NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Pecundang Tidak Punya Pilihan

"Maaf, Mas. Saldo rata-rata dan riwayat mutasi Anda tidak memenuhi syarat untuk agunan."

Suara teller itu mengambang, lalu mati ditelan derik mesin penghitung uang. Kertas-kertas bernilai jutaan meluncur cepat dari celah mesin, mengejek tangan kosong Fais yang bergetar di atas pualam dingin.

Kaca pemisah memantulkan wajahnya. Kuyu. Lelah. Wajah tanpa nilai tukar di mata perbankan.

Ruangan berpendingin sentral ini mendadak pekat. Keheningan menindas paru-parunya. Ketukan sepatu nasabah di lantai granit bergema layaknya palu hakim.

'Tiga puluh lima juta.'

Angka itu berkerumun di balik kelopak mata, seliar lalat memperebutkan daging busuk.

"Saya bisa kerja lembur, Mbak," parau Fais. Tenggorokannya seolah disesaki kerikil. "Potong gaji bulanan. Apa saja. BPKB motor tua... setidaknya untuk jaminan awal."

Teller itu tersenyum tipis.

"Aturannya begitu, Mas. Sistem kami otomatis menolak. Maaf."

Sistem. Mesin buta itu tidak mencium anyir darah ayahnya di atas kasur tipis.

Fais mundur, menyeret sol sepatunya yang nyaris mangap. Di dekat pintu, satpam menatap awas dengan tangan mencengkeram pentungan. Seolah kemiskinan adalah wabah yang pantang dihirup nasabah prioritas.

Pintu kaca bergeser. Jalanan siang menampar wajahnya, memanggang kulit tanpa ampun. Fais menelan ludah kering. Pahit keparat. Kemewahan bernama rencana cadangan tak pernah diciptakan untuk orang miskin.

Dua jam menguap. Kakinya menyeret debu trotoar hingga terhenti di depan kafe berdinding kaca. Aroma kopi sangrai mahal menguar, bertabrakan kasar dengan asap knalpot bus kota.

Di balik kaca, Bagas duduk santai. Kemeja licin, rambut klimis. Tiga tahun lalu, mereka masih rutin berbagi sebungkus nasi kucing di pinggir parit. Kini, jemari Bagas menggenggam es kopi seharga jatah makan Fais tiga hari penuh.

Fais melangkah masuk. Ia menarik kursi di seberang kawan lamanya, menelan sisa harga diri sampai kerongkongannya terasa sobek.

"Kau gila, Is? Tiga puluh lima juta?" Bagas mendengus. Jarinya yang berkuku bersih mengetuk-ngetuk layar ponsel, menggulir grafik saham yang naik-turun tanpa henti.

"Bapakku butuh operasi malam ini, Gas. Darahnya tak mau berhenti," pinta Fais, menatap pola serat meja. "Pinjami aku lima juta saja. Sisanya kucari sendiri."

Bagas tertawa pelan.

"Bukannya tak mau bantu, Kawan. Kau tahu kondisi pasar." Ia memutar gelas. Es batunya bergemerincing mengejek. "Cicilan mobilku bengkak. Proyekku mandek."

Bagas mencondongkan tubuh, menopang dagu. "Lagian, jujur saja. Kau mau bayar pakai apa? Ginjal? Gajimu jadi kuli saja disunat mandor tiap minggu."

Rahang Fais terkunci. Pembuluh darah di pelipisnya menegang. Benar. Ia tak punya apa-apa selain nyawa.

"Sudahlah, Gas. Lupakan. Maaf mengganggu."

Fais bangkit, mendorong pintu kafe tanpa pamit.

Kakinya kembali menjejak aspal mendidih. Di seberang jalan raya, sebuah sedan Eropa hitam berhenti mulus di bawah kanopi lobi hotel bintang empat. Pintu belakang terbuka.

Maya turun dari sana. Wanita yang pernah jadi muara tenangnya. Rambut sebahu itu masih jatuh sempurna. Gaun marunnya melekat akurat. Siluet wangi parfumnya seolah menembus asap knalpot, mencekik indra penciuman Fais dari jarak puluhan meter.

