Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Pagi di Akademi Starfell dimulai dengan tragedi.
Dan tragedi itu bernama… kurang tidur.
Freya Valencia Vane berjalan di koridor asrama dengan langkah gontai sambil membawa wajah orang yang sudah menyerah pada kehidupan.
Rambut emasnya masih sedikit berantakan. Matanya setengah tertutup. Dan yang paling menyedihkan… dia bahkan belum sempat minum teh pagi.
'...Aku ingin reinkarnasi lagi.'
"Itu bukan solusi."
Freya langsung melirik tajam ke arah Crimson Valkyrie yang tergantung di pinggangnya.
'Kamu tuh selalu menghancurkan harapanku.'
"Aku menjaga kewarasanmu."
'Itu fitnah.'
Koridor akademi pagi itu jauh lebih ramai dibanding biasanya. Namun anehnya, saat Freya lewat, banyak murid langsung menyingkir pelan.
Beberapa bahkan berbisik sambil melirik takut.
"Dia yang diserang monster itu..."
"Aku dengar corruption mencarinya."
"Katanya apinya terkutuk..."
Freya langsung memegangi dadanya dramatis.
'...Aku baru bangun tidur dan reputasiku sudah jadi urban legend.'
"Setidaknya mereka tidak melemparimu dengan batu."
'...KENAPA STANDARMU RENDAH BANGET SIH?'
Namun sebelum Freya sempat lanjut mengeluh...
"Kau terlambat."
Freya langsung membeku.
Zevian Aldric Arkwright berdiri di ujung koridor sambil bersandar tenang di dekat jendela besar.
Seragam hitam akademinya rapi sempurna seperti biasa. Rambut gelapnya sedikit tertiup angin pagi. Dan entah kenapa… pria itu terlihat terlalu tampan untuk seseorang yang hobi membuat Freya stres.
Freya refleks mundur setengah langkah. "YA TUHAN."
Zevian mengernyit sedikit. "...Kenapa kaget?"
"Kamu muncul tiba-tiba terus."
"Aku berdiri di sini sejak tadi."
"Itu lebih menyeramkan."
Crimson Valkyrie langsung berkomentar datar. "Insting pemburumu bagus."
'DIAM.'
Zevian berjalan mendekat perlahan. Tatapan biru gelapnya langsung memperhatikan wajah Freya beberapa detik.
"...Kau tidak tidur?"
Freya langsung defensif. "Aku tidur."
"Kau punya lingkar hitam."
"Itu fashion."
"..."
Untuk sepersekian detik, Zevian terlihat seperti menahan sesuatu. Lalu, sudut bibirnya bergerak tipis. Kecil sekali. Namun cukup membuat jantung Freya langsung jungkir balik.
DEG.
Freya langsung panik dalam hati. 'YA TUHAN DIA SENYUM LAGI.'
Crimson Valkyrie: "Memalukan."
'AKU GAK MINTA JANTUNGKU BEGINI.'
Namun sebelum suasana makin aneh...
BRAK.
Seseorang tiba-tiba muncul dari tikungan koridor sambil membawa dua kantong makanan besar.
"Ah, kalian benar di sini."
Freya langsung memegangi dahinya.
"Ares."
Ares Caelum Blackwood berjalan santai mendekat sambil menggigit roti cokelat.
Tatapan emasnya langsung berpindah antara Freya dan Zevian.
Lalu perlahan… senyum jahil muncul di wajahnya.
"Wah."
Freya langsung refleks menunjuknya. "JANGAN MULAI."
"Aku belum bilang apa-apa."
"WAJAHMU UDAH NGOMONG."
Ares tertawa kecil. Namun beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah sedikit lebih serius.
"Ada tamu."
Freya mengangkat alis. "Tamu?"
Ares mengangguk santai. "Dan seluruh akademi lagi panik sekarang."
"...Kenapa kedengarannya buruk?"
"Karena yang datang langsung pasukan keluarga Vane."
Hening.
Freya langsung membeku. "...Hah?"
Dan tepat saat itu...
TOK.
TOK.
TOK.
Suara langkah sepatu besi terdengar dari ujung koridor. Semua murid langsung menyingkir cepat.
Beberapa ksatria kerajaan berjalan memasuki area asrama dengan ekspresi serius. Jubah hitam-merah berlambang keluarga Vane berkibar pelan di belakang mereka.
Dan di tengah para ksatria itu, seorang pria tinggi berjalan perlahan.
Atmosfer koridor langsung berubah. Dingin. Berat. Menyesakkan. Freya langsung menegang tanpa sadar. Karena bahkan sebelum wajah pria itu terlihat jelas, tubuhnya sudah mengenali sosok itu lebih dulu.
