Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."
Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.
Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.
Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abu di Atas Air
Asap hitam membubung dari kabin kapal yang mulai dilalap api, baunya menyengat—campuran solar yang terbakar dan kayu tua yang hangus. Kepalaku terasa berdenyut hebat, sisa hantaman ledakan tadi membuat telingaku berdenging panjang. Dalam keremangan yang kacau itu, aku merasakan sepasang tangan kekar merengkuh bahuku, menarikku menjauh dari maut yang hanya berjarak beberapa inci.
"Nara! Sadarlah! Kita harus pergi!"
Itu suara Bimo. Suaranya serak, penuh kepanikan yang tidak pernah dia tunjukkan di ruang rapat kantornya yang megah. Aku membuka mata perlahan, melihat wajahnya yang tercoreng jelaga. Dia tidak lagi terlihat seperti CEO yang arogan; dia hanya seorang pria yang ketakutan setengah mati.
Aku batuk tersedak asap, mencoba mencari sosok lain. "Ayah... Ayah di mana, Bimo?"
Bimo tidak menjawab. Dia justru menarikku berdiri, membantuku melompati kobaran api di geladak kapal menuju ke dermaga semen yang dingin. Di belakang kami, Panji masih sibuk berlindung di balik jip yang bannya sudah kempis terkena peluru, sesekali membalas tembakan ke arah anak buah Kakek Wijaya yang terus merangsek maju.
"Ayahmu ada di belakang, dia bersama Panji! Fokus padaku, Nara!" teriak Bimo lagi.
Namun, saat aku menoleh ke arah kapal yang perlahan mulai miring, aku melihat Ayah. Dia berdiri di tepi geladak, tangannya memegang sebuah tabung pemadam api tua yang sudah kosong, matanya menatap tajam ke arah helikopter yang masih meraung di atas kami.
"Ayah! Turun!" teriakku histeris.
Ayah menoleh padaku. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, aku melihat senyum yang benar-benar tulus di wajahnya yang lelah. "Lari, Nara! Bawa dokumen itu! Biarkan Ayah menyelesaikan apa yang seharusnya selesai dua puluh tahun lalu!"
"Nggak! Ayah!"
Tiba-tiba, rentetan tembakan kembali terdengar. Kali ini bukan dari arah Kakek, melainkan dari kapal patroli polisi yang akhirnya sampai di lokasi. Lampu sorot mereka membelah kabut, menyilaukan mata siapa pun yang berada di sana. Situasi berubah menjadi mosh pit yang berdarah. Polisi berteriak memerintahkan semua orang meletakkan senjata, sementara anak buah Kakek yang panik mulai menembak membabi buta.
Kakek Wijaya, dari kursi rodanya di kejauhan, tampak murka. Dia melihat polisi datang dan menyadari bahwa waktunya sudah habis. Dia memberikan isyarat pada asistennya, dan entah bagaimana, sebuah ledakan kedua yang lebih besar menghantam bagian mesin kapal nelayan itu.
BOOM!
Guncangannya membuatku dan Bimo tersungkur ke aspal dermaga. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kapal itu meledak menjadi bola api raksasa.
"AYAAAHHH!"
Jeritanku tenggelam oleh suara reruntuhan kapal yang jatuh ke laut. Hatiku rasanya ikut hancur bersama kapal itu. Baru beberapa jam aku menemukan harapan bahwa aku tidak sendirian di dunia ini, dan sekarang, api itu menelan semuanya lagi.
Bimo memelukku erat, mencoba menahan tubuhku yang meronta ingin lari ke arah api. "Jangan, Nara! Berbahaya!"
"Lepasin! Ayah masih di sana!" aku memukul dada Bimo, menangis sejadi-jadinya.
"Dia sudah pergi, Nara... Dia sudah pergi demi menyelamatkanmu," bisik Bimo parau. Aku bisa merasakan air matanya jatuh ke atas kepalaku. Dia juga kehilangan—dia kehilangan kesempatan untuk menebus dosa keluarganya secara utuh.
Satu jam kemudian, dermaga itu berubah menjadi lautan lampu biru dan merah. Polisi sudah mengamankan Kakek Wijaya. Pria tua itu tidak lagi berteriak; dia hanya diam mematung di dalam mobil tahanan, menatap kosong ke arah laut yang kini tenang, hanya menyisakan puing-puing hitam yang mengapung.
Panji mendekati kami dengan bahu yang diperban. Dia selamat, meski wajahnya terlihat sangat terpukul. Dia menyerahkan sebuah map kecil yang masih kering—map yang tadi sempat kulempar ke arahnya sebelum ledakan terjadi.
"Ini dokumennya. Utuh," kata Panji pelan.
Aku mengambil map itu dengan tangan gemetar. Semua bukti penggelapan, semua daftar nama pejabat yang disuap, semuanya ada di sini. Ayah memberikan hidupnya hanya untuk memastikan kertas-kertas ini sampai ke tangan hukum.