Namun, sepotong tangan berbalut sutra melingkar berkuasa di pinggang Maya. Tangan pria beruban dengan perut buncit yang tak mampu disembunyikan kain mahal. Pria yang mungkin sebaya dengan ayah Maya.

Langkah Fais mati. Ia ingin menyeberang. Ingin menegur, menumpahkan kekesalan dunia, atau menyadarkan Maya dari rute instan itu.

"Maya..."

Maya tak sengaja memutar kepala. Tatapan mereka bertubrukan lurus. Fais menahan napas, menunggu wanita itu terkejut. Menunggu rasa malu, panik, atau minimal kecanggungan di wajah berias rapi itu.

Nihil.

Mata Maya menyapu Fais dari leher hingga ujung kaki. Memindai mantan kekasihnya dengan pakaian lusuh. Tanpa empati. Tanpa sisa masa lalu.

Tatapan itu adalah jenis pandangan orang kaya saat melihat onggokan plastik basah tersangkut di ban mobil mewah mereka. Memuakkan dan tak layak ditatap lebih dari dua detik.

Maya membuang muka, tertawa renyah, lalu menghilang ke balik pintu putar lobi bersama si perut buncit.

Rongga dada Fais bergemuruh, lantas rubuh tanpa suara.

'Sial.'

Fais mematung. Ejekan Bagas tadi memang menyayat, tapi setidaknya ia masih dianggap lawan bicara. Tatapan acuh Maya barusan? Itu menghapus eksistensi Fais dari ras manusia.

Tak ada cemburu klise. Tak ada amarah naif. Yang tersisa hanyalah kesadaran telanjang.

uang adalah hakim absolut semesta. Harga diri cuma dongeng pengantar tidur agar orang melarat tetap waras bekerja.

Malam turun membawa gerah. Polusi menempel bak selimut kotor di atas kota. Fais tak berani pulang. Tak sanggup menghadapi tatapan redup ibunya, atau batuk berdarah bapaknya yang menghitung mundur sisa hari.

Langkahnya terseret ke distrik pinggiran barat. Deretan proyek apartemen mangkrak menjulang bak kerangka peradaban. Besi-besi ulir mencuat ke angkasa gulita, menganga layaknya rusuk baja patah yang ditinggalkan Tuhan.

"Bawa semen ini ke lantai empat belas," perintah berat memecah sunyi pilar beton.

Mandor tambun berhelm kusam berdiri di sana. Mulutnya menguarkan anyir alkohol oplosan. Lembaran uang merah di jarinya dikibas-kibaskan ritmis, seolah menebar pakan ayam.

"Lift barang macet. Naik pakai tangga darurat. Jejerkan sebelum subuh, gajimu cair dua kali lipat malam ini juga."

Persetan dengan ruas tulang belakang yang bisa remuk. Fais menatap lekat uang merah itu, mengangguk kaku layaknya robot usang. Lima puluh kilogram semen berdebu ia angkat. Beban kasar itu menghantam pundak ringkihnya.

Tulang belakangnya melengkung tak wajar. Lorong tangga beton itu buta. Permukaannya licin oleh lumut dan sisa hujan asam. Cahaya temaram hanya mengintip dari lampu jalan arteri di dasar sana.

Keringat dingin terjun bebas, menyatu dengan genangan limbah di tiap pijakan. Lantai sembilan. Sepuluh. Napas Fais pecah berantakan, gagal meraup oksigen di ruang sempit.

Jantungnya memukul-mukul rusuk bak monster terkurung. Paru-parunya terbakar. Tiap saraf kaki meneriakkan sinyal mati. Namun, tiap kali lututnya nyaris menyerah, visual tagihan gawat darurat itu menampar kewarasannya.

'Tiga puluh lima juta.'

Angka itu menjelma cambuk api. Melecut punggungnya hingga ke urat nadi. 'Bergerak, bajingan. Jalan terus.'

Lantai sebelas. Dua belas. Sol sepatunya menyeret kerikil tajam. Gesekan kasar itu memantul di dinding cor yang dingin.

Lantai tiga belas. Angin malam menampar wajahnya liar. Belum ada bata pembatas di pelataran ini. Tepi beton langsung menghadap jurang kelam. Kerlap-kerlip distrik sentral di bawah sana mengecil layaknya jutaan kunang-kunang berserakan.

