Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istana Permata Naga
Mereka berjalan menyusuri jalan utama kota Heifa, mengikuti langkah ringan Lan Suya di depan. Wanita itu tampak santai, namun arah langkahnya jelas, tanpa ragu sedikit pun. Rou Xi berjalan di sampingnya, sesekali melirik ke belakang, memastikan Gao Rui dan Bai Kai tetap mengikuti.
Gao Rui sendiri tidak banyak bicara. Ia hanya memperhatikan sekitar, sesekali melirik ke arah Lan Suya dengan rasa penasaran.
“Hadiah seperti apa yang sampai membuat Bibi Ya harus mengambilnya sendiri…” gumamnya dalam hati.
Tidak butuh waktu lama. Mereka berhenti. Di depan mereka berdiri sebuah bangunan megah dengan ukiran naga dan burung phoenix di setiap sudutnya. Dindingnya berlapis kayu hitam mengkilap, sementara papan nama besar tergantung di atas pintu masuk.
“Istana Permata Naga.”
Aura kemewahan langsung terasa bahkan dari luar.
Gao Rui sedikit mengangkat alis.
“Toko perhiasan…” gumamnya pelan.
Lan Suya tidak menjawab. Ia langsung melangkah masuk.
Begitu mereka memasuki tempat itu, beberapa pelayan yang berdiri di dalam langsung membungkuk hormat.
“Selamat datang, Nyonya Ya.”
Sikap mereka… jauh lebih hormat dari pelanggan biasa.
Tanpa banyak kata, salah satu pelayan wanita segera maju dan dengan penuh sopan mempersilakan Lan Suya menuju bagian dalam toko.
“Silakan, ruang khusus sudah disiapkan.”
Lan Suya mengangguk ringan dan berjalan masuk tanpa ragu. Rou Xi mengikuti, sementara Gao Rui dan Bai Kai saling berpandangan sejenak sebelum ikut masuk ke dalam.
Ruang khusus itu berada di bagian terdalam. Lebih sunyi. Lebih elegan. Dindingnya dihiasi lukisan tinta kuno, dan aroma kayu cendana samar tercium di udara.
Mereka baru saja duduk… ketukan pelan terdengar.
Tok.
Pintu terbuka. Seorang wanita masuk dengan langkah tenang. Ia mengenakan gaun biru tua dengan bordir emas halus. Wajahnya cantik dengan senyum lembut yang terjaga, dan sorot matanya tajam namun hangat.
“Nyonya Ya… kau benar-benar datang pagi ini.”
Suaranya ringan, penuh keakraban. Lan Suya tersenyum.
"Nyonya Xiu… sudah lama tidak bertemu.”
Perempuan itu, Wen Xiu, tertawa kecil. Jelas bukan pertemuan pertama. Cara mereka berbicara… seperti dua sahabat lama yang sudah saling mengenal dalam waktu yang sangat panjang.
Ia lalu mengalihkan pandangannya ke Gao Rui. Sedikit terkejut… namun segera tersenyum ramah.
“Kalau tidak salah… ini pasti Tuan Muda Rui.”
Ia sedikit membungkuk sopan.
“Salam kenal.”
Gao Rui membalas dengan tenang.
“Salam kenal.”
Wen Xiu mengangguk, lalu duduk di hadapan Lan Suya. Percakapan pun mengalir dengan ringan. Tawa kecil sesekali terdengar dari mereka berdua.
Gao Rui tidak ikut berbicara. Ia hanya duduk diam, mendengarkan. Namun dari percakapan singkat itu… ia menangkap sesuatu. Toko Harta Langit… ternyata telah membeli enam puluh persen kepemilikan Istana Permata Naga sebulan yang lalu.
Operasional tetap di tangan Wen Xiu. Namun keputusan akhir… berada di tangan Lan Suya.
Gao Rui sedikit menyipitkan mata.
“Jadi… hubungan mereka bukan sekadar kenalan…”
Ia akhirnya mulai memahami. Lan Suya bukan hanya seseorang yang gemar berbelanja… Ia adalah orang yang mengendalikan tempat-tempat seperti ini.
Di sisi lain, Rou Xi dan Bai Kai tetap berdiri di belakang. Diam, seperti bayangan.
Setelah beberapa saat… Lan Suya menatap Wen Xiu.
“Pesananku?”
Wen Xiu tersenyum.
“Aku sudah menyiapkannya sejak lama.”
Ia berdiri, berjalan ke lemari di sudut ruangan, lalu mengambil sebuah kotak perhiasan berwarna hitam dengan ukiran naga halus di permukaannya.
Ia kembali dan meletakkannya di depan Lan Suya.
“Silakan.”
Lan Suya membuka kotak itu perlahan.
Klik.
Dalam sekejap… cahaya lembut memancar dari dalamnya. Sebuah kalung. Namun bukan kalung biasa.
Rantai kalung itu terbuat dari logam emas yang tampak halus seperti aliran air, setiap mata rantainya kecil namun tersusun begitu rapat hingga terlihat seperti satu kesatuan yang utuh. Permukaannya memantulkan cahaya dengan lembut, tidak menyilaukan, namun memikat.
Di bagian tengahnya… tergantung sebuah liontin berbentuk tetesan air. Namun tetesan itu… bukan sekadar batu permata biasa. Warnanya biru keunguan, seperti langit senja yang perlahan tenggelam dalam malam. Di dalamnya… seolah ada kabut tipis yang bergerak pelan, seperti hidup.
Jika diperhatikan lebih lama… akan terasa seolah-olah ada arus energi yang berputar di dalam batu itu. Tenang namun dalam.
