Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04 Gus Lemah!
Abyasa menatap ketiga saksi insiden mobil Santaka dengan tajam. “Pak Aji, Pak Eko, Pak Tito, apa yang panjenengan lihat malam ini adalah aib. Saya minta panjenengan semua tutup mulut, tidak menceritakan apa yang tadi terjadi pada orang lain.
Ingat, barang siapa menutup aib saudaranya maka Allah akan menutup aibnya di hari pembalasan. Panjenengan tau kan resikonya kalau berani bocorin kejadian ini ke siapa pun? Ingat, siapa pun.” Abyasa melihat ketiga bapak ronda itu bergantian.
Bapak-bapak itu mengkerut. Aura dominasi Abyasa begitu mencekik mereka. “Ng..nggih Gus Aby. Kami janji tutup mulut. Sumpah demi Allah.” Aji mewakili teman-temannya. Eko dan Tito menganggukkan kepala dengan cepat.
“Bagus. Sekarang saya sumpah di bawah Al Qur’an. Inget Bapak-bapak dosa besar melanggar sumpah Al Qur’an.” Ketiganya kembali mengangguk dan kontan mengambil sikap khidmat karena akan diambil sumpahnya.
Mereka kemudian pulang dengan mempersepsikan diri mereka amnesia. Lupa ingatan atau bahkan tak tahu apa-apa tentang insiden malam ini.
Surbakti akhirnya pamit pada Mansur dan seluruh keluarga Ndalem. Dengan langkah gontai dan kepala tertunduk, ia menggamit lengan putrinya.
Nandini menoleh pada Santaka ketika melewati pria itu. “Sst... Gus Taka, kenapa bela dirinya cuma segitu?” bisik Nandini.
Yang dibisiki Santaka, yang melihat ke arah Nandini seluruh keluarga Santaka. Ternyata definisi berbisik Nandini agak lain dari orang kebanyakan.
“Nduk, tutup mulut kamu, kalau masih mau liat Bapakmu bisa napas. Cukup, Dini. Kita pulang.” Surbakti berbisik, benar-benar berbisik di dekat wajah putrinya.
Nandini mengeratkan rahangnya. Ia kecewa terhadap Santaka yang hanya membela diri seadanya. Tak ada nyali padahal posisi mereka tak sepenuhnya salah.
Kini tersisa hanya keluarga inti Mansur di aula. Sidang bagi Santaka berlanjut.
“Le, sampeyan paham kan kenapa kakakmu dan Abi ambil keputusan ini?” Mansur menatap lembut pada putra bungsunya.
“Abi, ndak bisakah dikaji ulang? Ini bukan zina, Taka pikir ndak usah sampai nikah. Taka paham ini bisa jadi preseden buruk buat pondok, tapi ini semua bisa dijelaskan.
Jamaah, warga sekarang ndak bodoh kok. Bisa paham asal dijelaskan.”
“Taka Taka, mulai lagi sifat buruk kamu. Selalu melihatnya dari kacamata kamu. Subyektif. Kamu pikir, pikiran kamu bisa mendahului aturan agama?” Abyasa menipiskan bibir sambil menggelengkan kepala.
“Bagian mana yang subyektif, Mas? Menikah dalam agama pun ada aturannya!” Rahang Santaka mengetat. Sebisa mungkin ia menjaga intonasi suaranya.
“Mas tanya sama kamu, waktu Dini melonjak-lonjak di atas pangkuan kamu, apa kamu merasakan sensasi lain? Bahkan satu detik saja, Taka?” Abyasa menatap sang adik hingga matanya menyipit.
Santaka terdiam. Kupingnya memerah. Semua melihat itu. Mansur mengelus jenggotnya. Lastri menggelengkan kepala. Danendra menipiskan bibirnya. Kedua menantu melipat bibir.
“Hhhh... secara aturan agama, kalian berdua termasuk golongan yang wajib menikah. Sudah ada syahwat di sana. Terima itu, Taka.”
“Taka menolak Mas.” Kepala Santaka tetap tertunduk.
“Taka, berhenti jadi telor busuk di keluarga kita!”
“Yasa!” tegur Mansur. Lastri sampai melonjak mendengar ucapan anak sulungnya. Danendra memejamkan mata. Kedua Ning menggelengkan kepala.
“Ndak ada yang salah dengan kata-kata Yasa, Abi, Umi. Taka selama ini selalu seenaknya. Saat Yasa dan Nendra membantu Abi membina umat, lihat yang dia lakukan.
