NovelToon NovelToon
Cegilnya Mas Ajudan

Cegilnya Mas Ajudan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikahi tentara / Duniahiburan
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Sore itu, Jakarta sedang tidak bersahabat. Langit abu-abu menggantung rendah, menebarkan hawa gerah yang membuat siapa pun ingin segera menenggelamkan diri dalam bak mandi berisi es. Namun, di dalam mobil van mewah yang melaju membelah kemacetan, suasana justru terasa kontras.

Aurora Widjaja duduk bersandar dengan kaki jenjang yang terlipat anggun. Wajahnya masih dipoles riasan bold sisa pemotretan majalah fashion ternama sejam yang lalu. Di sampingnya, Mayang—sang asisten yang sudah tampak layu seperti sayur kemarin sore—sibuk memeriksa jadwal di tablet.

"Capek banget ya, Kak? Mukanya kok ditekuk gitu?" Aurora bertanya sambil menyunggingkan senyum lebarnya. Ia justru tampak segar, seolah sesi foto sepuluh jam tadi hanyalah pemanasan.

"Ya menurut lo, Ra? Kita pindah tiga lokasi, ganti baju dua belas kali, dan lo masih nanya kenapa muka gue ditekuk?" Mayang mendesah, namun matanya tetap tertuju pada layar. "Besok pagi ada fitting jam sembilan. Jangan telat bangun. Gue nggak mau didepak dari agensi gara-gara lo susah dibangunin."

Aurora tertawa renyah, suara tawanya memenuhi kabin mobil. "Tenang aja, Kak Mayang sayang. Besok aku bakal bangun pagi dengan semangat membara. Soalnya, ada misi rahasia."

Mayang melirik curiga. "Misi apa lagi? Jangan aneh-aneh, Ra. Inget, papa lo itu anggota DPR. Satu gerakan salah dari lo, nama keluarga Widjaja langsung jadi santapan empuk di Twitter."

"Aman!" Aurora membentuk simbol 'OK' dengan jarinya. "Ini misi hati, bukan misi politik."

Begitu van berhenti di depan gerbang megah kediaman Widjaja, Aurora langsung melompat turun. Ia bahkan tidak menunggu Mayang membukakan pintu. Dengan langkah ringan bak model di atas runway, ia masuk ke area halaman luas yang dijaga ketat.

Di dekat pos penjagaan, ia melihat sosok familiar. Pak Bambang, salah satu pengawal senior ayahnya, sedang berdiri tegap memantau situasi.

Aurora sengaja memutar arah. Bukannya langsung masuk lewat pintu utama, ia malah menghampiri pria paruh baya itu. Puk! Ia menepuk bahu Pak Bambang dengan cukup keras hingga pria itu sedikit terlonjak.

"Pak Bambang! Calon suami aku mana?" tanya Aurora tanpa basa-basi, lengkap dengan senyum manis yang bisa membuat orang awam luluh, tapi membuat Pak Bambang berkeringat dingin.

Pak Bambang mengerjap, butuh beberapa detik untuk memproses pertanyaan "ajaib" sang putri majikan. "Eh, Non Aurora... Baru pulang pemotretan?"

"Baru banget, Pak. Jadi, di mana dia? Mas ganteng pujaan hatiku?"

"Eh... Maksud Non, Langit?" Pak Bambang memastikan, meski ia sudah tahu jawabannya. Di rumah ini, hanya satu orang yang dipanggil "calon suami" oleh Aurora secara sepihak.

"Iya, Mas Langit! Siapa lagi? Masa Pak Bambang? Kan Pak Bambang udah punya istri," canda Aurora sambil mengedipkan sebelah mata.

Pak Bambang terkekeh canggung. "Langit lagi di dalam, Non. Sepertinya sedang koordinasi jadwal Bapak untuk kunjungan daerah besok."

Mata Aurora berbinar. "Oh, oke! Makasih ya, Pak. Semoga Bapak panjang umur, sehat selalu, dan rezekinya lancar biar bisa naik haji sekeluarga. Bye, Pak!"

