NovelToon NovelToon
SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:916
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.

Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?

Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA PULUH LIMA

Begitu keluar dari kamar, Rakha menarik napas panjang, menegakkan tubuh, lalu melangkah turun dengan langkah lebar menuju halaman depan. Ia tahu Aditya pasti sudah menunggunya-dan itu berarti saatnya kembali mengenakan topeng dingin dan tenang yang selalu melekat pada dirinya. Namun jauh di dalam dada, gejolak aneh yang ditinggalkan Maharani masih belum juga reda.

Rakha menuruni anak tangga perlahan, meski langkahnya tampak mantap. Hatinya terasa lebih berat dari jas yang kini membungkus tubuhnya. Setelan itu rapi sempurna-seperti biasa-namun tak cukup untuk menyamarkan kegelisahan yang mulai tumbuh pelan di dadanya.

Ponsel di tangan kanannya bergetar lagi. Nama Aditya Wirawan muncul di layar untuk kesekian kalinya pagi itu.

Rakha menghela napas panjang, sudut bibirnya terangkat samar dalam senyum lelah.

"Dia memang tidak pernah bisa sabar," gumamnya pelan, sebelum akhirnya melangkah lebih cepat menuruni anak tangga dan membuka pintu menuju dunia luar-meninggalkan segala kekacauan batin yang belum sempat ia bereskan.

Sejak tadi, para pengawal sudah melapor bahwa Aditya datang tanpa pemberitahuan-menunggu di depan gerbang sambil memaksa ingin masuk. Rakha tahu sahabat lamanya itu keras kepala, tapi kali ini... Aditya benar-benar melangkah terlalu jauh.

Bukan karena ia tak ingin bertemu.

Bukan juga karena urusan kantor yang belum siap dibahas.

Tapi karena... Maharani.

Rakha memijit pelipisnya perlahan. Bayangan gadis itu langsung muncul di kepalanya-mungkin saat ini masih duduk di ruang kerja, tenang seperti biasa, membaca buku di kursi dekat jendela. Ia bisa membayangkan ujung kaus kebesaran itu yang sempat melorot di bahu ketika Maharani berdiri tadi. Kaus yang... miliknya.

Pikiran itu membuat dadanya terasa aneh-hangat, sesak, dan sulit dijelaskan. Seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam, sesuatu yang tak seharusnya tumbuh di antara mereka.

Rakha menatap bayangannya di kaca besar di samping tangga. Wajahnya tampak tegang, mata dingin tapi bergetar halus di tepinya.

"Tarik napas, Rakha," bisiknya pada diri sendiri. "Jangan bodoh. Ingat tujuanmu. Ingat Aira."

Nama itu menghantam pikirannya seperti gelombang dingin, menghapus setiap jejak hangat yang sempat muncul. Ia mengembuskan napas panjang, menegakkan tubuh, dan menarik kembali kendali yang sempat goyah.

Tujuan, bukan perasaan.

Ia di sini untuk menuntaskan luka masa lalu-bukan untuk membuka ruang bagi sesuatu yang baru.

Namun langkah Rakha tetap terasa berat. Setiap kali telepon dari Aditya berdering, suaranya terdengar seperti cambuk yang memaksanya bergerak lebih cepat-karena ia tahu, jika terlambat sedikit saja, Aditya pasti akan nekat masuk.

Dan jika itu terjadi...

Rakha menggeleng cepat, rahangnya mengeras. Ia tidak bisa membiarkan Aditya melihat Maharani. Tidak dalam keadaan seperti sekarang-dengan rambut yang masih lembap, kaus kebesaran, dan aura polos yang entah kenapa mampu membuat siapa pun ingin mendekat.

Ia tidak ingin ada orang lain melihatnya seperti itu. Tidak satu pun. Termasuk Aditya.

Bukan hanya karena Maharani adalah kliennya.

Tapi karena ada sesuatu yang bergejolak di dadanya setiap kali melihat gadis itu tersenyum tanpa beban-senyum yang seolah mampu membuat dunia berhenti sejenak.

Begitu pintu besar dari kayu jati pintu utama itu terbuka, dua pengawal yang berjaga di sisi kanan langsung menegakkan tubuh dan menunduk hormat. Udara pagi menyambutnya-dingin, tajam, dengan embusan angin yang membuat ujung jas abu-abunya sedikit berkibar.

Wajah Rakha datar, tapi matanya tajam.

Setiap langkah yang ia ambil memantul di lantai batu abu tua di teras depan, memancarkan wibawa dan kendali-sosok Rakha Wiratama yang dikenal semua orang: tenang, dingin, dan tak mudah digoyahkan.

Salah satu pengawal segera mendekat, langkahnya waspada namun tetap sopan.

"Selamat pagi, Pak Rakha. Pak Aditya sudah menunggu di depan. Beliau... sedikit tak sabaran, dan sejak tadi memaksa ingin masuk."

Rakha hanya mengangguk pelan tanpa menoleh.

"Biarkan saja. Saya akan menemuinya sendiri."

Ia berhenti sejenak, lalu menatap kedua pengawal itu-tatapan tajam dan dingin yang membuat mereka spontan menegakkan bahu.