Sibuk dengan hobinya. Hobi yang ndak lazim pula, buat kue. Mau sampai kapan dia seenaknya terus kayak gitu?” Abyasa memandang lurus ke arah pintu aula. Giginya saling beradu.
Pelipis Santaka berdenyut. Tangannya mengepal. Napasnya menjadi lebih cepat. Ia tak terima perkataan Abyasa. Hanya saja kungkungan adab membuatnya tak bisa berbuat lebih.
“Tapi Mas Yasa, Umi sudah ada niat jodohin Taka sama Syifa. Umi jadi ndak enak sama Nyai Rahmah kalau ndak jadi.”
Santaka memejamkan mata mendengar ucapan ibunya. Ia sama sekali tak tertarik pada pernikahan saat ini. Ia memilih membesarkan usahanya yang masih bayi itu.
“Belum ada proses ta’aruf kan Umi? Bilang saja Taka sudah punya pilihannya sendiri. Ndak bisa dipaksakan.” Abyasa tersenyum pada sang ibu.
Mansur menoleh ke arah Lastri. “Betul kata Mas Yasa, Umi. Tak ada keharusan kita ndak enak. Baru antar kalian saja, Taka sendiri belum khitbah Syifa. Bertemu khusus untuk ta’aruf saja kan belum.”
Lastri mengangguk lemah. Ia memandang sendu Santaka.
“Persiapkan diri, Taka. Minggu depan kamu dan Dini, nikah.” Abyasa menatap Santaka yang hanya bisa tertunduk.
*
*
Nandini mengusap air mata yang membasahi wajahnya. Ia menangis di pangkuan Surbakti.
“Maafin Dini, Pak. Dini ndak nyangka kalau gara-gara diajak pulang bareng sama Gus Taka, jadi kayak gini. Mending Dini telpon Bapak, minta jemput.”
Surbakti mengelus kepala putri tunggalnya itu. “Maafin Bapakmu juga Nduk, ndak bisa belain kamu di depan Yai dan Gus Yasa. Selain Bapak sungkan, posisi kamu juga lemah.
Pakai baju kayak tadi, lonjak-lonjak di pangkuan laki-laki, ndak bisa dibilang benar, seperti itu. Walaupun kamu ndak salah seperti yang dituduhkan. Kamu abis apa tho, pake pakaian kayak gitu? Dosa Dini.”
“Iya Pak. Dini salah. Itu... gara-gara Fio, ada acara ulang tahun temennya. Temanya... press body. Jadi yang dateng, ngepress semua bajunya.” Nandini menipiskan bibirnya.
Maafin Dini, Pak. Kalau Bapak tau Dini kayak gitu demi Alex, Bapak pasti tambah kecewa sama Dini.
Surbakti menggelengkan kepalanya. “Kenapa pergaulan kamu jadi kayak gitu, Nduk? Berarti kamu nikah sama Gus Taka itu jawaban doa Bapak supaya kamu terjaga dunia akhirat.
Aman kalau kamu ada di Ndalem, mana bisa pake pakaian kayak gitu.”
Nandini menggigit bibirnya. “Jadi Bapak nerima Dini nikah sama Gus Taka?”
“Insyaa Allah. Rahasia takdir itu ndak ketebak. Semua pasti ada hikmahnya, termasuk kejadian tadi.” Surbakti tersenyum pada sang putri.
Nandini tercenung. Haruskah ia menyerah pada suratan takdir? Bukankah takdir itu harus diperjuangkan?
Prinsip memperjuangkan takdir membawa Nandini menjejakkan ban motor RX King-nya di depan toko kue Santaka. Ia mendapatkan alamat toko itu dari si gaul Fiona.
Nandini melihat nama toko kue Santaka —Sweet Sanctuary—alisnya mengangkat sebelah. Kok nama tokonya kurang Arab? Ndak sesuai asal dia deh...
Kepala Nandini celingak celinguk ketika masuk ke dalam toko. Toko itu didominasi warna putih sagu. Ada tembok bertekstur pasir berwarna hijau sage. Meja konternya berwarna cokelat muda dengan lis semacam stainless steel. Minimalis.
Penjaga konter adalah seorang lelaki muda. Sepertinya lebih muda dari Nandini. Ia terlihat sedang melayani seorang ibu dan anak balitanya.
Ada juga beberapa orang yang sedang mengantri. Ada pula yang sedang makan di meja. Jadi konsep toko Santaka adalah bakery cafe. Pelanggan bisa makan di tempat dengan pilihan menu variatif. Tidak hanya kue atau roti tapi juga makanan berat.
