NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.

Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.

Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.

Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 Pengorbanan Sebuah Cinta

Kegaduhan malam itu akhirnya mereda, digantikan oleh kesibukan dan kepanikan di ruang gawat darurat rumah sakit. Lampu merah bertuliskan "In Operation" menyala terang, menandakan bahwa Arga sedang berada di dalam tangan para dokter.

Kirana duduk di kursi tunggu dengan tubuh gemetar hebat. Tangannya saling mencengkeram kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Air matanya tidak berhenti mengalir membasahi pipi. Wajah Arga yang babak belur, berdarah, dan akhirnya ambruk tak berdaya terus terbayang di pelupuk matanya.

"Ya Allah... tolong selamatkan suamiku... tolong selamatkan Arga..." isaknya berulang-ulang. "Aku nggak sanggup kalau harus kehilangan dia, Ya Allah... dia berkorban buat lindungi aku dan anak kita..."

Mama Ratu dan Papa yang baru saja datang dari luar kota segera memeluk menantu dan anak mereka dengan penuh haru dan cemas.

"Sabar ya, Nak... Arga itu kuat. Dia pasti bisa melewati ini," bujuk Ratu lembut, meski matanya sendiri juga berkaca-kaca melihat kondisi anaknya yang kritis. "Dia bertarung habis-habisan demi kamu dan cucu kita. Kamu harus kuat juga demi dia, Ran."

Kirana mengangguk lemah, lalu memeluk perutnya sendiri. "Iya Ma... aku janji aku bakal jaga diri dan jaga debay. Demi Arga."

Waktu terasa berjalan sangat lambat dan menyiksa. Setiap menit terasa seperti satu jam bagi mereka. Hingga akhirnya, setelah dua jam menunggu yang terasa seperti selamanya, pintu ruang operasi terbuka.

Dokter bedah keluar dengan wajah lelah namun tersenyum lega sambil melepas masker dan sarung tangannya.

"Alhamdulillah... operasinya berhasil, Keluarga Wijaya," ucap dokter itu disambut helaan napas lega dari semua orang.

"Jadi gimana keadaan suami saya, Dok? Dia bahaya nggak?" tanya Kirana langsung berdiri mendekat, suaranya bergetar menahan harap cemas.

"Keadaan Pak Arga sudah stabil, Bu. Untung sekali tidak ada organ vital yang terluka. Dia mengalami beberapa luka robek di bagian kepala dan bahu yang harus dijahit, ada sedikit pendarahan di bagian lengan, dan dia mengalami kelelahan ekstrem serta syok," jelas dokter menjelaskan.

"Tapi jangan khawatir, lukanya tidak terlalu dalam dan berbahaya. Yang paling hebat sebenarnya adalah mental dan semangat dia. Sepertinya dia punya tekad yang sangat kuat untuk tetap hidup dan melindungi keluarganya sampai detik terakhir."

Mendengar penjelasan itu, Kirana langsung lemas dan jatuh terduduk, kali ini karena rasa bahagia dan lega yang luar biasa.

"Syukurlah... syukurlah..." isaknya bahagia.

Arga pun dipindahkan ke ruang perawatan VIP yang sangat luas dan nyaman. Saat Kirana masuk ke dalam kamar, ia melihat suaminya sudah terbaring dengan perban melilit di kepala dan lengannya. Wajahnya masih pucat, namun napasnya sudah teratur dan terpasang alat pemantau jantung yang menunjukan grafik normal.

Kirana berjalan mendekat perlahan, duduk di tepi ranjang. Dengan tangan gemetar dan penuh kasih sayang, ia mengusap pelan pipi suami yang tidak terluka.

"Arga... Sayang..." bisiknya lirih. "Makasih ya... makasih sudah berjuang buat kita. Kamu pahlawan aku, Sayang. Pahlawan keluarga kita."

Air mata haru dan cinta menetes membasahi tangan Arga.

"Kamu jangan sakit lagi ya... aku janji bakal rawat kamu sampai sembuh total. Aku bakal jadi istri yang paling perhatian di dunia buat kamu," janji Kirana tulus.

Malam itu dan hari-hari berikutnya, Kirana benar-benar mengabdikan diri sepenuhnya untuk merawat Arga. Ia tidak pernah meninggalkan sisi suaminya. Mulai dari menyuapi makan, membasuh tubuh, memijat kaki, hingga membacakan buku atau cerita agar Arga tidak bosan.

Arga yang tadinya kuat dan galak, saat sakit berubah menjadi suami yang sangat manja dan perhatian. Setiap kali Kirana hendak bergerak sedikit saja, tangannya langsung menarik tangan istrinya.

"Mau ke mana? Sini... peluk aku," pinta Arga dengan suara serak.

"Aku mau ambil air putih buat kamu, Sayang."

