⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga
Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.
Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...
Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.
Dua pria, satu wanita.
Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pewaris Tunggal Luxury Jewels
Zyro melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke perusahaan milik Valencia. Hatinya masih terasa sangat kacau, penuh dengan rasa sakit, amarah, dan kerinduan yang bercampur aduk. Satu-satunya hal yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Valencia. Ia ingin segera bertemu dengan wanita itu, melihat wajahnya, dan merasa tenang kembali di dekatnya.
Sesampainya di lobi kantor, ia tidak berhenti untuk bertanya atau menyapa siapa pun. Langkah kakinya melangkah tegas dan cepat langsung menuju ruangan kerja kekasihnya. Saat ia sampai di depan ruangan sekretaris, Bilqis yang sedang sibuk bekerja seketika mengangkat wajahnya. Melihat kedatangan Zyro dengan wajah yang terlihat gelisah dan kacau, raut wajah Bilqis seketika berubah menjadi tegang dan cemas. Mengingat kedekatan Valencia dan Ansel di dalam ruangan tadi, bilqis takut akan terjadi pertengkaran hebat, di dalam pikirannya 'Apakah Bu Valencia selingkuh dengan Tuan Ansel ' Ia segera bangkit berdiri dan dengan sigap menghadang langkah pria itu.
"Tuan Zyro... Maafkan saya Tuan, tapi Bu Valen sedang ada tamu di dalam," cegah Bilqis dengan nada panik, berusaha sekuat tenaga menahan Zyro agar tidak masuk sembarangan.
Namun Zyro sama sekali tidak memperdulikan ucapan wanita itu. Ia seolah tidak mendengar apapun, matanya hanya tertuju pada pintu ruangan Valencia yang tertutup rapat. Ia terus melangkah maju dengan langkah yang mantap dan tidak bisa dihalangi. Bilqis terus berusaha menghentikannya, namun ia tidak sekuat Zyro yang berjalan seolah tertuju pada satu tujuan saja.
Saat pintu ruangan itu terbuka lebar oleh dorongan tangan Zyro, Bilqis langsung mematung di tempatnya berdiri. Wajahnya pucat dan penuh rasa takut, ia sangat khawatir akan terjadi pertengkaran hebat atau hal buruk di dalam sana karena Zyro yang terlihat begitu buruk dan emosional malah mendapati kekasihnya sedang bermesraan dengan pria lain.
Di dalam ruangan itu, Valencia masih duduk di kursi kerjanya, sibuk menatap berkas-berkas di atas mejanya. Sementara itu, Ansel masih setia menemaninya, bahkan saat ini ia sedang berdiri di belakang kursi itu, tangannya melingkar erat memeluk pinggang Valencia dengan santai dan nyaman, kepalanya sedikit bersandar di bahu wanita itu.
Melihat kedatangan Zyro secara tiba-tiba, Valencia dan Ansel seketika mengangkat wajah mereka. Namun Zyro tidak peduli dengan posisi mereka atau keberadaan Ansel. Ia langsung berjalan lurus menuju mereka berdua. Dengan gerakan yang lembut namun cepat, ia menarik tangan Valencia hingga bangkit dari kursinya, lalu membawanya berjalan menuju kursi sofa yang ada di sudut ruangan. Ia duduk di sana, lalu menarik tubuh Valencia hingga wanita itu berada tepat di hadapannya.
Valencia sangat paham dan peka melihat perubahan raut wajah Zyro. Ia bisa melihat dengan jelas bahwa ada sesuatu yang sangat berat dan buruk terjadi pada pria itu. Wajahnya pucat, matanya merah dan berkaca-kaca, serta tatapannya terlihat kosong dan sangat sedih.
"Apa yang terjadi, hm? Kenapa wajahmu terlihat begitu kacau dan menyedihkan seperti ini?" tanya Valencia dengan nada lembut dan prihatin, tangannya langsung menyentuh pipi Zyro dengan penuh kasih sayang.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Zyro tiba-tiba membenamkan wajah dan kepalanya ke dalam pangkuan Valencia. Ia menyandarkan seluruh beban tubuh dan pikirannya di sana, wajahnya menempel erat menghadap ke arah perut Valencia seolah mencari perlindungan dan kenyamanan yang selama ini hilang.
