NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.

Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.

Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.

Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Usman masih ingat jelas. Hari itu Amira menangis karena pitanya hanyut ke sungai kecil dekat rumah Ustad Hasyim. Lalu ia yang turun mengambilnya. Dan gadis kecil itu langsung tersenyum lagi seolah dunia kembali baik-baik saja.

Usman mengembuskan napas pelan. Dulu semuanya terasa sederhana. Sangat sederhana. Sampai akhirnya perasaan itu tumbuh tanpa ia sadari. Bahkan ketika berangkat ke Madinah pun, Usman masih memikirkan gadis itu, lalu ketika ia bisa berhaji pertama kalinya, yang menjadi doa utama Usman adalah dipertemukan dengan Amira, agar gadis itu menjadi jodohnya.

Dan semua hadiah itu sekarang kembali padanya. Tidak pernah benar-benar diterima.

Tatapan Usman perlahan kosong. Mungkin sejak awal ia memang terlambat menyadari perasaannya sendiri. Atau mungkin Allah memang belum menakdirkan mereka bersama saat itu.

Ketukan pelan di pintu tiba-tiba membuyarkan lamunannya. “Mas?”

Suara itu. Alya.

Usman menoleh pelan. Namun tentu saja itu hanya ingatan. Bayangan masa lalu yang tiba-tiba muncul begitu jelas di kepalanya.

Dulu, malam ketika Alya menyerahkan kotak ini, istrinya berdiri lama di depan pintu sambil menatapnya hati-hati. “Aku boleh tanya sesuatu?”

Usman yang sedang membuka isi kotak waktu itu hanya mengangguk kecil.

Lalu Alya bertanya pelan, “Mas Usman… suka sama Ais, ya?”

Sunyi panjang memenuhi kamar mereka malam itu. Dan Usman tidak bisa menjawab. Karena diamnya sudah menjadi jawaban paling jujur.

Alya tersenyum kecil waktu itu. Senyum yang tampak sedih. “Tapi dia sudah menjadi istri orang.”

Usman masih ingat bagaimana dadanya terasa sesak mendengar kalimat itu diucapkan langsung.

Lalu Alya duduk pelan di sampingnya. “Kalau begitu…” suaranya lembut sekali, “ikhlaskan.”

Usman menutup matanya sekarang. Dulu ia benar-benar mencoba mengikhlaskan. Mencoba menjadi suami yang baik untuk Alya. Dan ia memang menyayangi perempuan itu. Sangat menyayanginya. Hanya saja ada bagian kecil dalam hatinya yang tidak pernah benar-benar selesai tentang Amira.

Sampai akhirnya Allah mempertemukan mereka kembali dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan. Sebagai ibu susu anaknya. Sebagai perempuan yang kini tidur beberapa kamar dari dirinya. Dan yang paling membuat hatinya kacau Amira datang dalam keadaan terluka.

Usman menatap lagi surat kecil tulisan tangan Amira yang terselip di dasar kotak. Lalu perlahan ia menggenggamnya erat.

“Ais…” Suara lelaki itu nyaris seperti bisikan.

Namun kali ini tidak ada lagi gadis kecil yang akan berlari menghampirinya sambil tertawa.

Usman tersenyum kecil sendiri di tengah lamunannya. Matanya masih tertuju pada pita biru kecil di tangannya. Dan tanpa sadar, ingatan lain kembali muncul.

Tentang Aisyah Amira kecil yang tidak pernah bisa diam. Selalu berlari ke sana kemari di rumah Ustad Hasyim. Kadang membawa buku iqra terbalik. Kadang sibuk bertanya macam-macam sampai santri-santri senior menyerah meladeninya. Dan paling sering mengikuti Usman ke mana pun ia pergi.

Kalau Usman duduk membaca kitab, Amira ikut duduk di dekatnya. Kalau Usman ke dapur mengambil minum, gadis kecil itu juga ikut. Bahkan pernah suatu hari Usman kesal karena Amira terus mengganggunya menghafal. “Ais…”

Waktu itu Usman menutup kitabnya sambil menatap gadis kecil di depannya yang sedang memainkan tasbih miliknya.

Amira mendongak polos. “Hm?”

Usman menggeleng kecil sambil menahan senyum. “Kapan kamu kalem, Ais?”

Amira malah tertawa kecil waktu itu. “Aku enggak sakit kok.”

Usman sampai terkekeh pelan karena gadis kecil itu mengira calm adalah nama penyakit. “Bukan itu maksudnya.”

“Terus apa?”

“Kamu enggak capek aktif terus? Lari ke sana kemari. Nggak bisa diam."

