NovelToon NovelToon
Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:592
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )

Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )

Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )

Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25 - Dua Sisi Takdir

Malam menyelimuti markas Divisi Pedang Matahari di Puncak Pilar Matahari Abadi dengan keheningan yang dalam, cahaya bulan memantul di permukaan kristal yang melapisi tanah, menciptakan kilauan lembut yang menyerupai lautan cahaya tak berujung. Tidak ada pepohonan yang menghalangi pandangan, hanya hamparan luas yang terbuka, dipenuhi angin yang berdesir di antara tebing-tebing tinggi yang menjulang.

Udara terasa dingin, namun di saat yang sama juga membawa ketenangan.

Di dekat ujung tebing, seorang pemuda duduk diam, tubuhnya tegak namun santai, seolah menyatu dengan ketenangan malam di sekitarnya.

Itu adalah Xiao Yan.

Tatapannya mengarah ke langit luas yang dipenuhi bintang, namun jelas bahwa pikirannya tidak benar-benar berada di sana.

“Junior Xiao Yan.”

Suara lembut terdengar dari belakang, memecah keheningan malam yang tenang. Seorang wanita muda melangkah mendekat, rambut panjangnya bergerak pelan tertiup angin, auranya stabil namun menyimpan kekuatan yang tidak sederhana.

Ia adalah Yun Yun.

Ia berhenti di samping Xiao Yan, menatap ke arah yang sama dengannya, lalu bertanya dengan nada tenang, “Apakah kau masih memikirkan turnamen itu?”

Angin berdesir di antara tebing.

Yun Yun melanjutkan dengan lembut namun penuh keyakinan, “Walaupun ini turnamen pertamamu, dengan kekuatanmu yang sudah mencapai Ranah Bintang Langit tingkat tiga, aku yakin kau bisa bersaing dengan para peserta Turnamen Tujuh Divisi nanti.”

Xiao Yan tidak langsung menjawab.

Ia perlahan berdiri.

Namun Xiao Yan perlahan menggeleng, sikapnya tetap tenang namun ada beban yang jelas terasa di dalam suaranya. “Aku tidak memikirkan turnamen itu, Senior,” ucapnya datar.

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam. “Entah kenapa… setiap malam…”

Tatapannya meredup, tidak lagi setenang sebelumnya.

“Aku selalu teringat desa kami yang telah hancur.”

Angin malam berhembus pelan, membawa suasana menjadi lebih dingin.

“Walaupun sudah delapan tahun berlalu… aku tidak akan berhenti mencarinya,” lanjutnya, suaranya kini lebih tegas.

“Pelaku di balik kehancuran desa kami.”

Tangannya mengepal perlahan, urat di lengannya menegang.

“Aku masih mengingat wajahnya.”

“Dengan sangat jelas.”

Ia kemudian melangkah maju, berjalan melewati Yun Yun tanpa menoleh lagi.

Angin malam berhembus menyapu puncak yang sunyi, membawa dingin yang perlahan meresap ke dalam suasana. Langkah Xiao Yan tetap tenang saat ia berjalan menjauh, namun suaranya kembali terdengar, kali ini lebih dalam dan dingin.

“Sama seperti temanku, Long Chen… aku juga akan mencarinya,” ucapnya tanpa menoleh.

Nada bicaranya berubah, tidak lagi sekadar tekad, melainkan sesuatu yang lebih tajam.

“Dan jika perlu…”

Ia berhenti sejenak.

“Aku juga akan membunuhnya.”

Angin berdesir lebih kencang, jubahnya berkibar pelan.

“…dengan cara yang paling kejam sebelum dia benar-benar mati.”

Kata-kata itu jatuh berat di udara malam tanpa emosi yang berlebihan, dan justru karena itulah terasa lebih dingin. Di belakangnya, Yun Yun hanya diam, tidak menyela ataupun menahan, hanya menatap punggung Xiao Yan yang semakin menjauh di bawah cahaya bulan.

Di tempat lain, di Hutan Bambu Ungu, malam terasa jauh lebih sunyi, seolah seluruh dunia telah terlelap, hanya menyisakan suara angin yang berdesir pelan di antara batang-batang bambu yang gelap.

Di dalam kamar, Long Chen terbaring di atas ranjang, namun tubuhnya tidak benar-benar beristirahat. Napasnya tidak teratur, alisnya berkerut, dan perlahan mimpi itu kembali datang.

Api menyala di mana-mana, melahap rumah-rumah dengan ganas, cahaya merahnya menelan kegelapan malam, sementara jeritan warga menggema penuh ketakutan dan keputusasaan.

Darah mengalir di tanah, tubuh-tubuh tergeletak tanpa daya, dan Desa Daun Maple terbakar habis, menyisakan kehancuran yang sunyi dan mencekam.

Di tengah kehancuran itu, sebuah sosok berjubah gelap berdiri diam, tidak tergoyahkan oleh kekacauan di sekitarnya, auranya pekat dan menyesakkan, seperti bayangan yang tidak memiliki cahaya.