Fais meraup udara bagai orang tenggelam. Fokusnya cuma satu: sepuluh langkah lagi menuju titik kumpul. Ia memaksa paha kanannya maju. Ototnya bergetar mengerikan. Pelumas lututnya mengering total.

Pada langkah ketiga, takdir merenggut sisanya.

Mulut sepatunya yang menganga tersangkut kawat pilar tebal. Baja yang menyembul asal itu menjerat ujung kakinya. Waktu mekanis seketika macet. Berhenti mutlak.

Gravitasi mendadak melepas rengkuhannya. Tubuh Fais melayang dalam milidetik yang memanjang, kehilangan keseimbangan. Telapak kirinya terpeleset landasan basah. Tak ada lagi beton.

Hanya hamparan udara kelam di ujung sepatu.

Tubuhnya terlempar melewati bibir lantai, jatuh bagai batu ke dasar jurang kota. Kosong. Mati. Kecepatan udara merobek gendang telinga. Lapagan proyek menyambut kehadiran calon mayatnya.

Pinggiran jendela menyapu naik bagai pita kaset yang melambat. Sebelas. Delapan. Enam. Jerit pusaran udara merobek rungu, menyisakan dengungan nada tunggal yang absurd.

Tenggorokan Fais tersumbat, membungkam insting teriaknya. Secara tak masuk akal, paniknya terbius injeksi pasrah. Relaksasi paling gila menjelang hantaman fatal daging dan beton.

'Akhirnya usai.'

Pikiran itu jernih. Amat jernih.

'Bapak dan aku akan bertemu besok di lemari pendingin rumah sakit.'

Giginya mengunci kebas menyambut kecepatan terminal. Ia benci nasib keparat ini. Ia jijik harga dirinya diinjak-injak demi manusia setingkat Bagas dan Maya. Kemiskinan merantai keluarganya menuju maut yang pelan dan meletihkan.

Tapi tidak begini caranya tenggelam. Persetan. Ia tak sudi menyembah maut menjadi bubur merah di dasar apartemen. Tak sudi menyusahkan ibunya lagi demi galian kubur termurah. Hasrat buta untuk menghancurkan takdir menyala. Naluri binatangnya menolak takluk ditampar nasib.

'Persetanan, aku tidak ingin mati,' jerit otaknya memompa agresi ke seluruh saraf. Api ambisi paling kejam mengkremasi sisa ketakutannya di udara kosong berbatas maut.

Ledakan emosi itu terputus tatkala lolongan metalik berdengung murni dari dasar tengkoraknya, memotong bising gravitasi. Sebuah resonansi ganjil non-manusia. Dingin tanpa ruh.

[Mendeteksi keinginan bertahan hidup ekstrem.]

[Sistem Peluang 100% aktif.]

1
ghost
novel ga jelas...ga usah di baca
Ironside: Terima kasih /Joyful/, kalau boleh tahu. Apa yang perlu aku perbaiki?
total 1 replies
ghost
novel tolol
Ironside: Oke /Smile/
total 1 replies
Cecilia
up heii, udh nunggu agak lama masih 25 chapter. 200 chapter lah kakk
Ironside: Apa-apaan kamu Kak /Curse/. Aku sedang revisi /Scream/
total 2 replies
Gege
kan bisa turun di ruangan fitness apartemen, lari diatas tritmil Thor...🤣🤣
Ironside: Iya sih /Facepalm/
total 1 replies
Gege
pelit bener systemnya Thor...dimana mana ada system buat memudahkan, dan banyak cheat..hiburan harapan dalam bentuk tulisan yang mengalir ringan..🤣
Ironside: Untuk perkembangan sifat MC juga, karena pengalamannya sebatas tukang bangunan aja 😆.
total 1 replies
Cecilia
mana Insectnya kak
Ironside: Tidak ada /Scream/
total 1 replies
Yui
Akhirnya setelah 3x bulan purnama, author ini bikin nopel yang ada insectnya /Proud//Proud/
Ironside: Sembarangan /Curse//Curse//Curse/, tidak ada insect di sini /Grievance/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!