NovelToon NovelToon
My Cold Boss Is A Spicy Writer!

My Cold Boss Is A Spicy Writer!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wie Arpie

Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.

Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"

Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.

Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan di Dinding Kaca

Pagi di Puncak selalu punya cara sendiri untuk membangunkan orang. Bau tanah basah sisa hujan semalam bercampur dengan aroma pinus yang tajam masuk melalui celah ventilasi villa. Sia terbangun dengan perasaan yang aneh—semacam campuran antara segar dan cemas yang luar biasa. Kejadian di sofa semalam, dalam kegelapan yang pekat itu, terus berputar di kepalanya seperti film pendek yang diputar berulang-ulang.

Sia menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Bibirnya sedikit lebih merah dari biasanya, dan matanya... matanya terlihat seperti orang yang baru saja menemukan rahasia besar alam semesta.

"Oke, Sia. Tarik napas. Profesional. Ingat, lo asisten riset. Semalam itu cuma... method acting tingkat tinggi," gumamnya pada diri sendiri, meskipun hatinya tahu itu bohong besar.

Saat Sia keluar dari kamar, ia menemukan Arkan sudah berdiri di teras villa, membelakanginya. Pria itu sudah rapi dengan kemeja flanel kotak-kotak yang lengannya digulung hingga siku dan celana jins gelap. Penampilan yang sangat jauh dari setelan jas tiga lapis yang biasa ia kenakan di kantor, tapi justru membuatnya terlihat sepuluh kali lipat lebih nyata—dan berbahaya bagi kesehatan jantung Sia.

"Sudah bangun?" suara Arkan terdengar tanpa pria itu perlu menoleh.

"Sudah, Pak. Bapak... sudah dari tadi di sini?" tanya Sia, berjalan mendekat dengan langkah ragu.

Arkan berbalik. Tidak ada sisa-sisa kegugupan semalam di wajahnya. Ia kembali menjadi sosok yang terkendali, namun ada sesuatu yang berbeda di matanya saat menatap Sia. Sesuatu yang lebih hangat, lebih mengakui.

"Saya sudah meninjau area fondasi hotel bersama mandor tadi jam enam. Udara pagi di sini bagus untuk menjernihkan pikiran," ujar Arkan. Ia mengangkat sebuah termos kecil. "Mau kopi? Penjaga villa baru saja menyeduhnya."

"Boleh, Pak."

Mereka berdiri berdampingan di teras, menatap lembah yang masih tertutup kabut tipis. Keheningan di antara mereka kali ini tidak lagi terasa kaku atau menyesakkan. Ini adalah jenis keheningan yang nyaman, jenis keheningan milik dua orang yang sudah saling berbagi rahasia di tengah kegelapan.

"Tentang semalam..." Arkan membuka suara, membuat Sia hampir tersedak kopinya.

"Ya, Pak? Soal genset mati?" potong Sia cepat, mencoba mengalihkan arah pembicaraan.

Arkan terkekeh kecil, suara yang kini mulai menjadi favorit Sia. "Bukan soal gensetnya, Sia. Tapi soal apa yang terjadi saat genset itu mati. Saya sudah mengirimkan draf final Bab 19 ke email kamu pagi ini. Saya ingin kamu membacanya sebelum kita pulang ke Jakarta."

Sia mengerjap. "Bapak... langsung nulis semalam?"

"Saya tidak bisa tidur kalau tidak menuangkan apa yang saya rasakan ke dalam kata-kata. Kamu yang mengajari saya untuk jujur pada perasaan karakter, kan?" Arkan menatap Sia dengan intens. "Dan ternyata, menulis dengan jujur itu jauh lebih melelahkan daripada menghitung proyeksi laba rugi perusahaan."

Sia mengambil ponselnya dan membuka email. Ia membaca baris demi baris draf Bab 19. Jantungnya berdegup kencang. Arkan tidak menahan diri sama sekali. Deskripsi tentang rasa haus akan kehangatan, tentang bagaimana Bima merasa dunianya yang selama ini teratur mendadak runtuh hanya karena sentuhan tangan Raya, semuanya tertulis di sana dengan sangat indah. Sangat emosional.

"Pak... ini..." Sia kehilangan kata-kata. "Pembaca Bapak bakal gila baca ini. Ini bukan cuma spicy, Pak. Ini... tulus."

"Itu karena penulisnya sedang tidak berakting, Sia," ucap Arkan pelan.

