NovelToon NovelToon
Love In Chaos

Love In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
​Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CEO di Tengah Asap Knalpot dan Sambal Terasi

Jika hari sebelumnya adalah siksaan bagi Zeva di menara gading Adrian, maka hari ini takdir memutuskan untuk memutar roda nasib. Sebuah masalah besar terjadi di warung katering Mpok Leha. Kompor gas utama meledak kecil, dan pesanan nasi kotak untuk acara syukuran kelurahan terancam gagal. Zeva, sebagai otot sekaligus jantung operasional katering itu, harus pulang segera.

​Masalahnya satu: Adrian tidak mengizinkan Zeva pergi sebelum latihan "Berjalan dengan Anggun" selesai.

​"Gue harus cabut, Adrian! Ini darurat negara!" seru Zeva sambil mencoba melepas sepatu hak tinggi yang dipaksakan Madam Citra ke kakinya.

​Adrian berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap. "Kita sudah punya jadwal, Zevanya. Kedisiplinan adalah kunci dari—"

​"Kunci dari gundulmu! Kalau katering bibi gue bangkrut, gue nggak bakal bisa jadi pacar pura-pura lu karena gue bakal sibuk jadi buruh cuci di pasar! Lu mau pacar pura-pura lu bau deterjen murah?" Zeva akhirnya berhasil menendang sepatu itu hingga melayang dan hampir mengenai vas bunga di pojok ruangan.

​Adrian menghela napas panjang. Ia melihat kepanikan yang tulus di mata Zeva. Baginya, bisnis katering kecil itu mungkin tidak ada artinya, tapi bagi Zeva, itu adalah segalanya.

​"Baik," ujar Adrian dingin. "Saya akan mengantar Anda. Saya tidak mau Anda mengebut dengan motor rongsokan itu dan berakhir di rumah sakit sebelum acara makan malam dengan kakek saya dimulai."

​"Lu mau anter gue? Pakai mobil kinclong lu itu?" Zeva menyipitkan mata. "Lu tahu nggak rumah gue masuk gang sempit yang baunya... yah, bau kehidupan?"

​"Saya punya mobil cadangan yang lebih... kecil," jawab Adrian, meski 'kecil' bagi Adrian tetap saja sebuah SUV mewah yang harganya setara dengan sepuluh rumah di gang Zeva.

​Perjalanan menuju kawasan padat penduduk di pinggiran Jakarta Timur itu menjadi pengalaman traumatis bagi Adrian. Ia duduk di balik kemudi dengan sarung tangan mengemudi yang steril, sementara Zeva di sampingnya terus-menerus memberikan arahan jalan yang tidak masuk akal.

​"Kanan di depan tukang tambal ban! Terus lurus sampai ada pohon mangga yang banyak ulatnya!" teriak Zeva penuh semangat.

​Adrian merasa dunianya perlahan runtuh saat mobilnya mulai melewati jalanan yang lebarnya hanya pas-pasan untuk satu kendaraan. Anak-anak kecil berlarian tanpa baju, jemuran handuk yang melambai-lambai di pinggir jalan, dan aroma selokan yang menusuk indra penciumannya.

​"Zevanya, apakah kita sedang menuju lokasi syuting film pasca-apokaliptik?" tanya Adrian dengan wajah pucat.

​"Hah? Kagak! Ini namanya pemukiman padat karya, Bos! Udah, berhenti di sini. Mobil lu nggak bakal muat lewat pos ronda depan," Zeva langsung melompat keluar bahkan sebelum mobil berhenti sempurna.

​Adrian terpaksa turun. Ia mengunci mobilnya berkali-kali, merasa khawatir seseorang akan mencoba mencuri spionnya atau sekadar mencoret-coret kap mobilnya yang masih baru. Ia mengikuti Zeva masuk ke dalam gang sempit yang hanya cukup untuk dua orang berjalan bersisian.

​Begitu sampai di warung Mpok Leha, suasana sangat kacau. Asap mengepul di mana-mana, dan Mpok Leha sedang menangis di depan tumpukan ayam goreng yang baru setengah matang.

​"Zeva! Tolongin Bibi! Kompornya mati total, tukang servisnya lagi mudik!" ratap Mpok Leha.

​Zeva langsung menyingsingkan lengan bajunya. "Tenang, Mpok. Zeva datang. Mana kunci inggris?"