Duke Cassius Vane.
Ayah Freya.
Rambut hitam pria itu tersisir rapi ke belakang. Tatapan merah gelapnya tajam dan dingin seperti biasa. Mantel bangsawan hitam panjangnya bergerak pelan setiap kali ia melangkah.
Dan saat matanya jatuh pada Freya…
Seluruh koridor terasa sunyi.
Freya langsung refleks berdiri tegak. "...Ayah."
Tidak ada jawaban beberapa detik.
Duke Vane memperhatikan Freya dari ujung kepala sampai kaki. Tatapannya berhenti di tangan Freya.
Tepat pada bekas luka bakar kecil akibat latihan mana tadi pagi.
Dan untuk sepersekian detik, ekspresinya retak. "...Api itu sudah bangkit."
Suasana langsung membeku. Bulu kuduk Freya berdiri. Karena nada suara itu bukan marah. Bukan dingin. Melainkan… takut.
Namun ekspresi itu menghilang begitu cepat sampai Freya hampir mengira dirinya salah lihat.
Duke Vane kembali tenang. "Kita bicara di aula utama."
Tidak ada pilihan dalam nada suaranya. Dan entah kenapa… Freya tiba-tiba merasa seperti anak kecil lagi.
Aula utama Starfell pagi itu dipenuhi ketegangan.
Profesor Rowan sudah menunggu di dalam bersama beberapa profesor lain.
Bahkan beberapa ksatria kerajaan berjaga di luar pintu.
Freya duduk diam di salah satu kursi sambil merasa hidupnya semakin menyerupai sidang kriminal.
Di sampingnya, Zevian berdiri tenang seperti bayangan diam.
Sedangkan Ares bersandar santai di dekat jendela sambil ngemil entah dapat dari mana.
Freya mulai curiga pria itu punya ruang dimensi penyimpanan khusus makanan.
Duke Vane berdiri di depan meja besar aula. Tatapan merah gelapnya langsung tertuju pada Profesor Rowan.
"Jelaskan."
Profesor Rowan menghela napas pelan. Lalu seluruh kejadian bawah tanah mulai dijelaskan, mulai dari munculnya corruption, segel rusak, monster yang memburu Freya, kebangkitan Crimson Flame. Dan semakin lama penjelasan berlangsung… Ekspresi Duke Vane semakin dingin.
Freya diam memperhatikan ayahnya. Aneh. Freya asli selalu takut pada pria ini. Dan sekarang setelah melihatnya langsung… Freya mulai mengerti kenapa.
Aura Duke Vane terlalu besar. Terlalu menekan. Seperti seseorang yang terbiasa memikul sesuatu yang berat sendirian selama bertahun-tahun.
"...Cukup."
Suara Duke Vane memotong ruangan.
Hening langsung turun.
Tatapannya jatuh pada Freya. "Kau akan kembali ke mansion."
Freya langsung mengangkat kepala cepat. "...Hah?"
"Mulai hari ini."
Freya membeku beberapa detik sebelum langsung protes. "TUNGGU DULU."
"Kau menjadi target corruption."
"AKU TAHU."
"Dan Crimson Flame mulai bangkit."
"Itu juga aku sadar."
"Jadi pembicaraan ini selesai."
Freya langsung kesal. "Kenapa semua orang terus memutuskan hidupku sepihak sih?"
Untuk pertama kalinya nada suara Freya benar-benar terdengar marah.
Seluruh aula langsung diam. Bahkan Profesor Rowan terlihat terkejut.
Duke Vane menyipitkan mata sedikit.
Freya berdiri sekarang. "Aku bukan barang yang bisa dipindah-pindah seenaknya."
"..."
"Aku juga takut, oke? Tapi terus mengurungku di mansion gak bakal menyelesaikan apa-apa."
Duke Vane menatapnya tanpa ekspresi. Dan justru itu membuat Freya makin frustrasi.
"Setidaknya bilang dulu apakah aku baik-baik saja kek. Dari tadi yang dibahas cuma Crimson Flame, corruption, bahaya..."
Kalimat Freya terputus sendiri. Karena untuk sepersekian detik… Tatapan ayahnya berubah. Retak lagi. Dan kali ini Freya yakin dirinya tidak salah lihat.
"...Kalau kau baik-baik saja," suara Duke Vane jauh lebih pelan sekarang, "...aku tidak akan berada di sini."
Hening.
Freya langsung kehilangan kata-kata.
Karena itu mungkin kalimat paling dekat dengan "aku khawatir padamu" yang pernah keluar dari pria itu.
