karya ini aku buat atas pemikiran aku sendiri,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lia mengajak Key ke bar
Kini, Key berdiri di ruang tamu, menatap kosong ke arah pintu yang sudah tertutup sejak tadi. Bayangan percakapan kejam mereka masih terngiang jelas di kepalanya. Tentang rencana menyingkirkannya. Tentang masa lalunya. Tentang ibunya…
Tangannya perlahan mengepal.
Namun tiba-tiba—
Ponselnya berdering.
Key sedikit tersentak. Ia menoleh ke arah meja, lalu mengambil ponselnya. Nama yang muncul di layar membuatnya terdiam sejenak.
Lia.
Ia menarik napas, lalu mengangkat panggilan itu.
“Halo…”
“Key! Kamu lagi di rumah?” suara Lia terdengar ceria, seperti biasa, penuh energi.
“Iya…” jawab Key pelan.
“Bagus! Aku lagi di jalan, mau jemput kamu,” kata Lia tanpa basa-basi.
Key mengernyit. “Jemput? Mau ke mana?”
Lia tertawa kecil. “Ke bar, lah! Aku lagi pengen keluar. Dan kamu… kedengaran butuh banget keluar dari rumah itu.”
Key terdiam.
Bar.
Kata itu terasa asing, tapi juga seperti pintu keluar dari semua yang menyesakkan.
“Aku nggak tahu…” ucapnya ragu.
“Key,” suara Lia kali ini lebih lembut, “aku nggak tahu apa yang lagi kamu hadapi. Tapi aku tahu kamu nggak baik-baik aja. Dan diam di rumah itu nggak akan membantu.”
Key menunduk. Pandangannya jatuh ke lantai.
Rumah ini… memang tidak pernah benar-benar menjadi tempat pulang.
“Udah, ikut aja. Kita nggak harus ngapa-ngapain. Duduk, minum, denger musik… itu cukup,” lanjut Lia.
Key menggigit bibirnya pelan. Ia menoleh ke arah dalam rumah yang gelap.
Untuk pertama kalinya, ia merasa… tidak ingin tinggal di sini malam ini.
“Oke…” jawabnya akhirnya. “Aku ikut.”
“Good! Lima belas menit lagi aku sampai. Siap-siap ya!”
Telepon ditutup.
Key berdiri diam beberapa detik, lalu menghela napas panjang. Keputusan itu terasa spontan, tapi entah kenapa… ia tidak ingin menariknya kembali.
Ia berjalan menuju kamarnya, membuka lemari, dan memilih pakaian sederhana. Tidak berlebihan, hanya cukup rapi untuk keluar malam. Ia tidak ingin menarik perhatian. Ia hanya ingin… pergi.
Setelah selesai, ia berdiri di depan cermin.
Wajahnya masih terlihat lelah. Matanya sedikit merah, bekas tangis yang belum sepenuhnya hilang. Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Tatapannya tidak lagi kosong.
Ia mengambil tas kecilnya, lalu berjalan keluar rumah.
Beberapa menit kemudian, suara klakson mobil terdengar pelan.
Key melangkah keluar. Udara malam menyambutnya, sedikit dingin tapi menenangkan.
Mobil Lia sudah terparkir di depan. Jendelanya terbuka, dan Lia langsung melambaikan tangan.
“Ayo, cepat!” serunya.
Key masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya.
“Kamu kelihatan capek banget,” kata Lia sambil meliriknya.
Key tersenyum tipis. “Lumayan.”
Lia tidak bertanya lebih jauh. Ia menyalakan mobil dan mulai melaju.
Jalanan malam terlihat hidup dengan lampu-lampu kota yang berpendar. Musik pelan mengalun dari dalam mobil, menciptakan suasana yang sedikit lebih hangat.
“Kadang kita butuh kabur sebentar,” ujar Lia tiba-tiba.
Key menoleh sedikit.
“Bukan buat lari selamanya… tapi buat ngasih diri kita waktu bernapas,” lanjut Lia santai.
Key tidak langsung menjawab. Tapi kata-kata itu terasa… pas.
Ia menatap keluar jendela. Dunia di luar tampak begitu berbeda dari apa yang ia rasakan.
“Makasih, Lia,” ucapnya pelan.
Lia tersenyum kecil. “Nanti cerita kalau kamu siap. Aku nggak maksa.”
Key mengangguk.
Untuk pertama kalinya malam itu… ia merasa sedikit lebih ringan.
Mobil terus melaju menuju bar, meninggalkan rumah yang penuh luka di belakang.
😉🤍