NovelToon NovelToon
Aku Benar-Benar Manusia Biasa, Percayalah!

Aku Benar-Benar Manusia Biasa, Percayalah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

​"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"

​Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.

​Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.

​Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:

​Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.

​Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.

​Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!

​Ketika para dewi sekte suci d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: AROMA IKAN ASIN DAN NAGA YANG TERGODA

​Setelah berhasil "mengusir" para kultivator dengan kedok ujian mencangkul, Ye Xuan akhirnya bisa masuk ke dalam pondoknya. Ia menghela napas panjang, bersandar di pintu bambunya yang untungnya belum diganti menjadi pintu emas oleh Master Mo.

​"Aduh, jantungku... hampir saja copot," bisik Ye Xuan sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang. "Kenapa orang-orang di dunia ini hobi sekali bersujud di depan pintu orang? Padahal aku cuma ingin pulang dengan tenang."

​Ia menatap wajan "anti-lengket" yang tadi ia gunakan untuk memukul Master Ling. Tangannya sedikit gemetar. "Tadi itu benar-benar keajaiban. Pasti Master Ling itu sebenarnya sedang sakit sakau atau kurang gizi, makanya dia terpental hanya karena kupukul pakai wajan. Untung saja aku selamat."

​Ye Xuan kemudian teringat harta karunnya. Ia membuka peti kecil berisi Garam Samudra Terbawah. Garam itu berkilauan seperti berlian cair.

​"Nah, ini dia. Saatnya membuat mahakarya: Ikan Asin Goreng Tepung Ubi!"

​Ye Xuan mulai sibuk di dapur kecilnya. Ia mengambil ikan tangkapan dari kolamnya—ikan yang sebenarnya adalah Ikan Mas Naga Langit yang sudah berevolusi karena air sumur Ye Xuan, tapi di mata Ye Xuan, itu hanyalah "ikan mas yang agak kegemukan".

​Ia mulai memotong ikan tersebut, menaburkan garam juara, dan melapisinya dengan tepung ubi buatannya. "Sedikit garam ini pasti bikin rasanya gurih sekali. Kuharap rasanya tidak seaneh namanya."

​Begitu ikan itu masuk ke dalam minyak panas di atas wajan, sebuah fenomena mengerikan terjadi. Aroma yang keluar bukan sekadar bau masakan, melainkan Esensi Kehidupan yang begitu pekat hingga membentuk pilar cahaya putih yang menembus atap pondok dan melesat langsung ke lapisan langit tertinggi.

​"Aduh! Gentengku bocor lagi?!" teriak Ye Xuan panik melihat pilar cahaya itu. "Sistem! Kenapa setiap kali aku masak selalu saja ada efek lampu disko begini? Nanti kalau tetangga sebelah protes bagaimana?!"

​Ye Xuan tidak tahu bahwa di atas awan, seorang Naga Langit Kuno yang sedang tidur selama tiga ribu tahun tiba-tiba terbangun karena hidungnya gatal.

​Hachiuuu!

​Suara bersin naga itu menggetarkan seluruh benua. Sang naga menunduk ke bawah, mencium aroma yang bahkan lebih nikmat daripada embun surga yang biasa ia minum.

​"Aroma apa ini? Begitu murni... begitu... gurih?" gumam Sang Naga dengan suara menggelegar.

​Sang naga langsung menukik turun dari langit. Di halaman pondok, para kultivator yang sedang mencangkul (Master Mo dan kawan-kawan) langsung tiarap ketakutan melihat bayangan raksasa menutupi matahari.

​"Naga! Naga Langit Kuno turun!" teriak mereka.

​Ye Xuan, yang sedang asyik membolak-balik ikan, mendengar suara gedebuk keras di halaman depannya. Ia mengintip dari jendela dengan spatula di tangan. Ia melihat seekor kadal raksasa bersisik emas dengan kumis panjang sedang mengendus-endus pintu rumahnya.

​"Waduh! Kadal raksasa!" Ye Xuan berteriak kaget, wajahnya pucat pasi. "Kenapa ada komodo sebesar rumah di sini?! Apa dia mau mencuri ikan asinku?!"

​Ketakutan Ye Xuan memuncak, tapi rasa "sayang makanan"-nya jauh lebih besar. Ia membuka pintu dengan kasar, berdiri dengan kaki gemetar namun wajahnya dipaksakan terlihat galak sambil mengacungkan spatula.

​"Hei! Pergi! Kadal besar, pergi!" teriak Ye Xuan dengan suara melengking. "Cari makan di hutan sana! Ikan ini cuma cukup buat aku dan tamu-tamuku! Jangan coba-coba masuk atau kupukul pakai spatula ini!"

​Sang Naga Langit terpana. Seumur hidupnya, tidak ada manusia yang berani memanggilnya "kadal" apalagi mengusirnya dengan spatula. Namun, saat ia menatap Ye Xuan, ia melihat aura keberuntungan yang begitu besar menyelimuti pemuda itu hingga ia merasa jika ia berani menyerang, ia akan langsung berubah menjadi kerupuk naga.

​"Manusia... aku hanya ingin... sedikit saja..." bisik Sang Naga dengan suara rendah yang menggetarkan kaca rumah.

​"Sedikit-sedikit! Nanti kalau kukasih, kau minta nambah!" jawab Ye Xuan dengan ketegasan yang konyol. "Sana! Kalau kau mau makan, bantu Master Mo mencangkul dulu! Di sini tidak ada makanan gratis, bahkan buat kadal sepertimu!"

​Para Master Formasi di halaman hampir pingsan. Guru mereka... baru saja menyuruh Penjaga Langit untuk mencangkul kebun ubi.

​Sang Naga Langit, bukannya marah, malah meneteskan air liur melihat piring ikan asin di meja makan. "Baik... aku akan mencangkul. Berikan aku cangkul yang paling besar!"

​Ye Xuan melongo melihat naga itu berubah menjadi pria tua bertubuh kekar dan langsung mengambil cangkul cadangan di gudang. "Lho? Ternyata dia kadal peliharaan orang yang bisa berubah? Aneh sekali dunia ini."

​Ye Xuan kembali ke dapur, mengusap keringat di dahinya. "Hampir saja ikan asinku hilang. Ternyata jadi petani itu memang banyak gangguannya."

Di halaman pondok bambu Ye Xuan yang reyot, seekor Naga Kuno raksasa berwarna emas dan merah menundukkan kepalanya, mencoba menyelinap melalui pintu yang terlalu kecil. Naga itu, dengan mata yang berputar comically dan air liur menetes, jelas tergoda oleh aroma ikan asin dari dalam rumah.

​Ye Xuan berdiri tegak di ambang pintu, wajahnya memancarkan perpaduan ketegasan yang heroik namun konyol. Ia memegang spatula kayu di satu tangan dan wajan berminyak di tangan lainnya, mengacungkannya dengan pose 'emak-emak' yang marah. Ia berteriak, "Pergi! Jangan coba-coba makan ikan asinku, dasar kadal peliharaan!"

​Aura indigo-emas yang kuat memancar dari spatula dan wajan, membentuk kubah pertahanan yang memaksa naga itu mundur comically dengan ekspresi terkejut. Di latar belakang, Master Mo dan Master Formasi lainnya cowering ketakutan, namun mata mereka tetap fokus pada piring ikan asin yang glowing di meja makan.

1
Pecinta Gratisan
semangat💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!