Selly, gadis berusia 19 tahun, adalah putri kesayangan keluarga terkaya nomor dua di negara ini. Sejak kecil ia hidup dalam pelukan kasih sayang yang luar biasa—dimanja ayah, disayang ibu, dan dijaga mati-matian oleh kakak laki-lakinya, Rian, yang posesifnya level dewa.
Namun, ada satu hal yang selalu Selly inginkan namun sulit ia dapatkan: Hati seorang Darren Wijaya.
Darren, pria dingin berusia 32 tahun yang merupakan raja bisnis dan orang terkaya nomor satu. Luka masa lalu akibat pengkhianatan mantan kekasihnya, Natasha, membuat pria itu menutup hatinya rapat-rapat. Selama bertahun-tahun Selly mengejar, memberi perhatian, dan mencoba menembus tembok dingin itu, namun yang ia dapatkan hanyalah sikap acuh tak acuh dan penolakan.
Hingga suatu hari, rasa lelah dan sakit hati membuat Selly sadar. Ia tidak bisa terus memaksakan diri.
"Cukup, Om... Aku menyerah."
Selly memutuskan berhenti. Ia mulai fokus kuliah, bergaya lebih dewasa, dan mencoba membuka hati untuk Aron
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Suasana di dalam kamar itu perlahan namun pasti mulai berubah menjadi tenang dan hening.
Api kemarahan yang sempat meledak besar dari Papa Andre sudah mulai mereda, kini bergantikan oleh rasa bangga dan rasa lega yang luar biasa melihat putri kesayangannya mulai sadar dan mulai mau membuka mata lebar-lebar.
Mama Elara masih duduk di samping putrinya, tangan hangatnya tak lepas dari punggung Selly, memberikan kekuatan yang tak terhingga. Sementara Kak Rian berdiri tegak di dekat jendela, menyilangkan tangan di dada, menatap adiknya dengan senyum bangga yang tak bisa disembunyikan lagi.
Semua mata tertuju penuh harap pada sosok Selly yang berdiri di tengah ruangan itu. Menunggu kata-kata yang akan keluar dari bibir gadis itu sebagai keputusan finalnya.
Selly berdiri tegak. Wajahnya memang masih terlihat sembab, masih terlihat merah padam, dan masih terlihat sangat lelah setelah menangis sejadi-jadinya tadi.
Tapi ada satu hal yang sangat berbeda dan sangat terasa sekarang.
Postur tubuhnya. Bahunya yang dulu sering terlihat menunduk dan tertutup karena rasa rendah diri serta rasa takut... kini terbuka lebar dan tegap. Kepalanya terangkat lebih tinggi, dan tatapan matanya..., tatapan matanya sudah berubah total.
Tidak ada lagi cahaya harap yang menyedihkan, tidak ada lagi keraguan, dan tidak ada lagi ketakutan. Yang ada hanyalah ketenangan yang dingin, dan ketegasan yang bulat tak tergoyahkan.
Perlahan, dengan gerakan yang lembut namun penuh wibawa, Selly menatap wajah ayahnya tercinta, lalu menatap wajah kakaknya, dan terakhir menatap wajah ibunya yang penuh kasih sayang.
Dengan suara yang pelan, sangat pelan, terdengar lembut... namun setiap kata yang keluar terasa begitu berat, begitu mantap, dan begitu tegas hingga membuat siapa saja yang mendengarnya bisa merasakan getaran keyakinan di sana.
"Yah... Kak..." panggil Selly memecah keheningan itu.
Papa Andre mengangguk pelan, matanya menatap putrinya tajam namun penuh sayang. "Iya Nak, dengar Papa..."
"Aku capek..." kata Selly pendek, namun dua kata itu mengandung ribuan arti, mengandung rasa lelah bertahun-tahun yang selama ini ia pendam sendiri.
"Selly capek banget, Yah. Capek lari, capek nunggu, capek berharap, dan capek menyiksa diri sendiri terus-terusan kayak gini. Rasanya... rasanya hati dan badan Selly udah kosong melompong gak ada isinya lagi selain rasa sakit doang," lanjut Selly jujur, napasnya teratur dan tenang.
"Selama ini Selly selalu pikir positif. Selly pikir kalau Selly bertahan, kalau Selly terus berusaha kasih yang terbaik, kasih perhatian lebih, kasih cinta sebesar mungkin... suatu hari nanti pasti bakal ada hasilnya. Pasti dia bakal luluh, pasti dia bakal lihat Selly."
"Tapi ternyata... kenyataannya gak begitu, Yah. Ternyata ada hal-hal di dunia ini yang emang gak bisa dipaksakan, semau apa pun kita berusaha, semau apa pun kita berkorban."
Selly menarik napas panjang sekali, mengisi paru-parunya dengan udara segar, lalu menghembuskannya pelan-pelan seakan membuang semua beban dunia dari bahunya.
"Mulai detik ini... Selly berhenti."
Jleb.
Kalimat itu keluar begitu saja dengan sangat ringan, namun dampaknya terasa begitu final dan mematikan segala rasa di hati mereka semua.
"Selly berhenti mengejar dia. Selly berhenti berharap dia bakal berubah jadi orang baik buat Selly. Dan Selly berhenti memaksakan diri masuk ke dalam hidup dia yang emang dari sananya gak pernah mau ada aku di dalamnya."
Tatapan Selly mengeras, matanya menatap ayahnya tajam dan penuh keyakinan.
"Aku menyerah, Yah. Aku menyerah sama Darren Wijaya."