Perjalanan pulang ke Jakarta terasa jauh lebih singkat, mungkin karena kali ini tidak ada kemacetan horor seperti kemarin. Di dalam mobil, Arkan kembali menjadi CEO yang sibuk dengan tabletnya, membalas email-email kantor yang menumpuk. Namun, ada satu hal yang berbeda: tangan kiri Arkan tidak lagi berada di atas pangkuannya atau memegang tablet. Tangan itu diletakkan di atas kursi di antara mereka, sangat dekat dengan tangan Sia.

Sesekali, saat mobil berbelok, jari kelingking Arkan sengaja menyentuh punggung tangan Sia. Kecil, halus, tapi efeknya seperti sengatan listrik. Mereka tidak bicara, tapi komunikasi di bawah permukaan itu jauh lebih intens daripada obrolan apa pun.

Begitu sampai di lobi kantor, mode "Robot Dewangga" kembali aktif sepenuhnya. Arkan keluar dari mobil dengan langkah tegap, jasnya sudah kembali tersampir rapi di bahunya.

"Sia, siapkan bahan untuk rapat jam dua siang nanti. Dan pastikan laporan dari Bogor tadi sudah diketik rapi," instruksi Arkan sambil berjalan cepat menuju lift eksekutif.

"Siap, Pak," jawab Sia dengan nada sekretaris yang sempurna.

Namun, drama dimulai saat mereka sampai di lantai 42. Gibran sudah berdiri di depan meja Sia dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.

"Wah, wah, yang habis 'studi banding' ke Bogor akhirnya pulang juga," sindir Gibran. Ia melirik Arkan yang baru saja hendak masuk ke ruangannya. "Gimana, Kan? Hotel aman? Atau ada 'proyek' lain yang lebih menarik di sana?"

Arkan berhenti di ambang pintu. Ia menatap Gibran datar. "Proyek berjalan sesuai jadwal, Gibran. Ada masalah?"

"Nggak ada sih. Cuma Laras semalam neror gue lagi. Katanya Nightshade baru saja upload bab paling gila sepanjang sejarah. Adegan di villa hujan-hujanan," Gibran tertawa sambil menyenggol bahu Arkan. "Adek gue sampai bilang, 'Mas, ini penulisnya kayaknya habis ngalamin sendiri deh, deskripsinya detail banget sampai kerasa dingin-dingin angetnya'. Gue jadi mikir... lo di Bogor semalam juga hujan, kan?"

Sia hampir saja menjatuhkan tumpukan map di tangannya. Ia sibuk pura-pura merapikan alat tulis, wajahnya menunduk sedalam mungkin.

Arkan tidak bergeming. "Kebetulan yang menarik. Tapi gue enggak punya waktu untuk membahas imajinasi adik lo. Gue ada rapat."

"Eh, tunggu dulu!" Gibran menghalangi Arkan. "Gue ke sini sebenarnya mau ajak Sia makan siang. Kemarin kan gagal gara-gara lo 'culik' ke Bogor. Sekarang boleh dong? Gue mau denger cerita dia soal pembangunan di sana, dari sudut pandang sekretaris."

Sia memberanikan diri melirik Arkan. Ia bisa melihat rahang bosnya itu mengeras. Garis kaku yang sempat melunak di Bogor kini kembali menegang.

"Sia harus lembur menyiapkan bahan rapat jam dua, Gibran," ujar Arkan dingin.

"Ah, cuma jam dua kan? Ini baru jam dua belas lewat dikit. Makan siang satu jam nggak akan bikin perusahaan lo bangkrut, Kan," bantah Gibran santai. Ia menoleh ke arah Sia. "Gimana, Sia? Mau makan soto legendaris di depan kantor? Saya yang traktir."

Sia merasa seperti sedang berada di tengah dua singa yang sedang berebut wilayah. Di satu sisi, ia ingin menjaga profesionalitas dan tidak ingin membuat Gibran curiga. Di sisi lain, ia tahu betul apa arti tatapan tajam Arkan saat ini.

"Ehm, sebenarnya Pak Gibran..."

"Saffiya," potong Arkan. Suaranya rendah, jenis suara yang ia gunakan hanya jika ia sedang sangat serius. "Kamu sudah makan cokelat kompensasi itu kemarin. Saya rasa asupan gula kamu masih cukup untuk bekerja tanpa perlu makan siang yang berat di luar."

Gibran mengernyit bingung. "Cokelat kompensasi? Apaan sih? Lo pelit banget jadi bos, Kan."

Arkan tidak mempedulikan Gibran. Ia menatap Sia lurus-lurus. "Saffiya, masuk ke ruangan saya sekarang. Ada detail di laporan Bogor yang harus kita perbaiki segera."

