Lin Chen, seorang pemuda modern, bertransmigrasi ke Benua Langit Bela Diri. Sialnya, ia terbangun di dalam tubuh Master Sekte "Puncak Awan" yang sedang sekarat. Sekte tersebut dulunya berjaya, namun kini hanya menyisakan gunung tandus, bangunan hancur, dan Lin Chen sebagai satu-satunya anggota yang tersisa. Saat sekte musuh datang untuk mengambil alih tanah tersebut, Lin Chen membangkitkan Sistem Pembangunan Sekte Terkuat. Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang, membangun fasilitas ajaib, hingga menaklukkan surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Pegunungan Harta Karun
Tiga hari tiga malam. Sepanjang waktu itu, langit di atas wilayah Timur Benua Tengah tidak pernah sepi dari gemuruh pusaka terbang.
Bukan armada perang yang datang untuk menyerang, melainkan parade penjarahan terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah dunia kultivasi fana. Ribuan kapal spiritual, perahu naga, dan kereta perang mengangkut beban yang membuat formasi terbang mereka berderit seolah ingin hancur.
Ye Fan, Su Yue, dan Lin Tian benar-benar melaksanakan titah Guru mereka dengan dedikasi seorang fanatik.
Mereka tidak hanya mengosongkan perbendaharaan Klan Suci Gagak Emas, Paviliun Pedang Surgawi, dan Sekte Teratai Hitam. Mereka mencabut urat nadi spiritual dari dalam tanah, membongkar pilar-pilar paviliun yang terbuat dari kayu giok, dan bahkan menguras air dari danau spiritual hingga ke tetes terakhir! Tiga Tanah Suci yang dulunya megah kini tak ubahnya seperti gurun tandus yang baru saja dilewati kawanan belalang kelaparan.
Di pelataran utama Puncak Awan Pusat, pemandangan yang tersaji mampu membuat seorang ahli Jiwa Baru Lahir mati mendadak karena serangan jantung.
Gunung-gunung kecil yang seluruhnya terbuat dari Batu Roh Tingkat Tinggi berjejer menutupi separuh lembah. Aroma herbal spiritual berusia ribuan tahun begitu pekat hingga membentuk kabut pelangi di udara. Ribuan senjata gaib kelas bumi dan surga ditumpuk sembarangan seperti kayu bakar di sudut halaman.
Di tengah lautan harta itu, Lin Chen duduk di atas singgasananya, bertopang dagu dengan wajah bosan.
"Guru," Lin Tian melangkah maju, menjilati bibirnya yang masih menyisakan aura hitam. "Seluruh harta Tiga Tanah Suci telah dipindahkan. Murid juga sempat 'mencicipi' beberapa tetua keras kepala yang menolak menyerahkan kunci perbendaharaan rahasia mereka. Rasanya agak pahit, namun cukup untuk memadatkan fondasi Inti Emas murid."
Ye Fan menyusul dari belakang, melempar ratusan cincin penyimpanan ke tanah hingga bergemerincing. "Paviliun Pedang mereka sangat mengecewakan. Tidak ada satu pun pedang yang memiliki Niat Dao yang murni. Semuanya hanya rongsokan besi. Murid hanya mengambil bahan-bahan penempaannya."
Su Yue mengangguk elegan, "Matahari dan bulan menjadi saksiku, Guru. Tidak ada satu keping tembaga pun yang kami tinggalkan untuk musuh."
Lin Chen menguap pelan, mengibaskan tangannya santai.
"Kerja bagus, anak-anakku. Harta duniawi ini hanyalah batu loncatan. Kalian bertiga telah mencapai Pembentukan Inti (Core Formation). Di desa kecil bernama Benua Pinggiran, kalian sudah menjadi dewa. Namun di Benua Tengah, ini barulah garis start."
Lin Chen berdiri. Jubah seputih salju itu memancarkan pendaran cahaya suci. Ia menatap ke arah pelataran kosong di sebelah timur.
"Melihat dedikasi kalian, Kursi Ini (Ben zuo) akan memberikan sebuah anugerah untuk memperkuat fondasi Dao kalian yang masih kasar. Mundurlah sedikit."
Ketiga murid itu segera mundur dengan mata berbinar. Mereka tahu, setiap kali Guru mereka menggerakkan tangannya, sebuah keajaiban ciptaan dewa akan turun dari langit.
Lin Chen memanggil antarmuka sistem di benaknya.
Sistem, letakkan Bangunan Tingkat Dewa (Awal): 'Aula Pencerahan Surga'!
[Ding!]
[Mengekstraksi Bangunan Tingkat Dewa: Aula Pencerahan Surga...]
[Peringatan: Bangunan ini mengandung Hukum Dao Kosmik. Akan memicu resonansi resonansi langit dan bumi berskala raksasa!]
GLLLLDGGG...
