NovelToon NovelToon
NAMA LAIN DIBIBIRNYA

NAMA LAIN DIBIBIRNYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mamany Ali

Raya tidak menyangka kalau Suami yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya , jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Andini adalah nama wanita itu. Saat Bagas suami Raya mengaku mencintai Andini. Dunia Raya terasa runtuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamany Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama Andini

“Aku jatuh cinta sama Andini!”

Raya yang baru saja siap memasak untuk makan siang mereka hari ini. Hanya bisa tertegun mendengar kalimat yang diucapkan oleh suaminya,sayur sop yang baru saja matang dan akan disalin ke mangkok putih itu hampir saja jatuh,Namun Raya berusaha untuk kembali memegangnya erat erat,Walaupun tangannya bergetar hebat.

“Aku tidak bisa lagi menyembunyikan perasaan ku,walau aku tahu ini salah,tapi aku tidak bisa menepis rasa itu!” Lagi Bagas bicara dan kali ini dia mendekat kearah Raya.

Raya berusaha sekuat tenaga untuk menahan bulir bening yang kini sudah menggenang di matanya.

“Raya?” Bagas memegang pundak Raya yang kini ada didepannya.

Raya? biasanya Bagas tidak pernah menyebut namanya selama mereka menikah,panggilan sayang biasanya selalu keluar dari mulut lelaki yang sudah sepuluh tahun menjadi suaminya itu.

“Kita makan dulu,aku sudah masak!” Raya melangkah kedepan dan menaruh mangkok

yang berisi sayur sop yang masih panas itu.

Setelah meletakkan makanan tersebut di atas meja makan,Raya berjalan ke ruang tamu,guna memanggil anak anak nya yang tengah asyik menonton film kartun kesukaan mereka.

“ Galang,Gilang,sudah nonton tvnya,sekarang kita makan dulu,Galang jangan lupa matikan tvnya!” Raya menunjuk kearah tv yang masih menyala.

“Iya ma!” Galang segera mengambil remot tv yang ada di sampingnya,kemudian memencet tombol yang ada di remot.Layar yang tadinya ramai dengan warna langsung padam.menyisahkan pantulan wajah Raya yang pucat dikaca hitamnya.

Gilang menarik tangan Galang yang beda beberapa tahun darinya.”Bang,kok mama habis nangis?” Bisiknya pelan,Tapi cukup terdengar ditelinga Raya.

Raya cepat cepat menyunggikan senyuman,Meski dadanya seperti diremas.” mama kelilipan,sayang.Ayo cuci tangan dulu.”

Dimeja makan,Bagas sudah duduk. Piring piring tersusun rapi,uap sop masih mengepul. Biasanya ,ini merupakan pemandangan yang menenangkan Raya. Suami pulang kerja,anak- anak berebut cerita, Suara sendok berada dengan tawa. Tapi siang ini, meja itu terasa seperti medan perang yang sunyi.

Bagas menatap punggung Raya yang sibuk menyendok nasi ke piring anak-anak.”Ray,” panggilnya lagi. Lebih pelan. Lebih berat.” Kita harus bicara.”

Tangan Raya berhenti diudara. Nasi hampir tumpah dari centong.”Nanti.” Jawabnya datar. Dingin. Bukan nada yang dia pakai untuk Bagas.” Anak-anak mau makan.”

Galang dan Gilang saling pandang, Mereka tidak kembar tapi intuisi mereka sama tajamnya. Ada yang salah, dan mereka tahu itu bukan karena sopnya keasinan.

“ Papa dimarahin Mama ya?” Gilang akhirnya bertanya, polos. Sendok ditanganya belum menyentuh makanan.

Pertanyaan itu menghantam Bagas telak. Dia menoleh ke Raya, meminta bantuan. Meminta Raya menyelamatkannya seperti biasa. Sepuluh tahun menikah, setiap badai pasti Raya yang menjadi payung.

