NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 1

***

Deru mesin pesawat jet pribadi yang mendarat di landasan pacu khusus Bandara Internasional Halim Perdana Kusuma malam itu terdengar seperti genderang perang bagi Karina Dyah Pramesti. Di luar jendela kecil pesawat, ia bisa melihat jajaran mobil Lexus hitam dan beberapa unit kendaraan taktis yang berjaga secara diskrit. Puluhan prajurit berpakaian sipil namun dengan potongan rambut cepak khas militer berdiri siaga, membentuk barikade manusia agar tidak ada satu pun lensa kamera wartawan yang bisa menembus area tersebut.

Karina, atau yang lebih dikenal dunia sebagai "Karina", sang center dari girl group nomor satu di Korea Selatan, menghela napas panjang. Ia membetulkan letak kacamata hitamnya, menarik masker medis ke atas hidung, dan memastikan topi bucket bermereknya menutupi sebagian besar wajahnya.

"Mbak Karina, mohon izin. Kondisi sudah aman," ucap seorang kru pesawat dengan nada sangat hormat.

Karina berdiri. Kakinya yang jenjang, yang biasanya melangkah dengan tarian enerjik di atas panggung Seoul, kini melangkah dengan berat menuruni tangga pesawat. Begitu kakinya menyentuh aspal, seorang pria tegap dengan setelan safari hitam melangkah maju dan memberi hormat singkat namun tegas.

"Izin, permisi Mbak. Saya Kapten Ardi, ajudan Bapak. Bapak sudah memerintahkan kami untuk mengawal Mbak dengan aman sampai ke kediaman. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya," ucap pria itu.

Karina hanya mengangguk pelan tanpa suara. Ia digiring masuk ke dalam mobil Lexus hitam dengan kaca anti peluru yang sangat gelap. Begitu pintu tertutup rapat dan mobil mulai melaju dalam rangkaian konvoi, Karina melepas kacamata dan maskernya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang empuk, mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

"Hancur sudah," gumamnya lirih sambil menatap pantulan wajahnya di jendela.

Ia baru saja kehilangan segalanya. Karier yang ia bangun dengan darah, keringat, dan air mata selama bertahun-tahun di negeri orang, runtuh dalam semalam karena skandal bullying yang sepenuhnya adalah fitnah.

Tuduhan bahwa ia bersikap arogan kepada staf dan merundung juniornya menjadi santapan empuk media internasional. Namun, Karina tahu ini bukan sekadar urusan manajemen artis. Ini adalah serangan politik yang ditujukan untuk memukul ayahnya melalui dirinya.

Rombongan mobil itu akhirnya berhenti tepat di depan rumah dinas Panglima TNI yang megah. Penjagaan di sana dua kali lipat lebih ketat dari biasanya.

"Ehm... Om," panggil Karina pada ajudan di depan saat mobil berhenti. "Mamah... ada di rumah?"

"Siap, Mbak. Ibu dan Bapak sudah berada di dalam, sengaja mengosongkan jadwal untuk menunggu kedatangan Mbak," jawab sang ajudan dengan nada kaku.

Karina menggigit bibir bawahnya. "Ck, mereka sangat tidak punya pekerjaan, ya? Biasanya kalau aku pulang secara rahasia, aku pasti ke rumah Eyang di Menteng karena mereka sibuk sekali. Kenapa sekarang mereka bisa lama sekali menungguku?" gumamnya gemas sekaligus cemas.

Dengan langkah ragu, Karina masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam begitu hening, hanya terdengar detak jam dinding dan gesekan kertas. Di ruang keluarga yang luas, ia melihat pemandangan yang kontras.

Di sisi kiri, Jenderal Agus Subiyanto, sang Panglima TNI, duduk tegak dengan kacamata bertengger di hidungnya, sangat serius membaca tumpukan laporan militer di atas meja jati. Di sisi kanan, ibunya cucu dari sang pahlawan revolusi—juga tak kalah sibuk dengan berkas-berkas organisasi Persatuan Istri Prajurit.

"Mamah... Papah... Ayin pulang," ucap Karina dengan suara yang diusahakan tetap ceria, meskipun jantungnya berdegup kencang.

Nama panggilan "Ayin" hanya digunakan di dalam tembok rumah ini.

Kedua sosok berwibawa itu mendongak serentak. Sang ibu langsung berdiri dengan senyum hangat yang menenangkan.

"Ayin! Sayang, kamu sudah sampai?" sang ibu menghampiri dan memeluk Karina erat. "Gimana kabarmu, Nak? Perjalanan lancar? Kamu sudah makan?"

"Mamah... Ayin kangen banget," Karina membalas pelukan itu, menenggelamkan wajahnya di bahu ibunya, mencari perlindungan.

"Ehem!" sebuah suara berat dan berwibawa memecah suasana haru itu. Sang Jenderal meletakkan laporannya dan menatap tajam ke arah putri semata wayangnya.

Karina segera melepaskan pelukan ibunya dan menghampiri ayahnya. Dengan gaya manjanya yang tersisa, ia memeluk leher sang ayah dari belakang. "Eh, tenang... Papah nggak Ayin lupain kok. Ayin juga kangen banget sama Papah yang paling ganteng seseragam TNI ini," rayunya.

