Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.
Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.
"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"
Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan
"Ini, Arkan. Untuk masa depan kita yang baru."
Naya menyerahkan gelas berisi wine merah pekat.
"Kamu benar-benar sudah berubah, Naya. Aku hampir tidak mengenali wanita yang mencoba menusukku dengan tatapan matanya beberapa hari lalu," ucap Arkan, lalu menyesap wine itu cukup dalam.
"Kehilangan Ayah membuatku sadar bahwa kemarahan tidak akan menghasilkan apa-apa. Lebih baik aku hidup nyaman bersamamu daripada hancur sendirian," jawab Naya. Ia menyesap gelasnya sendiri—yang tentu saja tidak berisi campuran apa pun.
"Pilihan yang sangat cerdas. Aku selalu tahu kamu wanita yang pragmatis," Arkan menghabiskan setengah isi gelasnya. Ia melonggarkan kerah kemejanya, mulai merasa suhu tubuhnya naik. "Kenapa ruangan ini terasa begitu panas?"
"Mungkin karena pengaruh alkoholnya, Arkan. Atau mungkin karena kamu terlalu lelah bekerja. Sini, biarkan aku membantumu," Naya mendekat, mulai membuka satu per satu kancing kemeja Arkan dengan gerakan lambat.
Arkan mencoba meraih tangan Naya, tapi gerakannya terasa sedikit melambat. "Naya... kepalaku... terasa sangat berat secara tiba-tiba."
"Itu hanya efek relaksasi, Sayang. Jangan dilawan. Katakan padaku, Arkan... apa yang akan kita lakukan di kantor besok pagi? Aku ingin siap sebelum menandatangani semuanya."
Arkan menyandarkan kepalanya ke bantal, matanya mulai sayu. Pengaruh obat penenang dosis tinggi itu mulai menyerang saraf motoriknya. "Kita akan... menandatangani pengalihan aset Baskara. Semuanya akan masuk ke rekening yayasan yang aku kendalikan. Kamu hanya perlu membubuhkan nama..."
"Dan soal Hendra? Apa dia benar-benar sudah beres seperti yang kamu bilang di ruang kerja tadi?" tanya Naya, suaranya tetap lembut namun menginterogasi.
"Hendra... pria tua itu terlalu banyak bicara. Dia sudah ada di tempat yang aman. Jauh di bawah sana... tidak ada yang akan menemukannya."
"Di mana, Arkan? Di mana kamu membawanya?"
"Jurang... kawasan Puncak Timur. Mobilnya... terbakar. Kecelakaan tragis, bukan? Semua orang akan percaya..." Arkan mencoba duduk tegak, tapi tubuhnya justru merosot. "Naya... apa yang ada di dalam wine ini? Kenapa lidahku... terasa kelu?"
Naya berhenti berakting. Ia berdiri, menatap Arkan dari atas dengan tatapan dingin yang mematikan. "Itu rasa keadilan, Arkan. Sedikit dosis penenang untuk membuatmu jujur."
"Kamu... menjebakku lagi?" Arkan mencoba meraih ponsel di nakas, tapi tangannya hanya menyentuh udara dan jatuh terkulai.
"Jangan repot-repot. Aku sudah mematikan semua jaringan di kamar ini dengan alat yang diberikan Janu. Sekarang, Arkan... kita akan bicara soal Ayah. Apa yang sebenarnya terjadi malam itu di kantornya?"
Ayahmu... dia menemukanku sedang menyalin data audit. Dia marah... dia berteriak... jantungnya kumat. Aku hanya... berdiri di sana. Aku melihatnya... mencari obatnya di laci.
"Dan kamu mengambil obat itu?" desis Naya, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Arkan.
"Aku menjatuhkannya... ke bawah lemari. Aku membiarkannya... Baskara harus tumbang... agar aku bisa naik. Itu bisnis, Naya... murni bisnis..." Arkan mulai meracau, kesadarannya berada di ambang batas.
Naya mengambil ponselnya, merekam setiap kata yang keluar dari mulut Arkan yang setengah sadar. "Lanjutkan, Arkan. Siapa saja yang membantumu? Sofia tahu?"