"Saya tidak ingin ada siapa pun masuk ke rumah ini tanpa izin saya."

Nada suaranya rendah, datar, namun mengandung tekanan yang jelas.

"Dan satu hal lagi," lanjutnya, suaranya turun setengah oktaf, berat namun tegas seperti peringatan.

"Pastikan Maharani tidak keluar rumah. Apa pun alasannya. Tidak satu pun orang boleh melihatnya. Mengerti?"

Kedua pengawal langsung menjawab hampir bersamaan, nada mereka tegas namun terdengar sedikit gugup.

"Siap, Pak."

Rakha mengangguk sekali. "Bagus. Jaga keamanan di sekitar rumah. Kalau ada yang mencurigakan, laporkan langsung ke saya-bukan ke asisten, bukan ke staf lain. Hanya ke saya."

Salah satu pengawal menelan ludah pelan sebelum menjawab, "Baik, Pak. Akan kami pastikan semua laporan masuk langsung kepada Bapak."

Rakha menatap kedua pengawalnya satu per satu sebelum akhirnya berbalik. Langkahnya mantap, dingin, seolah tak ada yang bisa mengguncang ketenangan yang baru saja ia bentuk dengan susah payah.

Udara pagi di halaman rumahnya masih sejuk, tapi atmosfernya terasa panas-tegang, seperti ada percikan api yang siap menyala kapan saja. Asap rokok menari di udara, membentuk lingkaran tipis yang pecah di bawah sinar matahari.

Aditya berdiri bersandar santai di samping Aston Martin hitamnya yang berkilau. Jas Armani-nya terbuka, dasi dilonggarkan, dan kacamata hitam menutupi separuh wajahnya-tampan dengan cara yang menyebalkan. Ia terlihat seperti keluar dari pemotretan majalah bisnis; gaya hidup mahal dan aura bahaya berjalan bersisian di tubuhnya.

Begitu melihat Rakha mendekat, Aditya menurunkan kacamatanya sedikit, bibirnya melengkung ke arah senyum yang terlalu santai untuk situasi pagi itu. "What's up, my bro? You look tense as hell. Rough morning?"

Rakha tidak langsung menjawab. Suara sepatunya menghentak lembut di jalanan berbatu, setiap langkahnya penuh perhitungan. Ia berhenti tepat di depan Aditya, menatap lurus tanpa ekspresi.

"Gue bilang, kita ketemu di kantor jam sepuluh, Dit," ucapnya datar tapi penuh tekanan. "Gue nggak pernah minta lo nongol di rumah gue."

Aditya mengangkat alis, seolah tak peduli pada nada dingin itu. "Come on, Rakha. It's not like I'm a stranger. I just thought I'd drop by-ngopi bareng maybe? Lo keliatan kayak butuh caffeine therapy."

"Don't play with me." Rakha menatapnya tajam, suaranya turun setengah oktaf. "Ini bukan waktu yang tepat buat lo datang tanpa izin."

Aditya terkekeh pelan, meniupkan asap rokok ke samping. "Relax. Gue cuma pengen ngobrol. Lagian, what's the big deal? Kecuali..." ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Rakha dengan pandangan menggoda, "...ada sesuatu-or someone-yang lo sembunyiin di dalam sana?"

Rahang Rakha langsung mengeras. Tatapannya menusuk, tapi Aditya hanya tertawa kecil, menikmati ketegangan yang baru saja ia ciptakan.

"Easy, bro," katanya ringan, membuang puntung rokok ke tanah. "You know me. I never mean harm."

Rakha menarik napas dalam, mencoba menahan diri. "Lo emang nggak bisa diem ya, Dit"

"Exactly," jawab Aditya dengan senyum nakal, "and that's why you keep me around."

Kalimat itu terdengar ringan, tapi udara di antara mereka terasa padat-seolah ada sesuatu yang jauh lebih besar di balik pertemuan pagi itu.

Aditya terkekeh pelan, meniupkan asap rokok ke samping sebelum menatap Rakha dengan senyum menggoda. "Santai kali, bro. Jangan segalak itu," ujarnya dengan nada main-main. "Gue cuma mampir. Tapi-serius, ini yang bikin wajah Rakha Adiwangsa Wiratama keliatan kusut pagi-pagi gini?"

Nada suaranya ringan, tapi tatapannya penuh rasa ingin tahu yang tajam, seperti sedang membaca tiap perubahan ekspresi di wajah Rakha.

Rakha menatapnya datar, rahangnya menegang. "Gue nggak lagi bercanda, Dit."

Aditya justru tertawa kecil, menyelipkan rokok di antara jarinya dan mengangkat alis.

"Yaelah, calm down. Gue cuma penasaran, bro. Denger-denger lo lagi ngumpetin si Maharani Soetomo di rumah lo." Ia memiringkan kepala sedikit, senyumnya menyeringai. "Sejak kapan lo segitu protektifnya, huh? Gue aja-best friend lo sendiri-jarang banget bisa masuk ke rumah ini. Tapi tiba-tiba seorang top star tinggal di sini? Kinda suspicious, don't you think?"

1
jekey
up banyak"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!