Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter : 26
Mimik wajah Ayunda melembut, matanya berbinar tulus. “Daksa … apa bisa kita bicara?”
Terlihat kepuasan pada ekspresi minim sang pria kala namanya dipanggil tanpa label ‘Tuan’. Terlebih apabila diteriakkan pada saat-saat puncak pelepasan.
“Ya, setelah kamu ….” Wajahnya tertoleh ke sebuah pintu.
Ayunda tersenyum malu, ia beranjak turun dari tempat tidur, terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi guna gosok gigi dan membasuh muka.
Calon ibu hamil itu baru saja selesai membersihkan diri, dan sedang mengelap wajah menggunakan handuk khusus yang sudah disediakan oleh Yeri.
Dia sedikit terhenyak ketika tiba-tiba daun pintu dibuka lebar. Lewat cermin, sang suami mengikis jarak, memeluknya dari belakang.
Tangan Daksa singgah sebentar pada perut masih datar, mengelus pelan, lalu kedua tangannya menekan pinggang pas dalam telapak tangan, sedikit memutar hingga sang wanita berbalik membelakangi cermin.
Dalam sekali gerakan, Ayunda sudah duduk diatas meja wastafel, kakinya menggantung, kedua tangan memeluk leher Daksa.
Cup.
Bukan sekedar kecupan, Daksa mengulum bibir bagian bawah, berlama-lama disana seolah sedang mengemut permen kenyal.
"Daksa ….” suara Ayunda parau, terbawa permainan. Tubuhnya meremang merasa udara dingin menerpa kulit perut. Bajunya sudah terbuka memperlihatkan bra hitam.
Ciuman itu turun pada leher, sewaktu merasakan hisapan yang kalau tidak dicegah akan meninggalkan bekas – Ayunda mundur pelan, sebagai isyarat harus dihentikan.
Wajah Daksa mendongak, lewat tatapan berkabut hasrat, ia menyatakan ketidaksukaannya.
"Kita masih di rumah sakit, aku gak bawa makeup. Nanti kuganti berkali-kali lipat,” bisiknya sensual. Gantian Ayunda mencium dalam bibir yang langsung menyambutnya.
Pagutan itu menjadi liar. Kemeja rumah sakit sang wanita turun, ia melenguh pelan menciptakan desahan dalam kamar mandi.
Tidak bisa membuat stempel pada kulit leher jenjang Ayunda, Daksa menurunkan tali bra istrinya. Wajahnya menunduk, dan bibir menghisap kulit pada bagian benda kenyal selembut permukaan batu pualam.
Terdengar suara pintu diketuk, Daksa tak lantas terburu-buru, ia berdiri tegak, memberikan gerakan penutup – kening Ayunda dikecup lama, seolah penuh perasaan.
Kemeja masih tersangkut di kedua tangan Ayunda, dinaikan. “Saya tagih di rumah nanti.”
Ayunda tersenyum lebar, menarik belakang leher Daksa. Tepat di telinga kiri, dirinya berbisik dengan suara serak-serak basah. “Aku gak sabar diobrak abrik sama mu.”
Sebelum benar-benar keluar, terlebih dahulu Daksa menurunkan Ayunda sambil memagut keras bibir sedikit tebal karena permainannya tadi.
Ayunda menghadap cermin, memeriksa dua noda merah pada dada bagian kiri, lalu tersenyum masam. ‘Apa dia Drakula? Kalau gak buat stempel, kurang afdol kayaknya.’
Di luar, dokter dan suster tengah menunggu pasiennya, bukan sebaliknya. Tadi juga mereka tertahan di depan pintu sampai beberapa kali mengetuk dengan jeda lumayan lama.
“Selamat pagi, Nyonya. Bagaimana keadaan Anda hari ini?” sapa ramah dokter kandungan yang seharusnya libur, tapi terhalang permintaan pria tengah menyeruput teh tawar.
Ayunda membalas sapaan dengan ekspresi khas nya – senyum ramah, seakan tidak terjadi apa-apa selama dikamar mandi. Penampilannya juga telah rapi, rambut diikat rendah, wajah segar. “Setelah cukup tidur, saya merasa jauh lebih baik, Bu dokter.”
“Syukurlah. Apa Nyonya sudah sarapan pagi?” wanita berjas putih itu mengikuti Ayunda yang duduk kembali di ranjangnya.
“Belum. Saya sedang tidak berselera, Bu.” Ayunda menyamankan posisi duduknya.
“Hal ini wajar, apalagi pada kehamilan trimester pertama. Namun, tetap harus dipaksakan makan sedikit-sedikit agar perut tidak kosong. Sekarang Nyonya berbagi asupan dengan dedek bayi, dia juga butuh makanan bergizi untuk tumbuh kembangnya.” Dokter memperhatikan suster memeriksa tensi darah pasiennya, tidak melihat ekspresi Ayunda.
“Akan saya ingat, Dokter.”
Tatapan Daksa seolah menelanjangi sang istri kala menangkap nada tidak seperti biasanya, antusias.
