Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ao Mo
Tiba-tiba.
Dari berbagai penjuru langit, empat sosok melesat turun dengan kecepatan tinggi. Mereka mendekat di sekitar Lin Tian, membentuk formasi segi empat yang mengurungnya dari segala arah. Keempat orang itu adalah kultivator tingkat Nascent Soul tahap akhir, masing-masing membawa aura yang berbeda namun sama sama kuat dan menekan.
Yang pertama adalah seorang pria berwibawa berjubah putih keperakan dengan bordiran awan dan mutiara, jelas berasal dari Sekte Mutiara Langit.
Yang kedua adalah pria paruh baya berjubah abu-abu dengan pedang panjang tersampir di punggung, dia adalah tetua dari Sekte Pedang Abadi. Matanya tajam seperti elang yang sedang mengincar mangsa.
Yang ketiga adalah seorang wanita paruh baya berjubah biru muda dengan hiasan awan di sekujur bajunya, dia adalah tetua dari Sekte Awan Terapung. Ekspresinya dingin namun matanya menyipit penuh kecurigaan.
Yang keempat adalah seorang pria muda tampan berjubah hijau dengan bordiran daun dan bunga, dia adalah tetua dari Sekte Semangi yang usianya terlihat jauh lebih muda dari tiga lainnya.
Tetua Sekte Mutiara Langit melangkah maju selangkah lalu berbicara dengan suara berat dan berwibawa. "Kau pasti bagian dari makhluk kegelapan, karena terlihat aura kebencianmu sangat kuat. Tidak mungkin seorang pemuda seusiamu memiliki kebencian sedalam ini, tanpa dipengaruhi oleh kekuatan kegelapan."
Tetua Sekte Semangi yang muda itu mengamati Lin Tian dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu menambahkan, "Tidak salah lagi, dia memiliki sedikit kesamaan dengan makhluk kegelapan dari aura kebenciannya. Aura semacam ini tidak akan muncul pada manusia normal."
Lin Tian menatap mereka satu per satu dengan mata yang masih menyala merah. Ia menghela napas panjang lalu berbicara dengan suara datar namun berat.
"Tuan-tuan dan nyonya, saya bukan bagian dari mereka. Saya sedang berduka karena kehilangan sahabat saya, jadi mohon jangan ganggu saya sekarang."
Tetua Sekte Pedang Abadi langsung membantah dengan suara keras. "Bohong! Aura sepertimu tidak mungkin dimiliki oleh orang yang sedang berduka. Itu adalah aura pembunuh dan perusak. Kau harus dieksekusi sebelum kau memberikan alasan lebih lanjut."
Lin Tian tertegun. Ia sudah berkata jujur, sudah menjelaskan dengan sopan, tapi tidak ada satu pun dari keempat orang ini yang mau mendengarkannya. Mereka sudah menghakiminya sejak awal, menuduhnya sebagai musuh tanpa bukti, dan memvonisnya mati tanpa pengadilan.
Lin Tian terkekeh pelan. Suara tawanya pelan tapi terdengar jelas di keheningan malam.
"Hehehe..."
Ia menundukkan kepalanya lalu menghela napas panjang.
"Huft..."
Lin Tian kemudian berbicara pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri.
"Aku putra Medusa. Bagaimana bisa, manusia rendahan seperti ini mengancamku?"
Ia kemudian mengangkat kepalanya kembali. Matanya bersinar merah terang, pupil hitamnya berubah menjadi bulat merah menyala, dan senyuman tipis yang mengerikan muncul di bibirnya.
"Kalian tidak layak untuk menjadi musuhku," ucap Lin Tian dengan suara dalam yang bergema di udara malam. "Ini peringatan terakhirku. Jika kalian tidak ingin mati, izinkan diriku ini berduka atas kematian sahabatku. Setelah itu aku akan pergi dan kalian tidak akan pernah melihatku lagi."
Tetua Sekte Pedang Abadi tidak bergeming. Ia menarik pedang panjang dari punggungnya dengan gerakan cepat, dan bilah abu-abu itu langsung mengeluarkan aura kelam yang sangat kuat. Pedang itu berdenyut seperti memiliki kehidupan sendiri.
"Kami tidak percaya padamu," ucap tetua itu sambil mengatur posisi pedangnya. "Kata-katamu manis, tapi auranya menunjukkan hal lain."
Lin Tian masih tersenyum tipis. "Akan kuberikan satu contoh saja. Biar kalian mengerti perbedaan antara kita."
Ia menggerakkan sedikit ujung jari kanannya, dan dari dalam cincin penyimpanan di jarinya, sebuah pedang muncul.
Ao Mo.
Pedang dengan gagang naga emas melingkar dan bilah perak yang memancarkan aura merah darah langsung berada di tangan Lin Tian. Begitu pedang itu keluar dari cincin penyimpanan, aura merah pekat langsung meledak dari tubuh Lin Tian, sepuluh kali lebih kuat dari sebelumnya.
"HUAAARRRGH!"
Suara naga raksasa menggelegar dari balik tubuh Lin Tian. Di belakangnya, energi merah membentuk wujud naga raksasa dengan mata menyala dan mulut menganga. Naga itu melingkar di sekitar Lin Tian, melindunginya dari segala arah.
Keempat tetua itu terkejut. Mereka terlempar beberapa langkah ke belakang karena tekanan aura yang tiba-tiba meledak dengan kekuatan luar biasa. Wajah mereka berubah pucat, terutama tetua Sekte Semangi yang masih muda itu nyaris terjatuh karena tidak siap.
