Selly, gadis berusia 19 tahun, adalah putri kesayangan keluarga terkaya nomor dua di negara ini. Sejak kecil ia hidup dalam pelukan kasih sayang yang luar biasa—dimanja ayah, disayang ibu, dan dijaga mati-matian oleh kakak laki-lakinya, Rian, yang posesifnya level dewa.
Namun, ada satu hal yang selalu Selly inginkan namun sulit ia dapatkan: Hati seorang Darren Wijaya.
Darren, pria dingin berusia 32 tahun yang merupakan raja bisnis dan orang terkaya nomor satu. Luka masa lalu akibat pengkhianatan mantan kekasihnya, Natasha, membuat pria itu menutup hatinya rapat-rapat. Selama bertahun-tahun Selly mengejar, memberi perhatian, dan mencoba menembus tembok dingin itu, namun yang ia dapatkan hanyalah sikap acuh tak acuh dan penolakan.
Hingga suatu hari, rasa lelah dan sakit hati membuat Selly sadar. Ia tidak bisa terus memaksakan diri.
"Cukup, Om... Aku menyerah."
Selly memutuskan berhenti. Ia mulai fokus kuliah, bergaya lebih dewasa, dan mencoba membuka hati untuk Aron
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Hari-hari setelah acara kemarin, hubungan antara Selly dan Aron terjalin dengan sangat cepat dan sangat natural.
Aron tidak terlihat terburu-buru atau memaksa, tapi ketulusannya terasa begitu nyata dan menenangkan. Dia mulai mendekati Selly dengan cara yang sangat elegan, sangat sopan, dan sangat menghargai privasi serta kesibukan gadis itu.
Bagi Selly, kehadiran Aron bagaikan angin segar yang baru. Bersamanya, Selly merasa nyaman, merasa aman, dan merasa dihargai sebagai seorang wanita.
Dan yang paling membuat hati Selly terasa hangat... Aron sangat memperhatikan hal-hal kecil yang sering dianggap remeh oleh orang lain.
Hal-hal kecil yang selama bertahun-tahun Selly harapkan dari seseorang, tapi tidak pernah didapatkannya... kini diberikan Aron dengan tulus dan tanpa diminta sedikitpun.
Suatu sore, setelah selesai dengan kegiatan kampus yang melelahkan...
Selly baru saja melangkah keluar dari gerbang kampus, dan di sana sudah terparkir sebuah mobil mewah dengan mesin yang menyala pelan.
Aron sudah menunggu di sana. Begitu melihat sosok Selly muncul, pria itu langsung turun dari mobil dengan sigap.
Bukan hanya sekadar turun dan duduk manis menunggu.
Aron langsung berjalan cepat memutar ke sisi penumpang sebelah kanan, lalu dengan gerakan yang sangat luwes dan terlatih... dia menarik pegangan pintu dan membukakannya lebar-lebar untuk Selly.
"Masuk dulu ya Sel, hati-hati kepalanya," kata Aron lembut sambil menangkupkan tangan di atas pintu agar Selly tidak terbentur.
Selly yang melihat itu sempat tertegun sejenak.
'Wah... sopan banget.' batinnya terharu.
"Makasih banyak ya Kak Aron," ucap Selly sambil masuk ke dalam mobil dengan perasaan berbunga-bunga.
Setelah Selly duduk dengan aman, Aron menutup pintu itu dengan pelan dan hati-hati, lalu baru berjalan kembali ke sisi supir untuk memacu mobilnya.
Hal sesederhana membukakan pintu mobil... itu adalah hal yang TIDAK PERNAH dilakukan Darren Wijaya selama ini.
Darren selalu duduk manis di dalam, menunggu Selly masuk sendiri, bahkan seringkali terlihat kesal kalau Selly agak lambat sedikit. Tapi Aron? Aron melakukannya dengan senyum dan tanpa beban.
Belum selesai sampai di situ saja.
Saat mereka sampai di tempat tujuan, sebuah kafe yang nyaman dan tenang...
Begitu mobil berhenti, Aron kembali turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Selly.
"Kita sampai nih. Ayo turun pelan-pelan," ajaknya.
Saat Selly keluar, tas besar yang berisi buku-buku dan laptop itu terasa cukup berat di bahu gadis itu.
Tanpa Selly sadari dan tanpa Selly minta... tangan Aron sudah bergerak sigap mengambil alih tas itu dari bahu Selly dengan sangat lembut.
"Eh Kak Aron, ini berat lho, biar aku aja..." tolak Selly halus.
"Ah enggak apa-apa Sel. Cowok kan emang tugasnya bantuin cewek bawa barang berat. Lagipula ini gak berat kok buat aku. Kamu fokus jalan aja yang cantik, biar tasnya aku yang bawa," jawab Aron santai sambil menyandang tas besar itu di bahunya sendiri dengan gagah.
Selly hanya bisa tersenyum lebar menahan malu dan haru.
Lagi-lagi perbandingan itu muncul di kepala Selly.
