Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Gema Baja dan Tirai Hutan Larangan
Hujan di Lembah Marapi terasa seperti jarum-jarum es yang menembus kulit, namun bagi Dara Kirana, rintik air itu adalah satu-satunya hal yang mengingatkannya bahwa ia masih berada di dunia manusia.
Ia berdiri terhuyung di tengah Jalan Raya Lereng Marapi. Di hadapannya, monster baja seberat dua puluh ton itu terdiam kaku, bersandar miring pada tebing batu cadas. Asap putih pekat terus mengepul dari radiator yang hancur, bercampur dengan bau karet hangus, solar, dan ozon—sisa-sisa dari ledakan tenaga gaib yang baru saja mengubah hukum fisika di tempat ini.
Napas Dara memburu, membentuk kepulan uap putih di udara dingin. Pandangannya terpaku pada bullbar besi di moncong truk tersebut. Baja padat setebal ibu jari orang dewasa itu melengkung parah ke dalam, membentuk huruf 'V'. Dan di tepat di pusat lengkungan itu, tercetak dua buah jejak telapak tangan manusia.
Dara melangkah maju dengan kaki gemetar. Ia mengulurkan tangannya yang dibalut perban elastis, menyentuh tepian cetakan tangan di besi tersebut.
Baja itu terasa panas membakar, menyimpan sisa-sisa suhu ekstrem dari tubuh Indra Bagaskara. Sentuhan itu mengirimkan sengatan listrik imajiner ke sepanjang tulang belakang Dara. Di sinilah letak batas antara realitas dan kegilaan. Tidak ada dongeng yang bisa menjelaskan bagaimana lengan seorang pemuda berusia delapan belas tahun mampu menahan laju kematian itu tanpa hancur menjadi serpihan tulang.
Tiba-tiba, sebuah erangan parau terdengar dari dalam kabin truk yang kacanya telah pecah berantakan.
Dara tersentak sadar. Ia bergegas berlari ke sisi pintu kemudi. Sopir truk itu—seorang pria paruh baya dengan jaket kulit kusam—tampak tergencet di antara kursi dan setir. Darah mengalir dari pelipisnya, namun dadanya masih naik turun secara teratur. Pria itu masih hidup, hanya gegar otak ringan dan pingsan akibat benturan dengan kaca samping.
Aku harus mencari bantuan, batin Dara panik.
Namun, tepat saat ia hendak merogoh saku jaketnya untuk mencari ponsel, tatapannya kembali jatuh pada moncong truk.
Di sekitar cetakan tangan di baja penyok itu, terdapat noda merah gelap. Darah Indra. Darah yang menetes dari telapak tangan sang Cindaku akibat memaksakan tenaganya melampaui batas kewarasan.
Kata-kata dari tatapan terakhir Indra kembali menghantam dada Dara. Tolong lupakan apa yang baru saja kau lihat.
Indra mempertaruhkan eksistensi seluruh kaumnya demi menyelamatkan nyawa Dara. Jika polisi atau warga desa datang, jika ada yang meneliti jejak tabrakan ini... bentuk cetakan tangan di baja itu sudah cukup untuk memicu kepanikan massal. Dan jika mereka menemukan sampel darah di sana, lalu entah bagaimana menyadari bahwa darah itu bukanlah darah manusia normal... rahasia Lembah Marapi akan terbongkar.
Klan Bagaskara akan diburu. Indra akan diburu.
"Tidak. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi," bisik Dara pada dirinya sendiri. Rasa takutnya tiba-tiba menguap, digantikan oleh sebuah resolusi yang dingin dan tajam. Gadis yang sebelumnya selalu menjadi korban keadaan, kini memutuskan untuk melawan balik.
Dara melepas jas hujan plastiknya yang berwarna kuning terang. Dengan gerakan cepat dan tergesa-gesa, ia mengusapkan bagian dalam jas hujan itu ke atas permukaan baja yang penyok, menggosok noda darah Indra dengan kuat. Ia memastikan gerimis ikut membantu mencuci sisa-sisa cairan merah itu hingga bersih tak bersisa dari logam yang masih panas tersebut.
Setelah memastikan tidak ada jejak darah, Dara menatap cetakan tangan itu. Ia tidak bisa meratakan kembali bajanya. Namun, orang-orang mungkin hanya akan mengira besi itu penyok karena menabrak batu cadas yang menonjol. Asal tidak ada darah, tidak ada bukti biologis yang mengaitkannya pada Indra.
