Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Sangkar Emas Yang Dingin
Malam itu, Jakarta masih menyisakan sisa-sisa hujan badai yang mengguyur sejak sore.
Di dalam sebuah mobil sedan mewah yang melaju membelah kegelapan, suasana terasa lebih dingin daripada suhu pendingin udara yang disetel paling rendah. Kinara duduk bersandar di kursi belakang, menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong.
Di sampingnya, Arlan duduk tegak, sosoknya tampak seperti patung es yang tidak tersentuh.
Tidak ada lagi pegangan tangan yang memaksa.
Tidak ada lagi rengekan manja.
Arlan hanya duduk di sana, memancarkan aura otoritas yang sangat kuat hingga membuat sopir di depan tidak berani melirik ke kaca spion tengah sekali pun.
"Kau pikir kau bisa menang, Kinara?" suara Arlan akhirnya memecah keheningan.
Suaranya rendah, nyaris berbisik, namun memiliki ketajaman yang mampu menyayat hati.
Kinara tidak menoleh. "Kau sudah membawaku kembali, bukan? Bukankah itu artinya kau sudah menang?"
Arlan tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat sinis di telinga Kinara.
"Menang? Aku tidak sedang bermain game denganku, Sayang. Aku hanya sedang mengambil kembali apa yang memang menjadi milikku. Kau lupa? Di surat nikah itu, namamu bersanding dengan namaku. Sampai maut, atau sampai aku bosan padamu—yang mana yang lebih dulu—kau tidak akan pernah bisa melangkah keluar dari garis yang kubuat."
Kinara meremas tangannya yang gemetar di bawah pangkuannya. Ia merasa sangat tidak berdaya.
Ia telah merencanakan pelarian ini dengan rapi, namun ia lupa bahwa Arlan Group memiliki jaringan yang jauh lebih luas daripada yang bisa ia bayangkan.
Pria di sampingnya ini bukan lagi "bayi gede" yang meminta disuapi; ia adalah predator yang baru saja berhasil menangkap mangsanya kembali.
Begitu mereka sampai di mansion, pintu gerbang besar itu tertutup dengan bunyi dentum logam yang berat—suara yang bagi Kinara terdengar seperti vonis penjara seumur hidup.
Arlan turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Kinara.
Gerakannya sangat sopan, namun cengkeramannya pada lengan Kinara saat membantunya keluar sangatlah kuat, seolah ia takut Kinara akan lari lagi dalam hitungan detik.
"Selamat datang kembali di rumah, Nyonya Arlan," ucap Arlan dengan nada sarkasme yang kental.
Mereka masuk ke dalam lobi.
Di sana, para pelayan dan tim keamanan berbaris rapi dengan kepala menunduk.
Tidak ada satu pun yang berani menatap mata Kinara. Mereka semua tahu apa yang terjadi semalam—bahwa sang tuan telah mengamuk dan hampir menghancurkan seisi rumah karena kehilangan istrinya.
"Maya," panggil Arlan tanpa menoleh.
"Iya, Pak?" Maya muncul dari balik pilar, wajahnya pucat pasi.
"Mulai malam ini, semua akses komunikasi dari mansion ini harus melalui meja kerjaku. Istriku tidak membutuhkan ponsel untuk sementara waktu. Dia juga tidak butuh internet. Dia butuh banyak istirahat agar pikirannya tidak lagi kacau dan memikirkan hal-hal yang mustahil seperti... melarikan diri."
Kinara membelalakkan matanya.
"Kau tidak bisa melakukan ini, Arlan! Itu melanggar hukum!"
Arlan berbalik, mendekatkan wajahnya ke wajah Kinara hingga ujung hidung mereka bersentuhan.
"Hukum? Kinara, di rumah ini, aku adalah hukum. Aku adalah hakim, jaksa, dan sipirmu. Kau ingin kebebasan? Aku sudah memberikannya kemarin dan kau menggunakannya untuk mengkhianatiku. Sekarang, kau akan belajar bagaimana cara menjadi istri yang baik dalam sangkar ini."
Arlan kemudian menoleh ke arah tim keamanan.
"Jaga setiap sudut taman. Jika dia sampai menginjakkan kaki di luar pintu depan tanpa seizinku, kalian semua tahu apa konsekuensinya."