Bumi Benua Tengah bergetar hingga ke inti magma-nya. Dari dalam kehampaan ruang di atas pelataran timur, sebuah bangunan turun bukan dengan suara ledakan, melainkan dengan alunan musik surgawi yang membuat jiwa siapa pun yang mendengarnya merasa disucikan.
Sebuah kuil raksasa yang terbuat dari Kaca Bintang Transparan dan ditopang oleh pilar-pilar Cahaya Kekacauan (Primal Chaos) bermanifestasi. Di atas atapnya, mengambang ilusi galaksi yang terus berputar, melahirkan dan menghancurkan bintang-bintang dalam siklus abadi.
[Aula Pencerahan Surga (Tingkat Dewa): Berisi 3000 Hukum Dao Besar. Siapa pun yang bermeditasi di dalamnya memiliki kemungkinan 100% untuk memasuki kondisi 'Pencerahan Epifani' (Epiphany). Waktu di dalam aula berjalan 100 kali lebih lambat dari dunia luar. Efek samping: Membuat kultivator menjadi kecanduan memahami kebenaran alam semesta.]
Ye Fan, Su Yue, dan Lin Tian jatuh berlutut. Hanya dengan menghirup udara yang memancar dari aula itu, mereka merasa kabut ketidaktahuan di otak mereka tersapu bersih. Hukum Dao yang sebelumnya terasa buram kini terlihat sejelas garis-garis di telapak tangan mereka!
"B-Bangunan yang mengandung asal-usul alam semesta?!" Ye Fan berseru dengan suara gemetar, air mata keharuan mengalir di pipinya. "Guru... pusaka macam apa ini? Bahkan Kaisar Abadi pun akan meneteskan air mata darah untuk bisa bermeditasi satu jam di terasnya!"
"Ini hanyalah fasilitas kelas bawah untuk murid-murid sekte kita," ucap Lin Chen dengan nada seolah ia baru saja membelikan mereka permen di pasar. "Masuklah. Kalian memiliki waktu hingga Kursi Ini memanggil kalian keluar."
Tiga murid monster itu bersujud sembilan kali sebelum berlari masuk ke dalam Kuil Kaca Bintang tersebut seolah-olah dikejar anjing gila, takut kehilangan satu detik pun waktu berharga.
Setelah murid-muridnya masuk, Lin Chen kembali duduk. Ia masih memiliki 100.000 Poin Sistem yang belum disentuh. Ia merasa seperti orang kaya baru yang kebingungan menghabiskan uangnya.
Namun, sebelum Lin Chen bisa membuka Toko Sistem, langit siang yang cerah tiba-tiba terbelah oleh raungan yang sangat purba dan beringas.
ROAAAAARRRRR!
Suara itu bukanlah raungan singa atau harimau, melainkan auman naga sejati yang mengandung penindasan garis keturunan makhluk tertinggi!
Awan-awan di langit tersapu bersih. Sebuah pusaran emas raksasa terbuka, dan dari dalamnya, melesat sembilan ekor Naga Banjir Emas (Golden Flood Dragon/Jiao), masing-masing memancarkan aura Puncak Jiwa Baru Lahir (Peak Nascent Soul)! Kesembilan naga itu menarik sebuah kereta kekaisaran raksasa yang dihiasi dengan permata sebesar kepala manusia dan bendera naga yang berkibar angkuh.
Di belakang kereta itu, seribu prajurit mengenakan Zirah Sisik Naga perak melayang dengan formasi tombak yang rapat. Prajurit terlemah di barisan itu berada di tahap Inti Emas Puncak!
Ini bukan sekte. Ini adalah kekuatan militer mutlak dari Kekaisaran Abadi Langit Naga!
"Sekte Puncak Awan! Berlutut dan sambut Dekrit Kekaisaran!"
Seorang Kasim Tua berjubah sutra merah melangkah keluar dari kereta naga tersebut. Di tangannya, ia memegang gulungan emas yang memancarkan pendaran cahaya dari seorang ahli Transformasi Roh (Spirit Transformation)—ranah yang jauh melampaui Jiwa Baru Lahir! Kasim itu sendiri memancarkan aura Setengah Langkah Transformasi Roh.
Suaranya, yang diperkuat oleh Hukum Dao Kekaisaran, bergema menekan seluruh wilayah Pegunungan Puncak Awan. Formasi pertahanan sekte berderit menahan tekanan raksasa tersebut.
Lin Chen mengangkat wajahnya perlahan. Ia menyipitkan matanya karena silau oleh cahaya emas kereta tersebut.
"Seekor kadal berkepala sembilan berani mengotori langit di atas rumahku?" gumam Lin Chen dingin.
Sang Kasim Tua, melihat tidak ada seorang pun yang keluar untuk berlutut menyambutnya, mengerutkan alisnya dengan marah. Matanya memancarkan niat membunuh yang tajam saat menatap ke bawah.