​Adrian berdiri di pojok warung yang sempit, mencoba meminimalkan kontak tubuhnya dengan dinding yang catnya sudah mengelupas. Ia melihat Zeva bertransformasi. Gadis yang tadi kesulitan memakai sepatu hak tinggi itu kini dengan cekatan membongkar selang gas, meniup-niup lubang regulator, dan mengutak-atik mesin kompor dengan tangan kosong.

​"Aduh, Om Ganteng siapa nih? Kok rapi bener kayak mau kondangan?" tanya Mpok Leha sambil menyeka air mata dengan serbet kotornya.

​Adrian memaksakan senyum tipis. "Saya... rekan kerja Zevanya."

​"Oalah, Bosnya Zeva ya? Maafin ya, Bos, warungnya berantakan. Sini duduk di kursi plastik, tapi hati-hati ya, agak goyang kakinya," tawar Mpok Leha ramah.

​Adrian melihat kursi plastik hijau yang tampak berminyak itu dengan ngeri. Ia mengeluarkan sapu tangan sutranya, melap kursi itu selama tiga menit penuh, baru kemudian duduk dengan sangat hati-hati, seolah-olah kursi itu terbuat dari kaca tipis.

​"Zev, gasnya mampet doang ini mah! Ambilin kawat kecil di laci!" teriak Zeva.

​Selama satu jam berikutnya, Adrian Alfarezel, CEO yang biasanya memimpin rapat di ruangan kedap suara, terpaksa menonton drama "Gadis Barbar vs Kompor Maut". Ia melihat Zeva belepotan jelaga hitam di pipinya, keringat mengucur di dahinya, tapi matanya berbinar penuh fokus.

​Ada sesuatu yang aneh terjadi di dalam dada Adrian. Ia terbiasa melihat wanita yang selalu menjaga penampilan agar tetap sempurna. Namun melihat Zeva yang kotor, berisik, dan bekerja keras demi keluarganya, ia merasa gadis ini jauh lebih "hidup" daripada siapa pun yang pernah ia temui.

​"BERES!" teriak Zeva saat api biru akhirnya menyembur keluar dari kompor.

​Mpok Leha bersorak. "Alhamdulillah! Ayo, Zev, lanjut goreng ayamnya! Eh, Bos, mau coba sambal terasi buatan saya? Pedesnya nampol, bisa bikin dosa-dosa ilang!"

​Sebelum Adrian sempat menolak, Mpok Leha sudah menyodorkan piring kecil berisi sambal merah membara dan sepotong tahu goreng.

​"Coba, Bos. Biar tahu rasanya makanan rakyat," tantang Zeva dengan seringai jahil. Ia tahu Adrian benci kotor dan pedas.

​Adrian menatap sambal itu. Secara logika, ia harus menolaknya. Perutnya yang sensitif tidak terbiasa dengan makanan semacam ini. Tapi melihat tantangan di mata Zeva, harga diri Adrian terusik. Ia mengambil tahu itu dengan dua jari, mencocolnya sedikit ke sambal, dan memakannya.

​Satu detik. Dua detik.

​Wajah Adrian berubah dari putih menjadi merah padam, lalu menjadi ungu. Telinganya terasa mengeluarkan asap.

​"A-air..." bisik Adrian, suaranya tercekat.

​"Waduh, si Bos kepedesan!" Zeva tertawa terbahak-bahak sambil menyodorkan segelas es teh manis dalam gelas kaca yang ukurannya jumbo. "Minum, Adrian! Jangan ditelen pedesnya, entar lu pingsan!"

​Adrian meminum es teh itu dengan rakus, tidak peduli lagi apakah gelasnya sudah dicuci bersih atau belum. Setelah rasa pedasnya sedikit mereda, ia terengah-engah, matanya berair.

​"Itu... bukan makanan. Itu senjata biologi," keluh Adrian dengan suara serak.

​"Tapi enak kan? Akui aja, rasa sambalnya lebih jujur daripada steak mahal lu yang hambar itu," goda Zeva sambil mengusap pipinya yang kotor, yang justru membuat jelaga hitam semakin melebar ke seluruh wajahnya.

​Adrian terdiam. Ia menatap wajah Zeva yang belepotan. Tanpa sadar, tangannya bergerak mengambil sapu tangan sutra bersih dari saku jasnya. Ia mendekati Zeva dan mulai mengusap pipi gadis itu.