"Ibu... dia yang mengurus dokter di rumah sakit. Dia yang menyuap suster untuk mengganti dosis cairan infus... agar jantungnya... tidak kuat bertahan. Kami tim yang hebat, bukan?" Arkan tersenyum miring, lalu matanya tertutup rapat. Ia pingsan dalam kondisi tubuh yang lumpuh sementara.
Naya segera mematikan rekaman itu. Tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak menyangka Sofia terlibat sedalam itu dalam kematian ayahnya. Ia segera bangkit, mengambil kunci brankas di saku jas Arkan yang tersampir di kursi.
Naya berlari menuju ruang kerja Arkan. Dengan tangan gemetar, ia membuka brankas rahasia di balik lukisan. Di sana, ia menemukan apa yang ia cari. Buku besar asli milik Ayahnya yang disembunyikan Arkan, lengkap dengan dokumen penggelapan pajak yang sebenarnya dilakukan oleh Arkan Group, bukan perusahaan Baskara.
"Dapat," bisik Naya.
Tiba-tiba, lampu ruang kerja menyala. Sofia berdiri di sana dengan jubah tidur merahnya, memegang sepucuk pistol kecil di tangannya.
"Aku sudah curiga sejak kamu memberikan teh mawar itu tadi sore, Naya," ucap Sofia dengan suara yang sangat tenang namun mengancam.
"Tante... atau haruskah aku memanggilmu pembunuh Ayahku?" Naya berbalik, mendekap dokumen itu di dadanya.
"Aku melakukan apa yang harus dilakukan seorang ibu untuk melindungi masa depan putranya. Baskara terlalu idealis, dia akan menghancurkan Arkan jika dia tahu soal manipulasi pajak itu," Sofia melangkah maju, moncong pistolnya mengarah tepat ke jantung Naya. "Berikan dokumen itu sekarang."
"Tidak akan. Aku sudah merekam semua pengakuan Arkan di kamar. Dunia akan tahu siapa kalian sebenarnya," tantang Naya.
Sofia tertawa sinis. "Rekaman suara orang mabuk tidak akan laku di pengadilan tinggi, Naya. Tapi dokumen di tanganmu itu... itu bisa membakar seluruh gedung ini. Serahkan, atau aku tidak akan ragu menarik pelatuk ini. Arkan akan sedih sebentar, tapi dia akan segera mendapatkan istri baru."
"Silakan tembak! Tapi ingat, Arkan sedang pingsan di kamar karena obat yang kuberikan. Jika aku mati di sini dan Arkan ditemukan dalam kondisi seperti itu, kamu akan menjadi tersangka utama pembunuhan berencana terhadap menantu dan putramu sendiri!"
Tangan Sofia sedikit gemetar. "Kamu menggertak."
"Coba saja. Aku sudah mengirimkan email otomatis berisi semua bukti ini ke Pak Baskoro—paman Arkan. Jika aku tidak menekan tombol 'batal' dalam sepuluh menit, semua ini akan tersebar ke media massa di seluruh Indonesia," bohong Naya, namun wajahnya begitu meyakinkan.
"Kamu licik, Naya. Sama seperti ayahmu," desis Sofia.
"Aku belajar dari yang terbaik di rumah ini, Tante."
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar di lorong. Pintu ruang kerja terbuka kasar. Arkan berdiri di sana, bersandar pada kusen pintu dengan wajah yang sangat pucat. Rupanya, dosis obat itu tidak sepenuhnya melumpuhkannya karena Arkan memiliki toleransi alkohol yang tinggi.
"Ibu... turunkan pistolnya," perintah Arkan dengan suara serak.
"Arkan! Dia menjebakmu! Dia merekam pengakuanmu!" teriak Sofia tanpa mengalihkan pandangan dari Naya.
Arkan berjalan sempoyongan masuk ke ruangan. Ia menatap Naya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara amarah, pengkhianatan, dan... kekaguman.
"Berikan ponselmu, Naya. Hapus rekamannya, dan aku akan membiarkanmu pergi dari sini dengan membawa sisa aset rumah keluargamu. Kita anggap pernikahan ini tidak pernah terjadi," tawar Arkan.
"Tidak akan! Aku ingin kalian berdua membusuk di penjara!" teriak Naya.