Tapi kali ini Raya hanya meletakkan centong dengan bunyi berdenting yang keras. Bulir bening yang tadi ditahannya,kini jatuh juga. Satu. Tepat diatas nasi Galang.

“Makan dulu,Gilang,” hanya itu yang keluar dari bibirnya. Suaranya serak.

Bagas mngulurkan tangan, ingin menyentuh jemari Raya yang gemetar diatas meja.

“Jangan.” Raya menepisnya cepat. Matanya yang sembab menatap Bagas, penuh luka yang baru saja diiris.” Kalau kamu sentuh aku sekarang, aku nggak jamin mangkok ini nggak mendarat dikepalamu.”

Hening. Bahkan suara detik jam dinding seperti genderang.

Galang yang paling besar,maju. Dia berdiri diantara papa dan mamanya.” Papa bikin mama nangis?”

Bagas menutup matanya. penyesalan baru datang setelah kerusakan dibuat. Dan kata “Andini” yang tadi meluncur dari bibirnya, kini terasa seperti racun yang membakar seluruh rumahnya.

“Habiskan makanan kalian,” bisik Raya akhirnya.Dia menarik nafas,menegakkan punggung,memasang tameng ibu yang tak boleh runtuh didepan anak-anaknya.” Setelah ini, Mama dan Papa akan bicara.”

Tapi didalam hatinya,Raya tahu tidak ada kata kata yang bisa memperbaiki hati yang sudah retak disiang hari.

Galang dan Gilang makan tanpa suara. Biasanya mereka akan rebutan paha ayam atau rebutan untuk bercerita tentang teman sekolah atau mainan baru mereka, sekarang mereka hanya mengaduk sop yang hampir dingin. Sesekali mereka melirik kearah Mama dan Papanya, yang duduk berhadapan, tapi dipisahkan jarak yang lebih lebar dari meja makan itu sendiri.

Raya tidak makan. Dia cuma meremas ujung taplak sampai kusut.

Bagas yang akhirnya menyerah. Sendoknya berdenting pelan saat diletakkan. “Ray, please. Kita bicara sekarang. “

Raya melirik ke Galang. “Bang,ajak adik main dikamar, kunci pintunya dari dalam, ya.”

Galang ngerti. Terlalu ngerti untuk anak sembilan tahun, dia menarik tangan Gilang,” Ayo lang,kita lanjut main lego,”

Pintu kamar ditutup. klik suara kunci diputar. Baru setelah itu Raya angkat muka.

“ Siapa Andini?” Tanyanya langsung. Tidak ada basa basi. Tidak ada “ sejak kapan” karena Raya bukan perempuan yang mau diperlakukan dengan kronologi.

Bagas membasahi bibirnya. Gugup. Lelaki yang biasanya tegas kalau rapat kantor. Sekarang kelihatan kecil didepan istrinya sendiri. “ Dia,,,,staf baru dikantorku. Divisi marketing.”

“Bagus,” Raya tertawa pendek. Pahit. “ jadi aku kalah dari anak baru.”

“ Bukan gitu,Ray-”

“ Terus gimana?” Raya berdiri. Kursi berdecik nyaring. “ Jelaskan, ke aku Bagas. Gimana caranya suami aku,bapak dari anak anak aku, yang sepuluh tahun tidur disamping aku, bisa bisanya jatuh cinta sama orang lain?”

“ Aku nggak sengaja,” Bagas ikut berdiri.” Dia ngerti aku, nyambung kalau ngobrol, kita sering lembur bareng dan…”

“ Dan kamu lupa sudah punya istri?” Untuk pertama kalinya ,Raya membentak mangkok kosong didepannya, bergetar “ Lupa kamu punya Galang sama Gilang? Lupa tiap malam kamu pulang, ada aku yang nungguin kamu pulang dengan keadaan mengantuk,Hanya karena aku ingin makan malam dengan kamu?”.

Bagas diam,karena semua yang dibilang Raya benar.