"Pemberontak yang tidak tahu diuntung! Kaisar Yang Agung telah mengetahui bahwa kau menggunakan ilmu sihir iblis untuk membunuh Tiga Leluhur Suci dan menduduki Puncak Kaisar Jatuh!" Kasim itu membuka gulungan emasnya.
Seketika, ilusi Kaisar raksasa yang mengenakan mahkota naga bermanifestasi di langit, menatap rendah ke arah Lin Chen dengan pandangan mematikan.
"Dekrit Kaisar Langit Naga: Master Sekte Puncak Awan diperintahkan untuk segera mengikat tangannya sendiri, merangkak ke Ibukota Kekaisaran untuk memohon ampunan, dan menyerahkan rahasia Gerbang Hitam serta Kapal Perang tersebut kepada Kekaisaran! Seluruh murid sekte ini akan dijadikan budak tambang selama sepuluh generasi! Barangsiapa yang menolak, Kekaisaran akan meratakan tulang leluhur kalian hingga ke debu paling halus!"
Kata-kata dekrit itu seolah menjadi hukum besi yang tak bisa dibantah. Langit bergemuruh menyetujui titah Sang Kaisar.
Di bawah, Lin Chen mendengarkan seluruh isi dekrit tersebut dengan ekspresi yang perlahan berubah dari bosan menjadi seringai yang sangat, sangat menakutkan.
Ia meletakkan cangkir tehnya di atas meja giok dengan suara klak yang pelan.
"Merangkak ke Ibukota?" Lin Chen tertawa pelan, tawa yang membuat hawa dingin merayap di tulang belakang siapa pun yang mendengarnya.
Lin Chen bangkit berdiri. Ia tidak terbang. Ia hanya menengadah, menatap ilusi Kaisar dan Kasim Tua itu.
"Sistem," bisik Lin Chen di dalam hatinya. "Beli 'Aura Kaisar Ilahi Kosmik (Pengalaman 1 Menit)'."
[Ding!]
[Mengurangi 10.000 Poin Sistem.]
[Mengaktifkan 'Aura Kaisar Ilahi Kosmik' (Cosmic Divine Emperor Aura). Durasi: 60 Detik.]
[Efek: Memancarkan penindasan absolut dari penguasa alam semesta. Semua makhluk di bawah tahap Keabadian (Immortal) akan dipaksa bersujud oleh naluri garis keturunan mereka.]
BOOOOOOOOOOOOOOOOOOOM!
Pada detik itu juga, waktu di Benua Tengah seakan membeku.
Tidak ada ledakan Qi yang merusak gunung atau menghancurkan langit. Sebaliknya, sebuah aura yang begitu kuno, begitu agung, dan begitu mutlak meledak dari tubuh ramping Lin Chen.
Aura itu bukan milik dunia fana. Itu adalah aura dari penguasa surga tertinggi, sosok yang telah melintasi sungai waktu dan menghancurkan miliaran rasi bintang hanya dengan membalikkan telapak tangannya!
Langit emas yang diciptakan oleh Kekaisaran Langit Naga langsung hancur lebur seperti cermin rapuh yang dipukul dengan palu godam! Ilusi Kaisar yang tadinya tampak agung, seketika retak dan meledak menjadi debu tak bernilai.
"A-APA—?!"
Kasim Tua yang tadinya sombong itu langsung memuntahkan darah segar dari ketujuh lubang di wajahnya. Matanya melotot dipenuhi teror murni. Tekanan aura itu menghantamnya seperti miliaran gunung baja, memaksa tubuhnya melesat jatuh dari langit layaknya meteor rongsokan.
BRAAAKKK!
Kasim Tua itu menghantam pelataran giok hingga hancur, tubuhnya menempel ke tanah dalam pose sujud yang paling merendahkan. Tulang belakangnya patah, dan ia tak bisa menggerakkan satu jari pun!
Tidak hanya dia. Kesembilan Naga Banjir Emas yang tadinya mengaum angkuh, kini menjerit layaknya anjing kecil yang ketakutan. Mereka jatuh dari langit, merapatkan perut mereka ke tanah, dan menyembunyikan kepala mereka di balik sayap mereka sambil gemetar hebat! Seribu prajurit elit berlapis zirah naga? Mereka semua jatuh berlutut di udara, memuntahkan darah, tak mampu mengangkat wajah mereka menatap sosok bercahaya putih di bawah sana.
Lin Chen berjalan perlahan mendekati Kasim Tua yang sekarat di tanah. Langkah kakinya terdengar seperti detak jantung kematian di telinga sang Utusan Kekaisaran.
"Kembalilah ke kaisarmu," bisik Lin Chen, suaranya kini terdengar seperti gema dari ujung alam semesta. "Katakan pada kadal sombong itu: Bersihkan lehernya dengan baik. Kursi Ini akan segera mengunjungi ibukotanya. Dan saat Kursi Ini tiba, aku tidak menginginkan sebuah dekrit..."
Lin Chen menunduk, matanya memancarkan cahaya dewa yang absolut.
"...Aku menginginkan takhtanya."