Dari kejauhan, menembus tebalnya kabut di jalan menurun, Dara mendengar suara sayup-sayup deru mesin kendaraan lain yang sedang mendaki. Waktunya sudah habis.
Ia menatap sopir yang masih pingsan itu sejenak. "Maafkan aku, Pak. Bantuan akan segera datang untukmu," bisiknya menyesal.
Dara membuang jas hujannya yang terkena noda darah ke dasar jurang, membiarkannya tertelan oleh pekatnya kabut. Ia melirik sepeda ontel Kakek Danu yang sudah hancur lebur di tepi jalan, lalu tanpa menoleh lagi, gadis itu berlari menembus hujan, menyusuri jalan setapak kecil di pinggir tebing yang mengarah ke Jembatan Merah.
Jembatan Merah bukanlah jembatan yang ramah untuk dilewati pada siang hari, apalagi saat senja yang diiringi hujan badai. Jembatan gantung peninggalan era kolonial itu terbentang sepanjang lima puluh meter, membelah dua tebing curam dengan sungai berarus deras yang mengaum di dasar jurang. Kabel-kabel bajanya sudah berkarat, dan papan-papan kayunya tampak menghitam dimakan usia.
Dara berlari terengah-engah hingga tiba di ujung jembatan. Paru-parunya terasa perih, dan kakinya kebas akibat udara dingin. Pakaian seragamnya basah kuyup menempel di tubuhnya.
Di ujung seberang jembatan, menembus tirai hujan, sebuah titik cahaya kekuningan tampak bergoyang pelan. Cahaya dari lentera minyak.
"Kakek!" teriak Dara, suaranya nyaris tenggelam oleh deru sungai di bawah sana.
Ia memaksa kakinya melangkah menaiki jembatan gantung itu. Jembatan bergoyang hebat akibat angin dan beban langkahnya. Saat ia tiba di seberang, tubuhnya nyaris limbung jika sepasang tangan keriput yang kuat tidak segera menangkap bahunya.
"Astaga, Dara! Apa yang terjadi padamu?!" Kakek Danu mengangkat lenteranya, menyorot wajah cucunya yang pucat pasi, rambutnya lepek, dan bibirnya membiru kedinginan. "Di mana sepedamu? Mengapa kau basah kuyup begini?"
Dara bersandar pada lengan kakeknya, mencoba mengatur napasnya yang putus-putus. Giginya gemeretak.
"Kek... truk... ada truk rem blong di tikungan atas," Dara berbicara dengan suara bergetar.
Mata Kakek Danu membelalak ngeri. Ia segera memeriksa lengan dan kaki Dara, mencari luka patah tulang atau pendarahan. "Kau tertabrak? Bagaimana kau bisa selamat?!"
Dara menggeleng keras, mencengkeram kemeja kakeknya. "Bukan aku, Kek. Indra. Indra ada di sana."
Gerakan tangan Kakek Danu seketika terhenti. Ekspresi pria tua itu membeku. "Indra? Pemuda Bagaskara itu? Apa yang dia lakukan?"
Dara menelan ludah. "Dia... dia menahan kepala truk itu dengan kedua tangannya, Kek. Dia menghentikan truk dua puluh ton itu di aspal... dia menyelamatkanku."
Hening.
Bahkan deru angin dan suara hujan seolah teredam oleh keterkejutan absolut yang terpancar dari wajah Kakek Danu. Pria tua itu melangkah mundur selangkah, lenteranya sedikit bergetar.
"Menahan truk... dengan wujud manusianya?" Kakek Danu bertanya dengan suara serak yang nyaris berupa bisikan ngeri.
Dara mengangguk. "Truk itu hancur. Cetakan tangannya tertinggal di bumper baja. Tapi aku sudah membersihkan darahnya, Kek! Aku bersumpah tidak ada yang melihatnya selain aku. Indra langsung lari ke hutan."
Kakek Danu tidak terlihat lega. Sebaliknya, wajahnya berubah sepucat kertas. Pria yang selama ini terlihat seperti karang yang tak tergoyahkan itu kini memancarkan kepanikan yang murni.
"Gila," desis Kakek Danu, mengusap wajahnya yang basah oleh hujan. "Pemuda itu benar-benar sudah gila. Dia mengoyak Perjanjian Kesunyian. Dia menggunakan kekuatan absolut klan di jalanan manusia di siang bolong."