Aurora melesat pergi sebelum Pak Bambang sempat membalas doa-doanya yang panjang itu. Pak Bambang hanya bisa menggelengkan kepala. Ia tahu benar, Langit Ardiansyah adalah pria yang kaku seperti beton gedung DPR, sedangkan Aurora adalah badai tropis yang ceria. Entah apa jadinya kalau keduanya benar-benar bersatu.

Aurora masuk ke dalam rumah. Langkahnya mendadak melambat saat melewati ruang tamu luas yang didominasi marmer dan furnitur kayu jati mahal. Ia mendengar suara-suara berat dari arah ruang kerja ayahnya.

Ia mengintip dari balik pilar. Di sana, ayahnya—Anggara Widjaja—sedang duduk di balik meja besar. Di depannya berdiri seorang pria dengan postur tubuh yang sangat tegap. Kemeja safari hitam yang dikenakan pria itu tampak melekat sempurna di bahunya yang lebar.

Langit Ardiansyah.

Aurora menggigit bibir bawahnya, menahan pekikan gemas. Dari samping, rahang Langit terlihat tegas, tatapannya lurus ke depan, sangat disiplin dan sangat... dingin.

"Pastikan semua pengamanan di titik kedua sudah clear sebelum saya sampai, Langit," suara berat Anggara terdengar.

"Siap, Pak. Semua sudah dikoordinasikan dengan tim lapangan," jawab Langit singkat, padat, dan tanpa ekspresi.

Aurora menunggu. Ia tahu sebentar lagi ayahnya akan pergi untuk agenda malam hari. Benar saja, tak lama kemudian Anggara berdiri, diikuti oleh Langit. Mereka berjalan menuju pintu keluar.

"Papa!" Aurora tiba-tiba muncul dari balik pilar, pura-pura baru saja lewat.

Anggara berhenti, wajahnya yang semula tegang sedikit melunak melihat putri tengahnya. "Baru pulang, Ra? Gimana kerjanya?"

"Lancar dong, Pa. Capek sih, tapi demi karier," Aurora memeluk lengan ayahnya manja, tapi matanya melirik nakal ke arah Langit yang berdiri satu langkah di belakang ayahnya.

Langit hanya menunduk sedikit, memberikan hormat formal kepada Aurora. "Selamat sore, Non Aurora."

"Sore, Mas Langit. Duh, Mas, kok makin hari makin ganteng sih? Pake pengawet ya?" celetuk Aurora terang-terangan.

Wajah Langit tetap datar. "Terima kasih, Non."

Anggara berdehem keras, memberikan kode keras pada putrinya. "Aurora, jangan mulai lagi. Langit ini sedang kerja. Dan kamu, jangan panggil dia dengan sebutan aneh-aneh."

"Lho, kan emang beneran ganteng, Pa. Masa Aurora bohong? Bohong kan dosa," Aurora membela diri dengan wajah polos yang dibuat-buat.

"Ingat pesan Papa, Elang, dan Mama. Jangan dekat-dekat dengan staf Papa kalau tidak perlu. Itu bisa jadi bahan omongan orang luar. Spekulasi itu berbahaya bagi posisi Papa," ujar Anggara dengan nada memperingati.

Aurora hanya memutar bola matanya malas. "Iya, iya. Papa tenang aja. Aku cuma mau menyapa 'calon imam' kok."

"Aurora!"

"Hehe, bercanda, Pa! Udah sana berangkat, nanti telat lho urusan negaranya," Aurora mendorong pelan punggung ayahnya menuju pintu depan.

Setelah Anggara masuk ke dalam mobil dinasnya, Langit hendak menyusul masuk ke mobil pengawal di belakangnya. Namun, Aurora dengan cepat menahan pintu mobil Langit.

"Mas Langit, nanti pulangnya jangan malem-malem ya," bisik Aurora dengan nada yang sengaja dibuat manis.

Langit menatap Aurora datar. "Saya mengikuti jadwal Bapak, Non."