Namun beberapa detik kemudian Duke Vane kembali dingin. "Kau tetap akan pulang."
Freya langsung mau stres lagi. Namun sebelum suasana meledak...
"Aku tidak setuju."
Semua orang langsung menoleh.
Zevian melangkah maju perlahan. Tatapan biru gelapnya tenang seperti biasa.
Namun aura dingin di sekelilingnya langsung berubah lebih tajam.
Duke Vane menoleh perlahan. Dan untuk pertama kalinya… Dua aura monster bertabrakan di ruangan itu.
"Apa alasanmu, Yang Mulia?" tanya Duke Vane datar.
Zevian tidak mundur sedikit pun. "Freya lebih aman di Starfell."
"Dan kau bisa menjaminnya?"
"...Ya."
Hening.
Freya langsung panik dalam hati. '*YA TUHAN INI KENAPA VIBENYA KAYAK CALON MERTUA*.'
Crimson Valkyrie: "Pikiranmu benar-benar bermasalah."
'*AKU GAK BISA MENGENDALIKAN OTAKKU*.'
Profesor Rowan buru-buru menyela sebelum suasana makin mengerikan.
"Starfell memang memiliki pertahanan terbaik untuk menghadapi corruption."
Namun Duke Vane masih menatap Zevian beberapa detik.
Tatapan mereka benar-benar tidak berkedip.
Ares yang sejak tadi diam akhirnya bersiul kecil.
"Wah."
Freya langsung ingin menghilang dari dunia.
Akhirnya Duke Vane mengalihkan pandangannya. Namun ekspresinya tidak melunak sedikit pun.
"...Aku sudah melihat Crimson Flame menghancurkan seseorang sekali."
Suasana langsung berubah. Dan kali ini nada suara Duke Vane terdengar berbeda. Bukan dingin. Melainkan lelah.
"Sekali saja sudah lebih dari cukup."
Freya langsung menegang. Lyra Vane. Pasti tentang dia.
Untuk pertama kalinya… Freya benar-benar menyadari sesuatu. Ayahnya bukan takut pada Freya. Dia takut kehilangan Freya. Dengan cara yang sama seperti ia kehilangan Lyra dulu.
Dan entah kenapa… Itu membuat dada Freya terasa sesak.
Hening panjang memenuhi aula. Sampai akhirnya Profesor Rowan bicara pelan.
"Freya harus belajar mengendalikan Crimson Flame."
Tatapannya serius. "Dan Starfell adalah tempat terbaik untuk itu."
Duke Vane menutup mata beberapa detik. Seperti sedang menahan sesuatu. Lalu akhirnya...
"...Baiklah."
Freya langsung sedikit lega.
"Tapi keamanan diperketat."
Tatapan Duke Vane jatuh pada Zevian.
"Kalau sesuatu terjadi padanya..."
"Aku tahu." Jawaban Zevian tenang. Namun cukup tegas membuat seluruh ruangan diam lagi.
Freya langsung memegangi kepalanya sendiri. '*Kenapa semua orang sekarang ngomong soal hidupku kayak aku heroine drama kerajaan*.'
Malam datang jauh lebih cepat dari biasanya.
Akademi Starfell kini dipenuhi penjagaan tambahan dari keluarga Vane.
Dan Freya… Sedang diam-diam berjalan di koridor sambil membawa secangkir teh hangat.
'...Hari ini melelahkan.'
"Kau terlalu banyak berpikir."
'Itu karena hidupku terlalu banyak plot twist.'
Freya berhenti saat mendengar suara dari balik ruang profesor.
"...Apa dia mulai mengingat?"
Freya langsung membeku. Itu suara ayahnya. Tanpa sadar Freya mendekat sedikit.
Profesor Rowan menjawab pelan. "...Sedikit."
Hening.
Lalu Duke Vane berkata, "...Kalau begitu waktunya hampir habis."
DEG.
Jantung Freya langsung jatuh. "...Apa maksudnya?"
Namun sebelum Freya sempat mendengar lebih jauh...
"Kebiasaan mengupingmu buruk sekali."
Freya langsung hampir menjatuhkan tehnya.
Ares berdiri santai di belakangnya sambil membawa apel entah dari mana.
"...Kamu kenapa selalu muncul dadakan sih?"
"Aku berbakat."
Freya langsung panik menoleh ke arah pintu ruangan. Untungnya suara mereka belum terdengar ke dalam.
Namun sekarang… Kepala Freya justru makin penuh pertanyaan.
Mengingat apa? Dan…Waktu apa yang hampir habis?