Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meja Makan yang Sama, Dunia yang Berbeda
Pukul 07.30 pagi.
Florence menuruni tangga menuju ruang makan, bersiap menghadapi sunyi dan sarapan sendiri. Ia sudah terbiasa dengan meja kosong dan tatapan pilu Reginald.
Tapi pagi itu, meja tidak sepi.
Di ujung terjauh, Lucifer duduk tegak. Jari-jarinya terkepal di atas permukaan kayu. Cangkir kopi hitam di hadapannya dingin, tak tersentuh. Matanya menempel pada jendela, seolah Central Park di luar berubah jadi hal paling penting di dunia.
Ia mengingat kertas itu. Aku beri kamu satu kesempatan. Satu. Jangan rusak lagi.
Kesempatan itu bukan undangan mendekat. Bukan ajakan bicara. Hanya izin untuk berada di ruangan yang sama tanpa menjadi ancaman.
Florence berhenti di ambang pintu. Napasnya tercekat. Naluri lama berteriak mundur. Namun ia mengingat janji malam kemarin. Satu kali, Florence. Coba berjalan.
Ia melangkah pelan. Memilih kursi di seberang meja. Tiga meter jaraknya. Jauh cukup agar tangan yang terulur takkan saling menyentuh. Jauh cukup agar dada tak lagi sesak.
Reginald masuk membawa nampan. Uap sup, aroma roti, potongan buah. Ia letakkan di depan Florence, tangannya gemetar. Tatapannya melirik Lucifer. Tuan mau apa?
Lucifer tak menoleh. “Sama.”
Satu kata. Kering. Tapi cukup.
Reginald mengangguk cepat, lalu lenyap ke dapur.
Sunyi kembali. Hanya bunyi sendok menyentuh mangkuk yang terdengar—pelan, hati-hati. Lucifer tak menyentuh makanan. Ia diam, menjadi bayangan di sudut penglihatan. Tak menuntut. Tak memaksa. Hanya hadir.
Anehnya, kehadiran itu membuat sup Florence turun lebih mudah. Empat suap. Lima. Hingga ia sanggup meneguk air tanpa telapaknya bergetar.
Lucifer akhirnya bersuara. Tatapannya tetap di luar. Seakan ia berbicara pada udara.
“Hari ini,” katanya pelan, kaku seperti lidah yang lupa cara mengajak. “Kau mau ke mana?”
Florence menahan kunyahan. Menatap punggung itu.
“Kau boleh keluar,” lanjut Lucifer tanpa menoleh. “Ke mana saja. Toko buku. Taman. Belanja. Aku takkan ikut jika kau tak mau.”
Florence meletakkan sendok. Dadanya berdebar. Keluar? Kata itu asing, nyaris terhapus dari ingatannya. Dunia luar sudah lama jadi ingatan kabur—antara mimpi dan luka.
“Kenapa?” Suaranya keluar, pertama kalinya ditujukan langsung pada Lucifer sejak malam yang merenggut segalanya.
Lucifer memiringkan kepala sedikit. Hanya ekor matanya yang menangkap wajah Florence.
“Karena sangkar, sekecil apa pun, tetap menjerat kalau pintunya tak pernah dibuka.”
Ia ingat pulau itu. Ingat kamar terkunci. Ingat Florence yang layu setiap kali dinding menutup rapat. Ia tak mau mengulang kesalahan itu. Tidak jika ia masih bisa menahan diri.
“Tapi ada syarat,” sambungnya cepat, kembali menjadi Raja Neraka dalam versi yang belajar membayar. “Pengawal. Banyak. Kau takkan melihat mereka, tapi mereka ada. Dan kau pulang sebelum gelap. Itu saja.”
Florence terdiam. Otaknya bergemuruh. Jebakan? Ujian? Alasan untuk menghukum jika aku kabur? Tapi surat lebay itu masih hangat di laci. Ngigau namanya di depan anak buah masih membekas. Kompres dingin semalam masih terasa di dahinya.
Satu kesempatan. Ia yang memberinya. Ia pula yang harus berani mengambil risikonya.
“...Toko buku,” bisiknya akhirnya. Hampir tak terdengar. “Yang besar. Di Fifth Avenue.”
Lucifer mengangguk sekali. Kaku. Namun di kedalaman matanya, sesuatu menyala sebentar lalu padam. Lega.
“Jam sepuluh,” katanya. Ia bangkit. “Aku menunggu di lobi. Kau datang kapan pun siap.”