Aku menatap Bimo yang duduk di sampingku di tepi ambulans. Dia sedang menatap laut dengan pandangan kosong.
"Kamu tahu ini akan terjadi?" tanyaku dengan suara dingin yang bahkan mengejutkan diriku sendiri.
Bimo menoleh. "Aku tidak tahu Kakek akan senekat itu meledakkan kapal. Aku pikir dia hanya ingin dokumennya kembali."
"Tapi kamu tahu kalau Ayah masih hidup dan kamu menjadikannya bagian dari rencana 'umpan' kamu, kan?" tuntutku. "Kamu menggunakan kerinduanku, kamu menggunakan hidup Ayahku untuk menjatuhkan Kakekmu sendiri. Biar kamu bisa jadi pahlawan? Biar kamu bisa kuasai perusahaan tanpa bayang-bayang dia?"
Bimo tersentak. Dia memegang tanganku, tapi aku menepisnya.
"Nara, bukan begitu—"
"Lalu gimana? Kamu bilang kamu cinta aku? Orang yang cinta nggak akan membiarkan ayahnya mati di depan matanya sendiri cuma demi 'strategi bisnis'!" aku berdiri, mengabaikan selimut yang diberikan petugas medis.
"Aku melakukan ini untukmu, Nara! Supaya kamu punya nama baik lagi! Supaya Ayahmu bisa rehabilitasi!" suara Bimo meninggi karena frustrasi.
"Rehabilitasi apa?! Dia sudah jadi abu di laut itu, Bimo! Nama baik nggak ada gunanya buat orang mati!"
Aku berjalan menjauh, meninggalkan Bimo yang terpaku. Panji mencoba menghalangiku, tapi aku menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam sampai dia urung melangkah. Aku tidak butuh jip mewah mereka. Aku tidak butuh perlindungan mereka.
Aku berjalan menyusuri jalanan dermaga yang sepi, menuju jalan raya. Aku melihat fajar benar-benar menyingsing sekarang. Cahayanya yang keemasan terasa seperti ejekan. Dunia terus berputar, matahari tetap terbit, seolah-olah tidak ada tragedi yang baru saja terjadi.
Aku merogoh saku jaketku, menemukan ponselku yang sudah mati total. Aku tertawa getir. Inilah kenyataan. Bukan novel dengan akhir bahagia yang manis. Karakter utamaku kehilangan ayahnya, kehilangan kepercayaannya pada pria yang dia cintai, dan sekarang dia sendirian lagi.
Aku sampai di sebuah halte bus tua. Aku duduk di sana, menatap map di pangkuanku. Ayah ingin aku membongkar ini. Dia ingin dunia tahu.
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depanku. Bukan mobil Bimo. Jendelanya turun perlahan, menampakkan wajah seorang wanita paruh baya yang sangat elegan—wanita yang pernah kulihat di foto lama keluarga Wijaya.
"Nara? Masuklah. Kita perlu bicara soal apa yang tidak Bimo ceritakan padamu," kata wanita itu.
Aku menyipitkan mata. "Anda siapa?"
"Aku ibunya Bimo. Orang yang selama ini kamu kira sudah meninggal dalam kecelakaan yang sama dengan ayahnya."
Jantungku rasanya berhenti berdetak. Satu lagi orang mati yang bangkit dari kubur? Berapa banyak rahasia yang disimpan keluarga gila ini?
"Masuk, Nara. Sebelum anak buah Kakek yang lain menemukanmu. Kakek mungkin ditangkap, tapi organisasinya masih punya 'tangan' yang tidak terlihat. Dan mereka menginginkan apa yang ada di tanganmu itu."
Aku menatap map itu, lalu menatap wanita di dalam mobil. Pilihan yang sulit. Kembali ke Bimo yang penuh rahasia, atau masuk ke mobil wanita asing yang mengaku sebagai ibunya?
Tapi, sebagai penulis, aku tahu satu hal: saat kamu berada di titik terendah, musuh dari musuhmu adalah sekutumu—setidaknya untuk sementara.
Aku membuka pintu mobil dan masuk.
"Ke mana kita?" tanyaku.
Wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang persis seperti senyuman Bimo saat dia sedang menyembunyikan sesuatu. "Ke tempat di mana kebenaran yang sesungguhnya disimpan. Bukan kebenaran versi Kakek, bukan juga versi Bimo."
Mobil itu melesat menjauh dari dermaga, meninggalkan asap yang perlahan menipis di udara pagi. Aku tidak tahu apakah aku sedang menuju keselamatan atau justru masuk ke dalam liang singa yang baru. Yang aku tahu, tinta di hidupku masih basah, dan aku baru saja memulai bab yang paling berbahaya.