"Kek, dia melakukannya untuk menyelamatkanku!" Dara membela Indra, tanpa sadar suaranya meninggi. "Kalau dia tidak menabrakkan dirinya ke sana, aku sudah mati tergencet di tebing!"
"Dara, kau tidak mengerti!" Kakek Danu mencengkeram kedua bahu Dara dengan keras. "Bagi Cindaku, kerahasiaan eksistensi mereka adalah hukum tertinggi! Hukum yang lebih tinggi dari nyawa seorang manusia, lebih tinggi dari nyawa mereka sendiri! Dengan mengekspos kekuatannya seperti itu, Indra tidak hanya mempertaruhkan rahasia desa ini dari incaran manusia modern, tetapi dia juga menunjukkan kelemahan fatalnya di mata tetua klannya!"
Dara terpaku. "Kelemahan fatal?"
"Kelemahan bahwa dia, pewaris Harimau Putih, bersedia menghancurkan aturan sakral klan hanya demi seekor mangsa... demi seorang manusia!" Kakek Danu menatap ke arah pekatnya hutan di Lereng Utara. "Sutan Agung tidak akan memberikan ampun untuk ini."
"Sutan Agung? Tetua yang akan kita temui hari ini?"
"Ya," jawab Kakek Danu cepat. Ia menarik lengan Dara, memaksa gadis itu untuk segera berjalan menyusuri jalan setapak yang mendaki tebing, masuk ke dalam Hutan Larangan. "Kita tidak punya waktu lagi. Sebelum kabar tentang kecelakaan mustahil itu sampai ke telinga warga desa, apalagi ke telinga Sutan Agung, kita harus tiba di wilayah mereka. Kita harus menunjukkan bahwa kehadiranmu di sini bukan sebagai parasit yang melemahkan kewarasan Indra, melainkan sebagai Pawang yang ditakdirkan."
Perjalanan menuju Lereng Utara adalah sebuah siksaan fisik dan mental.
Mereka meninggalkan jalan setapak yang biasa dilalui oleh para pencari kayu bakar, dan berbelok memasuki area hutan yang belum tersentuh oleh kapak manusia selama berabad-abad. Pohon-pohon di sini berukuran masif; akar-akarnya menjalar di atas permukaan tanah berbatu seperti urat nadi naga yang membatu. Pakis-pakis raksasa tumbuh setinggi dada, menghalangi pandangan.
Anehnya, semakin dalam mereka melangkah, rintik hujan semakin berkurang, terhalang oleh kanopi daun yang berlapis-lapis dan sangat rapat. Kabut tidak lagi berwarna putih kelabu, melainkan memancarkan pendar kebiruan yang ganjil akibat lumut bioluminescent yang menempel pada batang-batang pohon lapuk.
Dara berjalan tertatih di belakang Kakek Danu. Ramuan akar Ruruhi di dalam perutnya masih membuatnya mual, namun efek ramuan itu terbukti bekerja. Selama berjam-jam mereka berjalan membelah wilayah predator, tidak ada satu pun binatang liar yang mendekat. Bahkan suara serangga malam seolah bungkam ketika mereka melintas.
"Kek," panggil Dara terengah-engah, memecah kesunyian yang mencekam. "Ceritakan padaku tentang Sutan Agung. Apakah dia yang memimpin keluarga Bagaskara?"
Kakek Danu tetap berjalan sambil menebas semak berduri dengan goloknya. "Bukan. Ayah Indra telah lama meninggal. Sutan Agung adalah saudara tertua dari mendiang ayah Indra. Dia adalah tetua absolut klan Cindaku di Lembah Marapi. Wujud spiritualnya adalah Harimau Hitam—simbol dari kedisiplinan, kekejaman, dan adat."
"Lalu kenapa Kakek bilang dia membenci manusia?"
Langkah Kakek Danu sedikit melambat. "Karena di masa lalu, saat Belanda pertama kali masuk membuka perkebunan kopi, istri dan anak Sutan Agung diburu dan dibunuh oleh tentara bayaran kolonial yang mencium wujud asli mereka. Sejak saat itu, Sutan Agung percaya bahwa manusia hanyalah penyakit. Dia membiarkan segelintir manusia hidup di kaki gunung hanya karena Perjanjian Lama yang dibuat oleh leluhurmu, Nyai Ratih. Tapi toleransinya sangat tipis."