​Zeva membeku. Tawa jahilnya hilang seketika. Jarak mereka kembali sangat dekat, seperti saat latihan makan siang tadi, tapi kali ini suasananya berbeda. Tidak ada Madam Citra, tidak ada AC kantor, hanya ada suara ayam yang digoreng dan aroma sambal yang menyengat.

​"Wajah Anda kotor sekali, Zevanya," bisik Adrian. Tangannya bergerak lembut, sangat berbeda dengan sikap kaku yang biasanya ia tunjukkan.

​Zeva bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang mulai tidak beraturan. Duh, kenapa si Om ini jadi romantis begini sih? Kan gue jadi bingung mau nonjok atau mau diem aja, batin Zeva panik.

​"U-udah, gue bisa sendiri," kata Zeva sambil menjauhkan wajahnya, merasa pipinya jauh lebih panas daripada sambal terasi tadi.

​"Sapu tangan itu sutra asli. Sekarang sudah kotor karena jelaga Anda. Tambahkan itu ke daftar utang Anda," ujar Adrian, kembali ke mode sombongnya untuk menutupi kecanggungannya sendiri.

​Zeva mendengus. "Dasar perhitungan! Ya udah, nanti gue cuci pakai sabun colek sampai kinclong lagi!"

​Sore harinya, sebelum mereka pulang, Mpok Leha memaksa membawakan Adrian satu plastik besar berisi nasi kotak.

​"Buat makan malam, Bos. Jangan cuma makan roti, nanti lemes," kata Mpok Leha tulus.

​Di dalam mobil saat perjalanan pulang, Adrian menatap plastik nasi kotak di pangkuannya. Baunya memenuhi kabin mewah mobilnya. Anehnya, ia tidak merasa mual. Ia malah merasa lapar.

​"Zevanya," panggil Adrian saat mereka sudah hampir sampai di apartemen Zeva.

​"Hm?"

​"Terima kasih untuk... pertunjukan perbaikan kompornya. Saya tidak tahu bahwa seorang asisten pribadi juga harus memiliki keahlian teknis seperti itu."

​Zeva tertawa kecil. "Itu namanya bertahan hidup, Adrian. Nggak semua hal bisa diselesaikan pakai duit atau pengacara. Kadang, lu cuma butuh kunci inggris dan sedikit keberanian buat kotor-kotoran."

​Adrian terdiam, merenungkan kata-kata itu. Keberanian untuk kotor. Itulah yang selama ini ia hindari sepanjang hidupnya. Ia selalu ingin semuanya steril dan teratur. Tapi hari ini, di gang sempit yang panas, ia merasa mendapatkan pelajaran yang tidak pernah diajarkan di sekolah bisnis manapun.

​"Besok," kata Adrian saat Zeva turun dari mobil. "Kita akan mulai latihan yang lebih serius. Karena lusa, kakek saya mengundang kita makan malam resmi."

​Zeva menghela napas, kembali teringat pada beban kontrak mereka. "Oke. Gue bakal usahain nggak bikin malu. Tapi jangan harap gue bakal jadi cewek anggun total ya. Gue tetep Zeva."

​"Saya tahu," gumam Adrian saat mobilnya mulai melaju pergi. "Justru itu masalahnya."

​Adrian menatap pantulan dirinya di spion. Ada sisa noda sambal di sudut bibirnya yang belum terhapus. Ia tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus yang jarang sekali terlihat. Mungkin, hanya mungkin, kekacauan yang dibawa Zeva adalah satu-satunya hal yang sebenarnya ia butuhkan untuk meruntuhkan dinding kebosanan dalam hidupnya.

​Namun, Adrian segera menggelengkan kepala. Tidak, ini hanya kontrak. Dia barbar, dan aku... aku Alfarezel. Kami tidak akan pernah cocok.

​Malam itu, di kantornya yang sepi, Adrian Alfarezel memakan nasi kotak dari Mpok Leha dengan lahap, menggunakan sendok plastik murahan, sementara dokumen miliaran rupiah berserakan di sampingnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak peduli pada kuman. Ia hanya peduli pada rasa sambal yang mulai ia rindukan.

​Benih permusuhan itu masih ada, tapi di sampingnya, benih sesuatu yang lain—yang lebih hangat dan berbahaya—mulai menampakkan tunasnya.

1
Desy Bengkulu
hooo begitu rupanya
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
Desy Bengkulu
ceritanya bagus , awalnya kek membosankan tapi pas mulai masuk rasa penasaran semakin merota🤣🤣
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣

semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!