Tanpa menunggu jawaban, Arkan masuk ke ruangannya. Sia menatap Gibran dengan wajah penuh permohonan maaf. "Maaf ya, Pak Gibran. Sepertinya Bos lagi dalam mode 'kejar tayang'. Mungkin lain kali."

Gibran menggeleng-gelengkan kepala. "Tuh orang makin lama makin aneh aja... Ya sudah, semangat ya Sia. Jangan lupa minum air putih, biar nggak pingsan ngadepin robot satu itu."

Begitu masuk ke ruangan Arkan, Sia langsung menutup pintu dengan sedikit keras. "Pak! Tadi itu keterlaluan. Pak Gibran bisa curiga kalau Bapak terus-terusan bersikap posesif tanpa alasan yang jelas di kantor!"

Arkan sedang berdiri di depan jendela besar, membelakangi meja kerjanya. "Saya punya alasan jelas."

"Alasan apa? Riset?"

Arkan berbalik. Ia berjalan mendekati Sia hingga wanita itu terdesak ke pintu yang baru saja ia tutup. Arkan menumpukan kedua tangannya di pintu, di kiri dan kanan kepala Sia, menguncinya.

"Alasannya adalah saya tidak suka dia menatap kamu seperti itu," bisik Arkan. "Dan saya tidak suka kamu tersenyum padanya hanya karena dia mengajak makan soto."

Sia menelan ludah. "Pak... ini kantor. Bapak sendiri yang bilang kita harus profesional."

"Profesionalitas saya sedang mengalami malfungsi, Sia," Arkan menundukkan kepalanya, jarak wajah mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter. "Setiap kali saya melihat pria lain mendekati kamu, otak saya tidak lagi berpikir soal profit atau kontrak. Otak saya hanya berpikir tentang bagaimana caranya membuat mereka menjauh."

Sia bisa merasakan napas Arkan yang hangat di wajahnya. Dinding kaca yang selama ini memisahkan mereka kini sudah penuh dengan retakan besar.

"Bapak... Bapak benar-benar mulai terpengaruh sama karakter Bima," gumam Sia, berusaha mencari pegangan pada realita.

"Atau mungkin," balas Arkan, suaranya makin serak, "Bima adalah cara saya untuk mengatakan apa yang sebenarnya Arkan rasakan tapi tidak sanggup ia katakan."

Arkan tidak menciumnya. Ia hanya menempelkan keningnya ke kening Sia, memejamkan mata sejenak, menghirup aroma parfum Sia yang seolah menjadi candu baru baginya. Ketegangan di ruangan itu jauh lebih hebat daripada saat di villa semalam. Ini adalah ketegangan di antara dua orang yang sadar bahwa mereka sedang bermain-main di tepi jurang, tapi tidak punya keinginan untuk mundur.

"Sekarang, duduklah di sofa itu," perintah Arkan setelah menjauhkan diri, suaranya kembali berusaha terdengar formal meski gagal total. "Kita tidak akan membahas laporan Bogor. Kita akan membahas Bab 20. Saya ingin tahu apa yang harus dilakukan Bima setelah dia menyadari bahwa dia tidak bisa lagi melepaskan Raya."

Sia berjalan menuju sofa dengan kaki yang sedikit goyah. Ia duduk dan membuka laptopnya. "Bab 20... tentang pengakuan?"

"Tentang penyerahan diri," koreksi Arkan. Ia duduk di kursinya, namun matanya tidak lepas dari Sia. "Bagaimana seorang pria yang terbiasa memegang kendali, akhirnya menyerahkan kendali hatinya pada orang lain."

Sia mulai mengetik, namun ia tahu, apa yang ia tulis hari ini bukan lagi sekadar naskah untuk platform Novel online. Ini adalah jurnal perjalanan mereka. Dan di lantai 42 yang megah ini, di tengah hiruk pikuk Jakarta, Arkan Dewangga dan Saffiya Adhisti sedang menulis bab paling berbahaya dalam hidup mereka—bab di mana garis antara pekerjaan dan perasaan tidak lagi kabur, tapi sudah benar-benar musnah tertutup oleh obsesi yang mulai tumbuh subur.

Malam itu, Jakarta mungkin masih sama. Macet, bising, dan melelahkan. Tapi bagi Arkan, dunia kini hanya terdiri dari dua hal: kata-kata yang ia tulis, dan wanita yang menginspirasi setiap hurufnya. Dan ia tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk Gibran, mengganggu mahakarya yang sedang ia bangun ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!