Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.
"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"
suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.
"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."
kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.
"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."
Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Attention…!!!
“Makasih kak, buat makan pagi sekaligus siang tadi.” Ucap Steve yang berjalan di samping Leon.
“Hmm…” jawab Leon sekenanya.
Mereka berjalan bersama menuju ke pintu lift, terlihat pintu lift yang baru saja terbuka, tampak dua orang wanita muda keluar dari dalam lift. Wanita yang menggenakan deras nabi sontak menatap Steve, dia denga tiba tiba memeluk erat Steve.
“Steve….!!” Panggil wanita yang tak lain adalah Caroline.
Sedangkan Steve yang terkejut mendapati teman masa sekolahnya ada di negara ini juga dan di apartemen yang dia tinggali bersama Leon, merasa sangat senang.
“Caroline….!!!” Jawab Steve membalas pelukan Caroline.
Sedangkan teman Caroline dan Leon hanya bisa menatap mereka yang tengah berpelukan erat satu sama lain.
Leon terlihat kesal saat melihat Caroline dan Steve saling berciuman pipi sebagai salam perjumpaan mereka, darah Leon seakan mendidih melihat keintiman Steve dan Caroline.
“Since when have you been here, Caroline?” Tanya Steve dengan senyum lebarnya.
“I've been here for a week.” Balas Caroline.
Steve refleks melihat ke arah Leon yang melihat Steve dengan sorot mata tajam, mendapati tatapan nyalang dari Leon dengan segera Steve menjauh dari Caroline.
“Oh... Caroline, nice to meet you. But sorry, I have to go soon, I still have work to finish.”ucap Steve terdengar segan.
“no problem, i have to go too. sometime we can talk again Steve, oh yeah.... how about we meet at the park tomorrow at four in the afternoon.” Caroline menatap Steve penuh harap.
“Okay, but I can't promise whether I can come or not.” Jawab Steve yang ingat jika leoan pasti tidak akan mengijinkan.
“oh okay... never mind I will wait for you for an hour, after an hour you don't come then, I will leave.”
Anggukan samar Steve membalas ucapan Caroline, sebenarnya Steve ingin sekali langsung menerima ajakkan wanita berwajah bule tersebut. Tapi dia ingat jika Leon pasti tidak akan mengijinkan.
“Okey….” Jawab Steve tanpa basa basi.
Melihat Steve yang sepertinya akan lama mengobrol dengan Caroline, tanpa mengatakan apapun Leon segera pergi meninggalkan Steve bersama Caroline. Dia segera menekan tombol lift dan menunggu di depan pintu lift dengan memasukan kedua tangannya ke saku celananya, sednagkan Steve yang melihat Leon pergi segera berpamitan dengan Caroline.
“I have to go soon Caroline, have a nice day.... nice to meet you...” ucap Steve segera berjalan meninggalkan wanita cantik yang kini menatap Steve.
Pintu lift terbuka, Leon segera masuk tanpa menunggu kedatangan Steve. Dan saat pintu lift akan tertutup, Steven segera masuk kedalam.
“Maaf kak, aku terlalu asik menggobrol.” Lirih Steve penuh rasa bersalah.
Leon melirik melihat Steve dengan sorot mata tajam, dia segera mendekati Steven dan memojokkan tubuh Steve ke kotak besi yang terasa dingin saat kulit Steve menyentuh dinding lift.
“Se effort itu kami bertemu teman kamu, Hmm…. Sampai kamu melupakanku…?” Tanya Leon mendekatkan wajahnya ke wajah tampan Steve.
“Kak aku… aku…”
lidah Steve terasa kelu saat akan menjawab pertanyaan Leon, jantung Steve kembali berdetak dengan cepat, saat wajah Leon hampir menyentuh wajahnya. Beruntung hanya hidung mereka yang saling menempel satu sama lain seperti tadi.
Bunyi ting membuat Leon segera menjauhi Steve, dia segera keluar dari lemari besi tersebut tanpa menunggu Steve yang masih diam mematung karena rasa terkejutnya menghadapi sikap Leon tadi.
Pintu lift yang hampir tertutup membuat Steve segera tersadar dan segera keluar dari lift, dia berjalan cepat menyusul Leon yang hampir sampai di depan pintu apartemen Leon.
Bunyi suara tombol smart door membuat Leon dan Steve terdiam, suara kunci yang terbuka membuat Leon segera menekan handel pintu. Leon segera masuk di ikuti Steve di belakang Leon, seolah menjadi kebiasaan. Setiap masuk mereka akan melepaskan sepatu dan meletakkan sepatu yang baru saja mereka lepas ke dalam lemari kecil di dekat pintu.