Melihat keadaan kumbangnya, Ansel segera bergegas bangkit dan berjalan menuju pintu ruangan. Ia menutup pintu itu rapat-rapat, memastikan tidak ada orang lain yang bisa melihat atau mengganggu mereka. Di depan pintu itu, Bilqis menyaksikan semuanya dan masih berdiri diam mematung dengan wajah yang penuh rasa syok dan bingung, namun Ansel hanya menatapnya sekilas dengan tatapan tenang seolah menyuruhnya untuk diam dan tidak mengganggu.
Setelah pintu tertutup, Ansel kembali berjalan masuk dan duduk di kursi tidak jauh dari mereka berdua. Ia diam saja, membiarkan sahabatnya itu menumpahkan segala perasaannya di pangkuan Valencia.
Sementara itu, tangan Valencia bergerak lembut membelai-belai rambut dan punggung Zyro dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Perlahan namun pasti, ia bisa merasakan bahu bidang Zyro bergetar hebat di bawah sentuhannya. Getaran itu terasa jelas dan menyayat hati, menandakan bahwa pria yang biasanya terlihat begitu kuat, dingin, dan gagah itu sedang menangis. Ia menangis tersedu-sedu seolah melepaskan segala rasa sakit dan beban berat yang selama ini ia pendam sendirian di dalam hatinya.
"Tenanglah, Zyro... Tenanglah, Sayang... Di sini ada aku. Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuat hatimu hancur dan terluka seperti ini?" bisik Valencia lembut, suaranya terdengar menenangkan dan penuh perhatian, terus membujuknya agar mau bercerita dan melepaskan semuanya.
Sekitar satu jam berlalu, Zyro akhirnya mulai tenang. Isak tangisnya mereda, dan getaran di bahunya perlahan menghilang. Ia masih membenamkan wajahnya di pangkuan Valencia, seolah enggan melepaskan sandaran yang membuatnya merasa aman itu. Perlahan ia mengangkat wajahnya, matanya merah dan bengkak, namun tatapannya sudah terlihat lebih tenang meski masih menyisakan kesedihan yang mendalam.
Ansel yang sejak tadi diam mengamati, segera beranjak mengambil sebotol air minum di atas meja, lalu kembali menghampiri mereka. Ia menyodorkan botol itu pada Zyro dengan tatapan lembut namun prihatin.
"Minumlah, untuk menenangkan tenggorokan dan pikiranmu," ucap Ansel pelan.
Zyro menerima botol itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia membuka tutupnya dan meneguk air itu perlahan hingga habis. Kesegaran cairan itu sedikit banyak membantu menenangkan hatinya yang masih bergejolak. Setelah merasa cukup tenang dan pikirannya mulai jernih kembali, Zyro pun mulai membuka suaranya. Ia menceritakan semuanya secara rinci, mulai dari kedatangannya ke toko perhiasan, pertemuannya dengan dua wanita yang tidak ia kenali, hingga pembicaraan panjang yang menyayat hati bersama Paman Marvel di ruangan dalam.
Ia menceritakan betapa kagetnya Paman Marvel melihat kehadirannya, betapa khawatirnya pria itu akan kondisi kesehatan neneknya yang semakin memburuk, serta permohonan agar ia mau berdamai dan menemui keluarga besarnya kembali. Dan saat Zyro menyebut nama perusahaan perhiasan mewah itu—Luxury Jewels—suasana di ruangan itu seketika berubah hening.
Valencia dan Ansel serentak menatap Zyro dengan mata terbelalak tak percaya. Mulut mereka terbuka sedikit, tak menyangka sama sekali dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Apa?!!" seru mereka berdua hampir bersamaan, suara mereka terdengar kaget dan takjub bercampur menjadi satu.
Ansel seolah tidak percaya dengan telinganya, ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam wajah sahabatnya itu.
"Jadi... kau adalah satu-satunya pewaris sah dari perusahaan raksasa dan sangat bergengsi itu, Luxury Jewels?" tanyanya menegaskan kembali, masih sulit mempercayai kenyataan itu.
Zyro hanya mengangguk perlahan, matanya kembali menunduk lesu. "Ya... begitulah, seperti yang kau katakan, meski selama ini aku selalu berusaha mengingkari dan menjauhinya, semuanya adalah hakku sepenuhnya" jawabnya lirih.