Sang Jenderal mencoba mempertahankan wajah datarnya, namun sudut bibirnya sedikit terangkat. "Duduk, Karin. Kita perlu bicara serius."

Suasana seketika berubah kaku. Udara di ruangan itu seolah mendingin. Karina duduk di sofa tunggal, berhadapan langsung dengan ayahnya, sementara ibunya duduk di samping sang Jenderal, memegang tangan suaminya seolah mencoba menjadi penengah.

"Jelaskan pada Papah. Apa yang sebenarnya terjadi di Korea?" tanya sang Jenderal, nadanya rendah namun menuntut kejujuran mutlak.

Karina menarik napas dalam. "Ayin nggak melakukan itu, Pah. Semua tuduhan bullying itu bohong. Ayin nggak pernah kasar sama staf. Kalau Ayin terlihat dingin di depan kamera, itu permintaan agensi. Mereka bilang image Ayin harus 'Chic' dan 'Ice Queen'. Ayin cuma mengikuti kontrak."

Ia mulai bercerita dengan menggebu-gebu, matanya berkaca-kaca. "Ayin yang justru sering didiskriminasi karena Ayin orang asing. Tapi Ayin diam saja karena Ayin nggak mau mempermalukan nama Papah. Ayin nggak tahu kenapa tiba-tiba ada staf yang menyebarkan foto-foto editan itu."

Sang Jenderal terdiam sejenak, matanya menatap tajam ke arah televisi yang sedang mati, seolah sedang menyusun strategi perang.

"Papah tahu. Intelijen kita sudah menyelidiki. Ini bukan sekadar masalah agensi musikmu. Ini ulah lawan politik Papah yang ingin menjatuhkan kredibilitas keluarga kita menjelang pemilu."

Karina tertegun. "Jadi... karena politik, karier Ayin harus tamat?"

"Dunia ini kejam, Ayin. Terutama bagi kita yang membawa nama besar," sahut sang ibu dengan lembut.

"Lalu sekarang gimana? Ayin nggak bisa balik ke sana. Kontrak Ayin diputus sepihak," ujar Karina pasrah.

Sang Jenderal menegakkan punggungnya, sorot matanya kini berubah menjadi sangat formal, seolah sedang memberikan perintah operasi militer. "Kamu adalah putri seorang prajurit. Darah pahlawan mengalir di tubuhmu. Jika satu medan tempur tertutup, kamu harus pindah ke medan tempur yang lain."

Karina mengerutkan kening, perasaannya mulai tidak enak. "Maksud Papah?"

"Nama baik keluarga harus dipulihkan. Posisi kita harus diperkuat agar musuh-musuh itu tidak berani menyentuhmu lagi," ucap sang Jenderal dingin. "Oleh karena itu, Papah sudah memutuskan. Papah akan mengatur pernikahanmu."

DEG.

Karina merasa seolah jantungnya berhenti berdetak. Ia ternganga, menatap ayahnya tak percaya. "Pernikahan? Pah, Ayin baru saja pulang karena skandal, dan sekarang mau dinikahkan? Ayin baru dua puluh lima tahun!"

"Ini bukan sekadar pernikahan biasa, sayang," tambah ibunya dengan nada persuasif. "Ini adalah penggabungan dua kekuatan besar untuk mengamankan stabilitas. Kamu akan dijodohkan dengan putra dari keluarga yang sudah lama bekerja sama dengan keluarga kita."

"Siapa?" suara Karina bergetar. "Siapa korbannya—maksudku, siapa calonnya?"

Sang Jenderal meminum tehnya perlahan, menciptakan ketegangan yang menyiksa bagi Karina. Setelah meletakkan cangkir, ia menjawab pendek namun padat.

"Darma Mangkuluhur Hutomo. Putra dari Tommy Soeharto. Cucu dari Presiden Soeharto. Pewaris utama klan Cendana."

Karina hampir terjatuh dari sofanya. "Pewaris Cendana? Papah menjodohkan aku dengan keluarga paling berpengaruh di negeri ini? Dia itu... dia itu pebisnis dingin yang sering masuk majalah Forbes, kan? Yang wajahnya nggak pernah senyum itu?"

"Dia laki-laki yang tepat untuk melindungimu dan mengangkat kembali martabatmu," tegas ayahnya. "Besok malam kita akan mengadakan makan malam resmi di kediaman mereka. Siapkan dirimu. Jangan memalukan korps."

Karina menyandarkan punggungnya dengan lemas. Dari panggung musik Seoul yang gemerlap, ia kini terlempar ke panggung politik Indonesia yang jauh lebih berbahaya.

"Ayin... benar-benar tamat," bisiknya dramatis sambil menutup wajah dengan kedua tangannya, sementara ibunya hanya bisa mengusap bahunya dengan senyum penuh arti.

****

Bersambung

1
Tika maya Sari
min tolong update yg banyak 🤣🤣
Heresnanaa_: huhuhu, stay tune ya kak🙏😍
total 1 replies
Tika maya Sari
lanjut dong kak
Heresnanaa_: stay tune ya ka🙏😍
total 1 replies
Tika maya Sari
up lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!