NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:210
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 5

Meski sudah merasa lapar, Arlo tetap mengerutkan kening secara refleks. Tanpa ragu, ia menolak,

“Tidak perlu.”

Di luar dugaan Arlo, setelah ia menolak, Zoya justru langsung mengangguk tanpa keberatan.

“Baiklah, Profesor…. Hari ini terima kasih atas penjelasannya.”

Ia berpamitan dengan cepat… tanpa mencoba membujuk, tanpa menambah kata-kata yang tidak perlu.

Seluruh proses itu bahkan tidak sampai tiga menit.

Saat Arlo menyadari, bayangan Zoya sudah menghilang dari pandangannya.

Melihat kepergian Zoya yang begitu cepat, Arlo sempat terpaku.

Beberapa detik berlalu dalam diam, sebelum tanpa sadar sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.

Sudah terlalu lama ia dikelilingi oleh gadis-gadis yang gigih mengejarnya… datang dengan berbagai alasan, namun tujuan yang sama. Tanpa disadari, itu membuatnya selalu memasang jarak dan kewaspadaan terhadap siapa pun yang mendekat.

Namun Zoya… berbeda.

Tidak memaksa. Tidak berlebihan. Datang, bertanya, lalu pergi.

Zoya pergi begitu saja, meninggalkan keheningan yang membuat Arlo merasa janggal. Penolakannya yang biasanya terasa tajam dan berwibawa, kini justru terasa canggung di udara. Ia menyadari sebuah kenyataan yang mengusik harga dirinya: ia baru saja memasang perisai terhadap seseorang yang bahkan tidak berniat untuk mendekat.

Arlo menggaruk hidungnya, canggung.

Mengingat sikap Zoya sebelumnya… tetap diam saat ada kesempatan untuk berbasa-basi, serta hanya membahas hal akademis tanpa menyinggung urusan pribadi… jelas bahwa ia tidak berniat mencari perhatian, melainkan benar-benar ingin bertanya.

Menghadapi orang seperti Zoya untuk pertama kalinya, Arlo justru merasa sedikit kikuk.

Setelah merapikan mejanya yang sedikit berantakan, Arlo mengambil dokumen materi yang akan ia pelajari malam ini, lalu berjalan menuju tempat parkir.

Di sepanjang koridor menuju mobil, langkahnya terhenti sesaat. Ia melihat Zoya sedang berbicara dengan seorang wanita berambut pendek.

Seolah menyadari tatapan itu, Zoya berbalik. Saat matanya bertemu dengan Arlo, ia mengangguk sopan sebagai salam.

Arlo mengangguk balik. Singkat, tenang.

Namun tanpa ia sadari, langkahnya setelah itu menjadi sedikit lebih cepat dari biasanya.

Di sisi lain, Zoya yang tadi masih tersenyum sopan saat masuk ke mobil, tiba-tiba berubah. Begitu pintu tertutup, ia langsung tertawa terpingkal-pingkal.

Necki yang duduk di kursi pengemudi meliriknya sekilas, bingung.

“...Kamu kenapa?”

Namun ia tidak terlalu menanggapi, langsung menyalakan mesin dan mulai berkendara, seolah sudah terbiasa dengan perubahan mood Zoya yang tiba-tiba.

Zoya akhirnya berhenti tertawa, masih tersisa sedikit nafas yang tersengal.

“Ehem… lucu sekali.”

Ia menyandarkan tubuhnya, lalu bergumam lagi dengan nada puas,

“Aku benar-benar senang hari ini… hmm, seharusnya aku berterima kasih pada Nyonya Zubaidah karena sudah memindahkan kelasku. Sungguh… kenapa dia begitu baik…”

Katanya sambil menoleh ke samping, seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

Tepat saat itu, ponsel Zoya bergetar. Nama sutradara yang bekerja dengannya kemarin muncul di layar.

Ia mengangkatnya dengan santai.

Di seberang, sang sutradara menjelaskan bahwa kru dari proyek film sebelah sedang mencari artis yang memiliki dasar bela diri. Setelah melihat kemampuan Zoya di lokasi syuting sebelumnya, ia merasa Zoya cukup cocok untuk itu, sehingga ia merekomendasikannya.

“Besok ada audisi. Saya sudah memasukkan namamu,” ujar suara di telepon. “Coba datang saja.”

Zoya terdiam sejenak, lalu melirik ke luar jendela mobil. Ekspresinya sedikit berubah… lebih serius dari sebelumnya.

“...Audisi,” gumamnya pelan.

Awalnya Zoya hampir menolak, karena “bisnis”-nya saat ini adalah mengejar Profesor Arlo. Namun sesuatu melintas di pikirannya.

Kalau ia terlalu sering muncul di sekitar seseorang, itu justru bisa jadi terlalu jelas. Tidak menarik, bahkan mungkin membosankan.

Lebih baik menimbulkan rasa penasaran, membuat jarak yang tidak sepenuhnya bisa dipahami… bukankah itu lebih menarik?

Sudut bibirnya sedikit terangkat.

Selain itu, menolak tawaran yang datang dengan niat baik juga terasa kurang sopan… apalagi ini peluang yang memang menguntungkan dirinya.