Arlan menggiring Kinara menuju kamar utama.
Begitu pintu tertutup, Arlan langsung mengunci pintunya dan memasukkan kunci itu ke dalam saku celananya.
Ia melepas jasnya, melemparkannya ke sofa dengan kasar, lalu berjalan mendekati Kinara yang berdiri mematung di sudut ruangan.
"Kenapa kau melakukannya, Kinara?" tanya Arlan.
Kali ini suaranya sedikit melunak, namun ada nada keputusasaan yang sangat dalam di sana.
"Aku sudah memberikanmu segalanya. Aku memberikanmu kantor, aku memberikanmu perhiasan, aku bahkan mencoba menjadi pria paling manis yang pernah kau kenal. Kenapa kau tetap ingin pergi?"
"Karena kau pembunuh, Arlan!" teriak Kinara dengan air mata yang mulai tumpah.
"Kau menghancurkan ayahku! Kau membangun kekayaanmu di atas penderitaan keluargaku! Bagaimana mungkin aku bisa tidur di ranjang yang sama dengan pria yang menyebabkan ayahku kehilangan nyawanya?!"
Arlan terdiam.
Rahangnya mengeras.
Ia menatap Kinara dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara amarah, rasa bersalah, dan obsesi yang gila.
"Dunia bisnis tidak seindah novel-novelmu, Kinara! Jika aku tidak mengambil alih perusahaan ayahmu, orang lain akan melakukannya dengan cara yang lebih kejam!" Arlan membentak balik.
"Aku menyelamatkanmu dari kemiskinan! Tanpa aku, kau mungkin sekarang sedang mengemis di jalanan, bukan duduk manis menulis cerita di mansion mewah ini!"
"Aku lebih baik mengemis daripada harus hidup dengan monster sepertimu!" balas Kinara.
Seketika, Arlan mencengkeram bahu Kinara dan mendorongnya perlahan hingga punggung Kinara menempel di dinding. Arlan menatap matanya dengan sangat dalam, napasnya terasa memburu di wajah Kinara.
"Kalau begitu, hiduplah dengan monster ini selamanya," bisik Arlan.
"Mulai besok, kau tidak akan pergi ke mana-mana. Kau akan tetap di sini, di bawah pengawasanku. Dan setiap malam, aku akan pastikan kau ingat bahwa kau adalah milik monster ini."
Arlan kemudian berbalik dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Kinara yang merosot ke lantai dan menangis tersedu-sedu.
Kinara merasa dunianya sudah benar-benar kiamat. Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, sebuah api dendam mulai menyala.
Jika Arlan ingin dia tetap di sini, maka dia akan tetap di sini. Tapi dia tidak akan tinggal diam.
"Jika kau ingin aku menjadi istrimu, Arlan... maka aku akan menjadi istri yang akan menghancurkanmu dari dalam," bisik Kinara di tengah isak tangisnya.
Keesokan harinya, Kinara mulai menjalankan rencananya.
Ia berpura-pura menjadi penurut.
Saat Arlan membawakan sarapan ke kamar—kembali ke mode "manja" yang manipulatif—Kinara menerimanya dengan senyum tipis yang dipaksakan.
"Kau tidak marah lagi padaku, kan?" tanya Arlan sambil mencoba menyuapi Kinara.
Kinara menggeleng pelan. "Aku sadar aku tidak punya pilihan, Arlan. Aku akan mencoba menerima ini."
Arlan tampak sangat bahagia mendengar hal itu. Ia langsung memeluk Kinara dengan erat.
"Bagus... itu baru istriku. Aku akan memberikan apa pun yang kau mau, asalkan kau tetap di sini."
Namun, di saat Arlan memeluknya, mata Kinara tertuju pada laptop Arlan yang tertinggal di atas meja kerja di sudut kamar.
Ia tahu bahwa di dalam sana tersimpan semua data tentang 'Proyek Andromeda'.
Ia akan menemukan bukti itu, dan ia akan memastikan Arlan membayar semua air mata ayahnya.
Permainan sesungguhnya baru saja dimulai.
Di dalam sangkar emas ini, Kinara bukan lagi mangsa yang ketakutan, melainkan mata-mata yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyerang balik jantung sang monster.