Selama ini, Selly lah yang selalu lari kemana-mana melayani Darren. Selly lah yang bawakan ini itu, Selly lah yang angkat barang, Dan Selly lah yang repot sendiri.
Tapi sekarang? Ada orang yang rela dan senang hati melakukan itu semua untuknya.
Saat mereka duduk berdua di meja kafe dan memesan makanan...
Perhatian Aron makin terlihat jelas dan menyentuh hati.
"Sel, kamu mau pesan apa? Atau mau aku yang pilihin menu yang enak dan gak terlalu pedas ya? Soalnya tadi aku denger kamu batuk dikit pas di mobil, jangan makan yang pedes-pedes dulu ya biar tenggorokannya enakan," kata Aron sambil membalikkan buku menu dengan perhatian.
Selly melongo sedikit. Dia bahkan tidak sadar kalau batuknya tadi didengar oleh Aron.
"Iya juga ya Kak... oke deh terserah Kak Aron aja, aku percaya sama selera Kakak," jawab Selly manis.
Ketika makanan dan minuman datang...
Aron tidak langsung makan sendiri. Dia terlebih dahulu menuangkan air putih ke gelas Selly, lalu mendorongnya ke dekat tangan gadis itu.
"Minum dulu dong Sel, biar hausnya ilang. Nanti baru makan."
Dan saat makanan utama datang... Aron bahkan menyiapkan sendok dan garpu, membersihkannya dengan tisu terlebih dahulu sebelum disodorkan ke Selly.
"Ini sayurnya banyak lho, kamu harus habisin ya biar badannya sehat dan kulitnya makin glowing gitu. Dagingnya juga enak kok, cobain deh," kata Aron sambil menyendokkan sedikit makanan ke piring kecil Selly dengan sangat natural.
Perhatian detail seperti ini... membuat hati Selly meleleh luar biasa.
Aron memperhatikan apa yang Selly makan, apa yang Selly butuh, dan apa yang Selly suka. Dia tidak hanya sibuk dengan dirinya sendiri.
Berbeda jauh dengan Darren yang dulu... yang kalau makan pun wajahnya selalu masam, yang tidak pernah peduli Selly sudah makan atau belum, yang tidak pernah tahu Selly alergi apa atau suka apa.
Darren hanya menerima apa yang diberikan Selly tanpa pernah menghargai proses dan perhatian di baliknya.
Tapi Aron? Aron memberikan perhatian itu dari hati ke hati.
"Kak Aron..." panggil Selly pelan sambil menatap pria di depannya.
"Kenapa sih Kakak bisa perhatiin hal-hal kecil gitu banget? Banyak cowok kan biasanya gak peduli hal sepele kayak buka pintu, bawain tas, atau ingat apa yang kita suka dan gak suka?"
Aron tersenyum menampakkan lesung pipinya yang manis, lalu dia menatap mata Selly dalam-dalam.
"Karena buat aku, hal-hal kecil itulah yang nunjukin rasa sayang dan rasa hormat kita ke orang lain, Sel."
"Cewek itu diciptakan buat dijaga, buat dihargai, dan buat dibuat nyaman. Kalau aku bisa bikin kamu senyum dan merasa nyaman cuma dengan buka pintu atau bawain tas doang... kenapa enggak dilakuin kan? Itu kan gampang banget."
"Lagipula... kamu itu berharga banget Sel. Wanita yang berharga harus diperlakukan kayak ratu, bukan cuma dianggap temenan doang."
Mendengar jawaban bijak dan manis itu... pipi Selly langsung memerah padam.
Dadanya terasa begitu hangat, begitu nyaman, dan rasanya ingin menangis haru karena akhirnya dia menemukan seseorang yang mengerti cara memperlakukan dia dengan benar.
Sementara di tempat lain, tanpa mereka sadari...
Di balik kaca jendela mobil yang gelap, Darren Wijaya menyaksikan semua interaksi manis itu dari jauh dengan wajah yang semakin mengerikan dan penuh dendam.
Tangannya mengepal kuat melihat Aron melakukan semua hal sederhana namun romantis itu pada Selly.
'Buka pintu... bawain tas... perhatiin makanan...'
'Hah! Itu kan hal gampang banget! Kenapa juga harus diperlihatkan terang-terangan gitu?!' batin Darren geram, tapi di lubuk hatinya yang paling dalam... dia sadar.
Dia sadar bahwa selama ini dia memang tidak pernah melakukan hal-hal manis itu untuk Selly.
Dia terlalu sombong, terlalu gengsi, dan terlalu merasa paling benar sampai lupa cara menghargai wanita yang ada di dekatnya.
Dan sekarang... dia melihat Selly tersenyum bahagia menerima perlakuan itu dari orang lain.
Rasa sakit dan cemburu itu menusuk jantung Darren jauh lebih dalam dari yang dia bayangkan.
(Bersambung...)
Semangattt thoorrr💚❤️🌺🍂🍁🌸🌼💮🔥