“Aku benci kamu manggil aku Raya,” lirik Raya. Airmatanya kali ini tidak bisa ditahan lagi. Biarin jatuh. Biarin Bagas lihat semua yang dia hancurkan,” Sepuluh tahun Gas. Sepuluh tahun kamu manggil aku sayang, Mama anak anak, sekalinya kamu sebut namaku..pas kamu bilang kamu cinta sama perempuan lain.”

Ruangan itu terasa sesak. Pengakuan Bagas tadi siang masih menggantung diudara, kayak racun yang sengaja di berikan.

“ Terus kamu mau apa sekarang?” Raya menghapus airmatanya kasar.” Mau aku tepuk tangan? Mau aku bilang’ ohh yaudah nggak papa, sana kejar cinta kamu?’ Gitu?”.

“ Aku nggak tahu,sayang.” Bagas mengacak rambutnya kasar, frustasi.” Aku kacau, aku tahu ini salah. Tapi tiap lihat dia, aku..”

“ STOP. ” Raya angkat tangan.” Jangan. Jangan lanjutkan kalimat itu dirumah ini. Didepan muka aku yang masih sah sebagai istri kamu.”

Hening lagi. Hanya ada suara kipas angin yang berputar sia sia, tidak bisa mengademkan amarah yang mendidih.

Raya menarik nafas panjang. Saat dia bicara lagi, suaranya datar. Dingin. Mematikan.” pilih Bagas?”.

Bagas mendongak.” Apa?”.

“ Pilih sekarang, Aku sama anak anak…atau Andini kamu.” Mata Raya nyala, bukan nyala cinta,tapi nyala luka. “ Dan kalau kamu butuh waktu untuk mikir, berarti kamu sudah memilih dia.”

Bagas terpaku. Seumur hidup Raya tidak pernah mengasihi ultimatum. Raya selalu mengalah, menerima, mengerti. Tapi perempuan yang didepannya sekarang bukan Raya yang dia kenal.

Ini Raya yang barusan dihancurkan harga dirinya di meja makan.

“ Jawab,Bagas!” Teriak Raya.

Suara Raya terdengar sampai kedalaman kamar Galang dan Gilang.

Klik! Pintu kamar terbuka “ Ma, sudah selesai belum berantamnya?” Gilang sudah berada didepan mereka.

Bagas menoleh kearah lain, sementara Raya untuk pertama kalinya tidak tahu harus menjawab apa didepan anaknya.

1
Rini Anggraini
maaf point q habis thor😭😭 g bissa kasih hadiah...🙏🥲
Mamany Ali: iya kk, terimakasih sudah membaca ya kk😍
total 1 replies
Rini Anggraini
jadi g seru thor,soalnya g ada gregetnya dari bagas,g ada usaha sama sekali buat yakinin istrinya buat balikan,cuma pasarah doank,kaya novel² lainnya 🙏🙏
Mamany Ali: iya ya kk🤭
total 1 replies
Rini Anggraini
gimana jadinya thor,kaya sinetron rumah tangga sebelah...🤣🤣
ditunggu upnya ya semoga bagas masih punya kesempatan balik sama keluarganya lagi...💪🙏
Mamany Ali: iya kk🤣🤣🤣
total 1 replies
Masitoh Masitoh
bagi pelempang dua kali ke pipinya biar tau rasa andini
Ma Em
Semoga Raya memergoki Bagas dgn Andini dirumah nya saat Bagas bermesraan dgn Andini agar Raya tdk jadi kembali pada Bagas , lbh baik Raya berpisah saja dgn Bagas .
Ma Em
Raya emang lbh baik berpisah dari Bagas apa yg hrs dipertahankan oleh Raya Bagas sebagai suami selingkuh sedangkan mertua bkn nya bela menantu malah bela selingkuhan anaknya dan selalu menghina Raya , Raya bagaimana mau bahagia hdp nya tdk ada yg akan tahan kalau nasib nya seperti Raya .
Mamany Ali
semoga terhibur, ditunggu kritik dan sarannya🥰
Mamany Ali: ini udah di up kk, belum bisa sama noveltoon masih di review 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!