"Bukan karena aku gak sayang, atau karena aku lemah dan gak sanggup bertahan... tapi karena aku sadar sekarang. Aku sadar kalau aku gak pantas diperlakukan seenaknya dan sekejam itu. Aku sadar kalau aku itu berharga, dan aku punya hak penuh buat bahagia tanpa harus nangis terus kayak gini."
"Mulai hari ini... nama dia di hati Selly... udah gak ada lagi. Selly mau fokus sama diri Selly sendiri. Selly mau bahagia lagi kayak dulu. Selly janji sama Papa sama Mama..."
Itu saja.
Tidak ada teriakan, tidak ada tangisan, tidak ada amarah yang meledak. Hanya sebuah keputusan dingin dan dewasa yang dibuat oleh hati yang sudah cukup dewasa menerima kenyataan.
Mendengar pengakuan dan keputusan itu dari mulut putrinya sendiri... mata Papa Andre berkaca-kaca. Ia tersenyum bangga lalu melangkah maju memeluk bahu Selly.
"Bangga Papa sama kamu, Nak. Itu keputusan paling dewasa dan paling bijak yang pernah kamu ambil selama ini. Papa dukung penuh 1000%!" ucap Papa tegas.
Mama Elara pun tersenyum haru sambil mengelus rambut putrinya. "Pintar anak Mama. Sudah ya, gak usah mikirin dia lagi. Sekarang fokus sama kebahagiaan kamu sendiri."
Rian pun mendekat, menepuk pelan kepala adiknya. "Good girl. That's my sister. Lupakan sampah itu, dunia masih luas dan masih banyak emas berkilauan yang nungguin kamu."
Selly tersenyum tipis, senyum yang tulus dan penuh harapan baru yang mulai bersinar.
Beberapa saat kemudian, setelah seluruh anggota keluarga keluar meninggalkannya sendirian agar ia bisa menenangkan diri dan merapikan segala sesuatu...
Selly berjalan perlahan mendekati lemari besarnya yang ada di sudut kamar.
Ia membuka laci paling bawah yang agak tersembunyi, dan mengambil sebuah kotak kayu besar yang ukirannya cantik namun sudah agak berdebu karena jarang disentuh belakangan ini.
Di dalam kotak itu... tersimpan rapi semua kenangan. Semua barang-barang yang berhubungan dengan nama Darren Wijaya.
Ada foto-foto yang Selly cetak sendiri, ada kertas catatan kecil yang dulu sering ia tulis, ada hadiah-hadiah kecil yang sudah dibungkus rapi tapi belum sempat diberikan, ada aksesoris, dan berbagai barang kenangan lainnya yang selama ini menjadi harta karun paling berharga bagi Selly.
Dengan tangan yang sedikit gemetar bukan karena sedih lagi, tapi karena haru dan tegang... Selly mulai membuka tutup kotak itu perlahan.
Kriyyk...
Ia memandang isi di dalamnya lekat-lekat.
Matanya berhenti pada sebuah foto berbingkai kecil. Di sana terlihat wajah Darren yang tersenyum tampan dan gagah. Dulu, setiap kali melihat foto ini, hati Selly bisa berdegup kencang dan berbunga-bunga.
Tapi sekarang?
Selly menatap foto itu lama. Dan yang ia rasakan? HAMPIR SEPENUHNYA KOSONG.
Tidak ada getar, tidak ada degup jantung yang kencang, tidak ada rasa sayang yang meluap. Hanya rasa biasa saja. Rasa lega. Dan rasa sadar bahwa itu hanyalah masa lalu.
"Selamat tinggal, Om Darren..." bisik Selly pelan pada foto itu, suaranya tenang tanpa beban.
"Makasih ya pernah jadi bagian dari hidup Selly. Makasih udah jadi inspirasi dan tujuan Selly selama ini. Makasih udah bikin Selly belajar banyak hal tentang cinta dan tentang kecewa."
"Tapi sekarang... waktunya kita jalan masing-masing. Waktunya Selly bahagia, dan waktunya Om juga bahagia dengan pilihan Om sendiri."
Perlahan, dengan gerakan pasti, Selly membalikkan foto itu menghadap ke bawah. Tidak ingin lagi melihat wajah itu sebagai simbol cintanya.
Lalu satu per satu, semua barang kenangan, semua surat, dan semua hal yang mengingatkannya pada pria itu... ia masukkan kembali rapi ke dalam kotak kayu itu.
Selly menutup rapat tutup kotaknya, menguncinya dengan gembok kecil, lalu mengikatnya dengan pita tali yang kuat dan indah.
Kletek.
Suara kunci itu berbunyi, seakan mengunci rapat-rapat semua masa lalu, semua air mata, dan semua rasa sakit itu untuk dikubur dalam-dalam.
Selly berdiri, mengangkat kotak itu, dan berjalan menuju rak paling atas dan paling jauh di balik lemari bajunya. Tempat yang tinggi, tempat yang agak gelap, dan tempat yang jarang sekali dijamah.
Ia meletakkan kotak kenangan itu di sana dengan hati-hati.
Selesai.
Selly berbalik badan, menatap ke depan dengan wajah yang cerah kembali.
"Oke, Selly... starting sekarang, lembaran baru 100%. Kita jadi pribadi baru. Kita bersinar lagi lebih terang dari sebelumnya!" gumamnya semangat 45.
(Bersambung...)
Semangattt thoorrr💚❤️🌺🍂🍁🌸🌼💮🔥