Ia pergi tanpa menoleh lagi. Memberi ruang. Memberi napas. Memberi pilihan.
Pukul 10.00. Lobi mansion.
Florence turun dengan gaun biru keabu-abuan yang jatuh lembut membingkai tubuhnya. Lehernya terbuka dalam potongan V sederhana, lengan balonnya menyembunyikan pergelangan tangan yang kurus. Rambut pirang panjangnya bergelombang liar, separuhnya dikepang longgar ke satu sisi, sisanya jatuh bebas di atas bahu. Kulitnya pucat nyaris tembus cahaya, matanya sayu dengan bayangan merah di bawahnya, bibirnya tanpa warna. Walau tak pakai riasan, kecantikannya tetap menyusup diam-diam—bukan dari warna di wajah, tapi dari rapuh yang tak sengaja jadi memikat. Ia tidak ingin memikat. Ia hanya ingin tenggelam, menjadi sesuatu yang bisa diabaikan.
Lucifer sudah menunggu. Tanpa jas. Kemeja hitam digulung hingga siku, celana bahan. Tanpa dasi, ia tampak lebih muda. Kurang seperti iblis, lebih seperti manusia. Di belakangnya, Marco berdiri diam. Di luar pintu kaca, enam SUV hitam berjejer. Dua belas pengawal, Vulture di antaranya. Tak terlihat, tapi nyata.
Lucifer melirik Florence sekilas. Cukup untuk memastikan ia ada. Lalu memberi isyarat pada Marco. “Berangkat.”
Ia tak mengulurkan tangan. Tak membuka pintu. Ia berjalan tiga langkah di depan, memberi jarak. Menjadi tameng, bukan pemilik.
Di dalam mobil, mereka duduk berjauhan. Lucifer di kanan, Florence di kiri. Ruang kosong di antara mereka menjadi batas suci—perjanjian yang tak diucapkan.
Dua puluh menit perjalanan terasa panjang. Florence menatap luar jendela. New York bergerak seperti biasa. Gedung tinggi. Langkah orang-orang. Dunia terus berputar meski dunianya berhenti dua bulan lalu. Matanya panas. Tapi tak ada air mata yang jatuh. Ia sudah kehabisan.
Toko buku terbesar di Fifth Avenue menanti. Marco sudah mensterilkan tempat. Toko ditutup dua jam atas alasan renovasi mendadak—sebenarnya karena setengah juta dolar yang berpindah tangan hari ini.
Florence turun. Kakinya gemetar menyentuh aspal. Udara bebas—bau knalpot, kopi, kebebasan—menghantam wajahnya. Terlalu banyak. Terlalu nyata.
Lucifer hanya mengangguk ke arah pintu kaca. “Masuk. Aku di kafe seberang. Kalau butuh apa-apa, panggil Marco. Ia di dalam, tapi jauh.”
Florence menatapnya sebentar. Lalu menatap rak-rak tinggi, bau kertas, surga yang dulu ia tinggalkan.
Ia melangkah masuk. Sendiri. Untuk pertama kalinya dalam dua bulan, tak ada bayangan Lucifer di belakangnya. Tak ada cengkeraman. Hanya Marco di pojok, pura-pura membaca koran.
Jari Florence menyentuh punggung buku satu per satu. Gemetar. Ia mengambil sebuah novel klasik, membukanya. Aroma kertas baru masuk ke paru-parunya.
Di seberang jalan, Lucifer duduk menghadap jendela kafe. Kopi di tangannya tak diminum. Matanya tak lepas dari pintu toko buku. Satu tangan di saku menggenggam kertas. Surat Florence. Aku beri kamu satu kesempatan.
Ia takkan merusaknya. Tidak hari ini. Tidak jika ia masih bisa menahan diri.
Vulture berbisik pelan. “Bos, area aman. Tak ada penguntit. Penembak sudah siap.”
Lucifer tak menjawab. Hanya mengangguk. Matanya tetap tertuju pada pintu kaca. Menunggu sosok kurus berbaju biru pudar keluar. Menunggu kesempatan itu tetap utuh.
Di dalam, Florence memeluk buku itu ke dada. Bukan karena ceritanya. Karena hari ini, ia memilih sendiri. Mengambil sendiri. Tanpa izin. Tanpa takut.
Es di dadanya masih tebal. Tapi hari ini, ia menginjak setapak kecil di atasnya. Dan setapak itu—untuk pertama kalinya—tidak retak.