"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"
Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.
Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.
Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:
Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.
Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.
Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!
Ketika para dewi sekte suci d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Demo Masak yang Mengguncang Ekosistem
Halaman gubuk Ye Xuan kini benar-benar menyerupai festival kuliner paling gila di jagat raya. Para Koki Kultivator sudah memasang kuali-kuali besar mereka yang memancarkan api spiritual berwarna-warni. Namun, Ye Xuan tetap setia dengan kompor tanah liatnya yang sedikit retak dan wajan anti-lengket "diskonan" miliknya.
"Dengar ya, kalian para ahli masak," ucap Ye Xuan sambil mengikat apron kain morinya dengan kencang, wajahnya tampak sangat serius namun konyol karena ada noda jelaga di pipinya. "Memasak itu bukan soal api naga atau kuali perunggu. Memasak itu soal kesabaran! Kalau apinya terlalu besar, bayam ini akan layu sebelum sempat memberikan rasa!"
Ye Xuan mulai menuangkan sedikit minyak bunga matahari ke wajannya. Begitu irisan bawang putih masuk, suara desis yang dihasilkan terdengar seperti simfoni alam yang harmonis. Para koki kelas atas itu terdiam, mereka menyadari bahwa meskipun Ye Xuan tidak menggunakan energi batin, setiap gerakannya mengikuti irama Dao yang sempurna.
"Sekarang, masukkan bayamnya!" seru Ye Xuan.
Begitu bayam glowing itu menyentuh minyak panas, sebuah pilar cahaya ungu raksasa kembali melesat ke langit, kali ini membawa aroma yang begitu lezat hingga awan-awan di atas Puncak Awan Tersembunyi berubah warna menjadi hijau zaitun.
"Aroma ini... ini adalah aroma masa kecil yang hilang!" tangis salah satu koki sambil berlutut di depan kompor Ye Xuan.
Namun, bencana yang diprediksi Ao Guang benar-benar terjadi. Aroma sayur bening itu menyebar terlalu jauh. Dari arah hutan suci di kaki gunung, terdengar suara gemuruh yang membuat tanah bergetar. Ribuan hewan buas—mulai dari Serigala Perak hingga Gajah Berkepala Dua—mulai berlarian mendaki gunung dengan mata yang berbinar-binar kelaparan.
"Waduh! Ada gempa bumi?!" Ye Xuan menoleh ke arah hutan, wajahnya pucat pasi saat melihat barisan hewan raksasa sedang menuju ke arahnya. "Pak Tua! Kadal Besar! Cepat lakukan sesuatu! Itu ada anjing-anjing raksasa mau ikut makan siang!"
Ao Guang yang sedang asyik mencicipi kuah sayur langsung tersedak. Ia menoleh dan melihat migrasi massal hewan buas tersebut. "Senior, mereka tidak ingin menyerang! Mereka hanya ingin mencicipi sayur bening Anda! Tapi kalau mereka sampai ke sini, halaman kita akan rata dengan tanah!"
"Jangan biarkan mereka masuk!" teriak Ye Xuan sambil mengacungkan spatulanya ke arah gerombolan hewan itu. "Ini cuma cukup buat sepuluh porsi! Pergi kalian semua! Hush! Hush!"
Anehnya, saat Ye Xuan mengayunkan spatulanya, gelombang aroma tumisan yang sangat padat terlempar keluar, membentuk sebuah barikade energi transparan yang berbau bawang putih goreng. Ribuan hewan buas itu mendadak berhenti tepat di batas pagar bambu. Mereka semua duduk rapi, menjulurkan lidah, dan mulai menggoyangkan ekor mereka seperti anak anjing yang sedang menunggu diberi makan.
Para koki dan peramal bintang yang melihat itu hanya bisa melongo. "Dia... dia menjinakkan seluruh penghuni Hutan Suci hanya dengan aroma bawang putih?"
Ye Xuan menyeka keringatnya, menatap ribuan mata hewan yang menatapnya penuh harap. "Hah... ya sudah, kalau kalian mau makan, antre yang rapi! Pak Tua, ambilkan ember-ember besar di gudang. Kita harus bikin porsi jumbo kalau tidak mau gunung ini dirubuhkan oleh mereka."
Maka, di siang yang terik itu, seorang Naga Langit Kuno terlihat sibuk membagikan sayur bening bayam ke dalam ember-ember untuk diberikan kepada singa dan serigala, sementara Ye Xuan terus mengaduk wajannya sambil mengomel tentang betapa mahalnya harga bawang putih di pasar akhir-akhir ini.