Dalam kamusnya: jika ia terjun, ia tidak akan melakukannya setengah-setengah.

Best Actress… atau tidak sama sekali.

Karena ada peluang di depannya, ia memutuskan untuk mencobanya.

Keesokan harinya, Zoya pergi ke lokasi audisi yang disebutkan.

Tak disangka, ruangan itu sudah dipenuhi banyak aktris. Bahkan sebagian besar bukan orang baru… ada aktris senior yang namanya sudah lama dikenal, serta beberapa aktris kelas dua yang hanya selangkah lagi menuju aktris papan atas.

Di antara mereka semua, Zoya terlihat seperti pendatang baru yang benar-benar baru masuk dunia ini… belum punya nama, belum punya jejak.

Setelah mendengar namanya, asisten yang mengatur urutan audisi hanya melirik sekilas, lalu menyerahkan nomor antrian.

“Nomor sepuluh.”

Ada total dua puluh aktris yang ikut audisi.

Sembilan orang pertama semuanya merupakan nama-nama yang sudah dikenal di industri… berpengalaman, dengan portofolio yang kuat.

Fakta bahwa Zoya ditempatkan di urutan kesepuluh menunjukkan satu hal: rekomendasi dari sutradara sebelumnya bukan sekadar formalitas. Ia benar-benar dianggap cukup layak untuk berada di posisi yang diperhitungkan, bukan sekadar peserta tambahan.

Segera, para aktris di urutan awal masuk dengan penuh percaya diri. Namun satu per satu, mereka keluar dengan wajah yang jauh berbeda dari saat masuk.

Ada yang tampak lesu, ada pula yang tak mampu menahan emosi hingga keluar sambil menangis. Riasan yang sebelumnya sempurna kini berantakan, tersapu air mata tanpa sempat diperbaiki.

Melihat itu, Zoya mengerutkan sedikit keningnya. Rasa penasarannya muncul.

Apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana… sampai orang-orang yang terbiasa di depan kamera pun kehilangan kendali seperti itu?

Tak lama kemudian, nama Zoya dipanggil.

Ia berdiri, merapikan dirinya sejenak, lalu melangkah menuju pintu ruang audisi.

Zoya melangkah masuk. Ruangan audisi itu jauh lebih sederhana dari yang ia bayangkan… hanya ada sutradara, asisten sutradara, dan seorang pria tinggi sekitar 190 cm yang berdiri di sisi ruangan.

Meski hanya berdiri santai, posturnya yang tegap serta otot yang terlihat jelas memberi kesan kuat. Aura tegas yang ia pancarkan membuat Zoya langsung menyimpulkan bahwa pria itu kemungkinan besar seorang praktisi bela diri profesional.

Sutradara menatapnya sekilas, lalu membuka suara.

“Jadi kau yang bernama Zoya.”

Zoya menjawab dengan tenang namun sopan,

“Benar, saya Zoya.”

“Hm, lumayan.” Sutradara mengangguk kecil, mengamati dari ujung kepala sampai kaki.

Sebenarnya, bukan sutradara sebelumnya yang secara langsung merekomendasikannya. Sutradara yang ada di ruangan ini justru secara tidak sengaja melihat adegan gerakan Zoya saat melumpuhkan aktor cabul di lokasi syuting kemarin. Hal itulah yang membuatnya tertarik dan akhirnya mengundangnya ke audisi ini.

Kemarin ia hanya melihat dari kejauhan, ditambah riasan Zoya yang sangat buruk karena perannya sebagai wanita desa yang kusam, membuat kesan pertamanya tidak terlalu jelas.

Namun hari ini ia terlihat berbeda.

Zoya datang tanpa riasan tebal. Wajahnya bersih, kulitnya tampak segar dengan kilau khas usia muda. Di bawah cahaya lampu ruangan, kulitnya terlihat hampir transparan… jernih dan natural.

Bukan hanya cantik di permukaan, tetapi ada sesuatu yang lebih dalam dari itu… sebuah kesan yang sulit dijelaskan, seolah kecantikannya memang “terbentuk dari dalam”, bukan sekadar penampilan luar saja.

Melihat kecocokan aura itu dengan karakter yang ia cari, sutradara menunjuk pria bertubuh besar yang berdiri di sisi ruangan.

“Coba lawan dia beberapa jurus.”

Zoya terdiam sejenak, melirik orang itu dan terkejut.

Sutradara lalu melanjutkan dengan nada serius,

“Aku tidak suka menggunakan ¹stuntwoman. Industri sekarang terlalu bergantung pada itu. Aku ingin aktor yang benar-benar bisa melakukannya sendiri. Jadi aku butuh seseorang dengan dasar bela diri yang nyata. Tunjukkan kemampuanmu padaku.”

¹Stuntman (pria) atau stuntwoman (wanita) adalah istilah dalam bahasa Inggris yang merujuk pada pemeran pengganti.

Zoya akhirnya mengerti maksudnya.

Ia berbalik ke arah pria itu, mengulurkan tangannya dengan sopan, lalu berkata,

“Halo… Mohon bimbingannya.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!