Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
Awalnya Jaiden hanya bersandar malas di sofa sambil mendengarkan. Namun begitu mendengar nama itu, tubuhnya langsung menegang. Ia menegakkan punggungnya seketika, sementara sorot matanya berubah tajam dan serius.
“Siapa? Ulangi lagi.”
“Tuan Arlo Sadjatmiko.”
Jaiden tercengang. Tangannya bahkan menghantam sandaran sofa cukup keras.
“Jelaskan dengan benar… Apa kamu salah mencari berita?” katanya tajam. “Arlo bekerja di pusat penelitian negara. Mana mungkin dia berada di Universitas SS, ngapain dia disana?”
“Saya yakin seratus persen, saya sendiri telah melihatnya mengajar.” Jawab pria berbaju hitam tersebut hati-hati. “ Tuan Arlo, memang masih bekerja di pusat penelitian negara, tetapi sesekali mengajar dan sudah sekitar setahun dia menjadi dosen di Universitas SS… dan kebetulan menjadi dosen Nona Zoya.”
Pria itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan ekspresi aneh.
“Sepertinya… Nona sendiri tidak tahu kalau Tuan Arlo sebenarnya adalah tunangannya.”
Mendengar itu, Jaiden langsung terdiam cukup lama.
Sejak mengetahui dirinya memiliki pertunangan dengan keluarga Sadjatmiko, adik perempuannya memang selalu berusaha menghindari segala bentuk pertemuan dengan pihak sana.
Jaiden sendiri tidak mengerti… Adiknya jelas sangat manis, tetapi keras kepalanya benar-benar keterlaluan.
Zoya sangat tidak suka hidupnya diatur orang lain.
Ia bahkan pernah terang-terangan mengatakan bahwa pria yang terlalu lama hidup di lingkungan penelitian pasti kuno, kaku, dan membosankan seperti ibunya. Entah siapa yang menanamkan gambaran itu di kepalanya, tetapi sejak saat itu ia langsung menolak mentah-mentah perjodohan tersebut.
Walaupun begitu…
Dalam hal ini, Jaiden sangat arogan.
Selama kedua keluarga belum resmi membatalkan pertunangan itu, maka Arlo tetap akan ia anggap sebagai calon adik iparnya.
Dan sejujurnya, Jaiden memang cukup puas pada Arlo.
Ia tahu persis seperti apa pria itu sebenarnya. Di balik wajah dingin dan sikap tenangnya, Arlo hampir tidak mengerti cara berurusan dengan wanita. Bahkan bisa dibilang, pria itu cenderung meremehkan urusan asmara.
Justru karena itulah Jaiden merasa tenang.
Dari segi latar belakang, kemampuan, penampilan, maupun karakter…
Ia benar-benar tidak bisa memikirkan pria lain yang lebih cocok untuk berdiri di samping adiknya selain Arlo.
Dalam pandangannya, mereka berdua sangat sepadan.
Karena itu, selama bertahun-tahun Jaiden diam-diam terus menjaga posisi Arlo sebagai tunangan Zoya.
Itulah sebabnya, meskipun Arlo tampan dan berasal dari keluarga terpandang, hampir tidak ada wanita yang berani mendekatinya. Sebab Jaiden selalu mengawasinya dari belakang.
Namun sekarang… Adik perempuannya yang sombong itu justru diam-diam mengejar pria yang dia tolak.
Jaiden memijat pangkal hidungnya dengan kesal sekaligus merasa lucu…
Dua puluh tahun lalu, kedua keluarga menjodohkan mereka. Dua puluh tahun kemudian, meskipun Zoya mati-matian menolak perjodohan itu… Namun, mereka tetap dipertemukan.
Kalau ini bukan takdir, lalu apa?
Setelah beberapa saat, ia menoleh pada pria berbaju hitam di depannya.
“Lalu bagaimana reaksi Arlo?”
“Tuan Arlo… sepertinya cukup akrab dengan Nona Zoya.”
“Hanya cukup?”
Jaiden langsung mencibir dingin.
Apa Arlo buta?
Gadis sebaik adiknya bahkan tidak bisa ditemukan walaupun dicari memakai lentera.
Jaiden sampai ingin menampar Arlo dan memberitahunya betapa berharganya adiknya.
Sikap Jaiden sekarang benar-benar seperti orang tua yang tidak sabar memamerkan anaknya sendiri.
Akhirnya, Jaiden menyipitkan mata dan mengambil keputusan.
“Besok Zoya ada kuliah, kan?” katanya santai. “Kalau begitu… aku akan pergi melihatnya.”
Sementara itu, orang yang sedang dibicarakan sama sekali tidak tahu dirinya sudah menjadi bahan diskusi.