"Ya kalau udah selesai langsung pulang. Jangan mampir-mampir ke rumah cewek lain. Awas ya kalau aku tahu," Aurora mengancam sambil menunjuk hidung Langit.

Langit tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sopan, menutup pintu mobil, dan berlalu pergi seiring iring-iringan kendaraan itu meninggalkan gerbang rumah.

Aurora berdiri di teras, melambaikan tangan dengan semangat sampai mobil itu hilang dari pandangan.

"Masih belum menyerah?"

Suara berat dan sinis itu membuat Aurora menoleh. Di sana berdiri Elang Widjaja, kakak tertuanya, yang sedang melipat tangan di dada dengan tatapan menghakimi.

"Apa sih, Kak Elang? Ganggu pemandangan aja," ketus Aurora.

"Lo itu beneran gila atau emang sengaja mau cari masalah? Papa udah bilang jangan deketin Langit. Dia itu cuma ajudan, Ra. Bukan level lo, dan bukan orang yang bisa lo jadiin mainan," Elang berjalan mendekat, suaranya merendah tapi penuh penekanan.

Aurora tersenyum menantang. "Siapa yang bilang dia mainan? Aku serius tahu. Aku mau dia jadi suamiku."

"Sinting," Elang mendengus. "Langit itu orangnya lurus. Dia nggak bakal tertarik sama cewek petakilan kayak lo. Lagian, Haura aja lebih kalem dari lo."

"Haura mah anak kecil, Kak. Mas Langit sukanya yang dewasa dan ceria kayak aku," Aurora menepuk-nepuk bahu kakaknya. "Udah ah, aku mau mandi. Mau dandan cantik buat nunggu Mas Langit pulang nanti malem."

Aurora melenggang masuk ke dalam rumah, meninggalkan Elang yang hanya bisa mengurut pelipisnya. Di keluarga ini, Aurora memang yang paling sulit diatur. Jika Elang adalah si kaku yang patuh dan Haura adalah si bungsu yang penurut, maka Aurora adalah elemen liar yang tidak bisa diprediksi.

Malam harinya, rumah terasa sunyi. Mama, Melati Widjaja, sedang menghadiri acara amal. Haura mungkin sudah sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Aurora duduk di balkon kamarnya yang menghadap langsung ke arah gerbang depan.

Ia memegang segelas jus jeruk, matanya tidak lepas dari jalanan. Tak lama, sorot lampu mobil terlihat. Iring-iringan Papa sudah kembali.

Aurora langsung bangkit, berlari menuruni tangga tanpa memedulikan penampilannya yang hanya mengenakan piyama sutra tipis namun tetap modis.

Di bawah, Papa terlihat langsung masuk menuju ruang kerjanya, tampaknya masih ada urusan yang belum selesai. Sementara itu, di area parkir, Langit sedang menginstruksikan sesuatu kepada pengawal lain sebelum ia sendiri bersiap untuk istirahat di paviliun khusus staf.

"Mas Langit!"

Langkah Langit terhenti. Ia berbalik dan menemukan Aurora berlari kecil ke arahnya di tengah temaram lampu taman.

"Belum tidur, Non?" tanya Langit. Suaranya terdengar sedikit lebih letih dari sore tadi.

"Nungguin Mas lah. Masa aku tidur sebelum liat Mas pulang selamat?" Aurora berdiri tepat di depan Langit, sangat dekat hingga ia bisa mencium aroma parfum Langit—campuran antara kayu cendana dan sedikit aroma tembakau yang maskulin.

Langit mundur satu langkah untuk menjaga jarak. "Saya sudah kembali. Non sebaiknya segera istirahat. Udara malam tidak baik untuk kesehatan."

"Cieee, perhatian ya? Bilang aja kalau Mas khawatir aku masuk angin," goda Aurora, wajahnya berseri-seri.

Langit terdiam sejenak, wajahnya tetap seperti patung. "Itu tugas saya untuk memastikan keamanan dan kenyamanan penghuni rumah ini, termasuk Non Aurora."