Dara menelan ludah. "Kalau begitu... kedatangan kita ke sana sama saja dengan menyerahkan diri ke kandang singa."
"Harimau, Nduk. Harimau yang sangat konservatif," koreksi Kakek Danu dengan senyum getir. "Tapi Sutan Agung menghormati kekuatan. Dan dia menghormati garis keturunan Nyai Ratih. Kita harus membuat kesepakatan dengannya sebelum Willem mulai mengumpulkan pasukannya dan memancing perang antara klan."
Udara di sekitar mereka mendadak berubah.
Dara bisa merasakannya. Jika di wilayah pemukiman udara terasa lembap dan dingin, di titik hutan ini, udara terasa padat, kering, dan... hangat. Bukan hawa hangat matahari seperti milik Bumi Arka, melainkan hawa panas yang memancar dari ratusan tungku yang berdegup secara bersamaan. Itu adalah panas komunal dari darah Cindaku.
Mereka telah memasuki teritori kekuasaan utama Sang Penguasa Rimba.
Kakek Danu menghentikan langkahnya di sebuah dataran yang diapit oleh dua tebing batu vertikal yang menjulang tinggi hingga tak terlihat ujungnya dalam kegelapan. Di antara dua tebing itu, terdapat sebuah gerbang alami yang terbentuk dari akar pohon beringin raksasa yang saling melilit.
Tidak ada penjaga yang terlihat. Hanya kesunyian yang terasa berat.
Namun, insting Dara yang kini semakin tajam menangkap pergerakan. Di atas dahan-dahan pohon raksasa di sekeliling mereka, ada banyak sekali pasang mata yang menyala keemasan dalam kegelapan. Mereka diawasi oleh belasan, mungkin puluhan pasang mata. Geraman-geraman rendah yang sangat pelan bersahutan seperti suara mesin diesel yang dihidupkan dalam mode idle.
Dara merapat ke punggung Kakek Danu. Segel di telapak tangannya berdenyut panas, namun terhalang oleh rasa pahit dari ramuan Ruruhi di dalam darahnya, membuat energi itu tidak bisa memancar keluar untuk menenangkan makhluk-makhluk tersebut.
Tiba-tiba, dari kegelapan pekat di balik gerbang akar beringin, sebuah siluet melompat turun.
Pendaratan sosok itu nyaris tanpa suara, sehalus bulu yang jatuh ke tanah. Saat cahaya lentera Kakek Danu menyorot sosok tersebut, Dara menahan napas.
Itu adalah seorang pria dewasa dengan perawakan luar biasa kekar. Kulitnya berwarna tembaga gelap, dipenuhi oleh bekas luka cakaran vertikal di sekujur lengan dan dadanya yang dibiarkan terbuka. Pria itu mengenakan celana kain hitam longgar khas silat tradisional. Rambutnya diikat rapi ke belakang. Matanya memancarkan kilat kuning keemasan yang tajam, sangat kontras dengan ekspresi wajahnya yang dingin dan tak terbaca.
Ini adalah Bujang. Panglima perang kepercayaan Sutan Agung.
"Berhenti di sana, Danu," suara Bujang terdengar berat dan bergema di dasar tebing. "Kau memiliki nyali yang sangat besar untuk menginjakkan kaki tuamu di tanah sakral ini setelah matahari terbenam. Dan kau membawa serta... manusia yang baunya sangat menjijikkan."
Bujang mendengus kasar, mencium aroma akar pahit yang menguar dari tubuh Dara.
Kakek Danu tidak gentar. Pria tua itu melangkah satu tindak ke depan, lalu menancapkan goloknya ke tanah. Ia menyingkap kerah kemejanya sedikit, memperlihatkan rajah tato kuno di pangkal lehernya yang kini memancarkan cahaya keperakan redup.
"Aku tidak datang sebagai manusia biasa, Bujang," balas Kakek Danu lantang, suaranya mengandung otoritas magis yang membuat geraman-geraman di atas pohon terdiam sejenak. "Aku datang sebagai Pemegang Kunci. Dan aku membawa pewaris sah dari garis keturunan Penengah. Darah Nyai Ratih."
Mata Bujang menyipit. Kilat kuning di pupilnya meredup sedikit, digantikan oleh keraguan yang campur aduk. Ia memindai tubuh rapuh Dara yang menggigil di balik pakaian basahnya.