Arkan merampas pistol dari tangan ibunya dengan gerakan cepat. Ia kini yang memegang senjata itu, menodongkannya ke arah Naya. "Aku memberimu pilihan hidup, Naya. Jangan paksa aku melakukan hal yang akan aku sesali."
"Lakukan saja, Arkan! Tembak aku seperti kamu membiarkan Ayahku mati! Tembak!" Naya maju satu langkah, menempelkan dadanya ke ujung pistol.
Arkan menatap mata Naya yang penuh keberanian. Jarinya berada di atas pelatuk. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya.
"Kenapa? Kamu tidak berani?" tantang Naya lagi. "Karena jika aku mati, kamu tidak akan pernah mendapatkan tanda tangan untuk dana di Swiss itu. Kamu akan bangkrut dalam sebulan karena hutang-hutangmu pada bankir itu, kan?"
Arkan menurunkan pistolnya perlahan. "Kamu benar. Kamu benar-benar sudah mengenalku terlalu dalam."
"Arkan! Apa yang kamu lakukan? Tembak dia!" teriak Sofia panik.
"Diam, Ibu! Ibu yang membuat ini menjadi rumit dengan menyuap suster itu! Aku bisa menangani Baskara tanpa harus membunuhnya, tapi Ibu terlalu takut!" bentak Arkan pada ibunya sendiri.
Di saat mereka bertengkar, Naya melihat kesempatan. Ia berlari menuju pintu, namun Arkan menarik lengannya.
"Kamu tidak akan pergi ke mana-mana, Naya. Kita akan menyelesaikan ini secara internal. Jika aku jatuh, kita jatuh bersama-sama," Arkan menyeret Naya menuju balkon ruang kerja.
"Lepaskan aku! Arkan!"
Di balkon lantai 25 itu, angin malam bertiup sangat kencang. Arkan memegang Naya di tepi pagar. "Pilihannya sekarang berikan dokumen itu, atau kita berdua melompat dari sini sekarang juga. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan jika reputasiku hancur."
Naya menatap ke bawah, ke arah lampu-lampu kota yang jauh. "Kamu pikir aku takut mati? Aku sudah mati sejak hari aku menikahimu, Arkan."
Naya kemudian melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia melemparkan dokumen asli itu ke udara, membiarkan kertas-kertas penting itu terbang tertiup angin kencang Jakarta, tersebar ke segala arah dari lantai 25.
"TIDAK!" teriak Arkan mencoba meraih kertas-kertas yang beterbangan.
"Sekarang kamu tidak punya bukti, dan aku punya rekaman suaramu! Selamat tinggal, Arkan!" Naya menyentakkan dirinya dan berlari keluar ruang kerja menuju lift yang kebetulan baru saja terbuka.
Di dalam lift, Naya menekan tombol lobi dengan kalap. Ia melihat bayangan Arkan dan Sofia yang mencoba mengejarnya, namun pintu lift tertutup tepat waktu. Begitu sampai di lobi, ia tidak peduli lagi pada protokol. Ia berlari keluar menuju jalan raya, mencari bantuan apa pun.
Sebuah mobil hitam berhenti mendadak di depannya. Pintunya terbuka.
"Mbak Naya! Masuk!" suara Janu terdengar dari dalam mobil.
Naya melompat masuk tanpa berpikir dua kali. Mobil itu melesat menjauh tepat saat para pengawal Arkan keluar dari gedung.
"Janu? Kamu masih hidup?" tanya Naya dengan napas tersengal-sengal.
"Saya bersembunyi di rumah Pak Baskoro, Mbak. Beliau sudah menunggu di kantor polisi pusat. Kita punya bukti yang cukup sekarang," jawab Janu sambil memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Naya menyandarkan kepalanya di jok mobil, menggenggam ponselnya yang berisi rekaman pengakuan Arkan. "Akhirnya... Ayah... akhirnya selesai."
Namun, di kejauhan, ia bisa melihat lampu mobil Range Rover milik Arkan mulai membuntuti mereka dari belakang. Arkan tidak akan menyerah begitu saja. Permainan ini belum benar-benar berakhir sampai salah satu dari mereka berhenti bernapas.