"Ah, bosen! Tugas mulu yang dibahas," Aurora mengerucutkan bibirnya. "Sesekali bahas aku kek. Kayak... 'Aurora, kamu cantik banget malam ini' atau 'Aurora, makasih ya udah nungguin aku'. Gitu kek."

"Tugas saya bukan untuk memuji, Non."

Aurora tertawa, tidak merasa sakit hati sedikit pun. Baginya, kekakuan Langit adalah tantangan paling menarik dalam hidupnya yang selama ini terasa terlalu mudah.

"Oke, kalau sekarang nggak mau muji, nggak papa. Tapi besok, aku ada pemotretan lagi jam sembilan pagi. Mas yang anter ya?"

Langit mengernyitkan dahi. "Non Aurora punya sopir sendiri. Dan Pak Bambang biasanya yang mengawal jika memang diperlukan."

"Aku udah bilang sama Papa kalau sopirku lagi izin mudik—padahal bohong sih, aku suruh dia libur aja. Terus aku bilang ke Papa kalau aku pengen Mas Langit yang jaga aku besok. Papa tadi bilang 'terserah asal jangan berisik', jadi ya... itu artinya boleh!" Aurora berbohong dengan sangat lancar demi mendapatkan waktu berdua.

Langit menatap Aurora dengan tatapan menyelidik. Ia tahu gadis di depannya ini penuh tipu muslihat, namun ia juga tahu tidak ada gunanya berdebat dengan seorang Aurora Widjaja di tengah malam begini.

"Jika Bapak memang sudah memberi izin, saya akan siap di depan pukul sembilan kurang lima menit," ucap Langit akhirnya.

Aurora bersorak dalam hati. "Sip! Jangan telat ya, Mas Calon Suami. Kalau telat, dendanya satu ciuman!"

Tanpa menunggu balasan dari Langit yang mungkin akan menceramahinya tentang kesopanan, Aurora segera berbalik dan berlari masuk ke rumah sambil tertawa puas.

Langit berdiri mematung di tengah kegelapan taman. Ia menghela napas panjang, sebuah ekspresi yang tidak pernah ia tunjukkan di depan siapa pun. Ia menatap pintu rumah yang baru saja tertutup. Aurora Widjaja benar-benar ujian terberat bagi profesionalismenya.

"Cegil," gumam Langit sangat pelan, hampir tak terdengar, sebelum akhirnya ia berbalik menuju paviliunnya.

1
apiii
kapan jinaknya ini bapak"🤣
Rita Rita
🤭🤣🤣 Aurora bikin mas ajudan hidup terasa mati tapi mati paling nikmat, AQ aja berasa Jak jek Jak jantung baca aksi nekad Aurora 🤣😍😍
Istrinya _byeonwooseok💃: tungguin gebrakan Aurora selanjutnya ya kak🤣🙏
total 1 replies
Yosi Indah
alur dan penulisannya bagus, lanjut kak 😍
Istrinya _byeonwooseok💃: hehe maaciw😍
total 1 replies
apiii
si cegil makin cegil🤣
Fitri Yama
Mereka ngapain Thor??main kuda2 an kah???
Istrinya _byeonwooseok💃: belom sampe itu padahal 🤣
total 1 replies
Rita Rita
kasihan dengan dua anak manusia yg sama Dimata tuhan tapi sangat berbeda Dimata manusia yg punya pangkat dan jabatan. cinta terhalang kasta dan restu,,
apiii
lebih ganas ternyata dari singa nasution🥲
Istrinya _byeonwooseok💃: no no jangan disamain ya. yang ini diam-diam menghanyutkan 🤭🙏
total 1 replies
apiii
semangat ya cegil dan mas langit💪
apiii
demi apapun kagetttt🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: jangan kaget ya sama cegil🤭
total 1 replies
apiii
akhirnya ya
apiii
semangat cegilll🤣
apiii
berhasil gasihh si cegil ini🤣
SuryaDharma S
bagus sich ceritanya...
apiii
kerja bagus kejar terus cegill
English Lesson
😍
English Lesson
bagus👍🏻
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bapaknya jahat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!