"Bulan tanpa cahaya akan tiba lusa," ujar Bujang dingin, meski posturnya sedikit merileks. "Klan kami sedang berada dalam puncak kegelisahan. Tuan Sutan Agung sedang tidak ingin diganggu oleh urusan manusia kota."
"Sutan Agung harus mendengar apa yang kami bawa," potong Kakek Danu tegas. "Opsir Darah telah bangkit dari kawah Marapi. Willem van Deventer mencoba menyentuh cucuku di sekolah hari ini."
Kata 'Willem' memberikan efek magis yang luar biasa mengerikan.
Hutan itu seketika menjadi hening absolut. Tak ada satu pun suara napas atau geraman yang terdengar dari dahan-dahan pohon di atas mereka. Nama itu adalah tabu terbesar, mimpi buruk yang membayangi sejarah klan Harimau selama dua abad.
Bujang mengatupkan rahangnya. Urat-urat di lehernya menonjol tajam. "Ikuti aku. Jangan menyentuh apa pun, dan jangan menatap mata siapa pun di dalam sana."
Bujang membalikkan badan dan berjalan menembus gerbang akar beringin. Kakek Danu memberi isyarat pada Dara untuk mengikutinya dari belakang dengan jarak dekat.
Saat melewati gerbang itu, pemandangan yang terhampar di hadapan Dara membuat napasnya tertahan di tenggorokan.
Di balik tebing batu itu, tersembunyi sebuah perkampungan yang sama sekali tidak tersentuh oleh peradaban modern. Belasan rumah panggung kayu berarsitektur Rumah Gadang berdiri megah mengelilingi sebuah tanah lapang yang luas. Obor-obor bambu menyala dengan api yang—secara aneh—berwarna kebiruan, menerangi ukiran-ukiran kayu yang menggambarkan pertarungan mitologis antara harimau dan siluman ular.
Di pelataran rumah-rumah itu, Dara melihat orang-orang dari klan Cindaku. Sebagian besar berwujud manusia, namun dengan aura liar yang sangat pekat. Beberapa pemuda tampak sedang berlatih silat dengan gerakan yang kecepatannya tidak bisa diikuti mata manusia biasa. Beberapa wanita mengawasi Dara dari atas beranda dengan tatapan permusuhan yang dingin. Hawa panas menguar dari perkampungan ini, mengubah gerimis menjadi gerah yang menyesakkan.
Bujang memimpin mereka menuju rumah gadang terbesar yang terletak di ujung pelataran, berdiri di atas fondasi batu andesit raksasa.
Di atas tangga utama rumah tersebut, berdirilah seorang pria paruh baya yang membuat setiap makhluk di perkampungan itu menundukkan kepala mereka penuh hormat.
Pria itu mengenakan pakaian adat lengkap berwarna hitam legam dengan sulaman benang emas. Wajahnya keras seperti pahatan batu karang, dengan kumis dan janggut yang mulai memutih. Matanya bukanlah berwarna keemasan seperti Cindaku lainnya, melainkan berwarna cokelat segelap kopi, memancarkan kearifan purba sekaligus kekejaman absolut. Auranya begitu menekan hingga Dara merasa seolah ada batu berton-ton yang menimpa paru-parunya, jauh lebih berat daripada intimidasi Willem.
Inilah Sutan Agung. Sang Harimau Hitam.
"Keturunan Danu," suara Sutan Agung tidak diucapkan dengan nada keras, namun bergema ke seluruh sudut perkampungan, seolah ia berbicara langsung di dalam pikiran semua orang. "Dan gadis kota yang baunya telah mengacaukan kewarasan pewaris klan-ku."
Sutan Agung melangkah turun satu anak tangga. Matanya mengunci tajam ke arah Dara.
"Katakan padaku, Manusia," lanjut Sutan Agung dingin. "Beri aku satu alasan yang masuk akal, mengapa aku tidak merobek lehermu malam ini juga untuk menghilangkan sumber penderitaan keponakanku?"
Dara berdiri mematung di bawah tatapan mematikan Sang Raja Hutan. Di tengah tanah musuh, dengan segel Pawangnya yang masih tersekap oleh ramuan pahit, Dara tahu bahwa nasibnya—dan nasib Indra yang telah melanggar aturan demi menyelamatkannya—kini bergantung sepenuhnya pada kata-kata yang akan keluar dari mulutnya malam ini.