"Nggak usah. Panggil suster saja. Kamu jangan banyak gerak, bahaya buat perut kamu," ucap Arga khawatir, lalu ia menempelkan telinganya ke perut rata Kirana. "Debay gimana kabarnya? Sehat kan di dalam? Maaf ya Ayah bikin takut malam itu."

Kirana tersenyum lebar, mengusap rambut suaminya. "Debay sehat kok. Dia juga sayang banget sama Ayahnya yang gagah itu."

Kehangatan dan cinta di antara mereka semakin dalam melebihi apa pun. Luka fisik mungkin akan sembuh dan meninggalkan bekas, tapi luka hati dan rasa curiga telah benar-benar hilang lenyap, digantikan oleh rasa percaya dan hormat yang mutlak.

 

Sementara itu, di balik jeruji besi sel tahanan polisi, Natasha duduk dengan wajah murka dan penuh keputusasaan. Rencananya gagal total. Bukan hanya gagal mencelakai Kirana, tapi ia justru tertangkap basah bersama orang-orang suruhannya saat hendak melarikan diri ke luar negeri.

Bukti-bukti yang menguatkan tuntutan pidananya sangat lengkap. Mulai dari niat pengguguran kandungan, percobaan pembunuhan, hingga penculikan dan penyerangan dengan senjata tajam. Hukumannya pasti sangat berat, bisa mencapai belasan tahun bahkan seumur hidup.

"GILAAA!!! KENAPA SELALU GAGAL?!" teriaknya menghantam dinding sel dengan penuh amarah. "ARGA WIJAYA KAU BERUNTUNG SEKALI!!! KIRANA DASAR CEWEK PENGHALANG!!!"

Namun teriakan dan amarahnya tidak lagi didengar oleh siapa pun. Ia kini hanyalah seorang tahanan yang tidak berdaya. Kecantikannya, kekayaannya, dan pesonanya tidak lagi berguna di tempat ini. Yang tersisa hanyalah rasa penyesalan yang mendalam dan rasa gila yang menghantuinya.

Ia sadar, selama ini ia kalah bukan karena takdir, tapi karena ia tidak pernah memiliki hati yang tulus seperti Kirana. Cinta Arga diberikan pada wanita yang pantas menerimanya, bukan pada wanita egois dan jahat sepertinya.

 

Dua minggu kemudian, Arga sudah boleh pulang ke rumah. Kondisinya sudah jauh lebih baik, meski masih harus banyak istirahat dan luka jahitannya belum kering sempurna.

Suasana di rumah kini terasa jauh lebih damai dan aman. Satpam diperbanyak, sistem keamanan diperbarui, dan tidak ada lagi rasa takut akan bayang-bayang masa depan.

Malam itu, bulan purnama bersinar terang kembali, sama indahnya saat mereka berjanji untuk saling mencintai dulu.

Mereka berdua duduk di teras belakang, di bangku kayu yang sama. Arga menyandarkan kepalanya di bahu Kirana, sementara tangan Kirana sibuk membelai rambut suaminya dengan lembut.

"Ran..."

"Ya, Sayang?"

"Aku mikir... betapa berartinya hidup ini kalau ada kamu di sisi aku," ucap Arga pelan, matanya menatap rembulan di langit. "Dulu aku hidup cuma buat kerja, buat cari uang, dan buat ingat masa lalu. Tapi sekarang... aku hidup buat bahagiain kamu, buat anak kita, dan buat bangun masa depan yang cerah."

Kirana tersenyum, mencium kening suami lama.

"Aku juga, Ar. Aku nggak nyangka Tuhan bakal ngasih aku suami sebaik dan setangguh kamu. Kamu sudah buktikan kalau cinta kamu itu nyata, bukan cuma omong kosong."

"Alya pasti juga senang lihat kita bahagia kan?" tanya Arga tiba-tiba.

Kirana mengangguk yakin. "Pasti. Dia pasti ikut mendoakan kita dari sana. Karena dia orang baik."

Arga tersenyum lega. Beban di pundaknya benar-benar telah hilang. Ia telah memaafkan masa lalu, ia telah mengalahkan kejahatan, dan kini ia memegang erat kebahagiaan yang nyata di genggamannya.

"Besok kita ziarah ya?" ajak Arga. "Aku mau kenalin kamu dan anak kita sama dia. Biar dia juga tahu kalau sekarang aku sudah bahagia banget."

"Boleh banget. Aku siap kapan pun."

Malam itu, mereka berjanji untuk tidak akan membiarkan apa pun memisahkan mereka lagi. Baik badai, rintangan, maupun waktu. Cinta mereka telah teruji oleh api dan darah, dan terbukti lebih kuat dari apa pun.

Namun, takdir Tuhan memang penuh misteri. Saat mereka berpikir semua masalah telah selesai dan hidup akan terus berjalan indah, sebuah kejutan besar lain sedang menanti mereka. Sebuah kebahagiaan atau mungkin ujian lain yang akan mengikat cinta mereka menjadi semakin abadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!