"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5. Pecahnya Sangkar Kaca
Suara decit ban SUV hitam itu membelah kesunyian halaman rumah yang sepi. Belum sempat mesin mati sepenuhnya, Bima sudah melompat keluar, memutari kap mobil, dan menyentak pintu penumpang dengan kasar.
"Turun!" perintahnya, suaranya bukan lagi geraman, melainkan perintah mutlak yang dingin.
Tanpa menunggu Alea bergerak, tangan besar Bima mencengkeram lengan atas Alea dan menariknya keluar hingga gadis itu nyaris tersungkur.
Bima menyeretnya menuju pintu utama. Cengkeramannya begitu kuat, jemari pria itu seolah tenggelam ke dalam daging lengan Alea.
"Sakit, Bima! Lepaskan! Kau menyakitiku!"
Alea merintih, berusaha menahan langkahnya dengan tumit yang bergesekan di atas lantai porselen.
Bima tidak peduli. Matanya lurus menatap depan, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol.
Ia menendang pintu depan hingga terbuka lebar, menyeret Alea masuk ke dalam lobi rumah yang sunyi karena para pelayan sedang berada di paviliun belakang.
Begitu pintu tertutup dengan dentuman keras, Bima langsung memojokkan Alea ke dinding dingin.
Tanpa kata, tanpa peringatan, Bima menunduk dan menyambar bibir Alea.
Itu bukan ciuman. Itu adalah serangan. Brutal, penuh amarah, dan posesivitas yang liar.
Bima melumat bibir Alea seolah ingin menghapus jejak tawa gadis itu bersama Revan tadi siang.
Alea terisak, suaranya tertahan di kerongkongan. Ia memukul-mukul dada bidang Bima yang sekeras baja, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun.
Rasa anyir darah mulai terasa di lidah Alea saat gigi Bima tak sengaja melukai bibirnya yang lembut.
Air mata Alea pecah, membasahi pipi mereka berdua. Di tengah keputusasaan itu, Alea mengumpulkan seluruh tenaganya.
Saat Bima mencoba memperdalam pagutannya, Alea mengatupkan giginya dengan kekuatan penuh pada bibir bawah Bima.
"Akh!" Bima tersentak mundur, melepaskan cengkeramannya.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Bima hingga wajah pria itu tertoleh ke samping. Napas Alea tersengal-sengal, dadanya naik-turun dengan hebat di balik hoodie abu-abunya.
Darah segar menetes dari sudut bibir Alea, merembes ke dagunya. Sementara itu, Bima perlahan menyentuh bibirnya yang sobek akibat gigitan Alea, menatap cairan merah di jemarinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kau biadab, Bima! Kau monster!" teriakan Alea menggema, pecah oleh tangis yang tak lagi terbendung.
Bima mencoba melangkah maju, tangannya terulur seolah ingin menyentuh wajah Alea yang berantakan, namun Alea mundur dengan ketakutan yang nyata.
"Jangan sentuh aku! Aku benci kau! Aku benar-benar membencimu!"
Alea menyandarkan punggungnya ke dinding, merosot perlahan hingga terduduk di lantai, menyembunyikan wajahnya di lutut.
Suaranya kini mengecil, berubah menjadi nada yang menusuk kalbu—penuh dengan kekecewaan yang mendalam.
"Kau bukan Paman Bima-ku yang dulu lagi..." bisik Alea, tersedu-sedu.
"Paman Bima-ku yang dulu lembut. Dia manis. Dia tidak akan pernah membiarkanku menangis karena kesakitan seperti ini. Dia adalah orang yang aku tangisi setiap malam selama sepuluh tahun karena aku merindukan pelukannya yang hangat..."
Alea mendongak, matanya yang sembap menatap tepat ke dalam manik mata Bima yang kini tampak goyah.
"Kau bukan datang untuk menjagaku seperti janjimu di bandara dulu. Kau datang untuk menghancurkanku, Bima. Kau datang untuk mengambil paksa apa yang tersisa dari diriku," suara Alea bergetar hebat.
"Kau jauh berbeda... kau begitu asing hingga aku merasa tidak mengenalmu sama sekali. Kau membuatku takut berada di rumahku sendiri."
Hening.
Ruang tamu itu mendadak menjadi sangat dingin. Bima mematung di tempatnya berdiri.
Amarah yang tadi membakar matanya perlahan padam, digantikan oleh kekosongan yang menyesakkan.
Kata-kata Alea barusan lebih menyakitkan daripada tamparan atau gigitan di bibirnya.
Pria itu menatap tangannya sendiri, lalu beralih ke sosok Alea yang gemetar di lantai—burung kecilnya yang kini terluka justru karena tangannya sendiri.
Bima menarik napas panjang yang terasa sangat berat, seolah oksigen di ruangan itu telah berubah menjadi belati. Ia menyadari satu hal: dalam obsesinya untuk memiliki Alea, ia hampir saja menghancurkan satu-satunya hal yang ia cintai.
"Alea..." suara Bima keluar, rendah dan serak, namun kali ini tanpa nada ancaman.
"Pergi," potong Alea tanpa menatapnya.
"Keluar dari sini. Aku tidak mau melihatmu."
Bima terdiam cukup lama, menatap puncak kepala Alea yang tertunduk. Ia tidak membela diri.
Ia hanya berbalik dengan langkah gontai, meninggalkan Alea yang masih terisak sendirian di tengah kemegahan rumah yang kini terasa seperti penjara yang dingin.