“Setelah sarapan, harap keruangan saya ya, Nyonya? Kita akan melakukan USG, menyapa dedek bayi, dan melihat tumbuh kembangnya.” Ia tersenyum sopan, lalu pamit keluar.
Ayunda mengucapkan terima kasih secara formal. Perasaannya langsung terjun bebas, enggan mengusap perut dimana bayinya tinggal.
“Daksa, ayo kita bahas _”
“Kamu tidak dengar apa kata dokter tadi? Sarapan, lalu USG.” Daksa mengikis jarak sampai berdiri tepat di tepi ranjang, mengambil nampan berisi semangkuk bubur kacang hijau, segelas susu, dan ada potongan buah pir. “Habiskan sebisanya.”
Jika sudah mendengar nada titah, maka wajib dituruti tanpa bantahan. Di bawah mata Elang pria setia menunggu, Ayunda makan dengan tenang bubur masih hangat.
Ketukan pada pintu langsung disertai seseorang masuk. Wajahnya tertutup buket bunga mawar segar warna kuning.
“Selamat pagi calon ibu. Khusus menyambut gelar baru, wajib diapresiasi.” Iyan menurunkan buket bunga yang tadi dia beli dalam perjalanan kemari.
“Cantik banget bunganya, pak Iyan.” Ayunda bukan lagi tersenyum melainkan mulutnya terbuka lebar.
“Jelaslah. Sebagai seorang pria memiliki jam terbang tinggi menangani setiap karakter wanita berbeda-beda, aku harus paham kemauan mereka tanpa dipinta.” Dia memberikan bunganya.
Bukan Ayunda yang menerima, tapi Daksa langsung menarik kuat sampai dua kelopak gugur. Tanpa berkata-kata, diletakkan bunga tadi pada meja depan sofa.
“Kalian lagi cek-cok praha rumah tangga, ya?” Iyan sudah sangat penasaran, sebab dia juga kena imbasnya.
Ayunda meletakkan sendok pada mangkuk yang isinya tinggal separuh. Menatap polos. “Kami baik-baik saja.”
“Terus problemnya dimana?” Iyan masih bingung sendiri.
“Iyan, kamu sedang kekurangan wanita?” tanya Daksa sudah berdiri di samping Ayunda. Diambilnya sepotong buah, lalu dikunyah sampai bunyi renyah.
“Kebanyakan malah, bos. Makanya saya kabur kesini, takut disatroni sampai apartemen.” Ia terkekeh jenaka.
Lirikan Daksa membuat Ayunda sangat fokus menghabiskan sarapannya.
“Apa perlu saya panggilkan pihak keamanan untuk menjaga unit apartemen mu? Biar pagi-pagi tidak mirip orang kurang kerjaan?” katanya serius.
Kedua tangan Iyan terangkat. “Tuan Daksa, tolong jangan lakukan. Hal itu sama saja dengan menurunkan pamor saya dimata banyak wanita.”
“Pulang lah! Kedatanganmu tidak kami harapkan!” titahnya dengan nada serius.
“Gua diusir ini ceritanya?” saking terkejutnya, sampai lupa berbicara formal.
Ayunda berusaha keras untuk tidak tertawa. Melirik muka cengo Iyan yang masih sukar percaya.
Hem.
“Pintu keluar tepat sepuluh meter dari sini,” ucap Daksa.
Iyan melotot, memandang sang tuan lalu Ayunda yang melihat ke arah lain sambil minum susu.
“Bos, sebenarnya kedatangan saya memiliki maksud _”
“Kita bicarakan nanti!” potong sang bos, dia paham ada hal serius, dan tidak ingin membebani pikiran Ayunda.
“Siap lah, karena niat mulia ini tak begitu diterima. Lebih baik ku hubungi salah satu wanita untuk menemani sarapan pagi.” Iyan pamitan.
“Pak Iyan, terima kasih bunganya,” ucap Ayunda ramah.
Sempat-sempatnya Iyan mengedip-ngedipkan sebelah mata, baru setelahnya bergegas keluar.
Ayunda terkekeh, rona wajahnya cantik sekali.
“Akh. Sakit!” Dia terkejut, lesung pipinya yang kalau tersenyum lebar tampak, ditusuk ujung jari kelingking.
Pelakunya tak terlihat bersalah, malah biasa saja. “Bersiaplah, kita keruangan dokter obgyn.”
'Dia kenapa sih?'
.
.
Bersambung.
ingin bertanya ,apakah semua isu itu pada akhirnya kebenaran? ingin memaki dia begitu sayang pada ayunda meski mulutnya kadang terlalu mercon.
dan sudah pasti jawabannya di luar keingintahuan seila .
daripada dongkol lama2 mending menghindar🤣
kasihan pak satpam nanti jadi korban dak dik Duk der daksa kaya Iyan loh
eeh akhirnya di bikin Tekdung olala
okelah,menepati dulu
Kamu mungkin berpikir gak di anggap penting oleh Ayunda
tpi setiap orang punya privasi
nanti saatnya terbuka semua kamu pasti mengerti 🫂