NovelToon NovelToon
SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:923
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.

Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?

Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA PULUH EMPAT

Rakha melangkah cepat menuju kamarnya-ruangan itu berada tepat di sebelah ruang kerjanya, hanya dipisahkan oleh pintu connecting room yang hampir selalu terbuka separuh. Ia tak perlu naik tangga, hanya perlu berjalan beberapa langkah dari meja kerjanya yang masih dipenuhi berkas-berkas kasus yang berserakan.

Begitu memasuki kamar, ia menarik napas panjang. Udara di dalam terasa dingin menusuk, tapi justru membuat kepalanya semakin panas. Ia menanggalkan kausnya dan menjatuhkannya sembarangan di atas kursi. Pandangannya lalu tertuju pada cermin besar di dekat lemari-bayangan dirinya menatap balik, dengan mata yang tampak gelap dan rahang mengeras.

Tubuhnya menegang.

Napasnya tersengal, tidak beraturan.

Dan di kepalanya-bayangan tentang Maharani berputar tanpa henti.

Maharani dengan rambut lembap yang menempel di leher, mengenakan kaus abu-abu kebesarannya-kaus miliknya.

Tanpa bra.

Tanpa sadar, gadis itu melangkah santai di rumahnya, polos... tapi berbahaya dalam waktu yang sama.

Rahanya menegang, jemarinya mengepal kuat hingga urat di tangannya menonjol. "Kenapa aku bahkan memperhatikan hal seperti itu..." desisnya rendah, penuh kekesalan.

Ia berjalan ke meja di sisi ranjang, meraih segelas air, tapi tak jadi meminumnya. Gelas itu hanya digenggam erat, sementara pikirannya berisik, sesak, dan terlalu panas untuk diheningkan.

Bayangan Maharani di dapur pagi tadi-senyumnya, suaranya yang lembut saat memanggil "Mas Rakha"-terus berputar di kepalanya, seperti jebakan yang diciptakan khusus untuk menghancurkan pertahanannya.

Rakha memejamkan mata. Kedua tangannya bertumpu di meja, napasnya berat-bukan karena lelah, tapi karena berusaha menahan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar amarah.

Pelan, suaranya terdengar, seolah menegur dirinya sendiri:

"Ingat tujuanmu, Rakha."

"Ingat rasa sakit yang kak Aira tanggung... karena keluarga Soetomo."

Matanya perlahan terbuka-dingin.

Sorotnya kembali tajam, seperti pisau yang baru diasah setelah sempat tumpul. Semua getaran aneh di dadanya ia tekan dalam-dalam, dikubur paksa bersama sisa kelemahan yang nyaris sempat tumbuh.

Ia menegakkan tubuh, melangkah ke lemari, lalu mengambil kemeja biru tua. Gerakannya cepat, terukur, nyaris mekanis. Kemeja terpasang, dasi dirapikan, jas dikenakan-hingga yang berdiri di depan cermin bukan lagi pria dengan mata gelisah, melainkan Rakha Wiratama yang dikenal banyak orang: tenang, kaku, dan tak tersentuh.

Namun ketika pandangannya jatuh pada pintu kamar-pintu yang di baliknya Maharani mungkin masih duduk di ruang kerja, membaca dengan wajah tenang-ia sempat berhenti. Bibirnya bergerak pelan, suaranya nyaris tak terdengar, seperti bisikan yang ditujukan hanya untuk dirinya sendiri:

"Aku hanya menjalankan rencana. Hanya itu."

Rakha melangkah menuju kamar mandi. Ia membuka keran dan membiarkan air dingin mengalir deras sebelum menyiramkan ke tubuhnya. Suhu air yang menusuk membuat napasnya tertahan sesaat, tapi sensasi itu justru membantu menurunkan panas di kepala dan dada yang terasa sesak sejak tadi. Ia berdiri di bawah pancuran cukup lama, membiarkan air dingin menenangkan otot-otot yang tegang dan pikiran yang berisik.

Begitu selesai, Rakha berganti pakaian. Ia mengenakan kemeja abu-abu muda yang disetrika rapi, lalu meraih jas abu-abu tua dari gantungan dan memakainya dengan gerakan mantap. Dasi hitam terpasang sempurna di lehernya-menyembunyikan segala gejolak yang masih berdenyut di balik ketenangan wajahnya.

Rakha melangkah masuk sedikit, menjaga jarak aman di antara mereka. Wajahnya tetap datar, suaranya tenang tapi terukur.

"Ya, Aditya sudah sampai di depan rumah. Saya harus berangkat sekarang," ujarnya sambil melirik jam di pergelangan tangan.

"Oh..." Maharani menunduk sesaat, jemarinya menggenggam buku yang masih ada di pangkuannya. "Kalau begitu, saya di sini saja ya, Mas."

Rakha mengangguk kecil. "Ya, di sini saja."

Tatapannya bergeser ke arah jendela, memastikan tirainya tertutup rapat sebelum kembali menatap Maharani.

"Jangan keluar rumah dulu. Saya nggak mau ada wartawan atau orang yang nggak dikenal lihat kamu di luar. Situasi masih belum aman, dan saya nggak mau ambil risiko. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya."

Ia berhenti sejenak, suaranya sedikit lebih lembut saat melanjutkan,

"Kalau ada hal mendesak, tekan dial 1 di ponsel rumah. Itu langsung terhubung ke nomor saya."

Maharani mengangguk pelan. "Baik, Mas. Saya mengerti."

Ia tersenyum kecil, berusaha tampak tenang meski suaranya sedikit bergetar. "Terima kasih... untuk semuanya."

Rakha menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Ada sesuatu di wajah gadis itu-ketenangan yang rapuh, polos tapi menyimpan getir di sudut matanya-yang membuat dadanya terasa berat.

Rambut Maharani yang masih sedikit basah memantulkan cahaya pagi, dan aroma sabun dari tubuhnya samar tercium di udara.

Rakha sempat membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu-mungkin sekadar "jaga diri", atau "jangan khawatir"-tapi akhirnya ia menahan diri. Hanya satu tarikan napas terdengar sebelum ia memalingkan wajah, menegakkan bahunya, dan berkata datar,

"Saya pergi dulu."

Maharani mengangguk, suaranya pelan, hampir seperti bisikan.

"Hati-hati di jalan, Mas."

Langkah Rakha sempat terhenti di ambang pintu.

Kenapa aku seperti seorang suami yang pamit pergi kerja pada istrinya? batinnya bergema pelan, membuat dadanya terasa aneh-hangat dan sesak di waktu yang sama.

Namun ia segera menepis pikiran itu, menarik napas dalam, lalu melangkah pergi dengan wajah kembali datar.

Ia turun ke bawah dengan langkah cepat; dari jendela depan, terlihat Aditya sudah menunggunya dengan wajah setengah kesal. Rakha membuka pintu rumah tanpa menoleh lagi ke belakang-meninggalkan bayangan Maharani yang masih berdiri di dekat jendela, menatap kepergiannya dalam diam.

1
jekey
up banyak"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!