Di sekeliling liontin itu terdapat ukiran sangat halus pola naga kecil yang melingkar, seolah melindungi permata tersebut. Ukirannya begitu detail hingga sisik-sisik naga itu tampak nyata, meski hanya sebesar kuku. Aura yang dipancarkannya… tidak kuat. Namun… murni. Seperti sesuatu yang tidak ternodai.
Lan Suya terdiam. Untuk pertama kalinya sejak tadi… ekspresinya benar-benar berubah. Matanya terpaku pada kalung itu.
“…indah sekali,” gumamnya pelan.
Bahkan Gao Rui yang hanya melihat dari samping… bisa merasakan sesuatu yang berbeda dari benda itu. Bukan sekadar mahal. Namun… berharga. Jelas lebih dari sekadar perhiasan biasa.
Gao Rui memandangi kalung itu beberapa saat, lalu mengalihkan pandangannya pada Lan Suya.
“Apakah itu hadiah untuk kenalan lamamu?” tanyanya tenang.
Lan Suya menutup kotak itu perlahan, senyumnya tipis namun jelas mengandung makna.
“Benar,” jawabnya. “Ini untuk kenalanku… istri dari patriark Keluarga Shou. Namanya An Ran.”
Gao Rui sedikit mengangkat alis. Keluarga Shou… nama itu bukan nama keluarga kecil.
Lan Suya melanjutkan dengan nada santai, seolah membicarakan sesuatu yang biasa saja.
“Keluarga Shou adalah keluarga bangsawan yang terkenal dengan spesialisasi dalam pembuatan senjata. Pedang, tombak, busur… bahkan senjata tersembunyi. Hampir tidak ada yang tidak bisa mereka buat.”
Ia mengetuk ringan kotak perhiasan di hadapannya.
“Bahkan… sebagian besar senjata yang dijual di Toko Harta Langit… berasal dari kiriman mereka.”
Mata Gao Rui sedikit menyipit. Ia akhirnya mulai melihat gambaran yang lebih besar.
Lan Suya bersandar santai.
“Banyak kelompok dagang lain sudah mulai mengincar mereka. Mereka bahkan berani membayar lebih mahal dari harga yang kita berikan… hanya untuk mendapatkan senjata dari Keluarga Shou.”
Nada suaranya tetap lembut… namun maknanya tajam.
“Untuk itu,” lanjutnya, “kita tidak boleh lengah.”
Gao Rui mengangguk pelan.
“Aku mengerti.”
Ia tidak banyak bicara lagi. Namun dalam benaknya, ia sudah mencatat satu hal penting, hubungan dengan Keluarga Shou… adalah kunci.
Lan Suya berdiri.
“Kalau begitu, kita pergi.”
Wen Xiu ikut berdiri, senyumnya tetap anggun.
“Aku akan mengantar.”
Mereka berjalan keluar dari ruang khusus itu. Para pelayan di luar kembali membungkuk hormat saat mereka lewat. Sikap mereka tidak berubah sedikit pun tetap penuh penghormatan.
Tak lama, keempatnya keluar dari Istana Permata Naga. Keramaian jalan utama Kota Heifa kembali menyambut mereka. Tanpa berhenti, mereka melanjutkan langkah menuju Toko Harta Langit.
Di sisi lain… Wen Xiu berdiri di depan pintu masuk, memandang kepergian mereka hingga bayangan itu benar-benar menghilang di ujung jalan.
Para pelayan berdiri di belakangnya, masih dalam posisi hormat. Barulah setelah itu, suasana sedikit mengendur. Salah satu pelayan wanita melangkah mendekat dengan ragu.
“Nyonya…” bisiknya pelan. “Saya belum pernah melihat Nyonya Ya… bersikap seramah dan setulus itu kepada seseorang.”
Wen Xiu tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju ke arah jalan yang sudah kosong. Beberapa saat kemudian, ia tersenyum tipis.
“Benar…” gumamnya pelan.
Ia menoleh sedikit, suaranya tetap lembut namun kali ini lebih dalam.
“Hanya di depan Tuan Muda Rui… dia terlihat berbeda.”
Pelayan itu terkejut.
“Berbeda…?”
Wen Xiu terkekeh kecil.
“Kau tidak menyadarinya?” katanya santai. “Biasanya, Lan Suya selalu menjaga jarak. Bahkan saat berbicara dengan para kepala keluarga besar… dia tetap dingin.”
Ia melipat tangannya di depan dada.
“Tapi tadi… dia menjelaskan banyak hal. Bahkan hal yang seharusnya tidak perlu dijelaskan.”
Pelayan itu terdiam.
Wen Xiu melanjutkan, kali ini matanya sedikit menyipit, seolah sedang menilai sesuatu yang menarik.
“Dan Tuan Muda Rui…” katanya pelan, “anak itu juga bukan orang biasa.”
Ia mengingat kembali tatapan Gao Rui tadi. Tenang, dalam, dan tidak tergoyahkan.
“Dia tidak terkejut… tidak gugup… bahkan tidak terintimidasi sedikit pun oleh tempat ini.”
Senyumnya perlahan melebar.
“Menarik sekali…”
Pelayan itu menelan ludah.
“Menurut Nyonya… apakah Tuan Muda Rui dipersiapkan Nyonya Ya memimpin Harta Langit suatu saat nanti?”
Wen Xiu tidak langsung menjawab.
Ia berbalik, berjalan kembali masuk ke dalam toko.
“Entahlah…” katanya ringan, “jika Lan Suya sampai memperlakukannya seperti itu…”
Langkahnya berhenti sejenak di ambang pintu.
“…maka cepat atau lambat, seluruh orang akan mengenalnya sebagai bagian dari Harta Langit.”
Tanpa menoleh lagi, ia melangkah masuk.
Pintu Istana Permata Naga perlahan tertutup. Dan di jalan utama…Gao Rui dan yang lainnya… terus berjalan menuju Toko Harta Langit.