Dan di sampingnya, seorang anak kecil berdiri dengan aura gelap yang menyelimuti tubuhnya, berdenyut liar seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada. Anak itu bergerak, turut membantu menghancurkan desa tanpa ragu, seolah kegelapan telah sepenuhnya menguasai dirinya.

Long Chen menatap pemandangan itu dengan mata gemetar, tubuhnya terasa kaku, seolah tidak mampu bergerak.

“Itu…!” suaranya bergetar.

Anak itu—wajahnya begitu mirip dirinya, dan kesadaran itu menghantamnya seperti petir yang menyambar tanpa peringatan.

“Hentikan!!” teriaknya, namun suara itu tidak mampu menghentikan apa pun, seolah semua yang terjadi telah melampaui jangkauan kehendaknya.

Long Chen terbangun dengan tiba-tiba, tubuhnya tersentak dari ranjang seolah baru saja ditarik keluar dari jurang yang gelap. Napasnya memburu tidak teratur, dada naik turun dengan cepat, sementara keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

Ia menutup satu matanya sejenak, berusaha menenangkan diri, mencoba memisahkan mimpi dari kenyataan yang masih terasa begitu nyata.

Pikirannya kembali pada bayangan itu.

“Anak itu…” gumamnya pelan.

Suara itu hampir tidak terdengar.

“…seperti diriku waktu kecil…”

Ia menatap telapak tangannya, jari-jarinya sedikit gemetar, seolah mencari jawaban di sana.

“…Tidak mungkin…” ucapnya lirih.

Tatapannya mengeras, mencoba menyangkal apa yang baru saja ia lihat.

“Aku tidak mungkin menghancurkan desaku sendiri…”

Ia menggeleng keras, seakan ingin mengusir bayangan itu dari kepalanya.

“Itu hanya mimpi… hanya mimpi buruk…” lanjutnya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. “Mungkin karena aku terlalu sering memikirkan Desa Daun Maple…”

Napasnya perlahan mulai stabil, namun di dalam hatinya, keraguan itu tetap ada dan belum sepenuhnya hilang.

Ia menarik napas dalam, perlahan menenangkan dirinya setelah mimpi itu, lalu menatap ke depan dengan sorot mata yang mulai berubah. “Turnamen Tujuh Divisi sudah semakin dekat,” gumamnya pelan.

Tatapannya mengeras, tidak lagi dipenuhi keraguan seperti sebelumnya. “Aku harus masuk empat besar,” lanjutnya dengan tegas. “Itu satu-satunya cara agar aku diizinkan turun gunung.”

Tangannya mengepal perlahan di atas lututnya.

“Aku sudah berjanji kepada Senior Mei Ling… aku akan mencari obat untuk menyembuhkan penyakitnya yang telah ia derita selama bertahun-tahun,” ucapnya, suaranya lebih dalam, lebih pasti.

Ia menunduk sejenak, lalu kembali mengangkat kepalanya, dan kali ini ada sesuatu yang lebih gelap di matanya, seolah bayangan dalam dirinya mulai perlahan muncul ke permukaan.

“Dan aku juga punya tujuan lain,” lanjutnya pelan, sementara bayangan dalam mimpinya kembali terlintas—api, jeritan, dan darah. “Yaitu mencari pelaku di balik kehancuran desanya…”

Napasnya tertahan sesaat. “Aku yakin… orang itu masih hidup.” Keheningan memenuhi ruangan. “Dan jika aku benar-benar menemukannya…” katanya perlahan, tatapannya berubah tajam, “akulah yang akan mengakhirinya.”

Tiba-tiba Long Chen teringat sesuatu, pikirannya seolah tertarik kembali ke masa lalu yang samar namun terus menghantuinya. Tangannya perlahan menyentuh perutnya, tepat di tempat di mana ia pernah merasakan sesuatu yang asing masuk ke dalam tubuhnya. “Oh iya… bola hitam itu…” gumamnya pelan, wajahnya mulai berubah serius. Ingatannya kembali pada kejadian delapan tahun lalu, saat ia masih kecil dan bertemu dengan sosok misterius itu. “Orang itu… memasukkannya ke dalam tubuhku…” lanjutnya, alisnya berkerut dalam.

Ia mencoba mengingat lebih dalam, namun yang ia dapat hanyalah potongan-potongan kenangan yang tidak utuh. “Apa sebenarnya itu… dan untuk apa dia memasukkannya ke tubuhku?” pikirnya dengan penuh kebingungan. Dalam ingatannya yang samar, ia juga teringat alasan mengapa dulu ia mencari orang itu, keinginan sederhana seorang anak kecil yang haus kekuatan, ingin menjadi lebih kuat tanpa memahami konsekuensinya. Namun sekarang, setelah semua yang terjadi, setelah desa itu hancur dan mimpi buruk terus menghantuinya, pertanyaan itu tidak lagi terasa sederhana.

Suasana kamar menjadi sunyi, hanya suara napasnya yang perlahan kembali teratur. Long Chen menatap kosong ke depan, pikirannya dipenuhi tanda tanya yang belum terjawab. Tidak ada kepastian, tidak ada penjelasan, hanya perasaan samar bahwa apa yang ada di dalam dirinya mungkin jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.

End Chapter 25

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!