Lin Tian tidak menunggu lebih lama. Ia mengangkat Ao Mo dengan tangan kanannya, lalu menebas miring ke arah tetua Sekte Pedang Abadi.
SLASH!
Tetua itu cepat bereaksi. Ia mengangkat pedang abu-abunya untuk membalas, memblok tebasan Lin Tian dengan teknik pedang andalannya. Bilah pedangnya bergetar hebat saat bertemu dengan energi Ao Mo.
Tapi tetua itu terlalu meremehkan lawannya.
Energi dari Ao Mo menghancurkan energi pedang abu-abu itu seperti kertas basah. Bilah pedang itu retak di beberapa tempat, dan sisa energi Lin Tian tetap melesat ke depan, hampir menghantam telak dada tetua itu. Namun tetua itu sangat berpengalaman, ia memutar tubuhnya di udara dengan kelincahan luar biasa, menghindari tebasan maut itu. Setelah itu dia membalas dengan tebasan ke arah Lin Tian.
SLASH!
Lin Tian mengangkat Ao Mo tinggi-tinggi di atas kepalanya. Matanya merah menyala, dan senyuman tipisnya semakin lebar.
"Sampah!"
Lin Tian lalu menebas miring dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
SHIIIING!
Energi Ao Mo melesat seperti kilatan petir merah. Serangan itu menghancurkan serangan balik tetua Pedang Abadi dalam sekejap, lalu terus melesat ke depan tanpa berkurang sedikit pun kekuatannya. Tebasan itu membelah tubuh tetua itu dari bahu kiri ke pinggul kanan dengan mudah, seolah tubuhnya terbuat dari kertas, bukan dari daging dan tulang seorang kultivator Nascent Soul tahap akhir.
Tetua Pedang Abadi terbelah menjadi dua. Darahnya menyembur ke udara, dan tubuhnya jatuh ke tanah dengan bunyi memekakkan telinga.
DUAR!
Tiga tetua yang tersisa terpaku di tempat. Mereka melihat rekan mereka yang baru saja tewas dalam satu tebasan, tanpa perlawanan berarti. Seorang kultivator Nascent Soul tahap akhir, salah satu yang terkuat di sekte, mati seperti serangga yang diinjak kaki manusia.
Tetua Sekte Mutiara Langit mundur selangkah, wajahnya yang tadi berwibawa kini pucat pasi. Tetua Sekte Awan Terapung menggigit bibirnya hingga berdarah, dan tetua Sekte Semangi yang muda itu nyaris menjatuhkan pedangnya karena tangannya gemetar hebat.
Lin Tian menurunkan Ao Mo. Bilah merah darah itu masih meneteskan darah tetua Pedang Abadi, dan uap panas mengepul dari permukaannya. Ia menatap ketiga tetua yang tersisa dengan senyuman tipis yang sama.
"Jika kalian penasaran ingin merasakan hal yang sama... aku bisa memberikan sedikit keringanan pada kalian," ucap Lin Tian dengan nada santai, seolah ia sedang menawarkan teh, bukan kematian.
Tetua Sekte Mutiara Langit menelan ludahnya. Ia adalah orang paling senior di antara mereka, dan tanggung jawab untuk mengambil keputusan ada di pundaknya. Ia menatap Lin Tian, lalu menatap dua rekannya, lalu menatap mayat tetua Pedang Abadi yang tergeletak di tanah dengan genangan darah yang semakin meluas.
"Kita mundur," ucap tetua itu dengan suara serak.
"Tapi..." tetua Semangi mencoba protes.
"Aku bilang mundur. Orang ini tidak bisa kita lawan."
Ketiga tetua itu melesat ke langit dengan kecepatan maksimal, meninggalkan Kota Naga Patah yang sudah rata dan Lin Tian yang berdiri di tengah puing-puing.
Lin Tian tidak mengejar. Ia membiarkan mereka pergi karena ia tidak punya urusan dengan mereka. Yang ia inginkan hanyalah ketenangan. Tiga kali ia sudah berkata jujur, dan tiga kali ia dianggap berbohong.
Ia menurunkan Ao Mo lalu menatap pedang itu sejenak. Bilah peraknya masih bersinar merah, dan gagang naga emasnya terasa hangat di tangannya. Ini adalah pertama kalinya ia menggunakan Ao Mo dalam pertempuran sungguhan, dan ia merasakan bahwa pedang ini menyukainya. Ada ikatan di antara mereka yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Lin Tian memasukkan Ao Mo kembali ke dalam cincin penyimpanannya. Aura merah di sekeliling tubuhnya perlahan meredup, dan matanya yang merah menyala berubah kembali menjadi hitam pekat. Namun rasa sakit di hatinya tidak meredup, ia tetap sebesar saat pertama kali ia melihat gelang tali merah di pergelangan tangan Bai Feng.
Ia berjalan menuju pohon beringin kecil di sudut halaman kediaman keluarga Bai. Di bawah pohon itu, lengan Bai Feng masih tergeletak di tempat yang sama. Lin Tian berlutut lalu mengumpulkan sisa-sisa tulang yang tersebar di sekitarnya, menyusunnya sebaik mungkin, lalu menutupinya dengan tanah.
Dengan tangannya sendiri, Lin Tian menggali kuburan untuk sahabatnya. Tidak ada batu nisan, tidak ada upacara. Hanya tanah dan air mata yang tidak lagi ia tahan.
"Feng, aku janji akan membawakan sate untukmu suatu hari nanti," bisik Lin Tian sambil menatap gundukan tanah di depannya. "Tapi setelah aku tau siapa ayahku."