba mengarahkan Charles ke ruang transit, tapi ia mengabaikan mereka. Langkah sepatunya yang mahal berbunyi tegas di lantai aula, mendekat, dan semakin mendekat ke arah tempat Andini berdiri.

Charles berhenti tepat satu meter di depan Andini. Seluruh siswa menahan napas. Siska membeku.

"Kau," ucap Charles pendek, matanya menatap Andini dengan intensitas yang sanggup melelehkan kutub utara. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah pulpen mewah, dan menyodorkannya pada Andini yang masih terpaku.

"Kau menjatuhkan ini saat masuk aula tadi," dusta Charles dengan wajah datar tanpa cela.

Itu adalah pulpen yang sama dengan gantungan di gelang Andini. Sebuah pesan rahasia yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.

Andini gemetar saat meraih pulpen itu. Ujung jemari mereka bersentuhan sesaat, mengirimkan sengatan listrik yang membuat Charles nyaris kehilangan kendali atas wajah "es"-nya.

"Terima kasih... Pak," bisik Andini lirih.

Charles mengangguk sekali, lalu berbalik tanpa berkata apa-apa lagi, meninggalkan aula yang kini meledak oleh suara histeris para siswa. Ia berjalan menuju mobilnya dengan langkah cepat, jantungnya berdegup kencang.

Di dalam mobil, Charles menyandarkan kepalanya. Ia baru saja melakukan hal paling tidak logis dalam kariernya. Ia mempertaruhkan rahasia mereka hanya untuk melihat gadis itu dari dekat.

"Kau mulai berubah, Charles," bisiknya pada diri sendiri di kaca spion. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa benci akan perubahan itu.

1
Eni Wati
sll menunggu
R.A Naimah
nggak faham alur ya selalu berputar
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
Lanjut
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!