Nandini manggut-manggut. Aksi memindai Nandini yang malah terlihat seperti bengong tak jelas menarik perhatian seorang wanita dengan hijab pink. Wajahnya manis.
“Pagi Kakak, mau pesen apa?”
“Mau pesen Gus Taka, eh ketemu maksudnya.” Nandini menepuk bibirnya.
“Oh, Pak Taka sedang di kitchen. Perlu saya panggilkan? Ini dengan kakak siapa?” Si manis tersenyum.
“Dini.”
Tak lama, Santaka terlihat keluar dari dapur toko. Wajah teduhnya terlihat datar ketika melihat Nandini.
Kenapa tho liatin aku kayak gitu? Males banget. Dikira aku seneng ke sini?
“Ada apa Mbak Dini?”
“Saya perlu bicara serius dengan panjenengan, Gus.”
Santaka terdiam. “Di sini bisa?”
“Emang boleh bahas masalah masalah kita kemaren di sini? Lagian rame. Saya suka budheg kalau banyak orang. Takut salah paham.” Nandini memiringkan bibirnya.
Santaka membalikkan badan dan berjalan ke arah tangga. Nandini mengerutkan dahinya.
Ini maksudnya naek ke atas? Ya ngomong tho, Gus. Hihh...
Nandini mengejar langkah Santaka menuju lantai dua. Area ini dimanfaatkan sang gus sebagai gudang. Tempatnya masih terbatas.
“Silakan Mbak Dini, mau ngomong apa?”
Nandini berdeham. Ia membasahi bibirnya. Santaka tak sengaja melihatnya, ia langsung menunduk.
“Soal kita... nikah minggu depan, bisa ndak dibatalin? Saya mau deh jalanin hukuman sosial misalnya ngelayanin di pondok atau apa gitu, Gus.”
“Ndak bisa, Mbak. Bukannya utusan Gus Yasa sudah ke rumah Mbak Dini ambil berkas untuk ke KUA?”
Nandini memanyunkan bibirnya. “Gus sudah bela diri lagi belum?”
“Sudah.”
“Bohong!”
“Lho, kok saya dikatai bohong? Saya sudah membela diri di sidang keluarga, setelah Mbak Dini pulang.”
“Model pembelaan dirinya kayak pas saya ada di aula?”
“Maksudnya?” Santaka mengerutkan dahinya.
“Ya... sambil nunduk-nunduk gitu.” Nandini mencebik.
“Ya memang begitu adabnya. Semua ada tata kramanya.”
“Tapi kan jadinya kalah, Gus. Mbok yang lebih teges gitu lho.” Nandini mendelikkan mata. Lupa siapa lawan bicaranya.
Santaka memejamkan mata. Ia lelah dengan tekanan bertubi sejak semalam. Apalagi Abyasa seakan mengulitinya hingga iritasi. Menyakitkan dan menghinakan.
Belum hilang pegal hatinya, Nandini datang seakan-akan kesalahan ada di tangannya. Padahal sumbernya adalah gadis itu sendiri.
“Sudah setegas yang bisa dilakukan oleh saya, Mbak.”
“Ah, kayaknya ndak. Gus Taka kan orangnya yang saya tau, diem-diem saja. Padahal masa depan Gus, masa depan saya dipertaruhkan. Sampeyan lemah, Gus!”
Santaka menahan napas mendengar ucapan Nandini. Ia menatap tajam gadis yang akan menjadi istrinya itu.
“Coba ulangi Mbak Dini, saya kenapa?”
“Gus lemah! Kurang greget!”
Keterlaluan! Ini perkataan terkasar seorang wanita yang pernah terlontar pada diri Santaka. Ego kelelakian Santaka terusik. Ia tak terima, wanita ini ikut merendahkan dirinya seperti sang kakak.
Gus ahli menguleni roti itu mengayunkan tungkainya ke arah Nandini. Merapat hingga berjarak sejengkal. Nandini mengerutkan dahinya. Terkejut dengan reaksi Santaka.
“Kita buktikan nanti di rumah tangga kita, apakah memang saya lemah atau tidak, calon istriku.” Santaka langsung membalikkan badannya.
Nandini menganga. Apa-apaan sih dia, Gus Roti dasar!
Kalau gini gimana? Bapak setuju. Dia nerima. Gimana lagi caranya nolak? Aku harus terima nikah sama dia gitu??
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj