Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.
Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.
Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Whiskey & Axel Noir
Claire.
Hanya satu nama sederhana, tetapi terasa seperti sesuatu yang selama ini selalu berdiri di antara mereka.
“Aku harus pergi.”
Dan kalimat itu langsung membuat sesuatu dalam diri Serena runtuh.
Perempuan itu tertawa kecil sambil memalingkan wajah.
“Wow.”
Lucu sekali.
“Serena—”
“Tidak,” potong Serena cepat sambil menggeleng pelan. “Jangan mendekat dulu.”
Suasana mendadak terasa sesak.
Damien menatap Serena tanpa bicara, sementara perempuan itu berusaha mati-matian menjaga ekspresinya tetap tenang. Ia tidak mau menangis lagi malam ini.
Tidak di depan Damien. Tidak setelah sepuluh tahun menghabiskan hidupnya mencintai pria yang tidak pernah benar-benar bisa memilihnya.
“Aku bingung,” gumam Serena lirih sambil tertawa kecil. “Harusnya aku membencimu, kan?”
Damien tidak menjawab. Tatapan pria itu justru semakin gelap.
Dan Serena membenci fakta bahwa Damien masih menatapnya seperti itu. Seperti Serena tetap sesuatu yang berharga.
“Kenapa kau masih datang ke sini?” tanya Serena akhirnya. “Kenapa kau masih menyentuhku seperti tadi?”
Sunyi.
Hanya suara hujan di luar mansion.
Damien berjalan mendekat perlahan.
Langkahnya tenang.
Pria itu berhenti tepat di depan Serena sebelum mengangkat tangannya pelan, menyentuh pipi perempuan itu dengan jemari hangatnya.
Gerakan kecil itu langsung membuat napas Serena berantakan.
“Karena sulit berhenti mencintaimu,” bisik Damien rendah.
Jantung Serena langsung berhenti sesaat.
Karena sialnya, Damien terdengar jujur.
Namun sebelum Serena sempat mempercayainya lagi, pria itu melanjutkan dengan suara yang jauh lebih pelan.
“...tapi aku tetap tidak bisa memilihmu.”
Nah. Itu dia.
Kalimat yang selama ini menghancurkan Serena perlahan-lahan.
Damien mencintainya. Serena merasakan itu.
Semua sentuhan pria itu terlalu tulus untuk disebut kebiasaan. Semua tatapannya terlalu dalam untuk disebut rasa kasihan.
Namun tetap saja, itu tidak pernah cukup. Air mata pertama akhirnya jatuh tanpa aba-aba.
Serena langsung tertawa kecil sambil mengusapnya kasar. “Lihat?” bisiknya lirih. “Kau bahkan membuatku kalah dari perempuan yang tidak pernah kutemui.”
...****************...
Satu jam setelah Damien pergi, Serena akhirnya meninggalkan mansion itu. Ia bahkan tidak habus pikir bagaimana dirinya bisa sampai memutuskan ke luar lagi malam ini. Mungkin karena rumah sebesar itu terasa terlalu sunyi. Atau mungkin karena setiap sudutnya masih dipenuhi Damien.
Kemeja pria itu yang masih tertinggal di walk-in closet. Parfum familier di kamar tidurnya.
Bekas sidik kehidupan bertahun-tahun yang terlalu sulit dibersihkan.
Kota ini masih basah oleh hujan ketika mobil Serena berhenti di depan sebuah bar. Ini kali pertama ia datang ke tempat ini. Lampu neon merah menyala samar di antara gelap malam, memantul di jalanan yang licin. Musik terdengar pelan dari dalam, bercampur suara tawa dan denting gelas alkohol.
Serena sebenarnya tidak terlalu suka tempat ramai. Namun akhir-akhir ini, ia lebih takut sendirian.
Begitu masuk, beberapa kepala langsung menoleh. Tentu saja. Sulit untuk tidak mengenali Serena Roe.
Gaun hitam tanpa lengan yang tadi dikenakannya masih membalut tubuhnya sempurna. Rambut panjangnya sedikit berantakan akibat hujan, justru membuatnya tampak lebih cantik dengan cara yang menyedihkan.
Serena duduk di ujung bar.
“Whiskey,” ucapnya pendek.