Leon segera menuju ke dalam kamarnya, rasanya tubuh dan batin sangat lelah hari ini. Dia ingin sekali beristirahat setelah membersihkan diri, sedangkan Steve segera masuk kedalam kamar.
Bunyi suara pintu kamar berderit nyaring, Steve yang baru saja masuk kedalam kamarnya di kejutkan oleh bertapa rapi dan wangi kamar miliknya. Tumpukan pakaian di atas tempat tidurnya kini sudah tidak ada, berganti kan sprei berwarna putih yang bercorak garis melintang terbentang di atas kasur kini size nya.
Steve tersenyum samar, dia tahu siapa yang telah membersihkan semuanya. Dia segera masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, sebelum dia bertanya tentang keadaan kamar yang begitu rapi dan bersih serta wangi ke Leon.
Gemericik suara air pertanda jika Steve sedang melakukan ritualnya, tak sampai setengah jam kini Steve sudah rapi dan terlihat segar dengan penampilan yang terbilang rapi untuk Steve.
“Aku akan keluar sebentar, stok parfum serta hand bodygard milik ku sudah hampir habis. Ti sebelum itu aku akan ke cari tahu, apakah kak Leon yang telah membersihkan kekacauan di kamarku kemarin.” Batin Steve segera mengambil kemeja putihnya.
Suara ketukan di depan pintu kamar Leon menjadi tanda jika Steve meminta ijin untuk masuk kedalam kamar Leon, suara berat khas bangun tidur terdengar samar menjadi tanda jika Steve di persilahkan untuk segera masuk ke kamar Leon.
“Aku masuk kak…” seru Steve dengan nada tingginya.
“Hmm…” jawab Leon segera bangkit dari tempat tidurnya, dia menduduk kan dirinya terlebih dahulu. Tidur sebentar membuat tubuh lelahnya berangsur pulih.
“Kak, aku mau tanya…? Apa kamu yang membersihkan kamarku saat aku tinggal kemarin…?” Tanya Steve sambil berjalan mendekati Leon yang tampak berpenampilan kacau.
“Oh.. itu, memang aku. Kenapa kamu tidak merapikan tempat tidurmu…?” Tanya Leon sengaja agar Steve tidak terlalu curiga dengan Leon.
“Untuk itu aku bisa jelaskan, aku terlalu terburu buru. Jadi aku sengaja membiarkannya, tapi sepulang dari rumah Niko aku di kejutkan dengan keadaan kamar yang terlihat rapi, seprei pun sudah terganti dengan yang baru, tapi thank’s kak untuk semuanya.” Steve tersenyum, entah dia bingung harus mengatakan apa lagi.
“That’s okay… newer mind… sudah jam berapa ini…? Ugh… oh iya sebentar lagi aku akan keluar, kamu mau titip sesuatu…?” Ucap Leon segera berdiri dan akan berjalan menuju ke dalam kamar mandi, tapi tiba tiba langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Steve.
“Aku ikut boleh…? Aku ingin membeli beberapa keperluanku.” Steve berharap Leon mengijinkannya ikut kali ini.
“Hmm… baiklah, aku mandi dulu. Kamu tunggu di luar, atau kamu mau ikut mandi bersamaku…?” Goda Leon yang sukses membuat wajah Steve memerah.
“Eh… anu, aku… aku sudah mandi, eh… enggak maksud ku. Aku akan tunggu di luar.” Steve segera berbalik badan, dia memilih akan keluar setelah merasakan jantungnya kembali berdetak kencang mendengar ucapan frontal dari Leon.
“Sial, kenapa jantung gue akhir akhir ini detaknya semakin enggak beraturan seperti ini. Jangan jangan ada masalah di jantung gue, atau gue periksakan ke dokter spesialis jantung ya…” Steve memegangi dada kirinya, dia merasa tidak baik baik saja saat berdekatan dengan Leon selama beberapa hari ini.
Pintu kamar Leon terbuka, penampilan Leon yang terlihat sangat segar tidak seperti tadi. Steve yang melihat Leon sempat terpukau sesaat, dia tersadar saat Leon mendekat dan mengacak rambut Steve seperti biasa.
“Kita berangkat sekarang…” ajak Leon setelah mengambil kunci motornya.
Mereka segera keluar dari dalam apartemen, siang ini Leon berfikir akan membeli bahan bahan makanan yang sudah terlihat habis di dalam kulkas.