Dan jawaban Amira waktu itu masih diingat jelas olehnya sampai sekarang. “Kalau diam nanti ngantuk. Aku nggak bisa diam. Memangnya aku mengganggu Mas Us?"

Usman menunduk sambil tersenyum tipis mengingat semuanya. Ia menggeleng demi melihat senyum Amira kecil kembali terkembang.

Dulu rumah Ustad Hasyim selalu ramai kalau Amira ada. Seolah gadis kecil itu membawa hidup ke mana pun ia pergi. Berbeda sekali dengan Amira sekarang. Perempuan itu menjadi jauh lebih tenang. Terlalu tenang malah. Tatapannya sekarang sering kosong. Senyumnya tipis dan dipaksakan. Dan entah kenapa perubahan itu membuat hati Usman terasa nyeri. Karena ia tahu tidak ada perempuan yang berubah setenang itu tanpa pernah dihancurkan oleh kehidupan.

***

Pagi itu suasana ndalem masih tenang ketika Tiur datang ke kamar Amira dengan wajah ragu-ragu. “Mbak…”

Amira yang sedang melipat pakaian Habibi menoleh pelan.

“Ada tamu.”

Amira mengernyit. “Tamu?”

Tiur tampak serba salah. Ia sungkan mengungkapkan karena sedikit banyak sudah tahu masalah yang baru menimpa Amira yang sudah dianggapnya sebagai teman. “Nurul.”

Tangan Amira langsung berhenti bergerak. Dadanya mendadak terasa sesak lagi. Beberapa detik ia hanya diam mematung. Ia benar-benar tidak menyangka perempuan itu akan datang ke pondok. Apalagi setelah semua yang terjadi.

“Mbak… mau ditemui? Atau saya usir saja?” tanya Tiur hati-hati.

Amira memejamkan mata sebentar. Lalu mengangguk pelan. “Temui di luar saja.”

Tiur segera mengerti.

Tak lama kemudian, Amira berjalan menuju ruang tamu kecil ndalem dengan langkah tenang meski jantungnya berdegup keras. Dan di sana Nurul sudah duduk menunggu. Perempuan itu tampak lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu. Matanya sembab. Namun tetap saja, melihat wajahnya membuat luka di dada Amira kembali terbuka.

Suasana langsung canggung. Beberapa detik tidak ada yang bicara. Sampai akhirnya Nurul berdiri perlahan.

“Kamu menggugat Mas Mirza, ya?” Suara itu terdengar pelan.

Amira tidak menjawab. Tatapannya dingin.

Nurul menggigit bibirnya sendiri sebelum melanjutkan, “Jadi segini saja persahabatan kita, Mir?”

Kalimat itu justru membuat Amira ingin tertawa pahit. Persahabatan? Masihkah Nurul berani menyebut kata itu?

“Aku tahu…” Nurul mulai berkaca-kaca, “aku salah.” Air matanya jatuh perlahan. “Tapi kamu tahu sendiri betapa sulitnya aku mengikhlaskan Mas Mirza.”

Amira masih diam.

Sementara Nurul terus bicara dengan suara bergetar. “Aku belajar merelakan dia menikah sama kamu.” Tangannya mengepal kecil. “Aku mencoba mundur…” Tatapannya kini penuh memohon. “Kenapa sekarang kamu enggak bisa menerima takdir kalau Mas Mirza punya istri dua?”

Kalimat itu menggantung lama di udara. Dan perlahan Amira mengangkat wajahnya. Tatapannya langsung menatap Nurul lurus. Tidak marah. Justru terlalu tenang. Sampai membuat Nurul mulai tidak nyaman sendiri. “Kamu bilang takdir?” Suara Amira pelan sekali.

Nurul langsung mengangguk cepat. “Iya, Mir…”

Amira tersenyum kecil. Namun senyum itu pahit. “Takdir yang mana?”

Nurul terdiam.

“Takdir saat kalian tidur bersama waktu aku hamil?” suara Amira mulai bergetar. “Atau takdir saat kalian berzina waktu anakku sedang berjuang hidup dalam kandungan?”

Wajah Nurul langsung pucat. “Mir, aku,”

“Jangan bawa nama takdir untuk membenarkan dosa kalian.” Suara Amira tidak keras. Tetapi justru itu yang membuatnya terasa menusuk. “Aku bisa menerima poligami kalau dilakukan dengan benar.” Air matanya mulai jatuh. “Tapi yang kalian lakukan itu pengkhianatan. Tidak ada dalam syariat memulai poligami dengan zina dahulu!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!