Bartender di depannya mengangguk cepat sebelum mulai menuangkan minuman.
Serena menatap cairan amber itu beberapa detik sebelum meneguknya tanpa ragu.
Pahit.
Bagus. Setidaknya rasa pahit alkohol lebih mudah dipahami dibanding Damien Knox.
“Biasanya perempuan secantik Anda memilih wine.”
Suara laki-laki muncul tiba-tiba di sebelahnya.
Serena bahkan tidak menoleh.
“Aku tidak sedang ingin terlihat cantik malam ini.”
Laki-laki itu terkekeh pelan.
Suaranya rendah, santai dan menyebalkan.
“Kalau begitu tempat ini dipenuhi pria-pria malang.”
Kini Serena akhirnya menoleh. Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresinya berubah sedikit.
Pria di sampingnya terlalu menarik untuk diabaikan. Rambutnya sedikit panjang dan berantakan dengan sengaja. Anting kecil perak terpasang di telinga kirinya, sementara kemeja hitam yang dikenakannya terbuka di bagian leher, memperlihatkan tulang selangka dan tattoo samar di kulitnya.
Berbeda dengan Damien yang selalu tampak sempurna dan mahal, pria ini terlihat seperti masalah.
Dan anehnya, itu membuat Serena langsung waspada. “Aku tidak tertarik ditemani,” tukas Serena dingin.
Bukannya tersinggung, pria itu justru tersenyum kecil. “Aku Axel.”
Serena mengambil kembali gelas whiskey-nya.
“Aku tidak bertanya.”
“Namun sekarang Anda tahu.”
Menyebalkan.
Serena sudah hendak mengabaikannya ketika bartender tiba-tiba datang membawa satu gelas baru.
“Saya tidak memesan lagi.”
“Dia yang membayar.” Bartender menunjuk Axel.
Serena langsung mengembuskan napas pelan.
“Tolong jangan mulai.”
Axel menyandarkan siku di meja bar sambil menatap Serena santai.
“Mulai apa?”
“Berpikir aku akan pulang denganmu hanya karena kau membelikanku minum.”
Tatapan Axel turun singkat pada wajah Serena.
Lalu pria itu tersenyum samar. “Apa semua pria yang mendekati Anda selalu menginginkan sesuatu?”
Pertanyaan itu membuat Serena diam beberapa detik, hingga Axel langsung menyadarinya.
Tatapan pria itu berubah samar, seolah baru saja menemukan sesuatu yang menarik dari diri Serena Roe selain wajah cantiknya.
Serena membenci itu. Ia segera meneguk whiskey-nya lagi sebelum menjawab datar, “Biasanya iya.”
Axel terkekeh pelan. “Aku mulai kasihan pada Anda.”
“Kau bahkan tidak mengenalku.”
“Benar.” Axel memutar pelan gelas di tangannya. “Namun orang yang bahagia biasanya tidak minum sendirian lewat tengah malam dengan ekspresi seperti ingin membunuh seseorang.”
Serena menoleh tajam. Dan sialnya, pria itu masih tampak santai, seolah dirinya memang terbiasa memainkan batas kenyamanan orang lain.
“Apa kau selalu mengganggu perempuan asing seperti ini?”
“Hanya yang menarik.”
Jawaban cepat itu membuat Serena nyaris memutar mata. Namun sebelum ia sempat membalas, bartender datang membawa minuman Axel.
“Biasanya kau menghabiskan malam dengan mengganggu pelanggan?” tanya Serena dingin.
“Aku tidak bekerja malam ini.”
“Oh.” Serena melirik sekilas penampilannya lagi. “Kupikir kau memang terlihat terlalu tidak profesional untuk menjadi bartender.”
Kini Axel benar-benar tertawa. Dan untuk alasan aneh yang tidak Serena pahami, suara itu terasa jauh lebih hangat dibanding yang ia bayangkan.
“Kalau begitu, aku anggap itu pujian.”
Serena mengembuskan napas pelan.
Ia seharusnya pergi sekarang. Namun entah kenapa, berbicara dengan pria asing ini terasa lebih mudah dibanding memikirkan Damien.
Atau Julian.
Bahkan hidupnya sendiri.
...----------------...
...To be continue...