Arlo sedang duduk sendirian di apartemennya dengan sakit kepala yang hebat… Semalaman ia memikirkan cara agar Zoya tidak terseret masalah akibat dirinya.
Karena tidur terlalu larut, di bawah matanya muncul lingkaran hitam samar. Dagunya juga mulai ditumbuhi sedikit janggut tipis.
Penampilannya memang terlihat lebih berantakan dari biasanya…
tetapi justru menambah kesan melankolis dan artistik yang anehnya semakin menawan.
Tentang pertunangan itu…
meskipun sekarang Arlo hanya dikenal sebagai seorang dosen universitas, latar belakang keluarganya sebenarnya sangat luar biasa.
Kakek buyut dari pihak ibunya pernah menjabat sebagai presiden negara ini, sementara kakeknya sendiri adalah pejabat tinggi negara.
Memang, sejak generasi ayahnya keluarga Sadjatmiko mulai terjun ke dunia bisnis, tetapi pengaruh politik keluarga mereka tetap sangat besar hingga sekarang.
Kekuatan keluarga Sadjatmiko jelas bukan sesuatu yang bisa diremehkan.
Namun berbeda dengan keluarganya, Arlo sendiri sama sekali tidak tertarik pada politik maupun bisnis. Politik terlalu rumit baginya. Sedangkan bisnis terasa terlalu merepotkan.
Menurut Arlo, selama ada manajer profesional yang cakap, perusahaan tetap bisa berjalan baik tanpa dirinya.
Karena kedua orang tuanya tidak pernah memaksanya, Arlo akhirnya memilih menjadi dosen sekaligus bekerja di pusat penelitian negara sesuai minatnya sendiri.
Tetapi ada satu hal yang selalu membuatnya sakit kepala.
Tunangan yang bahkan belum pernah ia temui.
Saat kecil, Arlo adalah anak laki-laki yang sangat tampan dan menggemaskan. Karena hubungan dekat antara kakeknya dan keluarga Saksomo, ketika Arlo baru berusia delapan tahun, ia sudah dijodohkan dengan putri tunggal keluarga Saksomo.
Dan keluarga Saksomo…
jelas bukan keluarga biasa.
Jika keluarga Sadjatmiko terkenal karena pengaruh politik dan bisnisnya, maka keluarga Saksomo dikenal sebagai keluarga militer turun-temurun.
Dari generasi leluhur hingga sekarang, garis keturunan mereka sudah mencapai generasi kelima di dunia militer. Yang paling menakutkan, presiden negara saat ini bahkan merupakan kakak kandung ayah tunangannya.
Namun lucunya, sejak kecil Arlo belum pernah sekalipun bertemu dengan gadis itu.
Bahkan sekarang, ia hampir melupakan keberadaan tunangannya sendiri.
Ia hanya pernah mendengar bahwa putri keluarga Saksomo sangat keras kepala dan sama sekali tidak menyukai perjodohan tersebut.
Tetapi bagaimana mungkin hubungan antara dua keluarga sebesar itu bisa diputus begitu saja?
Selama kedua pihak belum mencapai kesepakatan resmi, status pertunangan itu akan tetap ada. Meskipun selama bertahun-tahun tidak pernah dibahas lagi.
Dan yang paling membuat Arlo sakit kepala… adalah kakak kedua tunangannya itu, Jaiden Aryo Saksomo.
Pria yang nyentrik dan sulit dipahami yang diam-diam selalu mengawasinya. Begitu Jaiden menetapkan Arlo sebagai calon adik iparnya, ia langsung “mengunci” Arlo dengan sangat ketat.
Jangan harap Arlo bisa dekat dengan wanita lain di depan nya… Bahkan jika hanya berbicara sedikit terlalu lama dengan seorang wanita, Tuan Muda Saksomo pasti akan langsung memberikan “perhatian khusus”.
Karena itu, Arlo benar-benar tidak menyangka Tuan Muda Winarto tiba-tiba menyinggung soal pertunangan hari itu.
Padahal sebelumnya, setiap kali mereka bertemu, pria itu selalu bercanda ingin mengenalkan adiknya padanya… seolah ingin menjodohkannya. Karena itulah Arlo sama sekali tidak memahami maksud sebenarnya di balik ucapan pria itu.
Bagaimanapun juga, hubungan pertunangannya dengan keluarga Saksomo hanya diketahui oleh lingkaran keluarga mereka sendiri.
Sementara keluarga Winarto adalah raksasa bisnis dengan akar kekuasaan yang sangat dalam di negara ini. Selama bertahun-tahun, keluarga mereka selalu menjadi pesaing utama keluarga Sadjatmiko di dunia bisnis.
Dan Tuan Muda Winarto sendiri… sejak kecil memang sudah terkenal licik.